22.01.2009

Sang Petualang

laut biru begitu lapang
dan gelombang menghalau bosan
petualang bergerak tenang
melihat diri untuk pergi lagi

ya sejenak, hanya sejenak
ia membelai semua luka
ya sekejap, hanya sekejap
ia merintih pada samudra

sebebas camar engkau berteriak!
setabah nelayan menembus badai!
seikhlas karang menunggu ombak!
seperti lautan engkau bersikap!

petualang merasa sunyi
sendiri di hitam hari
petualang jatuh terkapar
namun semangatnya masih berkobar

petualang merasa sepi, merasa sunyi
sendiri di kelam hari
petualang jatuh terkulai
namun semangatnya bagai matahari

ya sang petualang terjaga
bergerak
terkapar
sendiri

 

Itu lagu Iwan Fals. Musiknya bagus, liriknya asik. Bisa dipakai buat joget... sambil nangis....

:p

-RhoMayda-

 

21.01.2009

Ms Dpn

Oke saya menyerah. Tulisan saya yang Tkmst itu, akan dibahas sekali lagi di sini, dalam bahasa yang lebih bisa saya pahami. "Tkmst" itu kumpulan konsonan yang dalam bahasa Belanda bisa membentuk kata "toekomst", yang dalam bahasa Indonesia artinya 'masa depan'. Kenapa saya akhirnya mengindonesiakan tulisan saya tuh sangat berhubungan dengan reaksi Mas Taufiq yang kirim message begini di facebook "And what posting is that in Kampoeng????". Ditambah lagi dari Mas Devie. Katanya, tulisan Tkmst itu aneh banget terjemahannya dalam Google Translate. Lalu saya cek (iseng). Dan... bbbbhuahahahhahaaaaaaaaaa... seruuuuuuu... hahahhahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... Dilihat dari bentuknya, Google menginggriskan bahasa belandanya dulu, baru megindonesiakan versi inggrisnya. Dan itu... bbbbbbhuahahahahaaaaa... seruuu! Yang terlewat adalah judulnya. Padahal sebenernya bisa lho *iseng*

tkmst > ftr > ms dpn (tuh kan bisa) :D

Masa depan.

Minggu-minggu pertama saya balik ke Belanda, yang kerasa cuma rumah sakit (home sick = heimwee). Iya, home sick. Pengin pulang ke Indonesia. Indonesia tuh artinya matahari, naik motor dan liburan. Dan di sini tuh artinya belajar, membaca, menulis, kerja, naik sepeda dan cuaca buruk. Jadi, ada cukup alasan untuk secepatnya balik lagi ke Indonesia. Dan saya tentu saja ngga siap untuk kesepian di kamar kos. Jadi, seminggu saya tinggal di temen-temen Indonesia. Jadi berasa Indonesia. Kami sama sekali ngga melakukan apa-apa. Kecuali mengeluh, mengeluhj dan mengeluh. Dan itu asik! Hahahhaaaaa.... Kira-kira, inilah yang kita omongkan setiap hari:

A: Yuk pulang yuk.
B: Iya, ngapain kita di sini?
C: Ini untuk masa depan kita, kita harus tetep kuat.
B: Dengan cuaca begini???
C: Ini kan cuma sebentar. Entar juga ilang.
B: Lihat to, Indonesia tuh jauh lebih asik.
C: Pikirkan masa depan kita dong! Kita harus tetep kuat!
A: Tapi... gimana coba kalau íní tuh masa depan kita.
B: ...
C: ...
C: Nggak! Jangan dong! Ini bukan masa depan kita! Kita harus pulang! Masa depan akan datang! Ini bukan masa depan!

Hahahahhaaaa.... Iya saya tahu, kami sudah gila, gara-gara kangen rumah. Dan saya cuma bisa mengeluh. Sekarang, satu semester sudah berakhir, dan saya masih saja mengeluh. Hahahhaaaaaa.... Masa depan tuh apaan sih? Apa sih itu sebenernya? Ib selalu bilang, "Belajar yang betul, ngga usah terlalu mikirin Indonesia. Ini untuk masa depan kamu."

Apaan coba?

Sebulan ini, Januari, saya babysit seorang cewek berusia 7 tahun. Orang tuanya dari Indonesia, dia juga Indonesia dong. Tapi dia tuh ngga pernah pake bahasa Indonesia sama saya. Kadang-kadang aja, dan kedengarannya sangat cute. Pada suatu malam, ketika dia harus tidur, dia sudah berbaring di samping saya, di bawah selimutnya bersama Pikachunya. Saya bacain buku anak buat dia. Dia ikut lihat bukunya, dan mulai ngobrol. Ini terjemahan dari bahasa Belandanya.

D: Bukan, itu 2001.
R: 200. Ini tuh 200, terus ada tanda serunya di belakangnya.
D: Oh iya. Kukira 2001. Tapi 2009 jauh lebih banyak.
R: 2009? Itu kan tahun ini. *bingung*
D: Iya, sekarang 2009. Sudah hampir masa depan.
R: Hampir masa depan? *makin bingung*
D: Iya, hampir. Belum masa depan. Tapi hampir.
R: Jadi sekarang 2009, dan itu tuh belum masa depan. *berasa mabuk*
D: Betul. Hampir masa depan.
R: Terus, menurutmu masa depan tuh kapan? *mulai gila*
D: Hmm... *mikir* tahun 2010. Atau 2011. Ya gitulah.
R: Sekarang kan 2009, berarti belum masa depan.
D: Belum. Hampir.
R: Masa depan tuh 2010 atau 2011.
D: Iya.
R: Oh gitu ya. Ya sudah. Sekarang kamu boleh berbaring yang betul, tutup matanya. Kita belum berada di masa depan. Tapi kita akan sampai ke sana ya.
D: Iya.
R: Selamat tidur....

Masa depan masih akan datang. Get prepared ^.^

Salaam,
-RhoMayda-

 

20.01.2009

Tkmst

De eerste weken dat ik weer terug in Nederland was had ik zo'n erge heimwee naar Indonesië. Indonesië betekent zon, motor en vakantie, en dit hier betekent studeren, lezen, schrijven, werken, fietsen en vies weer. Genoeg redenen om zo snel mogelijk terug te gaan naar Indonesië. En ik was natuurlijk niet bereid om me weer eenzaam te voelen in mijn kamer. Dus daar was ik, een week lang blijven bij Indonesische vrienden. Dat gaf zo'n Indonesisch gevoel. Wij deden simpelweg niks! Niks behalve zeuren, zeuren en zeuren. En dat deed me goed! Hahahahaaa.... Dit is ongeveer waar wij het elke dag over hadden:

A: Kom, we gaan naar huis.
B: Ja, wat moeten we hier doen?
C: Dit is voor onze toekomst, we moeten sterk blijven.
B: In zo'n weer???
C: Het is maar heel even. Het gaat voorbij.
B: Kijk nou, Indonesië is veel leuker.
C: Denk aan onze toekomst, jongens! Blijf sterk!
A: Maar... stel nou eens dat dít hier onze toekomst is.
B: ...
C: ...
C: Nee! Alsjeblieft niet! Dit is níet onze toekomst! We moeten terug! De toekomst moet nog komen! Dit is níet de toekomst!

Hahahhaaaa.... Ja dat weet ik ook, wij zijn gek geworden, door de heimwee. En ik bleef maar zeuren. Nu is één semester al voorbij, en ik zeur nog steeds. Hahahahaaaa.... Wat is nou in godsnaam de toekomst? Wát is het eigenlijk??? Mijn moeder zegt altijd, "Studeer goed, denk niet te veel aan Indonesië, dit is voor je toekomst."

Wat is dat nou?

Deze maand, januari, pas ik een meisje van 7 op. Haar ouders zijn Indonesisch, zij dus ook, maar spreekt nooit Indonesisch tegen mij. Wel héél af en toe, en het klinkt dan zo schattig. Op een avond, als ze naar bed moest, lag zij naast mij onder haar deken met haar Pikachu. Ik las een kinderboekje voor. Zij keek mee in het boekje en zei:

R: Nee, dat is 2001.
M: 200. Dit is 200, met een uitroepteken erachteraan.
R: Oh, ja. Ik dacht dat het 2001 was. Maar 2009 is veel meer.
M: 2009? Dat is dit jaar.
R: Ja, het is nu 2009. Bijna de toekomst.
M: Bijna de toekomst?
R: Ja, bijna. Nog niet de toekomst. Maar wel bíjna.
M: Het is dus nu 2009, en is nog niet de toekomst.
R: Nee. Bijna de toekomst.
M: Wanneer komt de toekomst denk je?
R: Hmm... in 2010. Of 2011. Of zo.
M: Het is nu 2009, dit is dus niet de toekomst.
R: Nee. Nog niet. Wel bíjna.
M: 2010 of 2011 is de toekomst.
R: Ja.
M: Oh zo. Oké dan. Nu mag je goed liggen, en je ogen dichtdoen. We zijn nog niet in de toekomst. We komen er wel aan, he.
R: Ja.
M: Welterusten....

De toekomst moet nog komen. Get prepared ^.^

Salaam,
-RhoMayda-

 

10.01.2009

2009

Akan kudatangi kamu. Dengan dua kopi. Satu untuk kamu, satu untuk aku. Kamu duduk. Aku duduk di depanmu. Mulutmu diam. Akan kuperhatikan matamu dalam-dalam. Telingamu mendengarkan. Karena aku bertanya.

"Apa maumu?"

Kupastikan kamu mendengar setiap bunyi yang kuucapkan, setiap suku kata, setiap kata. Kamu harus betul-betul paham apa yang kutanyakan. Lalu kuminum kopiku. Kamu minum kopimu sebentar. Dan mulai bicara. Kamu punya jawaban. Akan kudengarkan baik-baik suaramu. Masih kuperhatikan matamu dalam-dalam. Begitu dalam, sampai apapun yang kamu katakan bisa aku dengar. Aku ngga takut, kamu boleh ngomong apa saja. Keluarkan semuanya.

Aku mau tahu kamu mau apa. Itu saja. Sederhana.

-RhoMayda-

 

Berdoa

Apa kabar? Bagaimana kopi hari ini? Pahitnya pas kan? Saya baik-baik saja, kalau-kalau ada yang bertanya-tanya :p

Malam ini (memang biasanya tulisan saya dibuat malam-malam) saya kepengin ngomongin doa. Setelah dipikir-pikir (karena yang mikir tuh saya, paling juga tetep dangkal hahaha), konsep berdoa tuh asik. Kalau percaya Tuhan, Anda akan berdoa pada Tuhan. Kalau ngga percaya Tuhan, Anda ngga akan berdoa pada Tuhan (tuh kan dangkal). Tapi, mari percaya pada Tuhan saja. Bukan apa-apa sih. Cuma, percaya pada Tuhan akan memudahkan saya menjelaskan ide saya kenapa konsep berdoa tuh asik hehehe.... Ini ada percakapan aneh.

Q: Yah, terus aja berdoa.
Z: Aku ngga berani berdoa untuk ini.
Q: Kenapa?
Z: Ngga enak sama Tuhan.
Q: Terus?
Z: Ya ditunggu aja sampai dapat, sampai dikasih.
Q: Ngga pakai doa?
Z: Nggak. Ngga enak sama Tuhan. Selama ini selalu dikasih ini-itu, ngga mau minta-minta, takut terkesan ngga puas, serba kurang, dan ngga bersyukur.
Q: Aku berdoa.
Z: Kamu minta?
Q: Iya.
Z: Minta apa?
Q: Banyak.
Z: Ngga takut dikira serba kekurangan?
Q: Hmm... nggak. Dia kan punya semua. Jadi aku berdoa. Dia kan Tuhan, punya peran untuk mengoreksi manusia, menyeleksi doa-doa mereka, memberikan yang terbaik, mengawasi, gitulah. Dan aku berdoa, memerankan peranku sebagai manusia, yang memang serba kekurangan. Kami cuma memerankan peran kami masing-masing. Apa salahnya?
Z: Jadi kamu minta apa malam ini?
Q: Banyak. Banyak banget. Malam ini aku berdoa lama sekali. Permintaanku banyak. Kudoakan keluargaku satu per satu. Kusebut kawan-kawanku. Aku mintakan kebahagiaan untuk mereka yang menikah, mereka yang lulus kuliah, mereka yang kerja keras. Kudoakan pacarku. Kudoakan sepupu-sepupuku.
Z: Dan buatmu sendiri?
Q: .... Oh.... Aku lupa berdoa untuk diriku sendiri.
Z: Bodoh.

Berdoa itu semacam dialog antara dua individu. Yang satu punya semuanya dan yang lainnya butuh sesuatu. Yang satu bisa ngasih, yang lainnya minta. Karena yang satu punya semuanya, jadi yang lainnya bisa minta apa aja. Dikasih atau nggak, ngga akan dibahas di sini hehehe :p Berdoa tuh seperti pengungkapan pengakuan secara gamblang, rendah hati, jujur dan apa adanya, tapi gampang sekali dilakukan. Itu asiknya. Berdoa itu gampang :)

Percakapan tadi, saya akui, adalah percakapan antara saya dan saya dalam waktu yang berbeda. Bodoh ^.^

-RhoMayda-

 

All the posts