27.03.2009
Lakukan Saja
Tulisan ini dibuat supaya saya bisa tidur. Hehe. Bingung mau ngapain malam-malam begini, tapi belum ngantuk juga. Ya sudah saya menulis, biar enak, tidur nyenyak :)
Sering saya melihat orang bingung. Lebih sering lagi menemukan diri saya sendiri kebingungan. Tapi mari ngomongin orang lain dulu (halah berusaha melarikan diri). Begini. Tiap kali mendengar orang lain menceritakan masalah mereka, otak saya secara spontan melontarkan gagasan-gagasan murahan yang sangat simpel. Untung saya diam sebentar dan sempat menyadari bahwa gagasan-gagasan itu ngga layak diucapkan. Jadi saya tetap diam dan mendengarkan. Sering sekali saya sok tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang ketika dia mendapat masalah ini atau itu. Ketika seseorang bilang pacarnya selingkuh, saya akan bilang putuskan sajalah. Ketika ada yang bilang malas di rumah, saya bilang keluar saja. Gampang kan??? Iya gampang karena saya bukan mereka hehe. Saya ngga diselingkuhi dan ngga malas di rumah. Bisa jadi saya ngga ngerti gimana rasanya! Enak banget bilang ini-itu tanpa dosa ^_^
Orang lain sulit merasakan rumitnya masalah kita, karena dia ngga terlibat secara langsung, dia ngga ngerti betul apa yang sedang terjadi. Orang yang seperti ini gampang banget ngomong seharusnya gimana. Nah ... ini, bahwa orang lain akan lebih gampang memberi tahu bagaimana sebaiknya, ngga usah selalu dinilai negatif. Sisi buruknya, dia memang ngga bisa merasakan yang kita rasakan. Sisi baiknya, dia ngga bisa merasakan yang kita rasakan :D Kalau sudah bingung, berarti Anda sudah paham maksud saya.
Maksud saya, ada bagusnya orang lain ngga bisa merasakan betul apa yang kita rasakan. Itu artinya, sebelum menyarankan sesuatu, dia lebih banyak 'mempekerjakan' otaknya. Sedangkan kita, biasanya susah berpikir jernih karena hati kita mendominasi. Sangat emosional atau apalah itu. Itu artinya, orang lain bisa menjadi penyeimbang dalam mempertimbangkan beberapa pilihan untuk diambil. Walah ngomongin apa ini. Intinya adalah, kalau sedang bingung, cerita ke orang lain. Orang lain yang dibutuhkan adalah yang diyakini bisa membantu, bisa mengoreksi kalau salah, bisa mendukung kalau benar. Lalu dengarkan dia bilang apa. Lalu pertimbangkan baik-baik sarannya. Lalu cocokkan kembali dengan pendapat kita sendiri. Lalu pikirkan baik-baik yang terbaik tuh seperti apa. Lalu keputusan akan diambil. Selesai.
Tapi! Hehehehee kebiasaan deh.
Ada kalanya, kita berurusan dengan sesuatu yang benar-benar asing. Ini bisa menjadi lebih kompleks kalau sudah ditambahi rasa takut untuk memulai sesuatu yang baru. Sebenarnya sama saja sih. Kalau bingung, tanya orang yang diyakini bisa membantu. Dan kalau kita sama sekali ngga paham dalam masalah ini, percaya saja pada yang paham. Orang lain akan memberi tahu kita apa yang harus dilakukan. Dan kalau sudah paham, sudah mengerti, pertimbangkan baik-baik, lalu ambil keputusan. Kalau keputusan sudah diambil, ngga perlu lagi ragu-ragu, lakukan saja. Lakukan saja, walaupun itu beeelum pernah kita lakukan sebelumnya. Coba saja :) Karena kalau sudah pernah mencoba, itu ngga lagi asing buat kita. Dan kalau langsung berhasil, itu prestasi. Asik kan.
Saya sering ngga mau nyetir sendiri. Alasannya, karena takut. Padahal saya sudah belajar nyetir beberapa tahun, saya sudah nyetir ke mana-mana. Hanya saja selalu ada temannya. Kadang-kadang, kalau berpikir terlalu lama, kita malah jadi ragu-ragu dan gugup. Padahal semua orang tahu kita bisa. Itulah orang lain, mereka ngga ngerti kekompleksan rasa takut itu hahahaaa.... Tapi apa kita sendiri yakin, bahwa itu kompleks? :)
Intinya adalah (halah), kalau bingung, tanya orang. Itulah kenapa orang lain diciptakan, karena kita ngga sempurna. Jangan takut, karena ngga ada gunanya. Mus pernah bilang (saya ngga akan lupa ini), kalau takut kita jadi kecil, kalau kecil kita akan kalah. Jadi jangan takut. Semuanya akan baik-baik saja. Kalau orang lain bisa, kita harus coba dulu sebelum bilang kita ngga bisa. Untuk mencoba, ngga boleh takut.
Kalau sudah yakin, diputuskan. Kalau sudah diputuskan, ngga boleh ragu-ragu karena ragu-ragu itu letaknya sekian ratus level jauh di bawah keyakinan. Ngga boleh ragu-ragu karena ragu-ragu bikin takut. Ngga boleh takut kalau mau mencoba. Dan mencoba itu harus, sebelum kita bilang kita ngga bisa :) Karena siapa tahu kita bisa.
Jadi lakukan saja, karena siapa tahu kita bisa, yang artinya kita naik satu tingkat lebih tinggi. Lakukan saja. Diniati dengan baik.
:)
Salaam,
RhoMayda
02:12 Posted in Reflection | Permalink | Comments (3) | Email this





Comments
bener itu, jangan ragu-ragu. klo ragu-ragunya sebentar, gpp lah, seenggaknya kan bisa ngerasain dulu rasa takut. dan sekalinya berhasil mengalahkan ragu-ragu, rasanya? luarr biasaa.. :D
*apa sih ini, ga jelas*
Posted by: iyank | 06.04.2009
pokok aku comment wae kiy. bingung te comment piye. luweh penak diobrolke kok May. :)
Posted by: devie | 06.04.2009
Dan mencoba itu harus, sebelum kita bilang kita ngga bisa :) Karena siapa tahu kita bisa. >>> suka banget kata - kata ini, dan kenapa terngiang2 terus? apa ada hal yang belum berani kucoba? kayaknya harus membuka catatan resolusi 2009 nih... :D
Posted by: putri | 07.04.2009
Post a comment