10.02.2009
Salju
Setelah sekian lama (berapa lama ya Mas?) saya menunggu-nunggu wangsit (halah), akhirnya sekarang merasa ini waktu yang pas untuk mengolah tulisan ini. Mas Taufiq minta salju. Dan sekarang dia dapat saljunya. Monggo :)
Tadi waktu jalan pulang dari Lipsius, lewat jam 22.00, jalanan basah. Gerimis, dingin. Sampai di stasiun, salju ikut turun bareng-bareng sama tetes-tetes air. Dan saljunya makin lebat, walau sebentar. Saya sempat bengong melihat butiran-butirannya berhamburan, terlihat jelas di bias lampu pinggir jalan. Bagus banget. Ngga beraturan, jumlahnya banyak, tertiup angin ke sana-sini. Tapi itu cuma sebentar. Saljunya cuma bisa terlihat ketika masih "terbang". Karena cuaca masih ngga cukup dingin, begitu salju menyentuh tanah, dia akan cair begitu saja. Ngga sempat terlihat ada sisa salju di jalanan. Tapi momen sebentar ketika salju turun itu, malam-malam, dengan bias lampu jalan, sudah bisa membuat saya kagum. Bagus soalnya.
Musim dingin kali ini, saya menikmati betul saljunya. Mungkin juga karena ternyata saya suka bikin foto. Waktu itu saljunya tebal selama beberapa hari. Atap-atap rumah tertimbun salju tebal, tanah tertutup salju. Jalanan jadi licin, diberitakan harus hati-hati berkendaraan. Dan bisa dirasakan kok ketika nyetir. Ada bunyi berisik di bannya. Jangan terlalu kencang, jangan rem mendadak, resikonya jelek. Lebih baik ikuti bekas jalan mobil-mobil sebelumnya, karena esnya di situ tipis. Hati-hati. Kalau nyetir malam dan salju masih tebal, coba perhatikan pinggir-pinggir jalan. Sesekali ada banyak pohon-pohon, semacam hutan gitu di pinggir jalan. Nah, malam-malam gitu kalau pas ada salju dan udara cerah, kita bisa lihat jaaauh ke dalam hutan, yang biasanya terlalu gelap dan ngga kelihatan. Jadi, kita bisa lihat garis batang-batang pohon karena kontras dengan warna salju yang menempel. Dan karena semuuuanya putih, di seluruh tanah dan di daun-daun, warna gelap jadi terlihat lebih jelas. Dan itu bisa sampai ke daaalam hutan. Kita bisa lihat jaaauh banget. Itu asik. Ketika cerah dan ada salju, malam terasa terang karena warnanya putih.
Mungkin, salju tuh seperti es serut yang haluuus banget, jadi ringan. Atau kayak yang di freezer kulkas yang rusak dan esnya menebal, itu bagian atasnya kan lembut banget tuh. Nah, seperti itu tapi banyaaak banget di mana-mana, sejauh mata memandang. Yang paling asik, itu lempar salju. Jangan lupa sarung tangan tebal. Ambil saljunya, asal aja, yang dekat dengan kaki. Kalau ambilnya sedikit (sebanyak yang ada di freezer kulkas doang hehe), itu bisa leleh begitu aja. Diraup yang banyak, ditekan-tekan jadi bulet, ditambahi lagi, dibuletin lagi, ditambahi teruuus sampai siap lempar. Kalau masih terlalu ringan, ngga akan sampai sasaran. Bikin yang keras hehehe.... Yang menyebalkan itu, kalau ada orang yang memasukkan salju lewat kerah belakang jaket kita. Kita bisa gila joget-joget kedinginan karena esnya kena kulit punggung. Uhhh.


Salju mungkin kedengeran serem gitu, dingin. Tapi, manusia bisa kok kalau cuma jalan-jalan di cuaca dingin bersalju gitu. Asal jangan pakai bikini hehehe. Orang Indonesia banyak ada di sini, dan mereka suka salju. Saya suka. Salju memang bagus. Beneran. Dan ternyata, kalau kita lama pegang salju (jangan lupa sarung tangannya), tangan kita akan jadi jatuh lebih hangat daripada tangan mereka yang sama sekali ngga nyentuh salju. Mungkin ada yang tahu kenapa? Saya ngga ngerti, tapi ini bener. Dan ternyata lagi, di daerah kutub sana misalnya, mereka punya buaaanyak kata untuk mengidentifikasi macam-macam salju yang berbeda-beda. Info ini saya dapat di mata kuliah linguistik. Dan baru saja, saya temukan daftar 100 kata Eskimo untuk 'salju' di sini. Luar biasa, ya :)
Salju memang ngga terkesan Indonesia banget. Beda lah. Dan kadang kita berpikiran, kalau sudah terbiasa hidup sehari-hari di sebuah tempat, kita ngga akan cocok tinggal di tempat baru, atau bahkan berpikiran bahwa tempat baru akan merusak semuanya. Janganlah. Ada banyak keindahan di bumi. Ada gurun, ada salju, ada padang... semuuuanya berpenghuni. Jadi, pasti ngga seburuk itu kan. Gurun yang terik juga punya keindahannya sendiri, seperti salju yang dingin, padang yang lapang. Sama kok. Seperti kata Iwan Fals dalam Kupu-kupu Hitam Putih, menunggu matahari terbit di musim hujan, mendung menjadi teman, ada juga keindahannya. Tuh kan, bahkan mendung bisa indah ^.^'
Jadi sebenarnya, semuanya bisa dinikmati. Segala sesuatu itu punya keindahannya sendiri, kita cuma harus BISA MELIHAT itu :)
-RhoMayda-
Dan kalau saya berpikir ketuhanan itu cuma ada di surau-surau kampung, di bedug-bedug masjid, di ketupat-ketupat lebaran atau di sarung-sarung jamaah... kalau saya berpikir ketuhanan itu ngga mungkin ada di bahasa-bahasa asing, di cuaca-cuaca dingin, di tetes-tetes es atau di butiran-butiran salju... maka ketuhanan bagi saya lebih bersifat lokal, daripada personal. Kalau itu terjadi, sayang sekali. Karena lokasi bisa membatasi ruang gerak, dan personaliti enggak hehehe. Wah... saya religius sekali malam ini hahahahaaa....
Selamat tidur saja, sudah setengah tiga :)
02:26 Posted in Perjalanan, Reflection | Permalink | Comments (6) | Email this
20.09.2008
Karimun 6. The End of A Beginning
Ternyata petualangan belum juga berakhir. Pagi hari Senin tanggal 20 Agustus 2008, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Pulau Panjang, sebelum siangnya betul-betul balik ke Jogja. Pulau Panjang itu... bentuknya panjang (halah). Jaraknya 15 menit naik perahu dari Kartini. Cukup dekat.

Begitu sampai sana... terus terang kami kecewa. Oh tidaaak.... Sepi sekali, gersang, kering, sampah di mana-mana, papan-papan terpasang di pohon-pohon "jagalah kebersihan", pantainya juga ngga bersih lagi... hiks.... Kembalikan lautkuuu!!! Mana Karimun Jawakuuu!!! (T_T) Tapi ternyata itu ngga membuat nafsu berenang Jake, Mas Yodim dan Mas Taufiq pudar. Mba Olip dan saya nunggu aja dah sambil jepret sana-sini.




Setelah puas mereka berenang, berfoto-foto, salto-salto, jumpalitan, terjun-terjun ke air, kami pulang. Perahu yang tadi mengantar kami sudah datang lagi. Dan kali ini... petualangan kami sudah akan benar-benar berakhir :)
Sampai rumah Mas Taufiq, kulit kami makin gosong. Siap-siap berangkat ke Jogja. Hmm... selesailah liburan kami :) Bis ke Semarang siang itu masih bisa ditolerir (mungkin yang bener 'ditoleransi' kata Mas Yodim), kami masih bisa duduk. Lama-lama makin penuh... puanas... pengap... dan kami capek, jadi cuma bisa tidur. Lalu sampailah kami di Semarang. Di sini kami berpisah dengan Mbak Olip. Mbak Olip ke Solo. Jake, Mas Yodim, Mas Taufiq dan saya ke Jogja. Perjalanan ke Jogja ini penuh suka-duka. Jake dan Mas Yodim dengan tentramnya tidur dan cerita-cerita sedikit. Mas Taufiq dan saya juga sempat ngobrol banyak... tapi dia sakit heheheee....

Sampai Jogja sekitar jam 20.00. Kami berempat makan di warung Padang di dekat terminal Jombor. Lalu Beth jemput. Lalu kami pulang dengan cerita-cerita asik di kepala heheheee....
Well... begitulah cerita perjalanan kami ke Karimun Jawa. Karimun Jawa adalah tempat berlibur seberlibur-berliburnya. Berenang-renang, mainan air, menjaring ikan, menikmati laut yang beniiing banget, bersih.... Naik perahu, mendayung, kelapa muda tiap hari, makan ikan tiap hari... wah! Semuanya serba menyenangkan....
Yang paling mengesankan buat saya adalah kebersamaan kami, tujuh orang itu. Dari tujuh itu, siapa sih yang biasa bareng sama saya kalau saya melakukan perjalanan? Ngga ada :) Saya biasa pergi sendiri. Kadang-kadang, karena terbiasa pergi sendiri, saya jadi terlalu menikmati kesendirian dan terlanjur ngga menjadikan pergi bareng-bareng sebagai sebuah pilihan. Dari perjalanan ke Karimun Jawa ini, ternyata pergi bareng-bareng bisa sangat menyenangkan. Bahkan, walaupun mereka belum kita kenal baik sebelumnya. Karena sebetulnya, yang kita butuhkan adalah orang-orang yang "pas" dengan kita :) Gosipnya sih, bisa diketahui begitu saja begitu kita tahu apakah orang ini cocok atau nggak. Katanya, itu dilihat dari hati :) Mulai sekarang, saya akan mempertimbangkan melibatkan orang lain dalam perjalanan-perjalanan yang saya lakukan nanti :)
Dari perjalanan ke Karimun Jawa itu, saya jadi mikir, kayaknya teman memang ngga bisa dipilih. Teman itu didapat :)
-RhoMayda-
Terima kasih banyak... ini tulus :)
03:55 Posted in Perjalanan | Permalink | Comments (8) | Email this
Karimun 5. Last But Not Least
Liburan di Karimun Jawa hampir berakhir. Hari ini, Selasa 19 Agustus 2008, kami akan meninggalkan Karimun Jawa. Pagi-pagi sekali saya ikut Mas Taufiq menengok sebentar ada apa aja di pulau ini, selama ini kan cuma main-main di laut saja.
Pagi ini naik motor kami ke arah bandara. Ya, ada bandara di Karimun Jawa :p Namanya Bandara Dewadaru. Kecil sih, waktu itu cuma ada satu pesawat kecil (halah ngga tau deh namanya), yang ternyata milik Kura-Kura Resort, paling itu salah satu jasa yang ditawarkan mereka :) Sebenarnya, sebelum ke bandara, kami menemukan dermaga kecil di kiri jalan. Jalan pendek menuju dermaga itu agak tersembunyi, di kanan-kirinya terdapat semak-semak tinggi, berakhir di semacam danau, atau sungai, dengan air yang tenang... pohon-pohon di pinggirnya... bersih... baguuuus banget!!! Itu kayak di video klip!!! Seperti di dalam lukisan! Baguuus banget! Hwaaaaaaaaaaa... kami langsung gila. Jepret sana jepret sini. Pose ini pose itu. Loncat-loncat! Hwah!!! Bagus banget!!! :D


Lanjut... heheheheee.... Setelah puas menikmati pemandangan tiada tara dan bandara kecil mungil itu, kami ke arah pulang dengan perasaan bersalah karena cuma pergi berdua dan meninggalkan yang lainnya di rumah ngga ikut menikmati yang kami nikmati heheheee... >D (jahatnya kami) Tapi saya selalu ada pembelaan: ini adalah rejeki orang bangun pagi. Yeah! Kami pulang, anak-anak mulai berangkat sekolah. Seragam putih-merah, putih-biru dan abu-abu mulai terlihat di sana-sini naik sepeda. Wah... seru :)

Sampai rumah ternyata yang lainnya ngga ada. Ternyata mereka jalan-jalan sendiri, dan menemukan tempat yang juga asik. Ada ayunan besar di pinggir pantai :)

Setelah berkumpul, kami sarapan di belakang rumah, di pinggir laut. Mas Taufiq dan Mas Yodim masih menyempatkan diri berenang di laut belakang rumah, agak ke tengah dan katanya menemukan koral-koral yang super indah di sana. Nice closing celebration! :) And oh!!! Hampir saja lupa. Mas Mamat hari ini ulang tahun! SELAMAT ULANG TAHUN MAS MAMAT!!!



Siangnya kami pulang. Kali ini ngga pakai Muria yang enam jam, tapi pakai kapal cepat bertuliskan "Karimunjawa Ocean Park". Kapal ini cuma kapal penumpang, harga memang lebih mahal (lupa berapa), tapi cuma 2,5 jam di kapal. Yess!!! Setelah pamitan dengan Bapak Sholikul dan ibu, kami masuk kapal. Dan wow!!! Ber-AC! Ada tv-nya! Bersih! Yuhuuu...!!! Perfect choice! Alunan love songs jaman dulu mulai terdengar dari video karaoke yang ditayangkan. Lama-lama ada dangdut, dan campursari! Yeah! Saya masih inget syair sebuah lagu begini:
Ayo ngguyu... tang ting tung ting tang ting tung...
Hahahahaaa.... apa coba....

Perahu makin menjauh... guncangan ombak makin terasa.... Dan... suara-suara aneh mulai terdengar. Suara aneh semacam ini maksud saya: hoekkkk!!! Huwwwwwekkkk!!! Oekkkkkk!!! Dan... sorrr... muntahlah dia. Entah siapa, agak di belakang. Belum selesai berhoek-hoek, ada lagi satu yang menandingi di ujung sana. Hoekkk!!! Hyaaa... apa iniii.... Awalnya kami menertawakan mereka dan menamai mereka kelompok paduan suara. Hahahahaaa.... Tapi... lama-lama... suara-suara itu makin mengganggu! Banyak ternyata yang mabok! Dan... ternyata... saya jadi mual-mual juga. Gile... pucet dah.... Buru-buru siapkan tas plastik untuk jaga-jaga. Dipaksa tidur... tapi ngga bisa. Dan akhirnya saya paksakan untuk muntah, asal lega. Menunduk, menutup mulut dengan kantung plastik, dan pelan-pelan mulai muntah. Uuuh... sakit juga dadanya, muntahnya cuma sedikit. Tapi sudah cukup melegakan. Hhh....
Dan kami tiba kembali di Jepara!!! Yihaaa!!! Dengan kulit gosong yang membanggakan (heheheee...) kami berjalan mencari angkot menuju rumah Mas Taufiq. Malam ini menginap di sana. Baru besoknya ke Jogja. Wah... kepala kami dipenuhi cerita-cerita seru Karimun Jawa. Bahkan kami sudah merindukan snack yang biasa kami makan di sana. Kami merindukan Yulianti dan Yulianto. Oh... omong-omong tentang Yulianti, pas menunggu angkot coklat di pinggir jalan, kami melihat sebuah becak mengangkut ikan banyaaak banget. Mata saya terbelalak, "Yulianti!" Yulianti diangkut.... Diangkut naik becak, mirip PSK (dengan K yang berarti Komersial, bukan Keliling) :D
Fokus!
Oke, akhirnya kami memutuskan naik bis ke terminal, baru nyarter (kata dasar: carter) angkot coklat dari sana ke rumah. Sampai rumah Mas Taufiq sudah agak sore. Setelah mandi-mandi, wangi dan berdandan rapi, kami diajak jalan-jalan di kampung bareng sama Pak Udin, ayah Mas Taufiq :) Ini gara-gara ide iseng kami yang pengin ngelihat sawah, yang ternyata merupakan makhluk langka di sini. Sawah sudah jadi kebun jati, atau ladang singkong. Kenapa eh kenapa? Karena tanahnya ngga cukup basah untuk tanaman padi. Sungai terlalu rendah, ngga ada cukup air, tanah kering. Begitulah ceritanya. Waktu jalan-jalan ini kami menemukan toilet! Yah, toilet umum yang letaknya kira-kira 4 meter di atas sungai. Ruangnya sempit, dinding dan lantai terbuat dari kayu dan bambu, di lantainya ada lubang selebar pantat (haha!) dan di bawah lubang itu ngga ada apa-apanya kecuali sungai yang jaraknya 4 meter dari WC. Well... ngga ada airnya untuk cebok, apalagi toilet-paper (don't even think about it), bahkan ngga ada dedaunan (ih, jangan terlalu primitif dong) :D Lucu deh. Saya jadi inget masa kecil saya di desa. Ada juga toilet beginian. Seru kan!
Sudah gelap, dan Maghrib menghampiri (halah). Petualangan belum berakhir. Kami pulang ke rumah, dan pergi lagi jalan-jalan ke kota Jepara, jalan kaki :) Asik sekali.... Melewati taman segitiga yang ada kerangnya, melewati penjual martabak, mie ayam (halah), menuju ke shopping center, ke warung-warung belakangnya itu. Di jalan yang ke kiri, ke arah klenteng, ada tenda-tenda makan juga. Kami makan di salah satu tenda. Nasi goreng dan cap cay :) lezzzat!!! Pulangnya lewat alun-alun, lalu beli martabak :)
Satu lagi yang seru di sini adalah si Mamat yang curhat secara blak-blakan tentang cewek. Hahahahaaa.... Lucu sekali cerita-cerita cinta remaja :D





Di rumah masih main dobosan lagi, permainan kartu di mana bohong hukumnya halal :)
-RhoMayda-
03:50 Posted in Perjalanan | Permalink | Comments (0) | Email this
Karimun 4. Children on Board!
Hari ini hari Senin, 18 Agustus 2008. Saya ngga mau bangun telat. Saya harus melakukan sesuatu pagi ini! Ternyata saya boleh ikut Mas Topik dan Pak Sholikul mengangkat jaring yang ditebar kemarin sore sama Mas Mamat (huh, cuma Mas Mamat yang boleh ikut kemarin, kami ngiri). Pagi-pagi ketika cahaya di langit timur masih sangat tipis, dan laut masih agak gelap, saya dan Mas Taufiq ikut Pak Sholikul dan temannya mengangkat jaring di laut belakang rumah. Hwaaa... it was awesome! Jepret sana-sini tentu saja :)
Kami memulai dari ujung jaring yang jauh, kemudian pelan-pelan diangkat sampai perahu mendekati daratan. Ikan pertama yang tertangkap membuat saya terkagum-kagum. Tapi ikan-ikan berikutnya malah jauh lebih besar. Walah-walah.... Bayangkan saja (saya teringat kata-kata Pak Sholikul), ngga usah membuat kolam, mengatur suhu, mencari bibit ikan, memelihara, memberi makan dengan baik, tanpa repot-repot begitu, di belakang rumah ini Tuhan menyediakan ikan-ikan secara gratis! Tinggal ngambil!

Sebetulnya semua sudah ada, manusia tinggal ngambil. Kenikmatan ada di mana-mana, manusia tinggal ngambil. Ya kalau males, ngga dapet apa-apa dah.... Ah... saya harus belajar bersyukur.
Oke fokus! :)
Ikan-ikan yang ditangkap lumayan banyak. Waaa... ini akan menjadi menu makan kami! Beberapa ikan digerogoti 'lintah laut' yang kata Mas Taufiq namanya sucker heheheee....
Bentuknya sebesar kelingking, warnanya putih dengan kaki-kaki di samping kanan-kiri tubuhnya. Dia menempel secara mengerikan pada tubuh ikan, lalu menembus daging (jadi tubuh ikannya tuh berlubang gitu). Ngeri ya.... Tapi saya tetap terpesona dengan ikan-ikannya. Pak Sholikul menyebutkan nama ikan tiap kali ada ikan yang tertangkap. Saya ngga apal semuanya, tapi saya ingat ada ikan yang bernama Sri. Ikan yang agak pipih dengan sisik mengkilap namanya Yulianti (ini sih asal-asalan saja, daripada ngga ada namanya). Ikan yang agak pipih dengan sisik mengkilap dan ukuran lebih besar daripada Yulianti bernama Yulianto ^_^
Jaring sudah diangkat, kami pulang dengan ikan-ikan calon menu makan. Bahagia. Setelah sarapan, kami jalan-jalan sebentar di sekitar rumah. Rencananya adalah mencari sinyal IM3 :D tapi ngga dapet. Handphone saya ngga bisa dihubungi selama beberapa hari. Ngga apa-apa.
Ketika Anda di Karimun Jawa, maka yang akan Anda lakukan hanyalah: berada di laut. Laut laut laut, lagi-lagi laut. Jadi waktu siang itu Pak Sholikul bilang "Mas Taufiq dan Mas Yodim ikut saya nanam rumput laut, yang lainnya jalan-jalan saja keliling Karimun Jawa naik motor," kami yang bukan Mas Taufiq dan Mas Yodim merasa perlu protes. Hahahahaaa.... Kami mau ikut! Dan bukan cuma kami berempat saja (Mas Mamat, Mas Jake, Mbak Olip dan saya), tapi anak-anak desa Alang-Alang yang selama ini menjadi teman kami juga mau ikut ke laut heheheee.... Akhirnya kami beramai-ramai berjalan menyusuri kampung menuju sisi laut tempat menanam rumput laut. Pak Sholikul dan Mas Taufiq naik perahu. Kami datang di lokasi bersamaan. Satu-satu kami naik ke perahu.
Perahu dijalankan agak ke tengah, dan jangkar ditanam. Mas Taufiq dan Mas Yodim mulai membantu menanam rumput laut. Jake berenang. Mas Mamat juga berenang, beberapa anak ikut berenang-renang di laut. Kebanyakan ngga diperbolehkan berenang karena terlalu dalam. Untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari kebosanan di tengah laut, saya usulkan untuk menggambar. Harus ada yang dilakukan jika kita "terperangkap" di perahu di tengah laut. Satu-satu mulai menggambar di buku catatan yang saya bawa. Ada gambar bunga, kapal, orang... macam-macam.

Nah, ini yang menarik. Jadi kira-kira ada delapan anak kecil di perahu, berusia 7-12 tahun. Perkenalkan... anak-anak laut dari desa Alang-Alang Karimun Jawa. Anak-anak laut! Ealah... ternyata pada mabok. Mabuk laut maksudnya heheheee.... Ana tuh yang parah. Udah kelihatan stres mau muntah. Akhirnya muntah juga. Memang cuma dia sih yang muntah, tapi beberapa yang lainnya juga mengaku pusing. Yang lucu adalah si Anis. Dia pelan-pelan mendatangi saya yang duduk di kursi kemudi, di belakang. Dia bilang malu-malu mau pipis. Saya panik! Nah lo, iya sih banyak air di sana-sini. Tapi gimana caranya pipis??? Tapi si Anis buru-buru bilang kalau dia sudah pipis. Dan saya melihat celananya basah, lantai pelan-pelan juga basah. Oh! My! God! ^_^' Oke, think think think! Teman-temannya sudah mulai mengejek. Saya buru-buru bilang kalau itu ngga apa-apa. Dengan botol bekas air mineral yang ada di perahu, saya siram air kencingnya dengan air laut. Fiuh... problem solved! ^_^

Sorenya, kami beramai-ramai pulang. Semua terlihat capek. Wajah-wajah tampak saaangat lesu. Capek berenang, capek berjemur, capek duduk-duduk di perahu yang bergoyang-goyang di laut.... Puyeng juga sih... :) Wajah Ana (yang muntah tadi) masih kelihatan pucet, dia berjalan pulang ditemani Bahri. Eh tahu nggak, apa yang saya pikirkan ketika melihat Ana dan Bahri? Kalau mereka udah gede... I think they should get married!!! Hahahaaa.... Bodoh ya?! Ngga kan! Ana kelas 3 SD, Bahri kelas 4. Mereka sama-sama pinter. Dan, ngga seperti kebanyakan anak kecil di situ, mereka tuh terlihat kompak berdua. Kayaknya si Bahri tuh sayaaang banget sama Ana, dia sering mainan gelang Ana. Terus kalau Ana dinakalin sama yang lainnya, Bahri pasti bela-bela Ana. Hwaaa... seru kaaan. Hahahahaaa... apa coba. Tadinya saya kira mereka berdua kakak-adik. Ternyata sepupuan jauh. Tuh kan! Mereka harus dijodohkan!!! Hahahahaaa....

Rhomayda!!! Fokus!!!
Oke, maaf.... Ana, Bahri, ini urusan entar, jangan pusing sekarang :p (Hoi!!! Fokus!!!) Iya iya, ini terakhir. Maaf maaf....
Nah... sore-sore gitu kami duduk-duduk di belakang rumah. Lagi-lagi ada kelapa muda. Yeah! Di situ, ada meja panjang dari papan-papan kayu bikinan sendiri. Laut cuma berjarak tiga meter. Hmm... beberapa kelapa muda sudah dipetik. Mulai dibuka. Wah! Kapan lagi ya bisa duduk-duduk di pinggir laut, menikmati kelapa muda segar yang baru dipetik :)




Malam harinya saya dapat sebuah nasehat dengan legitimasi ayat-ayat suci. Heheheee... langsung terpojokkan. Ah, biar saya urus sendiri. Mari lanjutkan cerita kita! :) Well, malam itu malam terakhir kami di Karimun Jawa. Hmm... kami ngga mau tidur terlalu awal. Biasanya karena capek bermain seharian, jam 20.00 kami sudah ngantuk. Jam 22.00 listrik sudah dimatikan, diganti lampu minyak. Kali ini, kami ngga mau tidur awal. Jadi kami main kartu (kontrasnya cukup mencolok dengan ayat-ayat suci tadi hehehe...). Permainan kartu malam ini namanya... DOBOSAN! Hahahahaaa... saya banyak kalah :p
Sampai besok!
-RhoMayda-
03:45 Posted in Perjalanan | Permalink | Comments (3) | Email this
Karimun 3. Indonesian Paradise
Hari ini hari Minggu, 17 Agustus. Yang ada di kepala saya pagi itu adalah: wow... saya di Karimun Jawa! Bukan: wow... Indonesia ulang tahun. Heheheheee... suasananya ngga semeriah di Jawa sih soalnya, jadi lupa kan. Pagi ini saya bangun kesiangan, jam 05.22 (gila kan? Biasanya jam segitu baru tidur). Yang lain sudah pada berburu sunrise, saya masih harus sholat shubuh. Dan begitu mulai baca-baca di depan rumah, mereka pulang (memalukan).
Setelah sarapan kami memutuskan untuk menyeberang ke Kura-Kura Resort. Rp 100.000 untuk berlabuh di sana, dan Rp 20.000 per orang untuk biaya masuknya. Oke. Ini kali pertama kami naik perahu. Pak Sholikul ditemani seorang bapak. Waaah kami betul-betul terpesona dengan lautnya! Begitu biru, bening... dari atas perahu, batu karang di dasar laut bisa terlihat. Sssahhh! Keren bukan?! Anginnya, ombaknya, airnya, perahunya... semuanya asik! Dan kami tiba-tiba teringat bahwa Indonesia ulang tahun!!! SELAMAT ULANG TAHUN INDONESIA!!! Mulailah lagu Indonesia Raya dikumandangkan keras-keras beramai-ramai (ngga peduli seberapa bobrok suara saya) :D
Tiba di Kura-Kura Resort saya merasa orang-orang memperhatikan kami dengan tatapan "Ngapain anak-anak kayak gitu ke sini?". Yacht-yacht (apa sih ini bahasa Indonesianya?) yang parkir (hah?) di situ kelihatan berkelas. Pasti juga dimiliki orang-orang berkelas. Ah bodo amat. Saya terlalu bahagia untuk mempedulikan pikiran orang. Mari fokus....
Ada dermaga bagus dengan beberapa meja dan kursi diletakkan di situ. Orang-orang kelihatan ramai berkumpul, rupanya para karyawan sedang merayakan 17-an. Kami disambut oleh seorang bapak yang akan menjadi tour guide kami di situ. Bersama beliau kami diajak berkeliling resort itu. Pohon-pohon kelapa menjulang di sana-sini di antara kamar-kamar yang dibangun terpisah satu sama lain. Pasir putih, taman yang bagus dan rapi. Ada vila, ada apartemen... wah... asik! Apartemen tuh ada tempat tidur, ruang keluarga, dapur, kamar mandi, kolam renang, semuanya berada di dalam dinding tertutup. Sangat private, baguuus banget! Katanya sih banyak orang asing datang ke situ, terutama untuk bulan madu. Terus terang saja, saya juga langsung tertarik pengin ke situ. Tapi untuk bulan madu??? Ngga ah :D Takutnya besok-besok udah ngga se-excited ini karena udah pernah lihat sebelumnya. Lagian, saya masih merasa terlalu bodoh untuk memahami bulan madu tuh apa hahahahaaa.... Tapi sepertinya harus betul-betul exciting.
Nah, mendekati penghujung kunjungan ke Kura-Kura Resort, kami ke dermaga berniat berenang (niat aja, karena ternyata ngga ada yang renang di situ). Di situ bisa lihat ikan kecil banyaaak banget (langsung ngebayangin makan siang), tapi ngga boleh mancing (huh) hahahahaaa.... Puas foto-foto, kami meninggalkan Kura-Kura Resort dengan kekaguman tersendiri akan dibelinya tanah di seluruh pulau itu lalu dibangun resort di atasnya, dan sukses! Gila... hebat.... Ini websitenya http://www.kurakuraresort.com/ :)



Kami kembali ke perahu kami yang menyenangkan, dan kembali berlayar. Tapi ngga langsung ke rumah. Kami mampir ke bagian lain pulau Karimun Jawa yang asik untuk berenang. Yeah! Nyebur dah satu-satu. Airnya betul-betul bersih... batu karangnya... waaa... pokoknya asiiik!!! Semua basah, dan langsung item :D


Setelah puas, kami naik lagi ke perahu dan pulang. Siang ini Mas Bayu mau balik ke Jogja (saya udah males bayangin 6 jam naik kapal dan 6 jam naik bis). Tapi Mas Bayu harus balik karena ada ujian pendadaran (yang dilalui dengan sukses. Selamat yaaa). Sampai rumah langsung mandi, lalu makan siang.
Setelah Mas Bayu pergi, sore-sore kami diajak lagi ke laut. Pak Sholikul mau menanam rumput laut. Ber-6 ikut Pak Sholikul, berikut jambu-jambu monyet hasil petikan Pak Sholikul di kebunnya. Kita rujakan di lauuut..... Perahu sudah menjauh dari pantai. Jangkar dilempar, Pak Sholikul mengambil perahu kecil yang punya kaki sebelah (ngga tahu namanya). Dengan itu beliau mengikat-ikat rumput laut pada seutas tali rafia yang puaaanjang. Yang lain mulai terjun bebas ke laut. Saya baca-baca saja di perahu (di tengah laut! Nikmat betul!). Mas Taufiq ditawari naik perahu kecil itu, dia mau. Tapi harus ngambil sendiri di pantai. Yaaah terlanjur mau, berenanglah dia ke tepian (halah), dan itu jauuuh banget. Hahahahaaa... saya sih heran doang, tapi dia berhasil balik ke tengah laut dengan mendayung perahu barunya :) Mas Yodim dan Mbak Olip juga mbantuin nanam rumput laut. Perahu dengan kaki sebelah ini cukup merepotkan juga. Jadi supaya perahu ngga terbalik, beban harus ditumpukan ke sisi kaki. Perahu Mbak Olip terbalik dua kali karena ngga seimbang. Heheheee... basah dah....





Sebelum gelap kami kembali ke rumah. Setiap orang mengomentari warna kulit yang lainnya. Hahahahaaa... ngga penting banget ya. Kami seperti biasanya sholat di masjid. Maghrib itu kami ikut Pak Sholikul ngajar ngaji. Anak-anak kecil berkumpul untuk ngaji setelah sholat. Wah... ini pengalaman ngga terlupakan. Betul dah. Ada Ana, Anis, Bahri, Maulana (ini kecil tapi nakal banget), Mia, Leo.... Selesai ngaji, pulang, makan malam... tidur jam 21-an....
Hhh... this is just like a dream....
-RhoMayda-
03:40 Posted in Perjalanan | Permalink | Comments (2) | Email this
Karimun 2. Kapal 6 Jam
Kemarin, Jumat tanggal 15 Agustus siang kami berangkat dari Jogja. Malamnya menginap di rumah Mas Taufiq di Jepara. Biasanya serumah cuma dihuni dua orang (bapak dan ibu), atau tiga (dengan Mas Mamat), kini diisi sembilan orang :D
Sabtu, 16 Agustus
Hari ini Niken ulang tahuuuuuuuun! :) SELAMAT ULANG TAHUN, NIKEN!
Pagi sekali Mas Taufiq mau nyari tiket kapal untuk ke Karimun Jawa. Saya ikut (yes!). Ngga lupa bawa kamera. Sekitar jam 6 (kan?) kami ke pelabuhan naik motor. Masih pagi, masih sepi. Jalanannya bersih. Mengingatkan saya pada kota-kota di Jawa Timur, seperti Blitar dan Mojokerto. Rapi, sepi, bersih. Sampai pelabuhan, Mas Taufiq kebingungan cari info tiket, saya kegirangan bikin foto perahu-perahu kecil di situ. Yes!


Sepulang dari pelabuhan kami sarapan nasi merah goreng. Nasi merah yang digoreng. Bukan nasi goreng merah (halah, penting ya?). Sebenarnya saya ngga tahu bedanya dengan nasi putih biasa. Tapi saya suka warnanya :p dan orang bilang nasi merah lebih bergizi (ini juga saya ngga paham). Setelah sarapan, mandi, siap-siap, satu per satu diantar naik motor ke Perempatan Maut (adalah simpang jalan di Segitiga/Taman Kerang yang lebar, ramai, dan ngga pakai bangjo -traffic light-). Mas Yodim konon katanya sudah di pelabuhan. Mas Taufiq juga. Nah, sisanya (Mas Mamat, Mbak Olip, Mas Jake, Mas Bayu dan saya) naik bis kota dari situ ke pelabuhan. Yeah! Bergelantungan dah! Mas Jake mendadak ikut bergelantungan.
10 menit sampailah kami di pertigaan sebelum terminal. Kalau ke kanan tuh terminal, kami harus turun karena pelabuhan itu lurus. Sebetulnya jalan cukup jauh, tapi terlalu bahagia untuk merasa capek (halah), dan saya dapat satu foto menarik pas jalan ini.

Sampai pelabuhan jam 8 lewat. Kapal Muria berangkat jam 9. Lagi-lagi saya kegirangan bikin foto, sampai secara ilegal menerobos pintu masuk lorong dermaga kapal cepat yang waktu itu digembok (huh). Saya juga sempat ngopi di warung pelabuhan (info: harga kopi tubruk item di situ Rp 1000,-). Yes! Ini adalah awal hari bahagia. Hanya saja, semangat kebahagiaan yang berkobar ketika diberitahu bahwa perjalanan dengan kapal menuju Karimun Jawa adalah 3 jam tiba-tiba runtuh karena gosip terbaru mengatakan bahwa perjalanan akan menempuh waktu 6 jam! Lemes dah....


Mendekati jam 9 kami masuk kapal. Horeee!!! (tetep hepi menyongsong Karimun Jawa) Setelah memilih tempat duduk di pinggir kanan, beberapa dari kami naik ke ... (apa namanya bagian atas kapal tuh?). Masih bahagia. Bayangkan, kapal belum berangkat kami sudah sehepi itu! Tapi... kok malah ngga berangkat-berangkat nih... Jam 9.15... 9.30... asem... kebahagiaan sudah disedot oleh kapal yang telat berangkat.... Ngga lama setelah itu kapal bergerak. Tapi kami udah capek ketawa-ketawa :( (bodoh) Suasana kapal makin suram karena orang-orang sudah mulai mendekor lantai dengan tikar dan karpet untuk dijadikan tempat tidur yang nyaman. Beberapa orang sudah betul-betul terlelap. Kami masih melek walau ngga se-excited tadi waktu baru naik kapal. Heran juga kenapa orang-orang sudah pada siap-siap tidur....


Keheranan terjawab pada setengah jam pertama kapal perjalanan dalam kapal. Kami sudah bosan, tempat duduk keras, susah tidur, mulai mual, pusing.... Mas Bayu akhirnya beli koran untuk jadi alas tidur di lantai. Wajah-wajah kami sudah meleleh, jadi panjang gitu saking bosennya di kapal. Dan kami baru setengah jam dalam perjalanan. Masih ada 5,5 jam lagi!!! Hah! Maka lama-lama masing-masing bertransformasi jadi jelek :p


6 jam di kapal diisi dengan kegiatan-kegiatan seperti berikut: mencoba sebisa mungkin tidur dengan posisi apapun, berusaha keluar dari toilet dalam keadaan hidup (dilema antara mau nafas atau nggak), main kartu, main ke atas, kelaparan, nonton TV yang suaranya kalah sama ombak, kedinginan karena angin, kepanasan karena siang, pengap asap rokok, walah... macem-macem. Kalau dijelaskan satu per satu, maka ini bisa dijadikan bahan disertasi: pengaruh 6 jam di kapal terhadap kecerdasan bangsa (berlebihan).
Pada akhir jam keenam kami mulai melihat sebuah pulau. Dan layaknya orang yang berbulan-bulan berlayar (jadi ingat Columbus), kami bahagia luar biasa melihat Karimun Jawa sudah nangkring di situ. Daratan!!! Wajah-wajah jelek perlahan-lahan mulai bersinar (ngga profesional banget ya?), kami malah foto-foto segala hahahhahaaa....
Setelah menghabiskan siang di kapal, sore kami tiba di Karimun Jawa. Huwah!!! Bahagia!!! :D
Pak Sholikul sudah menjemput naik motor. Boncengan tiga-tiga kami menuju rumah beliau di desa Alang-Alang. Di sepanjang jalan antara pelabuhan dan Alang-Alang, saya terpesona dengan buanyaknya perkebunan jambu monyet. Langsung membayangkan rujakan.
Tibalah kami di rumah Pak Sholikul. Rumahnya cukup luas. Saya tidur sekamar dengan Mbak Olip. Yang cowok-wocok di kamar sebelah timur. Depan rumah ada masjid. Belakang ada laut! Yes! Setelah berbenah sedikit, kami jalan-jalan di sekitar rumah berburu sunset :) Lapangan depan SD dipakai untuk main sepak bola... cukup meriah. Jalan aspal ukuran Sojomerto (hehehehe...) ngga lebar-lebar amat.



Listrik bisa dinikmati dari maghrib sampai jam 22.00. Dan jam 21.00 kami sudah "tewas". Laut sudah terseberangi hari ini. Kami sudah sampai di Karimun Jawa, dan liburan menyenangkan harus segera dimulai. Yeah!
-RhoMayda-
03:35 Posted in Perjalanan | Permalink | Comments (3) | Email this
Karimun 1. Jogja-Jepara
Perjalanan dimulai pada hari Jumat, 15 Agustus 2008. Jam 13.00 janjian di kampus FIB-UGM. Saya telat :p
Mas Yodim, Mas Jake dan Mbak Olip sedang makan siang di Bonbin (adalah nama kantin depan FIB-UGM yang murah meriah). Setelah Mas Bayu datang, kami naik bis kota menuju terminal Jombor. Rutenya: Jogja-Semarang-Jepara. Mas Mamat sudah di Jepara. Mas Taufiq masih ada urusan di Jogja, jadi akan nyusul ke Jepara naik motor. Dengan tas besar, terik matahari dan keringetan, kami berlima berangkat dari Jogja. Karimun Jawa here we come....

Panasnya bis kota UGM-Jombor langsung dibalas dengan sejuknya bis patas full-AC arah Semarang. Yes! Rp 35.000 (iya kan?) nyampe Semarang dalam waktu kurang lebih 4 jam. Sampai Semarang sudah gelap, sekitar jam 19.00.
Dua kabar cukup buruk menghampiri:
- Konon, bis terakhir ke Jepara berangkat jam 19.00.
- Saya kelaparan. Setelah diingat-ingat, ternyata saya ngga sempat sarapan dan makan siang. Singkat kata, saya memang seharian belum makan. Gila.
Ngga bisa makan. Karena bis dingin dan gede itu ngga mau masuk terminal (tempat ngetem bis ekonomi ke Jepara) dan karena takut ketinggalan bis ke Jepara, kami harus cepat-cepat ke terminal. Jauh, man! 4 kilometer! (Ini berlebihan karena bawaan berat dan perut kosong dan ngantuk dan capek jadi satu) Heheheheee.... Ternyata di depan terminal samar-samar (ingat, udah gelap) terdengar (halah, gelap terang ngga ngaruh ya?) teriakan "Jepara Jepara! Jepara terakhir!" Fiuh... (lega) perjuangan kesusu-susu (terburu-buru) berakhir sudah.
Namun perjuangan suk-sukan (berdesak-desakan) baru akan dimulai... heh heh heh.... Gileee... begitu mendekati bis, pak kondekturnya langsung meminta kita naro barang-barang di bagasi. Ya jelas kami ngga rela! Kami kan menikmati nenteng-nenteng bawaan berat itu sekalian latihan otot bahu! (Bodoh) Tapi kami paham begitu disuruh naik bis. Boro-boro naik, pintu bisnya aja ngga kelihatan saking penuhnya orang! (Berlebihan) Beberapa detik berhasil naik bis, kami langsung keluar lagi karena toh bis masih ngetem. Ngga bisa menghirup oksigen tuh. Ealah, Mas Jake malah kenalan sama bule Belanda (bulbel) di terminal. Keenakan ngegosip di luar bersama bapak-bapak kondektur, tiba-tiba kami dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa bis ke Jepara itu akan segera berangkat. Kami harus (berusaha) masuk. Dari pintu depan terdengar teriakan "Mundur! Mundur mundur!" dan dari belakang "Maju, Mbak! Maju maju!" Nah, setelah benar-benar orang ngga bisa bergerak, bis baru mau berangkat. Kaki ngga bisa berpijak dengan wajar, salah satu harus miring, atau jinjit, atau nginjek kaki orang lain. Itu biasa. Ngga perlu pegangan, itu bis mau goyang sekuat apa juga penumpang ngga akan jatoh. Dan kemesraan itu berlangsung selama hampir tiga jam! Dekat Jepara bis sudah agak longgar. Inilah saatnya mensyukuri nikmat Tuhan yang bernama oksigen....

Di Jepara kami turun di alun-alun, depan Shopping Center. Di alun-alun sedang ada pengajian, orang-orang rameee banget lesehan pakai baju putih-putih. Masih berlima. Dan sekarang, kerasa banget kami lapar. Ada warung lesehan di situ. Ini pembicaraan singkat antara ibu warung dan kami:
K: Masih ada, Bu?
W: Oh... kalian berberapa? Kalau satu masih ada. Tapi lima ngga bisa. Sudah habis.
K: Apanya yang sudah habis? (Maksudnya ayamnya, atau tempenya, atau apa? Kan bisa pesan yang lain yang masih ada)
W: Sambelnya (hah???)
K: Oh ya ngga apa-apa ngga pakai sambel.
W: Tapi nasinya juga habis.
R: Hahahahhaaaaaaaaaaaaa.... (Sumpah saya ngga tahan)

Warung lain yang di soping senter juga kehabisan nasi. Di sini kami cuma jajan es teh dan camilan dikit. Tapi Mbak Olip dan Mas Bayu membawa kabar baik, bahwa mereka menemukan berderet-deret tenda tempat makan di belakang soping senter. Yes! Kami makan di situ. Perut kembali tentram....
Meanwhile, Mas Mamat dan Pak Udin (adik dan bapak Mas Taufiq) sudah menjemput. Satu per satu sampailah kami di rumah Mas Topik. Hampir bersamaan, Mas Topik juga udah nyampe. Weee keluarganya asik! Mereka punya pohon matoa (buah asli Papua itu lho) gede di halaman depan. Juga melati di samping rumah! Yes! (Jadi keinget rumah Embah di Sojomerto, dulu punya banyak melati, dan Embah selalu panen melati untuk ditaro di tempat tidurnya. Hmm... wanginya asik).



Oke fokus! Satu seri perjalanan naik bis sudah terlewati. Orang bilang Karimun Jawa itu bagus. Bagus banget, malah. Baguuus banget. Well, saya belum pernah ke sana sebelumnya. Tapi perjuangan naik bis ini, ngga boleh dikecewakan dengan perasaan ngga puas. Ngga boleh. Jadi... jaga hati. Bersenang-senanglah setiap saat. Ya sekarang juga. Yang belum ada kan belum bisa dinikmati. Nikmati saja dulu yang ada: panas, dingin, kotor, berat... semua menyenangkan ketika itu terjadi dalam perjalanan :) bersama orang-orang yang menyenangkan....
Perjalanan darat sudah dilewati. Besok kita seberangi laut.
-RhoMayda-
03:30 Posted in Perjalanan | Permalink | Comments (2) | Email this
16.07.2008
::::: Bima-Jogja
Saya mendengar ketuk pintu hari Senin tanggal 14 Juli 2008, pagi-pagi sekali. Oh, berarti sudah jam 6. Saya dibangunkan. "Terima kasih banyaaak..." saya teriak dari dalam kamar. Setelah mandi dan ganti baju, saya langsung mencari ojek. Jam 7 menuju museum Samparaja untuk mencari handphone. Ternyata ngga ada.... Ya sudah....
Kembali ke hotel, sarapan ngga santai, makan ngga dihabiskan, ngopi cuma sedikit, lalu ke kamar. Beres-beres, langsung cek out. Kemudian pamitan sama cewek-cewek counter dan para pegawai hotel yang selama ini sudah baik sama saya (makasih banyak yaa...). Saya ceritakan handphone saya hilang.... Mereka akhirnya menuliskan nomor mereka untuk saya simpan. Ke bandara naik ojek Pak Soni. Sebelumnya mampir Merpati pamit sama Mbak Yanda. Jam 8 berangkat.

Dengan Pak Soni puter-puter kota Bima cari ATM. Tapi ada tiga ATM di Bima, yang dua rusak, yang satu antrinya panjang banget! Padahal duit habis, tinggal Rp. 37.000,-. Bayar ojek aja udah Rp. 30.000,-. Gimana airport taxnya??? Akhirnya saya beranikan diri ngutang ke Merpati dan ditransfer nantinya ke rekening mereka. Tapi mereka bilang bahwa airport taxnya Rp. 6000,-. Wah!!! Berarti uangnya cukup! Hahahahaaa.... Ya sudah, bersama Pak Soni saya ke bandara.
Selesai pamitan dan membayar ojek, saya langsung masuk, cek in dan naro bagasi. Karena pesawatnya bahkan belum datang (dari Denpasar), saya jalan-jalan dulu keluar, poto-poto bandara. Eeeh ternyata bapak-bapak pegawai bandara juga mau dipoto! Kita ngobrol-ngobrol dulu rame-rame. Saya juga sempat belajar bahasa Bima dengan mereka. Tiba-tiba Pak Mahfud datang! Welah.... Tapi kita ngga bisa ngobrol lama karena pesawatnya udah keburu datang dan saya sudah disuruh masuk ruang tunggu.


Nah... ruang tunggu. Kapan saja penumpang akan dipersilakan masuk pesawat, dan saya akan pergi dari Bima. Wah... ngga jelas juga apa yang dirasain waktu itu. Hatinya kayak kebas, ngga ngerasa apa-apa karena ada begitu banyak perasaan senang dan bete di Bima :) Saya menunggu panggilan masuk pesawat sambil memperhatikan orang-orang di situ. Terlintas juga bayangan 'home' di Jogja, saya akan kembali ke Jogja, ke Jawa, tempat di mana saya mengerti apa yang orang-orang bicarakan, bahasa yang sudah saya kenal, orang-orang yang tidak asing, tempat-tempat yang sudah biasa saya kunjungi, makanan dan udara yang biasa saya rasakan. Saya akan pulang....
Panggilan masuk pesawat sudah terdengar. Saya ngga lagi menoleh ke belakang, di luar situ orang-orang melepas kepergian mereka yang di dalam sini. Begitu keluar bandara menuju ke pesawatnya, saya lihat lagi gunung-gunung yang pernah saya lihat ketika pertama kali tiba di Bima hari Jumat lalu. Saya bikin foto :) Duduk di deret kedua dari belakang, dekat jendela. Saya puas. Handphone memang hilang, rasa bete pernah ada. Tapi selain itu, pengalaman berharga sudah saya kantongi, ada di ransel, menjejal di kepala, memenuhi hati....
Merpati terbang meninggalkan Bima, ke barat sepanjang Sumbawa, terus sampai Bali jam 10.30. Di bandara Ngurah Rai ambil uang di ATM. Untuk jaga-jaga. Karena pesawat ke Surabaya berangkat jam 15.00, saya jalan-jalan dulu ke Kuta. Sampai bandara lagi masih sempat sholat di mushola. Merpati terbang lagi, kali ini ke Surabaya. Dan tiba-tiba saya pengin cepat-cepat sampai rumah :) Sepertinya saya capek....
Di Surabaya ternyata ketemu penumpang yang menyapa saya pagi tadi di Bima. Kita ngobrol sedikit. Heheheheee... ternyata ada cukup banyak orang yang mau ngobrol sama saya padahal belum kenal :p katanya begini kepada temannya, "Dari gelagatnya, sepak terjangnya, saya perhatikan mulai di bandara Bima, dan saya tahu dia ini bukan orang sembarangan." Makasih Pak :)
Saya cari taxi ke stasiun Gubeng. Pak Udin, nama sopir taxinya setelah kenalan, ternyata suka ngobrol juga. Dia malah curhat tentang kehidupan rumah tangganya yang dinilai ngga nyaman gara-gara dulu dia dijodohkan (halah), dan berkali-kali menanyakan kapan saya ke Surabaya lagi. Katanya, kalau hari ini saya ngga harus ke Jogja, saya akan diajak jalan-jalan keliling Surabaya gratis! Hahahahaaa.... Janganlah, saya sudah punya tiket kereta Bima ke Jogja jam 17.00.
Tiba di Gubeng masih ada waktu untuk ngopi di luar stasiun. Di situ saya ngobrol dengan bapak pemilik kedainya dan satu pelanggan, akhirnya obrolan sampai kepada perjalanan saya ke Sumbawa. Ternyata ngga banyak cewek muda yang datang ngopi di kedai sendirian, dan yang pergi ke Sumbawa sendirian heheheheee.... Pak kedai kopi memberi tahu, ini sudah hampir jam 17 (oh iya, kan saya ngga bawa jam). Saya pamit, dia bilang, "Saya perhatikan dari tadi waktu lihat Mbak, saya pikir itu turis dari mana?" :D
Saya naik kereta, menunggu berangkat. Sudah sore. Matahari sudah akan tenggelam. Wah... sendu sekali rasanya. Matahari seperti capek dan siap tidur. Saya juga capek, tapi ngga bisa tidur. Kilatan-kilatan peristiwa selama 9 hari keluar Jogja berkelebatan di kepala. Banyak yang telah dipelajari, masih ada jauh lebih banyak yang akan terjadi. Satu-satu harus dilalui. Jam 22.15 sampai Tugu Jogja, Beth jemput dan langsung mengomentari tato yang ada di tangan serta warna kulit yang makin hot (maksudnya item).
Saya sampai Jogja dengan selamat :) Baik-baik saja. Kerasa capek banget.... Saya capek :) Sesak nih. Lain kali kalau memang mau pergi jauh, mungkin harus bawa ransel yang lebih besar... atau hati yang sangat besar :) jadi ngga capek-capek amat. Kapasitas semua yang saya bawa memang serba terbatas... tapi cukup bisa diandalkan ^_^ Senangnya bisa pergi jauh, dan senangnya bisa balik lagi ke Jogja....


Sampai ketemu lagi :)
-RhoMayda-
06:24 Posted in Perjalanan | Permalink | Comments (15) | Email this
.:::: Bima, 13 Juli '08
Bangun pagi di Bima untuk kedua kalinya terasa lebih oke. Saya tidur masih ngga terlalu nyenyak, tapi setidaknya kamar saya tertutup. Kemarin siangnya saya cek out kamar 210, membayar lunas, dan mendapat kamar ganti nomor 116, letaknya di lantai dasar. Kamar 116 jauh lebih bagus, selisih Rp. 50.000,- ngga masalah. Tertutup, ber-AC, TV, tempat tidur nyaman, ada selimut, kamar mandi lebih besar, wastafel, lantai bersih. Oke!
Jam 08.00 sarapan di restorannya. Menu kali ini daging, pedes.... Tapi saya tetep bikin kopi, yeah! Selesai sarapan, mandi, lalu siap-siap jalan-jalan lagi. Hari ini saya ngga pinjem motor, saya mau jalan-jalan dekat sini saja. Atau ke makam raja-raja, tapi naik ojek saja karena ngga tau tempatnya. Kemarin saya sudah hubungi Ibu Maryam, kita sudah janjian ketemu hari ini (13 Juli) di rumahnya jam 17. Seharian bisa jalan-jalan dulu.
Keluar kamar langsung ke mas-mas VCD di pasar. Kali ini saya sudah tahu mau beli VCD apa. Dikasih tau cewek-cewek counter beberapa musik khas Bima: gambus, biola Katipu, dangdut. Hehehee... masnya heran. Di situ saya dapet sms dari seorang pegawai Merpati di dekat hotel, katanya mau ngobrol-ngobrol berbagi pengalaman karena dia tahu saya anak Bahasa Indonesia., Dia sendiri Sastra Inggris. VCD saya taro di hotel dulu, baru saya ke Merpati, menemui Mbak Yanda itu.
Walah! Ini adalah berkah! :)
Mbak Yanda bersedia diajak jalan-jalan. Yes! Jam 13.00 kita keluar Merpati, menuju masjid Sultan (hehehee... pengin sholat di situ, dan poto-poto) yang letaknya di seberang lapangan museum ASI Mbojo. Ngga jauh. Dari situ kita makan bakso dulu, mie bakso yang seharusnya putih tuh di situ biru! Ajaib! Ohya, harga baksonya Rp. 6000,-. Setelah kenyang, kita melewati Jl. Sulawesi, di ujungnya mencari 'benhur' (dokar atau andong). Naik benhur tuh ternyata ngga senyaman naik andong di Malioboro. Ini ya, begitu naik, benhurnya 'njomplang' ke belakang. Heheheee... terus goyang-goyang gitu. Tapi selebihnya, yang penting adalah pengalamannya. Saya mensyukuri pertemuan dengan Mbak Yanda, karena kalau ngga ketemu dia mungkin saya ngga berani naik benhur sendirian. Ohya, kudanya saya beri nama Michael.


Tujuan pertama kita adalah Tolobali, salah satu situs makam raja. Situs ini terletak di tengah kampung. Makamnyaluas dan terang, di tengah ada pohon besar. Kompleks makam raja dibatasi pagar besi. Di luar itu adalah makam-makam umum. Ada tiga makam utama, dua masih berkubah, satu terbuka. Makam-makam itu adalah makam Sultan Jamaluddin (sultan ke-4), Sultan NUruddin (sultan ke-3) dan Sultan Abi'l Khair Sirajuddin (sultan ke-2). Makam raja yang terkenal sebetulnya adalah Dana Traha, letaknya di atas bukit. Tapi begitu melihat makam Tolobali, saya langsung mengenali foto dalam buku J. Noorduyn Bima en Sumbawa. Foto itu dibuat pada tanggal 2 Agustus 1910. Dan saya di situ membuat foto makam yang sama pada tanggal 13 Juli 2008. Wow.... (Halah)

Dari Tolobali kita ke Dana Traha. Benhur tidak bisa menanjak terlalu jauh. Dana Traha adalah kompleks makam raja yang letaknya di atas bukit. Kita harus jalan atau naik ojek. Mbak Yanda menunggu di bawah bersama dua orang bapak. Saya jalan ke atas, bareng sama dua orang anak laki-laki yang kebetulan juga mau ke sana. Gila! Pemandangan dari atas kelihatan bagus banget!!! Seluruh Bima bisa kelihatan! ^.^ Yeah!!!
Saya ngga bisa tahu ini makam siapa, karena ngga boleh masuk. Cuma bisa bikin foto dari luar pagar. Tapi ngga apa-apa, bisa ditanyakan orang kapan-kapan :)
Masih takjub dengan apa yang bisa dilihat dari atas bukit itu, saya bikin foto sana-sini. Dana Traha katanya rame banget kalau Minggu pagi. Orang-orang beradatangan untuk olah raga pagi, ada juga yang jualan. Mungkin mirip Sunday Morning di UGM :)


Puas dengan Dana Traha, kita lanjut ke sebuah kampung (lupa dah namanya), masih bersama Michael. Sebelumnya kita mampir pasar di kota beli Kinca/Kawi (apel Bima katanya), untuk rujakan ntar malam heheheee.... Ternyata banyak aktivitas juga di kampung di Bima: bertani, industri genteng, pemilik benhur.... Asik dah. Dalam perjalanan pulang kami berhenti sebentar mau beli ro'o parongge (daun kelor) di orang kampung, tapi ngga boleh beli suruh metik aja di pinggir jalan. Mas benhur memanjat pohon, metik daun kelor. Di Bima, sayur kelor adalah makanan khas. Yes! Kita masak itu di rumah Mbak Yanda :)
Kita pulang ke hotel sebentar ambil oleh-oleh untuk Ibu Maryam, sore ini kita ke sana (saya dan Mbak Yanda). Karena museum Samparaja dekat dengan rumah Mbak Yanda, saya ditawari main ke rumahnya. Walah, keluarga Mbak Yanda asik! Mereka ramah banget, baiiik banget! Disuruh makan dulu, pakai daun kelornya, baru setelah itu ke Ibu Maryam.
Ada tiga tamu di rumah Ibu Maryam. Mereka dari Unhas. Kita masuk aja. Akhirnya malah kenalan dan ngobrol bareng. Lalu datang lagi Pak Iwan, dosen STIT yang sering menemani dan membantu Ibu Maryam. Obrolan makin seru. Ternyata besoknya (tanggal 14 Juli) ada seminar di museum istana. Sayang sekali saya sudah ngga di Bima.... Kita di Bu Maryam sampai malam. Jalan-jalan di museum Samparaja juga, lihat-lihat naskah, lihat bo' (buku harian istana). Wow....
Saya juga sempat mencicipi sambal Bima, namanya bohi dungga. Sambal ini warnanya kuning, dan ditaro di botol air mineral ukuran besar. Bahan utamanya adalah jeruk. Ditambahi cabe dan garam, sedikit gula, jadi deh sambal Bima. Rasanya asem! Enak banget!!! Hahahaaa... saya langsung suka sama makanan itu! :p


Jam 21.30, setelah puas poto-poto, Mbak Yanda dan saya pamit. Di rumah Mbak Yanda kita masih sempat ngerujak Kawi. Kawi adalah buah khas Bima, dan sangat membantu bagi Anda yang punya masalah dalam peluapan emosi. Cara membuka buah Kawi ini tidak dengan diiris menggunakan pisau, tapi dibanting! Hahahaaa... iya dibanting! Dibanting di lantai rumah :D Keren banget kan! Emosi makin memuncak, makin cepet buahnya kebuka hahahahaaa.... Buah ini rasanya kecut sepet, dan ternyata bikin serak (ketahuan besok paginya), dimakan dengan garam dan cabe. Sedddaaap....

Di rumah Mbak Yandalah saya sadar bahwa handphone saya hilang :( Dicari-cari ngga ada. Ya sudah saya memutuskan untuk mencarinya di museum Samparaja besok paginya saja. Pulang ke hotel dengan perasaan campur-aduk. Saya minta tolong mas pegawai hotel yang ada di ruang depan untuk membangunkan saya besok paginya jam 6 karena saya ngga punya alarm lagi. Dia mau. Malam itu saya packing. Lalu tidur....
Perjalanan di Bima hampir usai....
-RhoMayda-
06:23 Posted in Perjalanan | Permalink | Comments (6) | Email this
:::: Bima, 12 Juli '08
Ini adalah bangun tidur pagi hari pertama saya di Bima. Biasa aja sih heheheee.... Jam 8 saya ke bawah untuk sarapan di restoran hotel Lila Graha. Dengan piyama dan jaket hitam saya ngantuk-ngantuk duduk di kursi yang paling dekat dengan trotoar. Buku harian, handphone dan dompet saya bawa. Mbak pegawai hotelnya bawa makanan ke meja: nasi putih, sayur bening dan bandeng presto. Yes! Dia bilang, "Teh dan kopinya di sana ya," sambil menunjuk meja di belakang. Oke, mari kita ngopi :)
Selesai sarapan, ke kamar lagi. Mandi pagi tak lupa gosok gigi. Karena ini adalah kamar kelas ekonomi, ventilasi di kamar tidur dan kamar mandi ditutup pakai kertas koran. Gila! Sewaktu mandi, tuh koran bergerak-gerak! Paniklah saya! Dengan prasangka buruk bersliweran di kepala, saya buru-buru keluar kamar mandi dan menutup pintunya keras-keras! Ih ngeriii.... Ganti baju takut-takut, buru-buru bersiap-siap. Agak tenang gitu, akhirnya keluar kamar. Karena masih syok, saya telp Ib di Jogja. Ib bilang, "Pindah kamar aja, selisih lima puluh ribu ngga apa-apa, asal aman nyaman."
Pagi ini saya janjian sama cewek-cewek counter untuk jalan-jalan di museum istana, mereka saya culik dari kerjaan mereka. Alasan mereka, Sabtu biasanya sepi (hehehhee...). Jam 09.30 kita jalan kaki ke museum ASI Mbojo. Ealah, ternyata Hendra pak polisi datang nimbrung, tapi ngga ngikut ke museum. Cewek-cewek agak heran kok saya kenal cowok itu :D
Sampailah kita di museum. Tiket masuknya Rp. 2000,-. Kami bertiga: Neti, Nina dan saya. Pagi itu rameee banget murid-murid SD pakai baju pramuka (jadi ngerasa tua, heheheee...). Museum ini dulunya adalah istana kesultanan Bima. Tahun 1927 museum ini mengalami pembangunan ulang (re... apa? Rekonstruksi? Reformasi?). Cukup besar lho bangunannya, memanjang. Teras depannya luas dan tinggi.


Kita masuk dengan menaiki tangga-tangga kecil sepanjang teras. Di dalam sebelah kiri terdapat tangga ke lantai atas. Di lantai dasar ada bermacam-macam ruangan. Sebelah kiri adalah Ruangan Emas, menyimpan senjata-senjata dan peninggalan istana yang terbuat dari emas. Sebelah kiri adalah pakaian-pakaian adat, perangkat tradisional dan uang zaman dulu. Di atas ada kamar raja dan putra-putri raja. Ada juga ruang kerja raja di ujung sebelah utara. Yang menarik dari ruang kerja raja adalah bahwa ruangan ini tidak bermeubel. Katanya raja kerja lesehan, duduk di lantai. Kalau ada tamu, tamu itu juga lesehan. Katanya, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah :) Di ujung satunya lagi terdapat beberapa ruangan kosong yang salah satunya memiliki akses ke ruang lantai dasar yang berupa tangga sempit. Ruang-ruang kosong itu adalah ruang tempat tinggal para jin istana dan ruang eksekusi pembangkang peraturan istana. Hehehe... serem ya. Si Neti dan Nina merinding katanya :)
Di bagian tengah lantai atas ini terpampang papan dengan aksara-aksara Nusantara, salah duanya adalah Bima dan Jawa. Di pinggir selatan terdapat contoh pelaminan Bima dengan sebelah kirinya kostum pernikahan rakyat biasa dan sebelah kanannya kostum pernikahan keluarga istana.

Di luar museum, masih dalam kompleks museum istana terdapat bangunan lain yang katanya adalah tempat tinggal. Tapi ada juga yang bilang kalau tempat itu sakral. Walah....
Dari cewek-cewek di counter saya dengar bahwa Bima itu kental dengan mistik. Ngga kelihatan memang dari luar, tapi itu betul-betul ada. Saya sering sekali dinasehati untuk berhati-hati. Katanya, kalau orang Bima sudah sakit hati, dia bisa berbuat apa saja. Dengan diam saja dan memperhatikan satu rumah, rumah itu bisa terbakar dan apinya ngga merembet ke rumah kanan-kirinya, meskipun rumah-rumah itu berhimpitan. Duh Gusti....
Oke, fokus! :D
Kami sudah selesai jalan-jalan di museum. Saya hubungi Hendra, siapa tahu mau ikut jalan-jalan keliling Bima naik motor. Tapi dia sibuk katanya. Ya sudah, kita pulang ke hotel. Mereka melanjutkan kerja, dan saya siap dengan motor yang saya sewa dari Pak Soni, ojek langganan Lila Graha.
Dengan motor itu saya keluar Jl. Sumbawa, ke kiri Jl. Sulawesi mengitari lapangan museum istana. Belok kiri menyusuri Jl. Sukarno Hatta. Di kanan jalan ada masjid Sultan M. Salahuddin. Lurus terus ada stadion, sebelahnya ada semacam pendopo yang biasanya digunakan untuk pernikahan. Sebelah pendopo itu ada perpustakaan (pengin ke sana tapi ngga jadi). Lanjut sampai bosan. Melewati rute yang dilewati Hendra malam itu. Ada makam di bukit, ada batu keramat besar di pinggir jalan, ada taman kota di tengah jalan, memisahkan dua ruas jalan. Lalu saya balik lagi ke kota.
Melewati terminal, lurus terus ke arah bandara. Nah, di situlah sepanjang jalan saya berdecak-decak kagum dan membuktikan dengan mata kepala saya sendiri bahwa Tuhan itu hebat! Pantai di sebelah kanan berwarna biru, terlihat luaaas dikombinasi dengan gunung di kiri kanan, pohon-pohon kelapa.... Sampai ke daerah Panda, itu artinya, bandara semakin dekat. Di Panda banyak orang berjualan jagung bakar di kanan-kiri jalan. Saya masih mengendarai motor melewati Panda begitu saja. Keluar Panda jalanan mulai menanjak tajam, ini perbukitan. Turun situ adalah daerah Belo. Di pertigaan saya belok kanan, parkir motor di pinggir jalan dan menikmati luasnya tambak bandeng di pantai. Di sinilah kamera saya pertama kali beraksi.

Puas jeprat-jepret di situ, saya ambil rute yang sama ke arah kota, mampir dulu di Panda beli jagung bakar dan ngobrol sama yang jual. Perjalanan pulang inilah yang agak lebih lama dari berangkatnya, karena saya berhenti tiap lima meter untuk bikin foto (berlebihan). Baguuus banget landscape-nya! Kendaraan-kendaraan yang melewati saya biasanya kasih klakson. Foto-foto yang saya ambil temanya ngga lepas dari pantai dan bukit. Wow... asik! Panas ngga terasa lagi :)
Sudah sore dan capek akhirnya pulang ke hotel. Di counter kenalan dengan Pak Mahfud. Dia ajak saya ke pelabuhan dan ke kampung Kolo (iya ya?) yang letaknya di atas bukit untuk melihat pelabuhan, pantai dan kota Bima dari atas. Baguuus banget! Foto tambah banyak hehehheee.... Malamnya kita makan di Amahami (gini ya nulisnya?) dekat Lawata. Lawata adalah tempat orang pacaran kalau malam. Gile, motor diparkir. Ini tempat nongkrong anak muda, sepanjang pantai rame buanget! Jam 21 ke arah hotel.

Ada yang menarik ketika kita tiba di hotel! :)
Jadi di ujung Jl. Sumbawa, tepat di depan pos polisi, banyak orang berkumpul sangat gaduh, padahal sudah malam. Di situ ada kontrol helm. Malam Minggu ternyata banyak yang ngga pakai helm. Kalau ada yang kena, mereka teriak. Heheheee.... Kata pegawai hotel, biasanya ngga ada kayak gitu, tapi ini kok tumben malam-malam, pas malam Minggu pula.
Hari ini saya betul-betul terkagum-kagum pada keindahan kombinasi alam Bima. Bukitnya memang bebatuan, pasir pantainya memang ngga putih, tapi kombinasi gunung, laut, warna biru, hijau, coklat, bagggus banget!
:) Kalian harus ke Bima sendiri....
-RhoMayda-
06:22 Posted in Perjalanan | Permalink | Comments (3) | Email this




