06.04.2007
Jawi dari Hongkong
Waaa fenomena nih! (Paan sih?) ^^ Sekarang banyak orang Indonesia yang menggunakan ungkapan 'dari Hongkong'.
Contoh:
Kenyang dari Hongkong?! Makan aja belum!
Hahahahaaa... apa coba??? ^_^' Sejarah membuktikan bahwa bahasa tuh dinamis banget, apalagi yang lisan-informal atau bahasa gaul. Ngga statis. Bergerak. Dan geraknya cepat. (Cepat dari Hongkong???) ^^ Tuh kan....
Kemarin saya kuliah tambahan aksara Jawi dengan Pak Suryadi. Bagi yang belum begitu paham, aksara Jawi adalah huruf Arab dalam bahasa Melayu. Sering disebut Arab-Melayu. Ada juga yang namanya Pegon, yaitu bahasa Jawa dalam huruf Arab. Dulu waktu masih muda (usia SD) saya sempat belajar Pegon di pesantren di desa. Dengan basis itu, sekarang saya malah mencoba mendalami Jawi ^_^
Nah, kemarin spesial karena teks yang kami baca adalah fotokopi sebuah surat (manuskrip) tahun 1786.

Sebelumnya kami belajar dari teks-teks cetak. Tentu saja lebih mudah dibaca. Lha kali ini, mudah dibaca dari Hongkong??? Sudah pakai kaca pembesar saja masih sulit mengidentifikasikan tulisannya. Tapi cool! Di sinilah letak keistimewaannya. Karena ini (fotokopi dari) tulisan tangan seseorang pada abad ke-18! Menarik sekali, karena bahasa yang digunakan dalam surat itu adalah bahasa Melayu pada waktu itu. Saya coba alihaksarakan yaa. Ini tanpa EYD.
Bagian dari isi surat:
... jangan kiranya paduka tuanku yang maha mulia dan sekalian raad menerima dengan singgahnya khabar yang demikian itu karena paduka raja bima tiada sekali-kali membuat surat mengerjakan yang demikian itu karena maka demikian halnya paduka raja bima tiada disamakan nama arti yang ...
Saya agak kaget ketika membaca (dengan terbata-bata tentu saja) yang demikian itu karena maka demikian halnya. Dalam hati: apaan nih??? Tuh kan, gara-gara Ejaan Yang Disempurnakan, saya kesulitan membaca sesuatu secara objektif.
Ow, ini juga menarik. Saya ambilkan dari dua baris terakhir kop suratnya.
... jenderal dan sekalian raad van india yang memegang kuasa dan kebesaran kompeni dipohonkan atas selamat usia umur zamannya serta dikekalkan allah memerintah kebesaran dan kemuliaan amin ya aman 'l khaifin.

R: ???
S: 'Dipohonkan' bukan di atas pohon. Tapi dari 'memohonkan'.
R: Ooooooh....
Bahkan kata dasar juga berubah. Yang dulunya 'pohon', sekarang menjadi 'mohon' (mungkin untuk menghindari keambiguan?). Kata Pak Sur, sekarang kita heran membaca surat yang usianya lebih dari dua ratus tahun. Mungkin, dua ratus tahun yang akan datang, anak cucu kita juga akan kesulitan membaca tulisan kita saat ini. Dinamis kan? ^^
Seperti bahasa gaul. Saya juga kesulitan memahami istilah-istilah baru. Saya merasa sangat 'modern' ketika membaca surat Melayu itu, dan tiba-tiba merasa kuno ketika membaca tulisan-tulisan anak muda jaman sekarang.
Awalnya saya ngga begitu memperhatikan. Tapi kok beberapa kali tanpa sengaja menemui istilah 'dari Hongkong' yang artinya kurang lebih 'bagaimana bisa berpikiran begitu???'.
(1) Wek... mirip dari Hongkong? Jempolnya doang kali.
(2) Haiyah, modal dari Hongkong, ta?
(3) Hahaha.... Ganteng dari hongkong? Namanya juga buruk rupa, ya seperti itu, Mei.
Dari Hongkong??? Apa lagi nih??? Awalnya ada kata 'secara'. Sekarang ada 'dari Hongkong'. Besok apa? Hahahaaa... untung saya bukan guru gramatika :) Bahasa gaul Indonesia memang sip. Menarik lho, belajar bahasa. (Menarik dari Hongkong???) Hahahahaaa.... (hush)
Iya, menarik. Karena kadang-kadang, dengan melihat ke masa lalu, kita bisa tahu keberadaan kita saat ini dan mengira-ngira apa yang bisa terjadi di masa depan. Tul nggak? ^^
Salaam,
RhoMayda
Jadi, 'dari Hongkong' tuh asalnya dari mana?
Dari Hongkong atau 'dari mana'?
![]()
---
Credits:
http://www.indonesisch.leidenuniv.nl
http://www.friendster.com/balung
http://www.devie.or.id
http://mata.blogspirit.com
http://en.wikipedia.org/wiki/Transliteration
---
02:15 Posted in Bahasa | Permalink | Comments (6) | Email this
28.02.2007
Mumet Bahasa Indonesia
Ini kasus biasa:
X: Belajar apa di Leiden?
R: Indonesian Studies.
X: Hah??? Kok bisa?
R: Habis, jurnalistik susah.
Ringkasnya, aneh memang. Wong saya masuk jurusan ini ngga sengaja kok. Tapi bukankah akan lebih aneh kalau justru sengaja? Hahahahaaa... dasun.
Saya termasuk orang yang meneriak-neriakkan betapa sederhananya Bahasa Indonesia. "Ngga ada verbal (KK) bentuk lampau! Satu verbal sama saja untuk siapapun dan kapanpun!" (Ind: I sleep, she sleep, yesterday we sleep). Ternyata saya bohong. Bahasa Indonesia sama sekali tidak sederhana. Mau bukti? Mau pusing? Monggoo....
Dosen gramatika, Van Engelenhoven bilang (saya kaget waktu pertama kali dengar ini) bahwa prefix ber-, ter- dan per- memiliki persamaan. Yakni sama-sama punya -r. Dan -r yang ada di ber- adalah -r yang sama dengan -r yang ada di ter- dan per-. Bingung?
Sama-sama intransitif, atau ngga butuh objek.
:: Saya berjalan.
:: Kamu tertawa terbahak-bahak.
:: Dia pergi. (maaf ^_^' koleksi contoh sedang cekak)
Pak Van Engelenhoven juga bilang bahwa -N- (peleburan) pada meN- dan peN- (juga yang bersuffix) juga punya fungsi, yaitu menunjukkan adanya kegiatan atau aktivitas (membaca, penulis).
Dalam circumfix per-an dan peN-an, yang membedakan makna/fungsi tak lain dan tak bukan adalah elemen kecil -r dan -N-. Kedua circumfix ini sama-sama membentuk nominal (KB), hanya saja... mana yang kedengaran aktif?
perjalanan atau penjalanan
perkumpulan atau pengumpulan
persebaran atau penyebaran
Pak Suryadi bilang, per-an itu hasil, peN-an itu proses. Setuju saja saya :)
Jadi, kalimat mana yang salah?
A. Persebaran virus flu burung sudah meluas.
B. Penyebaran virus flu burung sudah meluas.
![]()
Salaam,
RhoMayda
00:40 Posted in Bahasa | Permalink | Comments (14) | Email this
07.02.2007
Apa Adanya
Senin lalu ada mata kuliah Teks Bahasa Indonesia dari Pak Van Minde. Seperti biasanya, satu per satu membaca teks yang disediakan, kira-kira enam atau tujuh baris, kemudian menterjemahkannya dalam bahasa Belanda. Teks pertama berjudul Bawuk, karangan Umar Kayam. Saya cuplikkan:
... Alangkah asing surat begitu datang dari Bawuk, pikir Nyonya Suryo. Asing sekali. Kata-kata yang membentuk kalimat-kalimatnya begitu pendek-pendek dan sederhana dan kering dan apa adanya.
Ah, gampang! Setiap kata bisa diterjemahkan, tidak ada yang susah! Pinter semua, mahasiswa sini! ^^
Tapi kalau kita tahu arti kata 'apa' dan 'ada', apakah kita juga bisa langsung tahu arti kata gabung 'apa adanya'??? Hmm... ternyata tidak semudah itu. Semua pusing, termasuk saya. Pusing menjelaskan arti 'apa adanya' dalam bahasa Belanda. Yang kemudian terjadi adalah penjelasan semrawut dibarengi dengan bahasa isyarat.
"Itu tuh maksudnya seperti... eh..."
"Direct. Langsung. Apa adanya."
"Jujur, mungkin"
"Bahasa Inggrisnya, like the way it is..."
"Tidak ditambahi apa-apa, ya begitu itu."
"Bukan cuma kata-kata, manusia juga bisa apa adanya..."
"Maksudnya, tidak dibuat-buat, alami."
"Zoals het is?"
"To the point?"
"Eh... itu lho..." (hanya memutar-mutar tangan sambil masih berpikir, tidak berhasil bicara malah misuh-misuh dalam hati saking mumetnya) ^_^'
Bingung.
Lalu Pak Suryadi, dosen kami asal Minang, menjawab siang tadi: apa adanya itu sederhana.
Betulkah? Hihihiii... saya tidak setuju. Ini buktinya ![]()
X: Mau apa?
Q: Adanya apa?
X: Apa saja ada.
Q: Apa adanya sajalah.
Salaam,
RhoMayda
Sebetulnya, apa adanya ada apanya sih? Apakah apa adanya ada apa-apanya? Ah, ada-ada saja apa adanya ini. Tapi bukankah seharusnya apa adanya itu tidak mengada-ada?
![]()
23:40 Posted in Bahasa | Permalink | Comments (7) | Email this

