16.02.2009

Suara

ada suara
yang asalnya dari paru-paru sendiri
keluar lewat tenggorokan lain

satu lagi suara
datang lebih awal
bergelegar di dalam kepala
menulikan telinga
mengguncang-guncang nyawa
menghantam keras suara pertama

mungkin ini perang
tanpa tulang dan pedang

suara-suara lain
yang datang paling akhir
bising melengking tak kalah nyaring

diterbangkan jauh dari seberang
dijeritkan lantang dalam doa
"semuanya akan baik-baik saja"

satu suara itu
berontak
berdetak-detak meledak
bengkak-bengkak

hancur mundur
lalu tertidur

-RhoMayda-

 

10.02.2009

Salju

Setelah sekian lama (berapa lama ya Mas?) saya menunggu-nunggu wangsit (halah), akhirnya sekarang merasa ini waktu yang pas untuk mengolah tulisan ini. Mas Taufiq minta salju. Dan sekarang dia dapat saljunya. Monggo :)

Tadi waktu jalan pulang dari Lipsius, lewat jam 22.00, jalanan basah. Gerimis, dingin. Sampai di stasiun, salju ikut turun bareng-bareng sama tetes-tetes air. Dan saljunya makin lebat, walau sebentar. Saya sempat bengong melihat butiran-butirannya berhamburan, terlihat jelas di bias lampu pinggir jalan. Bagus banget. Ngga beraturan, jumlahnya banyak, tertiup angin ke sana-sini. Tapi itu cuma sebentar. Saljunya cuma bisa terlihat ketika masih "terbang". Karena cuaca masih ngga cukup dingin, begitu salju menyentuh tanah, dia akan cair begitu saja. Ngga sempat terlihat ada sisa salju di jalanan. Tapi momen sebentar ketika salju turun itu, malam-malam, dengan bias lampu jalan, sudah bisa membuat saya kagum. Bagus soalnya.

Musim dingin kali ini, saya menikmati betul saljunya. Mungkin juga karena ternyata saya suka bikin foto. Waktu itu saljunya tebal selama beberapa hari. Atap-atap rumah tertimbun salju tebal, tanah tertutup salju. Jalanan jadi licin, diberitakan harus hati-hati berkendaraan. Dan bisa dirasakan kok ketika nyetir. Ada bunyi berisik di bannya. Jangan terlalu kencang, jangan rem mendadak, resikonya jelek. Lebih baik ikuti bekas jalan mobil-mobil sebelumnya, karena esnya di situ tipis. Hati-hati. Kalau nyetir malam dan salju masih tebal, coba perhatikan pinggir-pinggir jalan. Sesekali ada banyak pohon-pohon, semacam hutan gitu di pinggir jalan. Nah, malam-malam gitu kalau pas ada salju dan udara cerah, kita bisa lihat jaaauh ke dalam hutan, yang biasanya terlalu gelap dan ngga kelihatan. Jadi, kita bisa lihat garis batang-batang pohon karena kontras dengan warna salju yang menempel. Dan karena semuuuanya putih, di seluruh tanah dan di daun-daun, warna gelap jadi terlihat lebih jelas. Dan itu bisa sampai ke daaalam hutan. Kita bisa lihat jaaauh banget. Itu asik. Ketika cerah dan ada salju, malam terasa terang karena warnanya putih.

Mungkin, salju tuh seperti es serut yang haluuus banget, jadi ringan. Atau kayak yang di freezer kulkas yang rusak dan esnya menebal, itu bagian atasnya kan lembut banget tuh. Nah, seperti itu tapi banyaaak banget di mana-mana, sejauh mata memandang. Yang paling asik, itu lempar salju. Jangan lupa sarung tangan tebal. Ambil saljunya, asal aja, yang dekat dengan kaki. Kalau ambilnya sedikit (sebanyak yang ada di freezer kulkas doang hehe), itu bisa leleh begitu aja. Diraup yang banyak, ditekan-tekan jadi bulet, ditambahi lagi, dibuletin lagi, ditambahi teruuus sampai siap lempar. Kalau masih terlalu ringan, ngga akan sampai sasaran. Bikin yang keras hehehe.... Yang menyebalkan itu, kalau ada orang yang memasukkan salju lewat kerah belakang jaket kita. Kita bisa gila joget-joget kedinginan karena esnya kena kulit punggung. Uhhh.





Salju mungkin kedengeran serem gitu, dingin. Tapi, manusia bisa kok kalau cuma jalan-jalan di cuaca dingin bersalju gitu. Asal jangan pakai bikini hehehe. Orang Indonesia banyak ada di sini, dan mereka suka salju. Saya suka. Salju memang bagus. Beneran. Dan ternyata, kalau kita lama pegang salju (jangan lupa sarung tangannya), tangan kita akan jadi jatuh lebih hangat daripada tangan mereka yang sama sekali ngga nyentuh salju. Mungkin ada yang tahu kenapa? Saya ngga ngerti, tapi ini bener. Dan ternyata lagi, di daerah kutub sana misalnya, mereka punya buaaanyak kata untuk mengidentifikasi macam-macam salju yang berbeda-beda. Info ini saya dapat di mata kuliah linguistik. Dan baru saja, saya temukan daftar 100 kata Eskimo untuk 'salju' di sini. Luar biasa, ya :)

Salju memang ngga terkesan Indonesia banget. Beda lah. Dan kadang kita berpikiran, kalau sudah terbiasa hidup sehari-hari di sebuah tempat, kita ngga akan cocok tinggal di tempat baru, atau bahkan berpikiran bahwa tempat baru akan merusak semuanya. Janganlah. Ada banyak keindahan di bumi. Ada gurun, ada salju, ada padang... semuuuanya berpenghuni. Jadi, pasti ngga seburuk itu kan. Gurun yang terik juga punya keindahannya sendiri, seperti salju yang dingin, padang yang lapang. Sama kok. Seperti kata Iwan Fals dalam Kupu-kupu Hitam Putih, menunggu matahari terbit di musim hujan, mendung menjadi teman, ada juga keindahannya. Tuh kan, bahkan mendung bisa indah ^.^'

Jadi sebenarnya, semuanya bisa dinikmati. Segala sesuatu itu punya keindahannya sendiri, kita cuma harus BISA MELIHAT itu :)

-RhoMayda-

Dan kalau saya berpikir ketuhanan itu cuma ada di surau-surau kampung, di bedug-bedug masjid, di ketupat-ketupat lebaran atau di sarung-sarung jamaah... kalau saya berpikir ketuhanan itu ngga mungkin ada di bahasa-bahasa asing, di cuaca-cuaca dingin, di tetes-tetes es atau di butiran-butiran salju... maka ketuhanan bagi saya lebih bersifat lokal, daripada personal. Kalau itu terjadi, sayang sekali. Karena lokasi bisa membatasi ruang gerak, dan personaliti enggak hehehe. Wah... saya religius sekali malam ini hahahahaaa....

Selamat tidur saja, sudah setengah tiga :)

 

09.02.2009

Pergi

Ternyata itu hobi saya. Pergi. Pergi belanja sayur, pergi cari buku, pergi cari makan, pergi ngopi, pergi ketemu temen, pergi dalam perjalanan, pergi ngapain aja. Dan orang tua saya paham betul kebiasaan aneh saya ini. Jadi kalau di sini bilang pengin pulang ke Jogja, nanti sampai Jogja saya ngga pernah ada di rumah. Dari Jogja pengin pulang ke Sojomerto, sampai Sojomerto orang rumah ngga pernah ketemu saya. Bodoh. Mungkin orang tua kerepotan juga sih awalnya. Lha iki piye cah wedok siji iki kok ra iso diatur, meta-metu, lunga-lungo, ida-idu, udad-udud, megal-megol (hahahahaaaa yo ora ngawur no), ra mutu tenan. Anake sopo to kuwi? Halah. Makanya, saya selalu tahu kunci itu ditaro mana, supaya kalau malam-malam masih bisa tidur di kamar, ngga usah di dapur. Dan kalau Embah udah telanjur kunci pintunya, ya nginep aja di rumah Mbak Yuli, pulang besok paginya (hehe). Dan itu boleh. Sekarang mereka bilang, "Kite-kite kaga bakalan dah larang-larang elu pulang malam, elu kan ude gede ye, elu kudu tanggung jawab aje. Dan entu hape batrenye dipenuin nape? Isi pulsa choy!" Ih jadi inget Somat idolanya Lupus (tuh kan ngelantur).

Masalahnya adalah, oh ini saya suka banget, saya cewek! :D If I were a boy (halah), ngga akan deh orang-orang cerewet. Tapi temen saya pernah heran, "Emang kamu cewek?" Heheheee asem. Saya cewek kok. Buktinya, saya diperbolehkan tinggal di kos cewek. Yes!

Oke saya terima deh, cewek harus bisa jaga diri, kayak cowok (hehe, tetep, cowok juga harus bisa jaga diri ya, enak aja). Tapi teknisnya ngga usah ditentuin atau diseragamin betul-betul. Saya pernah berkali-kali, ih beneran ini, mencoba rutinitas "normal" yang berlaku di kalangan cewek manis Indonesia (halah). Saya pernah pulang sebelum gelap, masak untuk makan malam, tidur sebelum tengah malam, bangun sebelum terang. Gitu-gitu lah. Ya bisa. Tapi mungkin cuma berhasil dua kali berturut-turut, ngga lebih (hehe). Itu kayaknya sih memang karena rutinitas yang kayak gitu, bagaimanapun juga, ngga cocok sama onderdil-onderdil karakter saya yang didesain sedemikian rupa sehingga... (halah). Ritme hidup saya (haaalllah bosone) ternyata ngga kayak ritme hidup cewek manis Indonesia. Ya gimana lagi?

Tapi karakter setiap manusia kan sangat dipengaruhi lingkungan sekitar. Jadi, saya ngga bangun tidur terus tiba-tiba jadi begini. Sampai jadi begini, pergi-pergi terus, tuh prosesnya selama lebih dari 22 tahun (applause dong hahahaaa). Bisa jadi, ini karena saya dari dulu pindah-pindah terus. Tk di mana, SD di mana, SMP ke mana, SMA, kuliah. Orang-orang baru, ngga dikenal, asing, itu udah terlalu sering ditemui. Jadi ya, ya udah (apa coba). Maksud saya, saya masih belum nemuin sesuatu yang akan menghalangi saya untuk pergi. Kalau suatu saat tiba-tiba saya punya suami (halah), mungkin saya ajak aja dia untuk pergi-pergi bareng hahahahaaa... keras kepala deh.

Di rumah seharian itu membosankan karena kita bisa mengira-ngira apa saja yang bakal kita lihat, kita dengar. Di luar, dalam perjalanan, ketika pergi, kita bisa bengong melihat anak kecil mendorong kereta bayi berisi adiknya, atau ikut ketawa ketika orang yang hampir kita tabrak malah ketawa, atau tersenyum geli melihat seorang kakek usia hampir seabad berjalan kaki dengan earphone iPod menancap di telinganya. Mugnkin itulah kenapa saya suka pergi, karena dari dulu terbiasa dengan suasana lain. Dan itu semua ngga ada di dalam rumah. Kalau sudah terlalu lama berada dalam satu tempat, rasanya pengin pergi aja. Itu ulah kepala, atau nyawa, atau apalah. Dan saya ngga keberatan kok.

Kembali ke jaga diri, saya akan jaga diri. Kalau terkesan liar (ya ampun jangan dong), ya apa boleh buat. Maksudnya, sebenarnya, sebelum pergi saya selalu memastikan dulu semuanya akan baik-baik saja. Waktu ke Sumbawa, saya sudah tanya-tanya orang tua saya beberapa minggu sebelumnya. Waktu ke Surabaya, ahhh Surabaya kan deket dari Jogja :D Waktu melakukan perjalanan yang saya namai Susur Jawa Timur itu, saya kenal semua orang yang saya kunjungi. Jadi, saya ngga liar. Saya dijaga betul kok sama mereka.

Kesan liar itu mungkin muncul karena saya pergi sendiri. Tapi ya, mau bagaimana lagi. Mau menunggu ada orang lain yang nemenin, baru bisa pergi? Ahhh repot, kelamaan. Ib bilang saya ngga usah menggantungkan orang lain. Kalau mau pergi ya pergi aja. Jangan nungguin yang ngga jelas dan ngga melakukan apa-apa. Itu namanya sia-sia. Kata Ib, daripada gitu mending pergi sendiri. Tentuin sendiri dulu mau pergi ke mana kapan, nah kalau ada yang mau ikut, ya biarin ikut. Tapi kalau nggak, ya ngga apa-apa, pergi aja. Nunggu-nunggu terus, malah ngga jadi pergi. Begituuu :)

Tapi (hehe) saya ngga nolak ditawari pergi bareng. Perjalanan ke Karimun Jawa bareng-bareng kemarin itu asik banget. Bagi yang sudah merencanakan melakukan perjalanan dengan mengajak saya (hehe), jangan sungkan-sungkan ya.

Hobi pergi ini ternyata berimbas pada hubungan-hubungan saya dengan cowok. Serius ini. Dari duluuu banget, pacaran di mana, tiba-tiba saya pindah. Pisah. Pacaran di mana lagi, saya pindah lagi. Pisah. Gitu mulu. Ora mutu tenan to! Asem. Hahahahaaa.... Tapi seru, karena bisa jatuh cinta di mana-mana, ngga direncana hahahahaaa...

Udah ah jadi ngelantur.
Pergi dulu yaa

Salaam,
RhoMayda

Tulisan ini cukup spesial karena ditulis pagi hari. Biasanya kan saya nulis malam. Tadi saya bangun pagi, berniat mendahului matahari. Tapi ternyata mendung, matahari ngga datang. Hahahaaa... sekalinya mau bangun pagi udah dikerjain begini. Terus saya ngambil roti di dapur, dikasih madu. Bikin teh (teh??? Iya), dikasih madu. Lalu nulis. Asik kok. Oia, flu saya masih betah. Semua orang nyuruh makan banyak. Semalam sebelum tidur pakai balsem kayak pakai body lotion, rakus. Suara saya masih jelek karena hidung mampet, masih batuk-batuk, dan kadang-kadang telinganya juga aneh kayak habis berenang. Okelah, kalian sehat aja. Sekarang mau ke toilet dulu, baru ke kampus. Selamat hari Senin

^.^/

All the posts