22.12.2008

Ib

Ib adalah ibu yang beda banget dengan mainstream. Ib tuh ngga kayak Embah, ngga kayak Oma, ngga kayak Tante, yang juga adalah ibu. Ya dia tuh gitu (Amee akan bilang "Beliau Ma, bukan dia"), punya karakter sendiri sebagai ibu. Ib akan selalu penasaran saya sedang jatuh cinta sama siapa, dan itu dicek setiap hari, apakah saya masih tetep jatuh cinta sama dia. Kalau jawabannya iya, Ib mulai senyum-senyum unik sekali. Dan kalau jalan-jalan, dia rajin menunjukkan barang-barang yang menurutnya cocok dikasihkan si cowok. Seperti gantungan kunci berbentuk hati, bingkai foto dengan motif hati, mug dengan gambar hati... semuuua barang yang ada hatinya. Dan biasanya saya tolak. Tapi Ib ngga keberatan kalau saya pilih buku saja. 

Ib adalah ibu yang haaarus dikenal oleh teman-teman dekat saya. Kalau ada nama baru, dia akan mulai tanya, "Siapa lagi itu?". Dan saya jelaskan. Jadi lain kali dia paham siapa yang saya omongkan. Kalaupun ada teman yang ngga kenal Ib, biasanya Ib yang kenal dia. Seenggak-enggaknya lewat mulut saya. Kalau saya pergi ketemu teman-teman, Ib akan titip salam. Kalau saya dari rumah Jogja mengunjungi teman-teman ke luar kota, Ib akan titip salam, PLUS bakpia. Heheheee. Kalau teman saya main ke rumah dan saya ngga ada di rumah, Ib yang akan mulai ngerumpi sama dia. Kalau cewek-cewek dan saya sedang ngegosip di kamar, Ib akan tiba-tiba masuk bawa makanan dan air putih, sambil bilang "Eeeh ada apa ini? Ada gosip apa?" Kalau saya pamit dari teman mau pulang, mereka akan titip salam ke Ib.

Ib ngga pernah melarang saya melakukan perjalanan. Adik saya cowok, Beth, malah lebih bingung kalau saya pergi sendiri daripada Ib. Sewaktu saya (bahkan saya sendiri) bimbang ketika akan ke Sumbawa sendirian, Ib dan Om bilang "Tunggu apa lagi? Ada waktu, ada tabungan, ada kesempatan. Pergi aja." (Hoo jangan-jangan maksudnya saya diusir) Hahahaaa.... Nggak nggak, Ib percaya betul saya akan baik-baik saja. Tapi harus ada timbal baliknya, saya harus tetap bisa dihubungi. Jadi dia akan jadi cerewet kalau saya ngga punya pulsa dan batere hape habis (yang biasanya memang begitu).

Kalau ada cerita baru tentang cowok atau gosip di kampus, Ib akan di-update. Kalau saya lagi ngga ngapa-ngapain, Ib akan nawarin kopi. Setelah kopi kedua, Ib akan jadi cerewet kalau saya akan minum kopi lagi. Kalau saya nulis sampai pagi, Ib akan cerewet. Kalau saya tidur sampai siang, dia cerewet lagi. Kalau saya membosankan karena bikin tugas terus, Ib akan ngajakin jalan-jalan. Terakhir dia belikan t-shirt "Wake up and smell DE coffee"-nya kopi Douwe Egberts. Heheheee.

Ib ngga suka anaknya boros. Dia tahu saya ngga beli baju mahal, dan mulai cerewet kalau saya 'terpaksa' beli buku baru di stasiun karena lupa bawa buku dari kos untuk dibaca di kereta. Kalau buku yang saya beli udah kebanyakan, Ib akan otomatis cerewet, tapi cuma sebentar. Ib juga mulai ikut bingung, buku-buku saya itu, yang ada di rumah, di kos, di gudang, di kardus-kardus di kamar, di Jogja... itu semua mau diapain.

Ib sudah dari tadi ketiduran di sofa. Saya fokus nulis. Kaget sekali karena yang tadinya sepi, tiba-tiba Ib bilang:

I: Eh, Pisa yang di Italia itu kok bisa miring ya?
R: ...

R: (Ngakak) :D 
I: Kenapa? Aku tuh serius ini. Mikir dari tadi, itu kok bisa miring ya?

Saya masih ketawa. Tapi Ib tidur lagi karena Ib tahu bakal lama nungguin saya berhenti ketawa dan ngasih penjelasan apa yang aneh kok saya ketawa.

:)

-RhoMayda-

Ayo Ib, kapan kita potong rambut di Ilse?

00:43 Posted in Ngopi | Permalink | Comments (17) | Email this

28.11.2008

Tanggung Jawab

Sedang ngopi? Mari ngobrol santai tentang tanggung jawab (hahahhaaa...).

Pernah dengar 'tanggung jawab'? Saya kenal istilah 'tanggung jawab' tuh dari pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP, waktu itu) di SD. SD saya namanya SD Sojomerto 02, di desa Sojomerto kecamatan Reban kabupaten Batang Jawa Tengah. Guru saya mengajari semua yang ada di buku PMP, salah satunya ya bab tentang tanggung jawab itu. Sampai saya menulis ini, makna tanggung jawab yang saya pahami ngga jauh-jauh dari kewajiban setiap orang untuk melaksanakan kewajibannya dengan baik dan benar. Sebuah definisi yang bisa membuat saya naik kelas seketika itu juga. Kewajiban untuk melaksanakan kewajiban. Wow. Tapi... hmm... saya benci kewajiban, apapun bentuknya. Ada yang tersinggung? Silakan. Saya tetap benci kewajiban. Apapun bentuknya. Tapi saya sedang jatuh cinta kepada tanggung jawab. Hfff... iya tahu, bisa jadi saya gila. Tapi ini ulah kepala saya. Salahkan dia.

Fokus!

Oke oke, maaf. Maksud saya adalah, kalau tanggung jawab adalah kewajiban, maka saya ngga akan mungkin jatuh cinta kepadanya. Nyatanya, sekarang saya sedang memuja-muja tanggung jawab (iya bener, berlebihan) dan tetap benci kewajiban. Tapi mungkin selama ini saya salah memahami makna tanggung jawab. Tapi bukankah tanggung jawab itu tercermin dari sikap-sikap seperti mengakui kesalahan, memperbaiki yang dirusakkan, membeli yang dipecahkan (seperti tercantum di toko-toko barang pecah belah)? Oh! Ada satu lagi kasus khas tanggung jawab: menikahi cewek yang dihamili. Hahahaaa.... Menikahi cewek yang dihamili. Itu contoh tanggung jawab yang paling pas.

Sampai saya menulis ini :)

Waktu saya masih SMA, Bapak pernah mengatakan sesuatu yang sangat aneh dan sulit dipahami waktu itu. Katanya, "Dia kan temanmu, kamu harus bertanggung jawab. Itu tanggung jawabmu sebagai teman. Kamu bisa menasehatinya, kamu bisa ngomong sama dia, kamu bisa menjaganya." Wattt??? Dalam hati saya protes "Loh! Itu kan bukan urusanku, aku ngga mau ikut campur, biar mereka aja yang menyelesaikan masalah mereka sendiri." Tapi saya diam saja. Bukan karena saya merasa saya salah, Bapak benar dan saya ngga berani membantah Bapak, tapi karena bingung bapak saya ini ngomongin apa sih. Selebihnya saya tetap merasa benar dan Bapak salah. Tapi oke harus saya akui, saya memang ngga mau membantah Bapak. Hehehe....

Saya hanya bingung karena konsep tanggung jawab yang dipakai Bapak ngga sama dengan yang saya pahami. Jangan-jangan karena dulu dia ngga sekolah di SD Sojomerto 02. Dulu dia di SD Sojomerto 01 (dua SD itu letaknya berseberangan). Jadi sebenarnya tanggung jawab itu apa? Kenapa saya punya tanggung jawab terhadap teman saya padahal saya ngga terlibat dengan urusannya? Kalau diterapkan secara goblok pada definisi tanggung jawab yang saya temukan secara jenius: saya kan ngga perlu menikahi teman saya yang dihamili oleh orang lain. Kan kan kan? Tapi itu kira-kira enam atau tujuh tahun yang lalu. Dan ngga ada yang dihamili atau menghamili. Itu cuma analogi dan aplikasi (halah).

Setelah kasus kata-kata-Bapak-yang-membingungkan itu, saya masih baik-baik saja, dan ngga menunjukkan kemunduran IQ secara drastis atau cacat mental yang ganas. Usia saya bertambah secara otomatis dan kepala saya berfungsi secara semena-mena (biasanya sama sekali ngga berfungsi). Maksud saya, semua berjalan normal. Tapi karena pengalaman hidup kita makin bertambah, orang yang kita kenal makin banyak, cerita-cerita di sekitar kita makin menarik... karena kita belajar dari banyak hal, kita makin bisa menyeleksi dan mengoreksi isi otak kita. Idih jadi bingung.

Sekarang saya sedang curiga, jangan-jangan tanggung jawab adalah karakter yang paling penting dimiliki setiap orang. Cuma tanggung jawab yang paling penting. Kenapa? Karena eh karena, tanggung jawab menuntun kita menuju kepuasan (hahahahaaa...!!!). (Hush!) Tanggung jawab adalah karakter yang sangat dekat dengan kemampuan manusia untuk berkeinginan, berpikir, mempertimbangkan dan akhirnya memilih. Nah! Bukankah manusia bebas memilih? Bukankah manusia memiliki kebebasan yang luaaar biasa luas untuk memilih? Bukankah manusia selalu menentukan pilihan? Bukankah itu cara mereka hidup, dengan menentukan pilihan? Bukankah menentukan pilihan itu sesuatu yang otomatis dan natural? Nah... bertanggung jawab adalah reaksi positif dari sifat natural manusia yang selalu menentukan pilihan. Reaksi negatifnya apa? Ngga tanggung jawab hahahaaa... (hush). Dan konsep menentukan pilihan tuh sangat sangat sangat ngga cocok dengan konsep kewajiban. Haha! (Saya benci kewajiban. Huh)

Saya ngga percaya kalau ada manusia yang ngga punya pilihan. Setiap manusia selalu bisa memilih. Cuma kadang, kita akui saja, pilihan yang tersedia memang ngga banyak. Kadang cuma ada dua pilihan, yang itu atau yang ini saja. Dan tanggung jawab adalah kunci menuju kepuasan, apapun pilihan kita. Tanggung jawab adalah peran yang muncul begitu kita menentukan pilihan, apapun pilihan kita. Pilihan-pilihan yang kita buat, semuanya punya konsekuensi dan resiko masing-masing. Nah, konsekuensi dan resiko inilah yang saya maksud dengan tanggung jawab.

Mari kembali ke kasus kata-kata-Bapak-yang-membingungkan itu tadi. Situasinya adalah, saya punya teman. Dia punya masalah. Kenapa Bapak bilang saya punya tanggung jawab terhadapnya? Itu karena Bapak tahu bahwa saya sudah menentukan pilihan untuk menjadi temannya. Sebagai temannya, saya punya resiko (kedengarannya negatif ya?), punya konsekuensi, punya peran. Saya mulai berpikir apa yang baik untuk dia, apa yang pengin saya lihat dalam dirinya, bagaimana membantunya. Dan saya akan melakukannya dengan senang hati. Bukan karena itu kewajiban saya, tapi karena itu pilihan saya.

Saya memilih menjadi mahasiswa, ya saya punya tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah, itu resikonya. Saya memilih menyetujui predikat sebagai kakak, ya saya punya tanggung jawab terhadap adik saya. Saya memilih menjadi istri, ya saya bertanggung jawab terhadap suami (sebagai info saja, saya belum menikah). Saya memilih ikut Ramadhan, ya saya punya tanggung jawab untuk ikut aturan mainnya. Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya :)

Jadi... apakah kita sudah memerankan peran kita secara maksimal setelah menentukan pilihan? Apakah kepuasan sudah tercapai? Kepuasan dunia? Kepuasan akhirat? Kepuasan lahir-batin, jiwa-raga? Hehehehe.... Ataukah kita memilih untuk tergoda sebentar karena godaan di kanan-kiri sangat menggiurkan? Apapun pilihan kita, ya tanggung jawab. Jadilah manusia yang manusiawi. Bosan atau gagal itu biasa. Sedih dan marah itu cerita lama. Nanusia cuma bisa usaha kan? Hehe... ngga juga sih (halah). Manusia bisa usaha dán memilih. Memilih untuk menikmati kegagalan dengan mengunci diri dan menangis sejadi-jadinya sambil misuh-misuh ngga jelas juga boleh. Memilih untuk pura-pura gembira juga oke. Yang penting tanggung jawab, apapun pilihannya.

Saya (hampir) yakin, kalau mau bahagia, merasa nyaman, puas dan tenang, tanggung jawab harus ada. Itu makanya, orang yang lari dari tanggung jawab biasanya gelisah dan merasa bersalah. Karena dia bersikap egois, mengabaikan perannya dan mengkhianati pilihannya.

Hohohooo omong apa ini :D

-RhoMayda-

Dan saya sedang mempersiapkan diri untuk melaksanakan sebuah tanggung jawab yang besar banget. Mungkin yang terbesar seumur hidup (halah). Cuma bisa memulai semuanya dengan niat baik, dan restu Tuhan. Hehehe.... Semoga pilihan saya ngga ngawur. Amiin.

 

04:05 Posted in Ngopi | Permalink | Comments (10) | Email this

20.11.2008

Pas

Apa kabar? Iya saya tahu betul, Kampoeng saya berantakan. Tapi saya yakin, cuma Kampoeng saya yang berantakan. Anda masih rapi dan tetap sehat kan? :)

Mau cerita nih. Tentang perjalanan pulang dari Lommel ke Leiden.

Singkat kata, sebetulnya saya ngga berniat ke Lommel. Tapi orang tua dan Tuhan berkehendak lain. Diculiklah saya pulang. Saya, yang ngga mempersiapkan apapun untuk menginap di rumah, mau saja diboyong pulang. Tapi ini sudah biasa. Saya pulang karena si Beth, adik saya itu, datang dari Jogja. Nah, niat untuk mengerjakan tugas seharian pada hari itu langsung dimodifikasi. Gila kan! Jarang-jarang saya punya niat seindah itu, mengerjakan tugas! Ealah, sekalinya ada, masak langsung ada godaan? Hidup memang menggoda. Serem kan! Tapi, untunglah laptop saya bawa. Tugas harus bisa diurus.

Dan benar saja. Siang itu saya memutuskan (hmm... bahkan sekarang masih heran sendiri) untuk bertapa di perpustakaan kota. Di Lommel. Gila... itu adalah kenikmatan tersendiri. Perut kenyang, bisa nulis, ruangan hangat, pilih meja di lantai atas yang pinggir, menghadap ke lantai bawah, di antara rak-rak buku, lampu cukup terang, beberapa orang juga mencari buku, banyak banget anak kecil di bawah di bagian koleksi anak-anak... saya ngga peduli. Telinga saya tersumbat lagu "SMS". Sampai lagu kesekian puluh, tiba-tiba terasa lapar. Dan kaget sekali karena ternyata di luar sudah gelap. Horor. Bukan horor karena gelap, tapi karena tugas benar-benar dikerjakan dan ngga memperhatikan jam ^^

Malamnya berempat (sama Ib, Om dan si Beth itu) nonton DVD yang baru saja disewa. Nyewa tujuh DVD. Tujuh! Tapi itu untuk seminggu sih ^^ Ini juga nikmat. Lanjut.... Sebelum tidur cek e-mail dulu. Dan apa yang terjadi? Ada dua tugas lagi yang ternyata belum selesai! Dan ngga bisa dikerjakan di Lommel karena buku-buku yang dibutuhkan ada di Leiden! Walah! Hasrat tidur nyenyak rasanya ngga bisa terpenuhi. Panik. Bete.

Besok paginya, waktu yang sebetulnya akan saya habiskan dengan nonton semuuua DVD yang sudah disewa (iya tahu, berlebihan), dengan perasaan bersalah saya memutuskan untuk mengerjakan tugas (lagi) seadanya. Dua tugas mendadak (maksudnya baru sadar kalau ada) ngga bisa semuanya dikerjakan. Oke, ini resiko. Jangan bete. Pagi saya kerjakan dulu satu tugas, niatnya sampai selesai. Tapi! (Ya Tuhan) Siangnya kami harus ke Venlo menjenguk Imke. Artikel baru 30% dibaca, belum lagi meringkas, belum lagi kasih komentar, belum lagi ngirim ke dosen (deadline yang seharusnya jam 19.00 tentu saja akan saya langgar). Belum lagi tugas satunya!!! Sumpah, bete sampai mau nangis.

Tapi!!! :D

Setelah dari Venlo, saya direstui untuk balik ke Leiden. Hari sudah gelap. Ortu dan adik ke Lommel naik mobil, saya ke Leiden naik kereta. Perjalanan 2,5 jam di kereta ngga akan bisa diisi dengan kegiatan yang berguna seperti... mengerjakan tugas! (Ya Tuhan. Rrrgggh....) Kenapa? Karena tugas saya ada di laptop, dan laptop saya ngedrop. Maka apa yang saya lakukan? Heh heh heh (horor).... Saya baca roman! Huahahaaa.... Hei, santai santai. Ini bukan mencari kesempatan dalam tempurung bagaikan katak dibelah pinang. I got no choice, Man! And I had to survive anyway! Hahahahaaa... jadilah saya membaca roman yang baru dibeli, Eat, Pray, Love-nya Elizabeth Gilbert itu. Dua setengah jam! Dan percayalah, saya ngga menyesal terpaksa menukar kewajiban saya mengerjakan tugas dengan membaca roman ini. Ini buku asik! Ngga terasa... akhirnya ngantuk.

Tapi!!!

Sampailah kereta di Rotterdam. Di sini saya harus pindah kereta, ambil yang jurusan Amsterdam dan turun di Leiden. Masih ada waktu untuk cari kopi. Beli kopi item di cangkir kertas (apa sih namanya?), dikasih tutupnya, terus ditaro di kursi karena masih panas, di ruang tunggu, sambil nerusin baca. Ini buku seru banget! ... Nah, kereta datang. Buku dimasukkan tas, tas di pundak, berat, kopi di tangan kanan, masuk kereta. Saya berhadap-hadapan dengan seorang bapak-bapak. Kami ngga ngobrol. Buku kembali di buka, dipangku, dibaca, kopi masih di tangan kanan, tas duduk sendiri di dekat jendela.

Cuaca dingin di luar, kereta yang hangat, tempat duduk yang nyaman, buku bagus dan kopi item adalah kombinasi yang... pas, pada waktu itu. Pas! Ya... itu tadi... pas! Saya ngga peduli siapa yang duduk di hadapan saya. Saya ngga peduli ada tugas apa saja yang harus diselesaikan. Saya ngga peduli lagi seberapa bete saya sampai siang itu. Malam itu semuanya berada tepat pada tempatnya masing-masing. Pas. Dan saya menikmatinya.

Kereta sampai di Leiden. Buku dimasukkan, kopi sudah hampir habis. Turun dari kereta. Keluar stasiun, bersepeda ke kos. Tugas yang belum selesai akan segera diselesaikan di kos. Karena sudah dikasih perjalanan yang pas, saya ngga bisa protes lagi dan cari-cari alasan untuk ngga mengerjakan tugas. Kali ini, utang harus bisa dibayar. Dibayar pakai begadang, itu ngga apa-apa. Jadi, saya sedang bahagia. Karena semuanya pas. Dan sambil bersepeda, saya nyanyi. Satu lagu diulang-ulang terus. Judulnya "Ilir-Ilir".

Karena perjalanan di kereta kali ini sangat pas, setelah banyak sekali rencana yang ngga pas, saya merasa sebenarnya semuanya baik-baik saja. Saya baik-baik saja.

-RhoMayda-

 

Tugas satu langsung bisa diselesaikan, walaupun deadline dilanggar. Tugas dua juga bisa digarap. Saya bahagia :)

 

 

04:30 Posted in Ngopi | Permalink | Comments (4) | Email this

27.03.2008

UL-team in Jogja

Dit is ons verhaal. Het geen-dag-zonder-lach-verhaal van drie Leidse studenten in Jogja, de gezelligste stad op aarde.

 

 Met Pak Ewald op de introductie-dag voor het immigratieproces. Kijk naar zijn vingers.


 

 

 Mbak Riri en Mas Adam (Ind. naam: Mas Dadang. Acicis-student) bij de warung kopi van Mas Kiki.


 

 

 Met Mas Kiki, Mas Adam, Mbak Riri en Mbak Winda. De kopi ijo (kopi kacang ijo khas Tulungagung) was lekker. Daar kun je ook mee céthéën (nyéthé: cigaretten beschilderen met de koffie).


 

 Avondeten bij Pondok Cabe na de Bekakak-ceremonie. Het regende de hele dag, we waren allemaal nat! Het eten was lekker. De volgende dag werd Mbak Catriona (Acicis) ziek.


 

 

Naar het strand met z'n allen. Krakal! Dit is onze penginapan (slechte WC, veel muggen, geen electriciteit overdag, maar wel heel heel heel erg gezellig). 's Avonds lekker eten, allerlei visgerechten!


 

 En dit stuk strand is achter onze penginapan.


 

 

 Sibuk sendiri-sendiri. Ada Mas Brendan (Ind. naam: Mas Bondan. Acicis), Mas Ijo dan Mas Adam.

 

 

Putri duyung nyasar dan agak narsis ^_^v Hahahaaaa.....


 

Met Mas Brendan en een groot glas koffie. "Next time pretend you're happy and just smile. Hahahahaaa...."

 

 

 Klaar om te vertrekken! Twee uur wandelen langs het strand en door de sawa's. Mas Brendan, Mas Ijo, Mbak Riri, Mas Adam, Mas Nugie en ik.


 

 

 Ook Mbak Riri vond het heel leuk.


 

 

 Met Mbak Sinta, onze mama, onderweg terug naar Jogja. En ja hoor, we zijn goed verbrand :)

 

 

"Tiga, dua, satu!" (Een nieuwe batik, trouwens) ^_^

 

Tadaaa... (foto door Mbak Niken).


 

 

Mbak Riri met een Heli (guk guk guk... kemari, guk guk guk... ayo lari-lari...), Mas Brendan en Mas Vando (Sejarah UGM) op Pasar Ngasem (foto door Mbak Niken).

 

Dus dat was het voorlopig. We hebben een nieuwe hobby: street-street, oftewel uitgaan, oftewel jalan-jalan (oké, naast leren en huiswerk maken dan hahahahaaa...). Bijna elke avond samen eten. Twee keer in de maand naar de bioscoop. Elke zaterdagavond gezellig nongkrongen en koffie drinken tot 's avonds laat bij Angkringan Code. Zondagochtend ontbijten op Sunmorn (Sunday Morning) bij UGM :)

En we hebben (sorry) Leiden nog niet zo heel erg gemist ^_^' Wel onze lieve lieve lieve vrienden! We miss you sooo.... Hoe gaat het met iedereen?

-RhoMayda-

 

19:45 Posted in Ngopi | Permalink | Comments (15) | Email this

14.03.2008

Als ik ziek ben...

... dan wil ik ook niets liever dan beter worden. Maar vandaag wordt het erger. Ik ben verkouden, deze keer met koorts en hoofdpijn erbij.

... dan denk ik dat ik nog zieker en zieker word van thuisblijven. Ik wil niet in mijn kamer blijven liggen. Uitgaan is veel leuker. Maar ook daar heb ik geen zin in.

... dan denk ik dat mijn lichaam heel zwak is. En dat het af en toe rust nodig heeft. Maar het is nu geen goede timing! Ik wil deze week nog veel werken! En ik wil nu douchen! En coffee!

... dan denk ik uiteindelijk dat ik veel te veel denk en te veel wil. Dus nu wil ik niets. Ik wil ook aan nergens denken. Denk je dat het nog steeds te veel gevraagd is? Ik denk van wel. Zelfs niets willen of aan nergens denken is moeilijk om te doen.... Zullen we dan niet gewoon...

"Blijf lekker liggen, in godsnaam!!!"

Zo schreeuwt mijn lichaam elke seconde.
Nou ja... dan houdt het op, he.....
Tot snel dan...

-RhoMayda-

 

Ssssh... ik denk nu dat mijn lichaam te veel wil.
"Liggen!!!"
Oké oké, ik lig al.

 

03:59 Posted in Ngopi | Permalink | Comments (4) | Email this

17.02.2008

Kamu

Aku senang waktu kamu menawariku mau minum apa. Aku senang ketika akhirnya kopi yang kamu buatkan pas hitamnya, pas manisnya.

Aku senang ketika kamu ngasih tahu bahwa aku terlihat sangat nyaman berada di sini. Dan sama, aku juga punya semacam kerinduan pada kebersamaan di tempat ngopi satunya lagi, bukan di sini. Tapi kamu sempat mempertanyakan juga, sedekat apakah ini, sejauh apakah itu. Ngga terlalu penting tuh menurutku.

Aku di sini, kalau-kalau dengan alasan apapun kamu cari. Dan belum mau pergi (masih sangat menikmati).

-RhoMayda-

18:40 Posted in Ngopi | Permalink | Comments (12) | Email this

26.01.2008

Permisi

Saya mau minta maaf kalau baik kehadiran saya maupun ketidakhadiran saya membuat Anda 'mangkel'. Saya sudah di Jogja. Saya akan di Indonesia sampai akhir Agustus 2008. Maaf lagi kalau Anda ngga suka baik kalau saya bilang-bilang ataupun kalau saya ngga bilang-bilang. Yang saya alami akhir-akhir ini cukup membingungkan (dan sekaligus sangat sangat jelas), terlalu banyak untuk dituliskan (dan sekaligus disembunyikan). Ok, Anda sudah bingung juga. Jadi saya mau permisi dulu.

Kali ini permisi dalam rangka rekonstruksi, reformasi, reorganisasi, rehabilitasi dan revitalisasi.

Ada yang harus berubah diubah :)

-RhoMayda

 

 
Saya baik-baik saja (kalau Anda mungkin bertanya-tanya, bagaimana kabar saya). Ini saya lakukan justru karena saya baik-baik saja :) I'll be back when I'm back ^_^ That will be soon, hahahaaaa.... I can't miss you that much!

17:00 Posted in Ngopi | Permalink | Comments (9) | Email this

31.12.2007

Tahun Baru

Pentingkah tahun baru? Penting! Sama pentingnya seperti tahun-tahun yang lama. Pentingkah tanggal 31 Desember dan tanggal 1 Januari? Penting. Sama pentingnya dengan tanggal-tanggal yang lainnya.

Itu menurut saya :)

Salaam,
RhoMayda

 

00:00 Posted in Ngopi | Permalink | Comments (8) | Email this

22.12.2007

Ke Lommel

Saya di Lommel. Kebetulan memang liburan Natal dan tahun baru, selama dua minggu. Tapi ngga bisa santai sih, soalnya selain ada ujian... sudahlah ngga usah dibahas lagi, ngga cocok sama tema liburan ^^ Saya sedang pura-pura lupa di mana lokasi kampus, mata kuliah apa yang saya ikuti, buku apa saja yang sedang saya baca, gitu-gitulah. Jangan bahas apapun yang ada hubungannya dengan tugas kuliah, biar orang sangka liburan saya menyenangkan.

Kenapa saya ke Lommel?
Hmm... gimana ya. Yang jelas bukan karena Leiden dingin. Karena Lommel juga ngga hangat-hangat amat. Pohon-pohon masih sama putih. Tadi malam -8' C.

Ib dan Om di Lommel. Mereka sudah bilang, dari Jogja ngga bawa oleh-oleh, cuma beberapa DVD. Dan dengan penuh kemenangan mereka menyelipkan Pocong 2 di antara film-film yang lain. Begitu kelihatan, saya banting karena kaget. Ah, oleh-oleh ngga penting juga. Yang saya tunggu-tunggu adalah cerita yang mereka bawa dari Jogja. Saya juga perlu di-update. Bagaimana orang-orang rumah, bagaimana temen-temen masjid, bagaimana perpus di Malioboro, bagaimana Excelso (yang bungkus kopinya merah tua. Titik ^_^), bagaimana Ramadhan.
"Kamu tahu, sekarang mereka lomba azan! Musholla yang baru azannya keras banget, masjid juga ngga mau kalah! Dan rumah kita kan persis di antara kedua tempat itu! Ckckck... gila, kalau sudah azan, ngga ada pilihan lain selain sholat. Ngga bisa tidur gitu aja," kata Om Peter ^_^'

Saya ke Lommel karena rindu. "Ke Lommel" adalah sebuah paket perjalanan. Biasanya diawali dengan mengepak tas besar. Isinya bisa apa saja, termasuk laundry (maaf, maksudnya biasanya laundry). Lalu durasi perjalanannya yang minimal 3 jam naik kereta dan bis. Lalu apa yang dilihat dalam perjalanan. Bagaimana orang-orangnya 'berubah' dari Leiden pelan-pelan ke Brabant sampai di Lommel. Dari tempat yang sibuk ke kampung. Bahan obrolannya beda, logatnya beda, bahkan penampilannya beda. Lalu di rumah. Ada Ib dan Om, dua orang yang paling bisa diajak ngobrol tentang (hampir) apa saja.

Saya rindu membawa tas berat berisi buku (kali ini ngga ada laundry). Rindu duduk di kereta, tidur, melihat keluar, membaca, nulis. Rindu suasana "bukan Leiden". Rindu mendengar bahasa Belanda dengan logat "bukan Leiden". Rindu melihat wajah-wajah "bukan Leiden", melihat jalan-jalan dan rumah-rumah yang "bukan Leiden", begitu sepi. Rindu mendengar cerita-cerita yang "bukan Leiden". Rindu menikmati waktu yang "bukan Leiden". Terasa banget, di Leiden saya pengin cepet-cepet ngerjain banyak hal, sering banget naik sepeda buru-buru. Saya curiga, jangan-jangan detik di Leiden memang lebih pendek.

Tapi, belum  satu malam di Lommel, saya sudah rindu teman-teman Leiden. Cuma, kerinduan saya untuk "ke Lommel" (maaf sekali) masih jauh lebih besar. Saya sedang menikmati yang "bukan Leiden" :D

"Waduh, jangan negatif begitu dong. Kamu kan masih harus kuliah, ke perpus, ngerjain tugas, ujian."
"Kuliah, perpus, tugas, ujian.... Apa sih tuh? Kayaknya pernah denger...."

Salaam,
RhoMayda

 

__________

Selamat liburan apa saja.

 

16:05 Posted in Ngopi | Permalink | Comments (8) | Email this

13.10.2007

Party!!!

Mari ngobrol sambil ngopi ^_^

Gimana Lebaran, Saudara-saudara? Mudik? Ngga mudik? Sama keluarga? Jauh? Libur atau lembur? Saya mau cerita nih, boleh yaa. Ngga dibolehin juga saya tetep cerita, kan saya yang punya password blog ini (ih, cariin alasan lain dong, kata-kata ini sudah saya pakai kira-kira 384 kali).

 

Kamis 11/10

Sehabis kuliah 'Bahasa Jawa' saya dan Riri nongkrong dulu di kantin Lipsius. Dikasih kue coklat sama Pak Ewald (dan sudah diizinkan untuk menghabiskannya ketika buka puasa). Asik ya. Tiba-tiba ada sms dari Ib katanya di Jogja sudah mau takbiran. Hah!!! Gila! Masak di sana takbiran, saya malah ada di kampus??? Ya sudah, pulanglah saya ke kos.

Telepon Ib jam 15.30, pas banget waktu Ib & Om ikut orang-orang kampung takbir keliling jalan kaki muter-muter kampung "Ini nih!!!" Ib teriak-teriak karena di sana rame banget, "temen-temenmu, semuanya di depan!!! Semua orang ikut jalan niiih. Ini bentar lagi udah mau sampai masjid lagi!!!" Setiba di masjid (deket rumah) akhirnya bisa juga ngobrol sama kawan-kawan. Bisiiing banget. "Ini Ma!!!" Teriak kawan saya. "Denger nggak??? Itu takbir tuh!!! Nih dengerin yaa!!!" hape Ib dideketin ke speaker di masjid. "Waaaa takbiiir!!!" Saya teriak-teriak sendiri di kos.

Tapi waktu itu, di Leiden masih sore. Dan saya masih belum juga selesai puasa. Ketika di Jogja sudah pesta-pesta, kebetulan saya sendirian di kos. Hampir maghrib, di Jogja sudah tengah malam. Saya bikin pasta untuk buka puasa.
Saya mikir, ih masak malam takbir sendirian di kos??? Akhirnya saya kabur ke Judith, nginep di sana (makasih ya Juud).

Jumat 12/10

Pulang dari Judith pagi-pagi, ke kos siap-siap berangkat ke Den Haag. Ngga ada baju baru sih, tapi penampilannya ya spesial tentu saja (halah). Naik sepeda ke stasiun Leiden Centraal. Ternyata! Banyaaak banget orang Indonesia yang ke Den Haag. Itu keretanya penuh! Rombongan dari Leiden mungkin udah tiga gerbong tuh ^_^ Bukan cuma itu, bis-bis dan tram-tram yang menuju ke Den Haag, pagi itu pueeenuh orang Indonesia (jadi kepikiran Batavia jaman dulu).

Namanya masjid Al-Hikmah, masjid KBRI. Sholat dimulai jam 10.00. Gilaaa penuuuh. Kalau ngga nyoba khusyuk sendiri, ngga akan khusyuk sholatnya. Rameee banget. Sekitar sejam di dalam masjid, dan ketika keluar, Anda akan mensyukuri nikmat Tuhan yang bernama oksigen.

Di luar masjid, seusai sholat Ied, semua orang mencari-cari kawan/kenalan untuk disalami. Apalagi kalau sudah lama ngga ketemu, wah... jeritannya bisa bikin orang lain pada kaget dan akhirnya cuma diem ngeliatin.

Puas berfoto-foto dan memastikan bahwa semua kenalan sudah disalami, kami (rombongan dari Leiden dan dari mana-mana) ke Wassenaar, rumah Pak Dubes yang juga lokasi makan-makan heheheee.... Lagi-lagi tram peeenuh dengan masyarakat Indonesia :D

Jadi gini, sebelum masuk rumah Pak Dubes, ada orang berjejer-jejer di depan pintu, mbagi-bagiin kupon untuk ambil makan. Terus kita masuk. Di dalam ada Pak Dubes, istri, Pak Wakil Dubes dan istri. Terus keluar menuju halaman belakang. Di situ... wah... manusia! Banyaaak banget!
"Ini kuenya ambil dulu ya Mbak, Mas, air putihnya juga. Ngga usah pakai kupon, kuponnya untuk ambil makan saja. Ada lima tempat di sini, silakan pilih sendiri."

Ini menunya:
Lontong (atau ketupat ya? Udah diiris soalnya), sayur... (lupa, pokoknya enak), ayam goreng, opor kambing, acar (ini saya ngga ambil, ngga suka), telur rebus bermotif batik (kata Mas Nugie itu namanya telur pindang, tapi saya malah bingung) dan kerupuk.

Rombongan Leiden ngumpul lagi, lesehan di rumput, bikin lingkaran. Ada anak Sejarah, ada yang belajar bahasa Belanda, ada anak Islamic Studies dan ada anak Indonesian Studies tentu saja ^_^ Selesai makan kami masih foto-foto (selaluuu saja), ejek-ejekan, sms-smsan, ada yang ngopi, ada juga yang ke toilet.

Puas dengan itu semua, rombongan Leiden pamit. Tapi saya (weits...) bersama tiga mas-mas dari Islamic Studies melancong dulu dong. Inilah resiko ngajak saya jalan-jalan, biasanya saya ngga nolak. Kami ke centrum Den Haag. Pulang, sampai Leiden hampir jam 18.00. Sampai di kos, saya ngopi. Dan telp banyak orang di Indonesia :)

 

Nah, begitu ceritanya.

Banyak sekali kebiasaan menyenangkan terjadi di sekitar kita dan kita tinggal menikmatinya. Sering banget tiba-tiba kita merasa bahagia. Tapi, ketika rasa senang bukan sesuatu yang biasa dan datang begitu saja, ngga ada salahnya kalau kita ingin bisa menemukannya, bagaimanapun caranya.

 



 

Misalnya gini. Di Jogja, Anda cuma duduk di dalam rumah saja sudah bisa mendengar takbir menjelang Hari Raya. Paginya dibangunkan dengan takbir juga. Siang sedikit, orang-orang berdatangan bersilaturahmi.

Di sini, hal-hal seperti itu betul-betul harus dicari. Ada sedikit usaha supaya bisa seneng. Tapi ngga apa-apa. Justru unik. Ini seperti, kitalah yang sengaja menciptakan suasana itu. Kita cari sendiri, kita temukan sendiri, kita rasakan sendiri, kita nikmati sendiri. Sepertinya kitalah sutradara diri kita sendiri. Kita sendiri yang menentukan apa yang ingin/akan kita rasakan.

Kalau kebahagiaan belum mendatangi kita, kenapa bukan kita yang mendatanginya? Ya nggak? ^_^

Salaam,
RhoMayda

 

__________

Sekarang saya jadi lebih paham, kenapa 'berkumpul dengan orang saleh' adalah tombo ati, dan kenapa sholat berjamaah lebih utama.

__________

 

01:00 Posted in Ngopi | Permalink | Comments (12) | Email this

All the posts