05.10.2007

Searah

 

 

Ada seorang laki-laki. Mendatangi seorang perempuan. Beberapa kali. Tiap kali diawali dengan ketulusan. Beberapa kali sakit hati. Tapi tidak pernah berhenti. Tidak kali ini.

P: Sampai kapan akan seperti ini? Dua rasa yang tidak bisa dibandingkan (bukan karena berbeda, tapi karena tidak sama). Kenapa bisa begini? Apa kau mengerti?

L: Iya aku mengerti.

P: Karena aku tidak mengerti. Aku hanya takut, suatu saat, jika harapanmu, harapanku, tidak terwujud... padahal sudah ada begitu banyak yang diperjuangkan... dan kita menyesal, kecewa....

L: Seharusnya kita baru boleh menyesal jika sama sekali tidak berjuang.

(Hmm... perjuangan? Harapan? Apa lagi itu???)

L: Seperti apa harapanmu?

(Berada dalam secangkir capp... bukan, bukan itu jawabannya)

P: Sama seperti semua orang. Aku ingin bahagia. Bersama dengan seseorang yang mau jalan sama-sama. Ke mana saja bisa sama-sama. Bukan supaya bisa bersama. Tapi karena memang searah....

(Apakah kita searah?)

 

-RhoMayda-


__________

ambigu...

ada yang selalu mengawasi kita
selamat malam
semoga kita tetap terjaga
bahkan saat kita tertidur

selamat pagi
semoga pagi adalah awal yang baik,
yang tidak akan berakhir,
bahkan saat malam datang

 

__________

 

00:25 Posted in Prosa | Permalink | Comments (8) | Email this

02.03.2007

Silence

Diam adalah yang terdengar di rumah yang dikunci dari luar. Tak ada orang di dalam. Eva pulang ke Belgia, Kai sudah dari kemarin ke Jerman, Saskia ke Zeeland. Tak ada orang di dalam, pintu baru saja kukunci dari luar.

Diam menjerit-jerit di dalam lift. Merosot dari lantai delapan. Lalu pelan-pelan berputar-putar bersama jeruji roda sepeda.

Di dalam kereta Leiden-Utrecht, diam ada di mana-mana di gerbong. Menempel pada jendela-jendela. Di sebelahku ada diam di situ, namanya silence. Di sebelah depanku diam bernama stilte. Apapun namanya, kini di kereta semua orang harus diam. Karena akhirnya hanya diamlah yang boleh bersuara.

Sampai di stasiun Utrecht giliran diam yang terdiam. Orang-orang berbisik berkerumun menanti yang dinanti, meninggalkan yang ditinggalkan, datang dan pergi. Dari Utrecht peron 15, kereta berangkat ke Eindhoven lewat Den Bosch. Tak ada silence di situ. Tapi toh begitu dingin dan sepi. Tak ada yang bicara. Orang-orang diam. Diam malah ikut-ikutan diam, aneh sekali. Buku yang kubaca betul-betul membosankan. Buku tulisan seorang laki-laki, tentang perempuan Jawa. Mengerikan. Kuharap, akulah satu-satunya perempuan yang membaca buku itu. Perempuan seharusnya membaca buku tentang perempuan yang ditulis oleh perempuan. Itu menurutku. Tapi aku diam saja, seperti yang lainnya di kereta.

Sampai Eindhoven, bis yang menuju Luyksgestel penuh dengan pelajar yang pulang weekend. Sesak dan bising. Tiba-tiba aku rindu pengamen. Barulah dalam perjalanan ke Lommel, diam berlomba-lomba memenuhi bis. Hanya ada tiga orang di situ, semuanya diam.

Sampai Lommel, aku berjalan menyeret koper. Tak ada orang di pinggir jalan. Yang terlihat hanya diam, diam di sana-sini. Diam yang terbahak-bahak di bawah lampu merah, diam berlari-lari berkejar-kejaran, diam berkonvoi di jalanan. Ramai sekali. Bikin muak. Aku masuk rumah, diam sudah menungguku di situ. TV kuhidupkan, MTV lalu meraung-raung. Diam pergi diam-diam.

Supaya lainnya bisa bersuara,
suruh saja diam untuk diam.

:-w

Salaam,
RhoMayda

 

17:05 Posted in Prosa | Permalink | Comments (10) | Email this

04.02.2007

Ada Rembulan

Dari sini, saya lihat rembulan. Belum bundar benar, tapi terang. Di sekelilingnya ada bias melingkar. Dia sendirian. Bintang-bintang tak kelihatan. Langit hitam, seperti selimut mata-mata yang mulai tertutup.

Dan saya?
Inginnya sih, tidur tanpa kepala. Saya sedang curiga. Jangan-jangan, semua yang ada di dunia itu jelas. Kalau ada yang membingungkan, itu hanya ulah kepala yang kerjaannya berpikir. Coba kalau saya tidak punya kepala. Pasti tidak ada yang membingungkan. Semuanya jelas.

Tapi kalau tidak ada yang membingungkan, untuk apa repot-repot hidup? Padahal orang hidup itu, katanya, selalu mencari-cari. Mencari ilmu, mencari kerja, mencari temannya, mencari pilihan, mencari yang menyenangkan. Bukankah kalau semua sudah jelas, tak perlu lagi mencari-cari?

Itulah sebabnya, saya ingin tidur tanpa kepala. Sebentaaar saja. Karena beberapa minggu ini, banyak sekali yang membingungkan, banyak yang tidak jelas.

Tapi yang jelas, di sini ada rembulan =D>

 

Salaam,
RhoMayda

:-?  Mungkin kalau sabar sedikit, yang membingungkan akan menjadi jelas dengan sendirinya. Mungkin hanya masalah waktu. Mungkin bukan salah kepala. Mungkin, saya tidur saja tanpa mencopot kepala saya?

 

22:25 Posted in Prosa | Permalink | Comments (8) | Email this