07.09.2009
Bagaimana Aku Mencintaimu
Dari awal kita sudah sangat paham. Yang kita rasakan sulit sekali dibahasakan. Tapi toh harus dilakukan, karena setidaknya bisa sedikit meringankan.
Kekasihku, aku bersyukur karena kita bertemu. Seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, ini mirip potongan puzzle yang sudah berada di tempatnya. Ini sudah benar. Dan yang kita sepakati waktu itu, ini sudah final. Tidak perlu mencari-cari jawaban kenapa aku memutuskan untuk memilih bersamamu. Karena hanya ada satu alasan: aku yakin. Aku yakin bahwa aku akan membutuhkanmu setiap hari sejak keyakinan itu datang, seumur hidup. Maka aku tidak sempat berpikir dua kali, apalagi berubah pikiran, karena ini semua berawal dari sebuah keyakinan dan keseriusan, bukan keragu-raguan atau percobaan.
Aku adalah seorang perempuan aneh dengan kebiasaan yang aneh. Selalu pergi, tidak bisa diam di rumah, selalu ke luar. Mungkin itu sebabnya laki-laki tidak akan tahan dan menghilang, atau aku yang tidak tahan lalu menghilang. Aku selalu jauh, selalu pindah, sulit ditemui. Tapi kamu menemukanku, di sini, ketika kita sama-sama jauh dari rumah. Dan ketika kita saling jauh, kamu tidak hilang. Dan ketika kita bertemu lagi, kamu semakin dekat. Kini kita jauh lagi, kamu masih ada di situ. Aku tahu sejak awal ketika keyakinan itu datang, bahwa kamu tidak akan pernah hilang.
Cita-citaku juga aneh. Aku akan menaklukkan dunia. Aku akan lulus kuliah, akan bekerja, akan punya tabungan, akan dihabiskan dengan melakukan perjalanan. Aku akan membuat rumah. Aku akan menenentukan warna dindingnya. Dan menikah? Ah itu nanti saja. ... sebelum pada akhirnya aku menemukanmu ... atau kamu menemukanku ... atau aku menemukan diriku menemukanmu ... atau aku menemukan diriku ditemukan olehmu. Keinginan sebesar itu ternyata sekarang berhadapan dengan sebentuk cinta yang ukurannya ribuan kali lipat lebih besar. Yang menjulang kokoh menembus langit, mengakar kuat mencengkeram inti bumi, terbentang melampaui jarak pandang. Semua yang aku inginkan, tidak lagi terlalu berarti, karena kini yang aku butuhkan hanyalah bersamamu, berada di dekatmu. Karena aku yakin, aku tidak akan benar-benar bahagia dengan tercapainya semua yang aku inginkan, kalau aku harus menikmatinya sendirian.
Cinta ini megah, namun sangat bersahaja. Yang aku butuhkan hanya kamu, untuk berbagi apapun yang aku rasakan, yang aku lihat, yang aku dapatkan, sekecil apapun itu, sebesar apapun itu. Untuk menghabiskan sisa waktuku, setiap hari. Untuk melanjutkan hidup, sampai mati nanti.
Begini jadinya, kalau perasaan harus dibahasakan. Jadi, semoga tulisanku tidak terdengar klise, karena ini bukan jatuh cinta murahan, ini adalah sebuah keyakinan. Kekasihku, calon suamiku, aku mencintaimu dengan bersahaja. Permintaanku satu saja: Aku membutuhkanmu bersamaku.
Doa dan cintaku untukmu,
Ima, calon istrimu
- Maka lagi-lagi betul kata Jason Mraz, there's no need to complicate -
02:00 Posted in Reflection | Permalink | Comments (3) | Email this





Comments
Mayda,
:)
seperti yang aku bilang, aku senang kau senang, dan aku yakin kau senang.
semoga asamu tercapai, my beloved friend.
salam,
dev
Posted by: devie | 07.09.2009
Rhomayda, calon istriku, aku mencintaimu dengan penuh kejujuran dan kerendahan hati. aku mau bersamamu, berbagi segalanya, cuma dengan mu dan selamanya.
Sayang, aku dan kamu sudah melebur, sudah menyatu dan akan terus menjadi satu. kamu tidak sendiri sayang, kita akan terus bersama, selamanya.
Sayangku, calon istriku, aku bahagia bersamamu.
baik-baik di sana, terima kasih untuk semua cinta dan doamu:-)
Doa dan cintaku akan selalu menemanimu:-)
Syaifudin Zuhri, calon suamimu
Posted by: Syaifudin Zuhri | 07.09.2009
perasaan yang begitu kuat. aq ikut seneng, Rho.. :)
Posted by: iyank | 09.09.2009
Post a comment