28.11.2008
Tanggung Jawab
Sedang ngopi? Mari ngobrol santai tentang tanggung jawab (hahahhaaa...).
Pernah dengar 'tanggung jawab'? Saya kenal istilah 'tanggung jawab' tuh dari pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP, waktu itu) di SD. SD saya namanya SD Sojomerto 02, di desa Sojomerto kecamatan Reban kabupaten Batang Jawa Tengah. Guru saya mengajari semua yang ada di buku PMP, salah satunya ya bab tentang tanggung jawab itu. Sampai saya menulis ini, makna tanggung jawab yang saya pahami ngga jauh-jauh dari kewajiban setiap orang untuk melaksanakan kewajibannya dengan baik dan benar. Sebuah definisi yang bisa membuat saya naik kelas seketika itu juga. Kewajiban untuk melaksanakan kewajiban. Wow. Tapi... hmm... saya benci kewajiban, apapun bentuknya. Ada yang tersinggung? Silakan. Saya tetap benci kewajiban. Apapun bentuknya. Tapi saya sedang jatuh cinta kepada tanggung jawab. Hfff... iya tahu, bisa jadi saya gila. Tapi ini ulah kepala saya. Salahkan dia.
Fokus!
Oke oke, maaf. Maksud saya adalah, kalau tanggung jawab adalah kewajiban, maka saya ngga akan mungkin jatuh cinta kepadanya. Nyatanya, sekarang saya sedang memuja-muja tanggung jawab (iya bener, berlebihan) dan tetap benci kewajiban. Tapi mungkin selama ini saya salah memahami makna tanggung jawab. Tapi bukankah tanggung jawab itu tercermin dari sikap-sikap seperti mengakui kesalahan, memperbaiki yang dirusakkan, membeli yang dipecahkan (seperti tercantum di toko-toko barang pecah belah)? Oh! Ada satu lagi kasus khas tanggung jawab: menikahi cewek yang dihamili. Hahahaaa.... Menikahi cewek yang dihamili. Itu contoh tanggung jawab yang paling pas.
Sampai saya menulis ini :)
Waktu saya masih SMA, Bapak pernah mengatakan sesuatu yang sangat aneh dan sulit dipahami waktu itu. Katanya, "Dia kan temanmu, kamu harus bertanggung jawab. Itu tanggung jawabmu sebagai teman. Kamu bisa menasehatinya, kamu bisa ngomong sama dia, kamu bisa menjaganya." Wattt??? Dalam hati saya protes "Loh! Itu kan bukan urusanku, aku ngga mau ikut campur, biar mereka aja yang menyelesaikan masalah mereka sendiri." Tapi saya diam saja. Bukan karena saya merasa saya salah, Bapak benar dan saya ngga berani membantah Bapak, tapi karena bingung bapak saya ini ngomongin apa sih. Selebihnya saya tetap merasa benar dan Bapak salah. Tapi oke harus saya akui, saya memang ngga mau membantah Bapak. Hehehe....
Saya hanya bingung karena konsep tanggung jawab yang dipakai Bapak ngga sama dengan yang saya pahami. Jangan-jangan karena dulu dia ngga sekolah di SD Sojomerto 02. Dulu dia di SD Sojomerto 01 (dua SD itu letaknya berseberangan). Jadi sebenarnya tanggung jawab itu apa? Kenapa saya punya tanggung jawab terhadap teman saya padahal saya ngga terlibat dengan urusannya? Kalau diterapkan secara goblok pada definisi tanggung jawab yang saya temukan secara jenius: saya kan ngga perlu menikahi teman saya yang dihamili oleh orang lain. Kan kan kan? Tapi itu kira-kira enam atau tujuh tahun yang lalu. Dan ngga ada yang dihamili atau menghamili. Itu cuma analogi dan aplikasi (halah).
Setelah kasus kata-kata-Bapak-yang-membingungkan itu, saya masih baik-baik saja, dan ngga menunjukkan kemunduran IQ secara drastis atau cacat mental yang ganas. Usia saya bertambah secara otomatis dan kepala saya berfungsi secara semena-mena (biasanya sama sekali ngga berfungsi). Maksud saya, semua berjalan normal. Tapi karena pengalaman hidup kita makin bertambah, orang yang kita kenal makin banyak, cerita-cerita di sekitar kita makin menarik... karena kita belajar dari banyak hal, kita makin bisa menyeleksi dan mengoreksi isi otak kita. Idih jadi bingung.
Sekarang saya sedang curiga, jangan-jangan tanggung jawab adalah karakter yang paling penting dimiliki setiap orang. Cuma tanggung jawab yang paling penting. Kenapa? Karena eh karena, tanggung jawab menuntun kita menuju kepuasan (hahahahaaa...!!!). (Hush!) Tanggung jawab adalah karakter yang sangat dekat dengan kemampuan manusia untuk berkeinginan, berpikir, mempertimbangkan dan akhirnya memilih. Nah! Bukankah manusia bebas memilih? Bukankah manusia memiliki kebebasan yang luaaar biasa luas untuk memilih? Bukankah manusia selalu menentukan pilihan? Bukankah itu cara mereka hidup, dengan menentukan pilihan? Bukankah menentukan pilihan itu sesuatu yang otomatis dan natural? Nah... bertanggung jawab adalah reaksi positif dari sifat natural manusia yang selalu menentukan pilihan. Reaksi negatifnya apa? Ngga tanggung jawab hahahaaa... (hush). Dan konsep menentukan pilihan tuh sangat sangat sangat ngga cocok dengan konsep kewajiban. Haha! (Saya benci kewajiban. Huh)
Saya ngga percaya kalau ada manusia yang ngga punya pilihan. Setiap manusia selalu bisa memilih. Cuma kadang, kita akui saja, pilihan yang tersedia memang ngga banyak. Kadang cuma ada dua pilihan, yang itu atau yang ini saja. Dan tanggung jawab adalah kunci menuju kepuasan, apapun pilihan kita. Tanggung jawab adalah peran yang muncul begitu kita menentukan pilihan, apapun pilihan kita. Pilihan-pilihan yang kita buat, semuanya punya konsekuensi dan resiko masing-masing. Nah, konsekuensi dan resiko inilah yang saya maksud dengan tanggung jawab.
Mari kembali ke kasus kata-kata-Bapak-yang-membingungkan itu tadi. Situasinya adalah, saya punya teman. Dia punya masalah. Kenapa Bapak bilang saya punya tanggung jawab terhadapnya? Itu karena Bapak tahu bahwa saya sudah menentukan pilihan untuk menjadi temannya. Sebagai temannya, saya punya resiko (kedengarannya negatif ya?), punya konsekuensi, punya peran. Saya mulai berpikir apa yang baik untuk dia, apa yang pengin saya lihat dalam dirinya, bagaimana membantunya. Dan saya akan melakukannya dengan senang hati. Bukan karena itu kewajiban saya, tapi karena itu pilihan saya.
Saya memilih menjadi mahasiswa, ya saya punya tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah, itu resikonya. Saya memilih menyetujui predikat sebagai kakak, ya saya punya tanggung jawab terhadap adik saya. Saya memilih menjadi istri, ya saya bertanggung jawab terhadap suami (sebagai info saja, saya belum menikah). Saya memilih ikut Ramadhan, ya saya punya tanggung jawab untuk ikut aturan mainnya. Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya :)
Jadi... apakah kita sudah memerankan peran kita secara maksimal setelah menentukan pilihan? Apakah kepuasan sudah tercapai? Kepuasan dunia? Kepuasan akhirat? Kepuasan lahir-batin, jiwa-raga? Hehehehe.... Ataukah kita memilih untuk tergoda sebentar karena godaan di kanan-kiri sangat menggiurkan? Apapun pilihan kita, ya tanggung jawab. Jadilah manusia yang manusiawi. Bosan atau gagal itu biasa. Sedih dan marah itu cerita lama. Nanusia cuma bisa usaha kan? Hehe... ngga juga sih (halah). Manusia bisa usaha dán memilih. Memilih untuk menikmati kegagalan dengan mengunci diri dan menangis sejadi-jadinya sambil misuh-misuh ngga jelas juga boleh. Memilih untuk pura-pura gembira juga oke. Yang penting tanggung jawab, apapun pilihannya.
Saya (hampir) yakin, kalau mau bahagia, merasa nyaman, puas dan tenang, tanggung jawab harus ada. Itu makanya, orang yang lari dari tanggung jawab biasanya gelisah dan merasa bersalah. Karena dia bersikap egois, mengabaikan perannya dan mengkhianati pilihannya.
Hohohooo omong apa ini :D
-RhoMayda-
Dan saya sedang mempersiapkan diri untuk melaksanakan sebuah tanggung jawab yang besar banget. Mungkin yang terbesar seumur hidup (halah). Cuma bisa memulai semuanya dengan niat baik, dan restu Tuhan. Hehehe.... Semoga pilihan saya ngga ngawur. Amiin.
04:05 Posted in Ngopi | Permalink | Comments (10) | Email this
20.11.2008
Pas
Apa kabar? Iya saya tahu betul, Kampoeng saya berantakan. Tapi saya yakin, cuma Kampoeng saya yang berantakan. Anda masih rapi dan tetap sehat kan? :)
Mau cerita nih. Tentang perjalanan pulang dari Lommel ke Leiden.
Singkat kata, sebetulnya saya ngga berniat ke Lommel. Tapi orang tua dan Tuhan berkehendak lain. Diculiklah saya pulang. Saya, yang ngga mempersiapkan apapun untuk menginap di rumah, mau saja diboyong pulang. Tapi ini sudah biasa. Saya pulang karena si Beth, adik saya itu, datang dari Jogja. Nah, niat untuk mengerjakan tugas seharian pada hari itu langsung dimodifikasi. Gila kan! Jarang-jarang saya punya niat seindah itu, mengerjakan tugas! Ealah, sekalinya ada, masak langsung ada godaan? Hidup memang menggoda. Serem kan! Tapi, untunglah laptop saya bawa. Tugas harus bisa diurus.
Dan benar saja. Siang itu saya memutuskan (hmm... bahkan sekarang masih heran sendiri) untuk bertapa di perpustakaan kota. Di Lommel. Gila... itu adalah kenikmatan tersendiri. Perut kenyang, bisa nulis, ruangan hangat, pilih meja di lantai atas yang pinggir, menghadap ke lantai bawah, di antara rak-rak buku, lampu cukup terang, beberapa orang juga mencari buku, banyak banget anak kecil di bawah di bagian koleksi anak-anak... saya ngga peduli. Telinga saya tersumbat lagu "SMS". Sampai lagu kesekian puluh, tiba-tiba terasa lapar. Dan kaget sekali karena ternyata di luar sudah gelap. Horor. Bukan horor karena gelap, tapi karena tugas benar-benar dikerjakan dan ngga memperhatikan jam ^^
Malamnya berempat (sama Ib, Om dan si Beth itu) nonton DVD yang baru saja disewa. Nyewa tujuh DVD. Tujuh! Tapi itu untuk seminggu sih ^^ Ini juga nikmat. Lanjut.... Sebelum tidur cek e-mail dulu. Dan apa yang terjadi? Ada dua tugas lagi yang ternyata belum selesai! Dan ngga bisa dikerjakan di Lommel karena buku-buku yang dibutuhkan ada di Leiden! Walah! Hasrat tidur nyenyak rasanya ngga bisa terpenuhi. Panik. Bete.
Besok paginya, waktu yang sebetulnya akan saya habiskan dengan nonton semuuua DVD yang sudah disewa (iya tahu, berlebihan), dengan perasaan bersalah saya memutuskan untuk mengerjakan tugas (lagi) seadanya. Dua tugas mendadak (maksudnya baru sadar kalau ada) ngga bisa semuanya dikerjakan. Oke, ini resiko. Jangan bete. Pagi saya kerjakan dulu satu tugas, niatnya sampai selesai. Tapi! (Ya Tuhan) Siangnya kami harus ke Venlo menjenguk Imke. Artikel baru 30% dibaca, belum lagi meringkas, belum lagi kasih komentar, belum lagi ngirim ke dosen (deadline yang seharusnya jam 19.00 tentu saja akan saya langgar). Belum lagi tugas satunya!!! Sumpah, bete sampai mau nangis.
Tapi!!! :D
Setelah dari Venlo, saya direstui untuk balik ke Leiden. Hari sudah gelap. Ortu dan adik ke Lommel naik mobil, saya ke Leiden naik kereta. Perjalanan 2,5 jam di kereta ngga akan bisa diisi dengan kegiatan yang berguna seperti... mengerjakan tugas! (Ya Tuhan. Rrrgggh....) Kenapa? Karena tugas saya ada di laptop, dan laptop saya ngedrop. Maka apa yang saya lakukan? Heh heh heh (horor).... Saya baca roman! Huahahaaa.... Hei, santai santai. Ini bukan mencari kesempatan dalam tempurung bagaikan katak dibelah pinang. I got no choice, Man! And I had to survive anyway! Hahahahaaa... jadilah saya membaca roman yang baru dibeli, Eat, Pray, Love-nya Elizabeth Gilbert itu. Dua setengah jam! Dan percayalah, saya ngga menyesal terpaksa menukar kewajiban saya mengerjakan tugas dengan membaca roman ini. Ini buku asik! Ngga terasa... akhirnya ngantuk.
Tapi!!!
Sampailah kereta di Rotterdam. Di sini saya harus pindah kereta, ambil yang jurusan Amsterdam dan turun di Leiden. Masih ada waktu untuk cari kopi. Beli kopi item di cangkir kertas (apa sih namanya?), dikasih tutupnya, terus ditaro di kursi karena masih panas, di ruang tunggu, sambil nerusin baca. Ini buku seru banget! ... Nah, kereta datang. Buku dimasukkan tas, tas di pundak, berat, kopi di tangan kanan, masuk kereta. Saya berhadap-hadapan dengan seorang bapak-bapak. Kami ngga ngobrol. Buku kembali di buka, dipangku, dibaca, kopi masih di tangan kanan, tas duduk sendiri di dekat jendela.
Cuaca dingin di luar, kereta yang hangat, tempat duduk yang nyaman, buku bagus dan kopi item adalah kombinasi yang... pas, pada waktu itu. Pas! Ya... itu tadi... pas! Saya ngga peduli siapa yang duduk di hadapan saya. Saya ngga peduli ada tugas apa saja yang harus diselesaikan. Saya ngga peduli lagi seberapa bete saya sampai siang itu. Malam itu semuanya berada tepat pada tempatnya masing-masing. Pas. Dan saya menikmatinya.
Kereta sampai di Leiden. Buku dimasukkan, kopi sudah hampir habis. Turun dari kereta. Keluar stasiun, bersepeda ke kos. Tugas yang belum selesai akan segera diselesaikan di kos. Karena sudah dikasih perjalanan yang pas, saya ngga bisa protes lagi dan cari-cari alasan untuk ngga mengerjakan tugas. Kali ini, utang harus bisa dibayar. Dibayar pakai begadang, itu ngga apa-apa. Jadi, saya sedang bahagia. Karena semuanya pas. Dan sambil bersepeda, saya nyanyi. Satu lagu diulang-ulang terus. Judulnya "Ilir-Ilir".
Karena perjalanan di kereta kali ini sangat pas, setelah banyak sekali rencana yang ngga pas, saya merasa sebenarnya semuanya baik-baik saja. Saya baik-baik saja.
-RhoMayda-
Tugas satu langsung bisa diselesaikan, walaupun deadline dilanggar. Tugas dua juga bisa digarap. Saya bahagia :)
04:30 Posted in Ngopi | Permalink | Comments (4) | Email this




