14.09.2009
Jangan Dengarkan
Mereka bilang, semuanya akan baik-baik saja.
Mereka bilang, waktu akan mengobati luka.
Mereka bilang, hidup itu indah.
Tapi kadang, kita merasa mereka bodoh. Karena saat ini semuanya tidak ada yang benar, tidak baik-baik saja. Karena waktu terasa bergerak sangat pelan, luka semakin menyakitkan. Mungkin hidup itu memang indah, hanya saja kita sedang tidak melihatnya sekarang.
Maka saya sarankan, tutup telinga, jangan dengarkan yang mereka bilang. Perjuangkan saja apa yang kita inginkan. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk kita sendiri. Jangan lagi dengarkan mereka bilang semuanya akan baik-baik saja. Tapi buatlah agar semuanya menjadi baik-baik saja secepatnya. Jangan lagi menunggu waktu untuk mengobati luka. Sembuhkan saja sekarang juga. Tidak perlu membuktikan omongan mereka bahwa hidup itu indah. Buat saja hidup kita indah.
Ini kan cerita kita. Kita tentukan saja jalannya dengan apapun yang kita punya ... dan (!!!) dengan apapun yang kita tidak punya. Hehe. Kebahagiaan bukan tujuan. Tapi pilihan. Kita yang tentukan.
Itu menurut saya :)
-RhoMayda- (Dank je Shima. Ik zie je snel weer xxx)
12:22 Posted in Reflection | Permalink | Comments (1) | Email this
10.09.2009
Rindu Kakek
Kalau memang kita ngga bisa ketemu di bumi ...
bisakah kita janjian lagi di mimpi ...?
-RhoMayda-
02:16 Posted in Reflection | Permalink | Comments (2) | Email this
07.09.2009
Bagaimana Aku Mencintaimu
Dari awal kita sudah sangat paham. Yang kita rasakan sulit sekali dibahasakan. Tapi toh harus dilakukan, karena setidaknya bisa sedikit meringankan.
Kekasihku, aku bersyukur karena kita bertemu. Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, ini mirip potongan puzzle yang sudah berada di tempatnya. Ini sudah benar. Dan yang kita sepakati waktu itu, ini sudah final. Tidak perlu mencari-cari jawaban kenapa aku memutuskan untuk memilih bersamamu. Karena hanya ada satu alasan: aku yakin. Aku yakin bahwa aku akan membutuhkanmu setiap hari sejak keyakinan itu datang, seumur hidup. Maka aku tidak sempat berpikir dua kali, apalagi berubah pikiran, karena ini semua berawal dari sebuah keyakinan dan keseriusan, bukan keragu-raguan atau percobaan.
Aku adalah seorang perempuan aneh dengan kebiasaan yang aneh. Selalu pergi, tidak bisa diam di rumah, selalu ke luar. Mungkin itu sebabnya laki-laki tidak akan tahan dan menghilang, atau aku yang tidak tahan lalu menghilang. Aku selalu jauh, selalu pindah, sulit ditemui. Tapi kamu menemukanku, di sini, ketika kita sama-sama jauh dari rumah. Dan ketika kita saling jauh, kamu tidak hilang. Dan ketika kita bertemu lagi, kamu semakin dekat. Kini kita jauh lagi, kamu masih ada di situ. Aku tahu sejak awal ketika keyakinan itu datang, bahwa kamu tidak akan pernah hilang.
Cita-citaku juga aneh. Aku akan menaklukkan dunia. Aku akan lulus kuliah, akan bekerja, akan punya tabungan, akan dihabiskan dengan melakukan perjalanan. Aku akan membuat rumah. Aku akan menenentukan warna dindingnya. Dan menikah? Ah itu nanti saja. ... sebelum pada akhirnya aku menemukanmu ... atau kamu menemukanku ... atau aku menemukan diriku menemukanmu ... atau aku menemukan diriku ditemukan olehmu. Keinginan sebesar itu ternyata sekarang berhadapan dengan sebentuk cinta yang ukurannya ribuan kali lipat lebih besar. Yang menjulang kokoh menembus langit, mengakar kuat mencengkeram inti bumi, terbentang melampaui jarak pandang. Semua yang aku inginkan, tidak lagi terlalu berarti, karena kini yang aku butuhkan hanyalah bersamamu, berada di dekatmu. Karena aku yakin, aku tidak akan benar-benar bahagia dengan tercapainya semua yang aku inginkan, kalau aku harus menikmatinya sendirian.
Cinta ini megah, namun sangat bersahaja. Yang aku butuhkan hanya kamu, untuk berbagi apapun yang aku rasakan, yang aku lihat, yang aku dapatkan, sekecil apapun itu, sebesar apapun itu. Untuk menghabiskan sisa waktuku, setiap hari. Untuk melanjutkan hidup, sampai mati nanti.
Begini jadinya, kalau perasaan harus dibahasakan. Jadi, semoga tulisanku tidak terdengar klise, karena ini bukan jatuh cinta murahan, ini adalah sebuah keyakinan. Kekasihku, calon suamiku, aku mencintaimu dengan bersahaja. Permintaanku satu saja: Aku membutuhkanmu bersamaku.
Doa dan cintaku untukmu,
Ima, calon istrimu
- Maka lagi-lagi betul kata Jason Mraz, there's no need to complicate -
02:00 Posted in Reflection | Permalink | Comments (3) | Email this
Amarah
Catatan: Tulisan ini bisa jadi merupakan tulisan dengan kadar kebencian yang paling tinggi dibandingkan tulisan-tulisan sebelumnya. Terima kasih, selamat membaca dan ... hati-hati.
Baiklah. Ternyata saya memendam amarah. Bisa jadi ukurannya sangat kecil. Tapi ada. Bisa saya rasakan. Sekarang. Iya benar, bahkan ketika saat ini bulannya bernama Ramadhan. Waktu amarah itu datang, ya dia datang begitu saja. Dan ketika Ramadhan datang, dia tidak menyempatkan diri untuk menghilang sebentar, sekedar ikut merayakan bulan puasa, lalu setelah lebaran bisa kembali lagi. Tidak, dia tetap ada di dalam sini.
Amarah yang saya bicarakan, terbuat dari konstruksi saya sendiri terhadap beberapa hal buruk dari luar, yang saya rasakan. Ada ketidaktulusan, ada ketidakjujuran, ada kekurangajaran, ada pandangan picik, dan penekanan batin. Itu biasa terjadi, tentu saja. Tapi kalau pada awalnya landasannya adalah kepercayaan yang kuat bahwa hal-hal tersebut tidak mungkin terjadi, tapi toh terjadi juga, maka ini menjadi tidak biasa lagi. Ada pengkhianatan. Haha! Baiklah, saya memang masih gila. Tapi segila-gilanya saya, ternyata sakit juga kok kalau dibohongi, kalau dipermainkan, kalau sedikit-sedikit disalahkan, kalau ternyata yang dipercaya tidak bisa diandalkan. Dan, secinta-cintanya saya dengan seseorang, kalau orang itu memunculkan amarah di dalam hati saya, saya tegaskan sekarang, saya masih jauh-jauh-jauh lebih mencintai diri saya sendiri. Karena selama ini, perasaan sayalah yang selalu bisa saya andalkan. Itu yang akan saya jaga betul. Perasaan orang lain kan di luar kendali saya. Kalau perasaan saya tetap tidak cocok dengan itu, ya saya mundur saja dengan membawa hati saya. Daripada luka makin menganga? Jadi izinkan saya pergi. Bukan untuk kebaikan kita bersama, tapi bagi saya, ini untuk kebaikan saya sendiri.
Amarah ini terpendam, karena memang tidak bisa dikeluarkan. Tapi apa sih yang berada di dalam dan tidak bisa dikeluarkan? Dengan paksa sekalipun? Oh, kalau dengan paksa pasti bisa. Tapi saya tidak mau. Jadi biar sajalah amarah ini tetap ada di dalam. Dan kita lihat saja, bisa hilang atau tidak. Pak Ustadz bilang, amarah itu penyakit hati. Buru-burulah diobati. Sudah Pak Ustadz, sudah saya cegah sebelumnya, sudah saya coba obati sesudahnya. Kalau sekarang masih belum sembuh, biarkan saya menjaganya supaya tidak tumbuh, dengan menghindari penyakit-penyakit itu jauh-jauh.
if it's a broken part replace it
if it's a broken arm then brace it
if it's a broken heart then face it
hold your own
know your name
go your own way
and everything will be fine
(Details in the Fabric, Jason Mraz)
Maka ini yang telah saya lakukan: Membalut hati saya rapi-rapi, meletakkannya di tempat tersembunyi. Tersembunyi dari ketidaktulusan, ketidakjujuran, kekurangajaran, pandangan picik dan penekanan batin. Dan ini yang akan selalu saya lakukan kemudian: Membuka balutan luka hati, membiarkannya di udara terbuka bersentuhan dengan ketulusan, kejujuran, rasa menghormati, nasehat dan empati yang baik.
Pak Ustadz, saya tahu amarah itu penyakit, Anda sudah sampaikan itu berkali-kali. Jadi tolong sekali ini saja, biar saya yang menjelaskan kepada Anda dan dengarkan baik-baik. Jangan lagi ceramahi saya untuk menghilangkan amarah. Tapi gembor-gemborkan saja pada mereka, untuk menghargai perasaan orang lain, dan berhenti menyakitinya. Nah Pak Ustadz, selamat beramadhan. Semoga dakwah Anda menciptakan manusia dengan hati dan sikap yang bersih, di seluruh penjuru bumi. Terima kasih.
-RhoMayda-
01:53 Posted in Reflection | Permalink | Comments (0) | Email this




