07.09.2009
Amarah
Catatan: Tulisan ini bisa jadi merupakan tulisan dengan kadar kebencian yang paling tinggi dibandingkan tulisan-tulisan sebelumnya. Terima kasih, selamat membaca dan ... hati-hati.
Baiklah. Ternyata saya memendam amarah. Bisa jadi ukurannya sangat kecil. Tapi ada. Bisa saya rasakan. Sekarang. Iya benar, bahkan ketika saat ini bulannya bernama Ramadhan. Waktu amarah itu datang, ya dia datang begitu saja. Dan ketika Ramadhan datang, dia tidak menyempatkan diri untuk menghilang sebentar, sekedar ikut merayakan bulan puasa, lalu setelah lebaran bisa kembali lagi. Tidak, dia tetap ada di dalam sini.
Amarah yang saya bicarakan, terbuat dari konstruksi saya sendiri terhadap beberapa hal buruk dari luar, yang saya rasakan. Ada ketidaktulusan, ada ketidakjujuran, ada kekurangajaran, ada pandangan picik, dan penekanan batin. Itu biasa terjadi, tentu saja. Tapi kalau pada awalnya landasannya adalah kepercayaan yang kuat bahwa hal-hal tersebut tidak mungkin terjadi, tapi toh terjadi juga, maka ini menjadi tidak biasa lagi. Ada pengkhianatan. Haha! Baiklah, saya memang masih gila. Tapi segila-gilanya saya, ternyata sakit juga kok kalau dibohongi, kalau dipermainkan, kalau sedikit-sedikit disalahkan, kalau ternyata yang dipercaya tidak bisa diandalkan. Dan, secinta-cintanya saya dengan seseorang, kalau orang itu memunculkan amarah di dalam hati saya, saya tegaskan sekarang, saya masih jauh-jauh-jauh lebih mencintai diri saya sendiri. Karena selama ini, perasaan sayalah yang selalu bisa saya andalkan. Itu yang akan saya jaga betul. Perasaan orang lain kan di luar kendali saya. Kalau perasaan saya tetap tidak cocok dengan itu, ya saya mundur saja dengan membawa hati saya. Daripada luka makin menganga? Jadi izinkan saya pergi. Bukan untuk kebaikan kita bersama, tapi bagi saya, ini untuk kebaikan saya sendiri.
Amarah ini terpendam, karena memang tidak bisa dikeluarkan. Tapi apa sih yang berada di dalam dan tidak bisa dikeluarkan? Dengan paksa sekalipun? Oh, kalau dengan paksa pasti bisa. Tapi saya tidak mau. Jadi biar sajalah amarah ini tetap ada di dalam. Dan kita lihat saja, bisa hilang atau tidak. Pak Ustadz bilang, amarah itu penyakit hati. Buru-burulah diobati. Sudah Pak Ustadz, sudah saya cegah sebelumnya, sudah saya coba obati sesudahnya. Kalau sekarang masih belum sembuh, biarkan saya menjaganya supaya tidak tumbuh, dengan menghindari penyakit-penyakit itu jauh-jauh.
if it's a broken part replace it
if it's a broken arm then brace it
if it's a broken heart then face it
hold your own
know your name
go your own way
and everything will be fine
(Details in the Fabric, Jason Mraz)
Maka ini yang telah saya lakukan: Membalut hati saya rapi-rapi, meletakkannya di tempat tersembunyi. Tersembunyi dari ketidaktulusan, ketidakjujuran, kekurangajaran, pandangan picik dan penekanan batin. Dan ini yang akan selalu saya lakukan kemudian: Membuka balutan luka hati, membiarkannya di udara terbuka bersentuhan dengan ketulusan, kejujuran, rasa menghormati, nasehat dan empati yang baik.
Pak Ustadz, saya tahu amarah itu penyakit, Anda sudah sampaikan itu berkali-kali. Jadi tolong sekali ini saja, biar saya yang menjelaskan kepada Anda dan dengarkan baik-baik. Jangan lagi ceramahi saya untuk menghilangkan amarah. Tapi gembor-gemborkan saja pada mereka, untuk menghargai perasaan orang lain, dan berhenti menyakitinya. Nah Pak Ustadz, selamat beramadhan. Semoga dakwah Anda menciptakan manusia dengan hati dan sikap yang bersih, di seluruh penjuru bumi. Terima kasih.
-RhoMayda-
01:53 Posted in Reflection | Permalink | Comments (0) | Email this





Post a comment