10.02.2009
Salju
Setelah sekian lama (berapa lama ya Mas?) saya menunggu-nunggu wangsit (halah), akhirnya sekarang merasa ini waktu yang pas untuk mengolah tulisan ini. Mas Taufiq minta salju. Dan sekarang dia dapat saljunya. Monggo :)
Tadi waktu jalan pulang dari Lipsius, lewat jam 22.00, jalanan basah. Gerimis, dingin. Sampai di stasiun, salju ikut turun bareng-bareng sama tetes-tetes air. Dan saljunya makin lebat, walau sebentar. Saya sempat bengong melihat butiran-butirannya berhamburan, terlihat jelas di bias lampu pinggir jalan. Bagus banget. Ngga beraturan, jumlahnya banyak, tertiup angin ke sana-sini. Tapi itu cuma sebentar. Saljunya cuma bisa terlihat ketika masih "terbang". Karena cuaca masih ngga cukup dingin, begitu salju menyentuh tanah, dia akan cair begitu saja. Ngga sempat terlihat ada sisa salju di jalanan. Tapi momen sebentar ketika salju turun itu, malam-malam, dengan bias lampu jalan, sudah bisa membuat saya kagum. Bagus soalnya.
Musim dingin kali ini, saya menikmati betul saljunya. Mungkin juga karena ternyata saya suka bikin foto. Waktu itu saljunya tebal selama beberapa hari. Atap-atap rumah tertimbun salju tebal, tanah tertutup salju. Jalanan jadi licin, diberitakan harus hati-hati berkendaraan. Dan bisa dirasakan kok ketika nyetir. Ada bunyi berisik di bannya. Jangan terlalu kencang, jangan rem mendadak, resikonya jelek. Lebih baik ikuti bekas jalan mobil-mobil sebelumnya, karena esnya di situ tipis. Hati-hati. Kalau nyetir malam dan salju masih tebal, coba perhatikan pinggir-pinggir jalan. Sesekali ada banyak pohon-pohon, semacam hutan gitu di pinggir jalan. Nah, malam-malam gitu kalau pas ada salju dan udara cerah, kita bisa lihat jaaauh ke dalam hutan, yang biasanya terlalu gelap dan ngga kelihatan. Jadi, kita bisa lihat garis batang-batang pohon karena kontras dengan warna salju yang menempel. Dan karena semuuuanya putih, di seluruh tanah dan di daun-daun, warna gelap jadi terlihat lebih jelas. Dan itu bisa sampai ke daaalam hutan. Kita bisa lihat jaaauh banget. Itu asik. Ketika cerah dan ada salju, malam terasa terang karena warnanya putih.
Mungkin, salju tuh seperti es serut yang haluuus banget, jadi ringan. Atau kayak yang di freezer kulkas yang rusak dan esnya menebal, itu bagian atasnya kan lembut banget tuh. Nah, seperti itu tapi banyaaak banget di mana-mana, sejauh mata memandang. Yang paling asik, itu lempar salju. Jangan lupa sarung tangan tebal. Ambil saljunya, asal aja, yang dekat dengan kaki. Kalau ambilnya sedikit (sebanyak yang ada di freezer kulkas doang hehe), itu bisa leleh begitu aja. Diraup yang banyak, ditekan-tekan jadi bulet, ditambahi lagi, dibuletin lagi, ditambahi teruuus sampai siap lempar. Kalau masih terlalu ringan, ngga akan sampai sasaran. Bikin yang keras hehehe.... Yang menyebalkan itu, kalau ada orang yang memasukkan salju lewat kerah belakang jaket kita. Kita bisa gila joget-joget kedinginan karena esnya kena kulit punggung. Uhhh.


Salju mungkin kedengeran serem gitu, dingin. Tapi, manusia bisa kok kalau cuma jalan-jalan di cuaca dingin bersalju gitu. Asal jangan pakai bikini hehehe. Orang Indonesia banyak ada di sini, dan mereka suka salju. Saya suka. Salju memang bagus. Beneran. Dan ternyata, kalau kita lama pegang salju (jangan lupa sarung tangannya), tangan kita akan jadi jatuh lebih hangat daripada tangan mereka yang sama sekali ngga nyentuh salju. Mungkin ada yang tahu kenapa? Saya ngga ngerti, tapi ini bener. Dan ternyata lagi, di daerah kutub sana misalnya, mereka punya buaaanyak kata untuk mengidentifikasi macam-macam salju yang berbeda-beda. Info ini saya dapat di mata kuliah linguistik. Dan baru saja, saya temukan daftar 100 kata Eskimo untuk 'salju' di sini. Luar biasa, ya :)
Salju memang ngga terkesan Indonesia banget. Beda lah. Dan kadang kita berpikiran, kalau sudah terbiasa hidup sehari-hari di sebuah tempat, kita ngga akan cocok tinggal di tempat baru, atau bahkan berpikiran bahwa tempat baru akan merusak semuanya. Janganlah. Ada banyak keindahan di bumi. Ada gurun, ada salju, ada padang... semuuuanya berpenghuni. Jadi, pasti ngga seburuk itu kan. Gurun yang terik juga punya keindahannya sendiri, seperti salju yang dingin, padang yang lapang. Sama kok. Seperti kata Iwan Fals dalam Kupu-kupu Hitam Putih, menunggu matahari terbit di musim hujan, mendung menjadi teman, ada juga keindahannya. Tuh kan, bahkan mendung bisa indah ^.^'
Jadi sebenarnya, semuanya bisa dinikmati. Segala sesuatu itu punya keindahannya sendiri, kita cuma harus BISA MELIHAT itu :)
-RhoMayda-
Dan kalau saya berpikir ketuhanan itu cuma ada di surau-surau kampung, di bedug-bedug masjid, di ketupat-ketupat lebaran atau di sarung-sarung jamaah... kalau saya berpikir ketuhanan itu ngga mungkin ada di bahasa-bahasa asing, di cuaca-cuaca dingin, di tetes-tetes es atau di butiran-butiran salju... maka ketuhanan bagi saya lebih bersifat lokal, daripada personal. Kalau itu terjadi, sayang sekali. Karena lokasi bisa membatasi ruang gerak, dan personaliti enggak hehehe. Wah... saya religius sekali malam ini hahahahaaa....
Selamat tidur saja, sudah setengah tiga :)
02:26 Posted in Perjalanan, Reflection | Permalink | Comments (6) | Email this





Comments
hummm ,, kamu blum pernah makan es salju?
pernah ada di amplaz beberapa waktu ...
bentuknya salju banget ... rasanya kayak es teler :P
sayangnya gak bisa bikin teler ...
Posted by: nikenoz | 10.02.2009
a-m-a-z-i-n-g... suatu hari aku juga akan memeluk salju. makasih Ima buat saljunya. you'll get yours :p
Posted by: taufiqn | 10.02.2009
Pagi, apakabar?
Posted by: Teguh setiawan | 11.02.2009
suatu hari saya juga mau main salju ke sana.
Sekarang ini cuma bisa makan kue salju. :( biasanya kalau lebaran mama saya sering bikin.
Posted by: Mus_ | 14.02.2009
Ma, kali ini, aku bisa bilang, "kau telah kembali", kembali dari hibernasi menulismu yang panjang. :D
welkome beck!
jadi gimana? salju itu kalo dikasih sirup jadi kayak es serut ya?
*mbayangin es serut satu lapangan bola
Posted by: devie | 15.02.2009
tunggu aq, di sana.
*insya allah* :)
Posted by: iyank | 17.02.2009
Post a comment