14.09.2009

Jangan Dengarkan

Mereka bilang, semuanya akan baik-baik saja.
Mereka bilang, waktu akan mengobati luka.
Mereka bilang, hidup itu indah.

Tapi kadang, kita merasa mereka bodoh. Karena saat ini semuanya tidak ada yang benar, tidak baik-baik saja. Karena waktu terasa bergerak sangat pelan, luka semakin menyakitkan. Mungkin hidup itu memang indah, hanya saja kita sedang tidak melihatnya sekarang.

Maka saya sarankan, tutup telinga, jangan dengarkan yang mereka bilang. Perjuangkan saja apa yang kita inginkan. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk kita sendiri. Jangan lagi dengarkan mereka bilang semuanya akan baik-baik saja. Tapi buatlah agar semuanya menjadi baik-baik saja secepatnya. Jangan lagi menunggu waktu untuk mengobati luka. Sembuhkan saja sekarang juga. Tidak perlu membuktikan omongan mereka bahwa hidup itu indah. Buat saja hidup kita indah.

Ini kan cerita kita. Kita tentukan saja jalannya dengan apapun yang kita punya ... dan (!!!) dengan apapun yang kita tidak punya. Hehe. Kebahagiaan bukan tujuan. Tapi pilihan. Kita yang tentukan.

Itu menurut saya :)

-RhoMayda- (Dank je Shima. Ik zie je snel weer xxx)

 

10.09.2009

Rindu Kakek

Kalau memang kita ngga bisa ketemu di bumi ...
bisakah kita janjian lagi di mimpi ...?

-RhoMayda-

 

07.09.2009

Bagaimana Aku Mencintaimu

Dari awal kita sudah sangat paham. Yang kita rasakan sulit sekali dibahasakan. Tapi toh harus dilakukan,  karena setidaknya bisa sedikit meringankan.

Kekasihku, aku bersyukur karena kita bertemu. Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, ini mirip potongan puzzle yang sudah berada di tempatnya. Ini sudah benar. Dan yang kita sepakati waktu itu, ini sudah final. Tidak perlu mencari-cari jawaban kenapa aku memutuskan untuk memilih bersamamu. Karena hanya ada satu alasan: aku yakin. Aku yakin bahwa aku akan membutuhkanmu setiap hari sejak keyakinan itu datang, seumur hidup. Maka aku tidak sempat berpikir dua kali, apalagi berubah pikiran, karena ini semua berawal dari sebuah keyakinan dan keseriusan, bukan keragu-raguan atau percobaan.

Aku adalah seorang perempuan aneh dengan kebiasaan yang aneh. Selalu pergi, tidak bisa diam di rumah, selalu ke luar. Mungkin itu sebabnya laki-laki tidak akan tahan dan menghilang, atau aku yang tidak tahan lalu menghilang. Aku selalu jauh, selalu pindah, sulit ditemui. Tapi kamu menemukanku, di sini, ketika kita sama-sama jauh dari rumah. Dan ketika kita saling jauh, kamu tidak hilang. Dan ketika kita bertemu lagi, kamu semakin dekat. Kini kita jauh lagi, kamu masih ada di situ. Aku tahu sejak awal ketika keyakinan itu datang, bahwa kamu tidak akan pernah hilang.

Cita-citaku juga aneh. Aku akan menaklukkan dunia. Aku akan lulus kuliah, akan bekerja, akan punya tabungan, akan dihabiskan dengan melakukan perjalanan. Aku akan membuat rumah. Aku akan menenentukan warna dindingnya. Dan menikah? Ah itu nanti saja. ... sebelum pada akhirnya aku menemukanmu ... atau kamu menemukanku ... atau aku menemukan diriku menemukanmu ... atau aku menemukan diriku ditemukan olehmu. Keinginan sebesar itu ternyata sekarang berhadapan dengan sebentuk cinta yang ukurannya ribuan kali lipat lebih besar. Yang menjulang kokoh menembus langit, mengakar kuat mencengkeram inti bumi, terbentang melampaui jarak pandang. Semua yang aku inginkan, tidak lagi terlalu berarti, karena kini yang aku butuhkan hanyalah bersamamu, berada di dekatmu. Karena aku yakin, aku tidak akan benar-benar bahagia dengan tercapainya semua yang aku inginkan, kalau aku harus menikmatinya sendirian.

Cinta ini megah, namun sangat bersahaja. Yang aku butuhkan hanya kamu, untuk berbagi apapun yang aku rasakan, yang aku lihat, yang aku dapatkan, sekecil apapun itu, sebesar apapun itu. Untuk menghabiskan sisa waktuku, setiap hari. Untuk melanjutkan hidup, sampai mati nanti.

Begini jadinya, kalau perasaan harus dibahasakan. Jadi, semoga tulisanku tidak terdengar klise, karena ini bukan jatuh cinta murahan, ini adalah sebuah keyakinan. Kekasihku, calon suamiku, aku mencintaimu dengan bersahaja. Permintaanku satu saja: Aku membutuhkanmu bersamaku.

Doa dan cintaku untukmu,
Ima, calon istrimu

- Maka lagi-lagi betul kata Jason Mraz, there's no need to complicate -

Amarah

Catatan: Tulisan ini bisa jadi merupakan tulisan dengan kadar kebencian yang paling tinggi dibandingkan tulisan-tulisan sebelumnya. Terima kasih, selamat membaca dan ... hati-hati.

Baiklah. Ternyata saya memendam amarah. Bisa jadi ukurannya sangat kecil. Tapi ada. Bisa saya rasakan. Sekarang. Iya benar, bahkan ketika saat ini bulannya bernama Ramadhan. Waktu amarah itu datang, ya dia datang begitu saja. Dan ketika Ramadhan datang, dia tidak menyempatkan diri untuk menghilang sebentar, sekedar ikut merayakan bulan puasa, lalu setelah lebaran bisa kembali lagi. Tidak, dia tetap ada di dalam sini.

Amarah yang saya bicarakan, terbuat dari konstruksi saya sendiri terhadap beberapa hal buruk dari luar, yang saya rasakan. Ada ketidaktulusan, ada ketidakjujuran, ada kekurangajaran, ada pandangan picik, dan penekanan batin. Itu biasa terjadi, tentu saja. Tapi kalau pada awalnya landasannya adalah kepercayaan yang kuat bahwa hal-hal tersebut tidak mungkin terjadi, tapi toh terjadi juga, maka ini menjadi tidak biasa lagi. Ada pengkhianatan. Haha! Baiklah, saya memang masih gila. Tapi segila-gilanya saya, ternyata sakit juga kok kalau dibohongi, kalau dipermainkan, kalau sedikit-sedikit disalahkan, kalau ternyata yang dipercaya tidak bisa diandalkan. Dan, secinta-cintanya saya dengan seseorang, kalau orang itu memunculkan amarah di dalam hati saya, saya tegaskan sekarang, saya masih jauh-jauh-jauh lebih mencintai diri saya sendiri. Karena selama ini, perasaan sayalah yang selalu bisa saya andalkan. Itu yang akan saya jaga betul. Perasaan orang lain kan di luar kendali saya. Kalau perasaan saya tetap tidak cocok dengan itu, ya saya mundur saja dengan membawa hati saya. Daripada luka makin menganga? Jadi izinkan saya pergi. Bukan untuk kebaikan kita bersama, tapi bagi saya, ini untuk kebaikan saya sendiri.

Amarah ini terpendam, karena memang tidak bisa dikeluarkan. Tapi apa sih yang berada di dalam dan tidak bisa dikeluarkan? Dengan paksa sekalipun? Oh, kalau dengan paksa pasti bisa. Tapi saya tidak mau. Jadi biar sajalah amarah ini tetap ada di dalam. Dan kita lihat saja, bisa hilang atau tidak. Pak Ustadz bilang, amarah itu penyakit hati. Buru-burulah diobati. Sudah Pak Ustadz, sudah saya cegah sebelumnya, sudah saya coba obati sesudahnya. Kalau sekarang masih belum sembuh, biarkan saya menjaganya supaya tidak tumbuh, dengan menghindari penyakit-penyakit itu jauh-jauh.

if it's a broken part replace it
if it's a broken arm then brace it
if it's a broken heart then face it
hold your own
know your name
go your own way
and everything will be fine

(Details in the Fabric, Jason Mraz)

Maka ini yang telah saya lakukan: Membalut hati saya rapi-rapi, meletakkannya di tempat tersembunyi. Tersembunyi dari ketidaktulusan, ketidakjujuran, kekurangajaran, pandangan picik dan penekanan batin. Dan ini yang akan selalu saya lakukan kemudian: Membuka balutan luka hati, membiarkannya di udara terbuka bersentuhan dengan ketulusan, kejujuran, rasa menghormati, nasehat dan empati yang baik.

Pak Ustadz, saya tahu amarah itu penyakit, Anda sudah sampaikan itu berkali-kali. Jadi tolong sekali ini saja, biar saya yang menjelaskan kepada Anda dan dengarkan baik-baik. Jangan lagi ceramahi saya untuk menghilangkan amarah. Tapi gembor-gemborkan saja pada mereka, untuk menghargai perasaan orang lain, dan berhenti menyakitinya. Nah Pak Ustadz, selamat beramadhan. Semoga dakwah Anda menciptakan manusia dengan hati dan sikap yang bersih, di seluruh penjuru bumi. Terima kasih.

-RhoMayda-

15.05.2009

Kasih Sayang

Witing tresno, kata orang Jawa,
... jalaran seko kulino.
Kasih sayang itu tumbuh karena terbiasa.

Witing tresno, kata adik saya,
... jalaran seko boncengan (halah).

Witing tresno, kata bapak saya,
... jalaran ra ono wong liyo,
karena ngga ada orang lain :D

Witing tresno, kata pacar saya,
... jalaran dijaki ngopi,
karena sering diajak ngopi.

Witing tresno, saya bilang,
... jalaran ditresnani. Haha! Begitulah :)

-RhoMayda-

 

07.05.2009

Bunga

Cuma Bunga saya yang punya cinta seluas langit.
Dan cuma saya yang punya Bunga dengan cinta seluas langit.

:)

-RhoMayda-

 

02.05.2009

Andhap Asor

Q: Dengan aaapapun yang kita punya ... kenapa kita ngga boleh sombong? Kenapa ngga boleh membanggakan diri sendiri? Kenapa ngga boleh tinggi hati?
X: Karena sebenarnya kita ngga punya alasan untuk melakukan itu semua. Karena kita tahu, itu ngga ada gunanya. Kalaupun dilakukan, maka alasannya pasti diada-ada.

Ibu saya selalu bilang "dadi wong sing andhap asor", jadilah manusia yang rendah hati. Mas Udin bilang "orang tuh dihargai bukan karena ketinggian hatinya, tapi justru karena dia rendah hati."

Jadi ini yang ada di kepala saya:

Kerendahan hati adalah pancaran yang berasal dari dalam, dari hati. Dari sesuatu yang tertutup lapisan-lapisan daging, tulang dan pakaian, namun masih bisa dirasakan dari luar. Kerendahan hati ngga bisa dirasakan hanya dari penampilan. Orang masih bisa menyombongkan penampilannya yang sederhana. Ironis bukan? Hayah.

Kesederhanaan adalah cerminan kerendahan hati. Jika sudah ada kesederhanaan di dalam hati, maka apapun yang melapisinya di bagian luar, ngga akan terkena cipratan kesombongan. Percaya deh. Mau pakai kalung emas yang segede python, atau gelang karet sekurus cacing, kalau hatinya sederhana, kalung dan gelang itu bukan cerminan kesombongan.

Kesederhanaan berasal dari hati, ada di dalam sana. Tapi walau bagaimanapun, kesederhanaan akan dicerminkan. Cerminannya bukan sekedar dari apa yang terlihat, tapi lebih ke apa yang bisa dirasakan. Kesederhanaan tercermin dari sikap kita terhadap orang lain, tercermin dari cara kita berbicara, tercermin dari apa yang kita bicarakan, dari bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita menghargai orang lain. Kesederhanaan tercermin dari bagaimana kita memanusiakan manusia :)

Karena bisa berfikir dan merasakan, seharusnya manusia ngga boleh tinggi hati. Apalagi karena bisa lupa dan sedih juga, manusia semakin ngga punya alasan untuk bertinggi hati. Dengan semuuua kapasitas yang dimiliki, manusia harus bisa berendah hati ... yang tertanam di dalam, terpancar ke luar, dirasakan sampai ke dalam hati orang lain.

Rendah hati dilakukan bukan karena alasan macam-macam. Rendah hati dilakukan karena kita ngga punya alasan apapun untuk ngga rendah hati. Kalau ngga rendah hati, itu pasti mengada-ada. Mengada-ada itu merepotkan. Mbok sudah, hidup cuma sekali kok susah, biasa sajalah.

Haaalah omong opo to cah iki! :D

-RhoMayda-

 

Ok, kembali ke skripsi.

 

_______________

[updated 18:01]

Oh iya, tadi saya mikir ketika di perjalanan mau beli pulsa (iya, kadang saya bisa mikir). Jadi ada lagi satu alasan kenapa manusia ngga boleh tinggi hati. Itu karena manusia masih suka berdoa, masih suka minta, masih merasa kurang, manusia serba ngga punya. Ya mungkin punya sesuatu lah. Tapi itu artinya, orang lain juga punya. Jadi toh sama saja. Ngga perlu merasa superior, ngga perlu merasa lebih tinggi kan? Ngga perlu tinggi hati. Ngga ada gunanya, ngga beralasan itu. Jadi, manusia makin ngga ada alasan untuk sombong. Kalau tetap sombong, pasti dia mengada-ada.

_______________

 

11.04.2009

Sendiri?

X: Jadi maumu apa?
Q: Maunya, ya kalian bisa dicari. Ngga enak di sini sendiri.
X: Toh mati juga sendiri kan.
Q: ... Tapi aku belum mati ....

Percaya deh, saya orang yang ngga perlu dekat-dekat teman saya setiap hari. Saya bisa kok menikmati naik kereta sendiri (bersama dengan penumpang-penumpang lain maksudnya), saya bisa jalan-jalan di Malioboro ngga pakai teman, bisa duduk sendirian thenguk-thenguk di halaman perpus sambil ngopi. Sumpah, ngga apa-apa! Kalau pas sendiri gitu, di kereta atau ngopi di kantin kampus, rasanya kayak menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar dan misterius (halah sok berani pakai kata ini). Asik karena saya merasa bisa lebih menyatu dengan orang-orang banyak ini ketika sendirian daripada kalau ada temannya. Rasanya kayak semuuua yang ada tuh disediakan hanya untuk saya. Kayak nonton di bioskop jumbo secara privat. Hehe .... Kalau ada temannya kan perhatian terbagi.

Tapi, itu juga ngga usah dikonotasikan secara negatif. Jujur saja, saya lebih suka kalau ngapa-ngapain ada temannya. Karena, seriiing sekali dari semuuua yang bisa dilihat, didengar, dialami, ada buanyak yang bisa dibahas, didiskusikan, dipertengkarkan atau ditertawakan. Enak kan kalau ada teman. Teman bisa diajak berbagi :)

Sendiri atau ditemani, sebenarnya dua-duanya bisa dinikmati. Masing-masing ada keindahannya sendiri. Beruntung kalau dua-duanya kita bisa suka. Jadi ngga usah melulu tergantung dengan sesuatu, karena kalau itu tiba-tiba ngga bisa didapat kita jadi bingung. Beruntung kalau bisa menikmati lebih banyak hal, karena dengan begitu akan lebih gampang menjadi bahagia. Hoalah cuh cuh! Hahahahaaa ....

Salaam,
RhoMayda

Ini adalah tulisan yang saya salin dari catatan di kereta dari Brussel ke Leiden setelah memerawani kelingking saya dengan tinta bukti ikut milih pertama kali seumur hidup (saya pilih PPDBPBM, Partai Perpanjang Deadline Bikin Paper Bagi Mahasiswa). Saya taro tulisan ini di blog, di sela-sela bikin paper. Setelah baca-mikir-nulis sebanyak dua chapter, pengin istirahat dengan naro catatan kereta di blog. Asik. Dan saya lapar. Selamat tidur.

 

27.03.2009

Lakukan Saja

Tulisan ini dibuat supaya saya bisa tidur. Hehe. Bingung mau ngapain malam-malam begini, tapi belum ngantuk juga. Ya sudah saya menulis, biar enak, tidur nyenyak :)

Sering saya melihat orang bingung. Lebih sering lagi menemukan diri saya sendiri kebingungan. Tapi mari ngomongin orang lain dulu (halah berusaha melarikan diri). Begini. Tiap kali mendengar orang lain menceritakan masalah mereka, otak saya secara spontan melontarkan gagasan-gagasan murahan yang sangat simpel. Untung saya diam sebentar dan sempat menyadari bahwa gagasan-gagasan itu ngga layak diucapkan. Jadi saya tetap diam dan mendengarkan. Sering sekali saya sok tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang ketika dia mendapat masalah ini atau itu. Ketika seseorang bilang pacarnya selingkuh, saya akan bilang putuskan sajalah. Ketika ada yang bilang malas di rumah, saya bilang keluar saja. Gampang kan??? Iya gampang karena saya bukan mereka hehe. Saya ngga diselingkuhi dan ngga malas di rumah. Bisa jadi saya ngga ngerti gimana rasanya! Enak banget bilang ini-itu tanpa dosa ^_^

Orang lain sulit merasakan rumitnya masalah kita, karena dia ngga terlibat secara langsung, dia ngga ngerti betul apa yang sedang terjadi. Orang yang seperti ini gampang banget ngomong seharusnya gimana. Nah ... ini, bahwa orang lain akan lebih gampang memberi tahu bagaimana sebaiknya, ngga usah selalu dinilai negatif. Sisi buruknya, dia memang ngga bisa merasakan yang kita rasakan. Sisi baiknya, dia ngga bisa merasakan yang kita rasakan :D Kalau sudah bingung, berarti Anda sudah paham maksud saya.

Maksud saya, ada bagusnya orang lain ngga bisa merasakan betul apa yang kita rasakan. Itu artinya, sebelum menyarankan sesuatu, dia lebih banyak 'mempekerjakan' otaknya. Sedangkan kita, biasanya susah berpikir jernih karena hati kita mendominasi. Sangat emosional atau apalah itu. Itu artinya, orang lain bisa menjadi penyeimbang dalam mempertimbangkan beberapa pilihan untuk diambil. Walah ngomongin apa ini. Intinya adalah, kalau sedang bingung, cerita ke orang lain. Orang lain yang dibutuhkan adalah yang diyakini bisa membantu, bisa mengoreksi kalau salah, bisa mendukung kalau benar. Lalu dengarkan dia bilang apa. Lalu pertimbangkan baik-baik sarannya. Lalu cocokkan kembali dengan pendapat kita sendiri. Lalu pikirkan baik-baik yang terbaik tuh seperti apa. Lalu keputusan akan diambil. Selesai.

Tapi! Hehehehee kebiasaan deh.
Ada kalanya, kita berurusan dengan sesuatu yang benar-benar asing. Ini bisa menjadi lebih kompleks kalau sudah ditambahi rasa takut untuk memulai sesuatu yang baru. Sebenarnya sama saja sih. Kalau bingung, tanya orang yang diyakini bisa membantu. Dan kalau kita sama sekali ngga paham dalam masalah ini, percaya saja pada yang paham. Orang lain akan memberi tahu kita apa yang harus dilakukan. Dan kalau sudah paham, sudah mengerti, pertimbangkan baik-baik, lalu ambil keputusan. Kalau keputusan sudah diambil, ngga perlu lagi ragu-ragu, lakukan saja.  Lakukan saja, walaupun itu beeelum pernah kita lakukan sebelumnya. Coba saja :) Karena kalau sudah pernah mencoba, itu ngga lagi asing buat kita. Dan kalau langsung berhasil, itu prestasi. Asik kan.

Saya sering ngga mau nyetir sendiri. Alasannya, karena takut. Padahal saya sudah belajar nyetir beberapa tahun, saya sudah nyetir ke mana-mana. Hanya saja selalu ada temannya. Kadang-kadang, kalau berpikir terlalu lama, kita malah jadi ragu-ragu dan gugup. Padahal semua orang tahu kita bisa. Itulah orang lain, mereka ngga ngerti kekompleksan rasa takut itu hahahaaa.... Tapi apa kita sendiri yakin, bahwa itu kompleks? :)

Intinya adalah (halah), kalau bingung, tanya orang. Itulah kenapa orang lain diciptakan, karena kita ngga sempurna. Jangan takut, karena ngga ada gunanya. Mus pernah bilang (saya ngga akan lupa ini), kalau takut kita jadi kecil, kalau kecil kita akan kalah. Jadi jangan takut. Semuanya akan baik-baik saja. Kalau orang lain bisa, kita harus coba dulu sebelum bilang kita ngga bisa. Untuk mencoba, ngga boleh takut.

Kalau sudah yakin, diputuskan. Kalau sudah diputuskan, ngga boleh ragu-ragu karena ragu-ragu itu letaknya sekian ratus level jauh di bawah keyakinan. Ngga boleh ragu-ragu karena ragu-ragu bikin takut. Ngga boleh takut kalau mau mencoba. Dan mencoba itu harus, sebelum kita bilang kita ngga bisa :) Karena siapa tahu kita bisa.

Jadi lakukan saja, karena siapa tahu kita bisa, yang artinya kita naik satu tingkat lebih tinggi. Lakukan saja. Diniati dengan baik.

:)

Salaam,
RhoMayda

 

20.03.2009

Ngopi Seumur Hidup

Halah. Iya tahu, kayak kurang kerjaan aja membahas kopi. Sebentar, sebentar. Ada yang menarik. Ibu saya bilang, "urip kuwi mung mampir ngombe", hidup itu hanya mampir minum saja. Dan saya bilang, "urip kuwi mampir ngopi." Dan dia setuju :D

Pernah ngopi? Beberapa tahun yang lalu, saya nekat ke Surabaya menemui Devie, Kang Foens, Kang Balung, Andung dan kawan-kawan yang belum pernah saya temui sebelumnya. Kami kenal lewat blog saja. Jauh-jauh dari Jogja ke Surabaya ketemu sama cowok-cowok "asing" ini, untuk kemudian ngopi di ... mana itu yang di pinggir jembatan. Nah, ternyata mereka teman ngopi yang asik. Tahun-tahun berikutnya saya ke Surabaya hanya untuk ngopi sama mereka. Di Jogja, Niken adalah salah satu teman ngopi sejati. Bareng sama Winda, kami pernah mabuk kopi itemnya Blandongan yang membuat kami jam 3 pagi saling smsan dari kamar masing-masing karena ngga bisa tidur. Di Leiden, banyak orang utang kopi sama saya. Hahahahaaa... ngga juga sih, saya aja yang suka asal minta traktir dan nagih-nagih seenaknya. Banyak orang asik yang diajak ngopi. Di Lommel saya ke Coffee Corner.

Pernah ngopi kan ya? Nongkrong sama temen sambil duduk-duduk, atau berdiri-berdiri, kopinya disruput-sruput sedikit ('sruput' tuh apa ya bahasa Indonesianya?). Pernah dapet temen ngopi yang asik? Temen ngopi yang asik tuh begini ciri-cirinya: bersedia diajak ngopi, bisa bareng-bareng menikmati kopi, bisa diajak ngobrol yang ngga penting, bisa dipisuh-pisuhi, bisa ngobrolin sesuatu yang serius, bisa didengerin, bisa ndengerin. Kalaupun ngga ada yang perlu dibicarakan, temen ngopi yang asik bisa sama-sama menikmati semuuuanya dalam diam. Sama-sama menikmati ngopi dan semuuuanya yang terlibat dalam adegan ngopi tersebut, itu teman ngopi yang asik :)

Pesan saya, jadilah orang yang seperti itu, dan temukanlah orang yang seperti itu :)

Harus yang asik, harus yang membuat semuanya nyaman. Harus yang bikin semuanya jadi lebih menyenangkan. Harus yang sama-sama paham maunya apa. Harus yang bisa bikin bahagia. Harus yang bisa bikin kita tersenyum, ketawa. Harus yang bisa jagain kita baik-baik. Harus yang asik karena orang seperti itu akan adaaa terus, akan bareeeng terus. Bukan untuk jangka waktu tertentu, tapi untuk menemani kita selama ngopi, sampai akhir.

Temukan orang seperti itu sebagai teman seumur hidup, sebagai teman ngopi. Karena hidup itu cuma mampir ngopi, harus bisa dinikmati. Jangan menjadi beban dan ngopi jadi terasa terlalu lama dan ngga bisa dinikmati. Ngopi itu ngga lama, hidup itu sebentar, harus bisa dinikmati.

Temukan teman ngopi yang asik yang bisa menemani kita seumur hidup, sampai kopi kita habis. Jangan menjadi beban ... jangan menjadi beban .... Berbahagialah sesering mungkin.

:)

-RhoMayda-

 

Selamat, Rhomayda! Kamu dinyatakan gila :D

 

All the posts