20.09.2008

Karimun 6. The End of A Beginning

Ternyata petualangan belum juga berakhir. Pagi hari Senin tanggal 20 Agustus 2008, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Pulau Panjang, sebelum siangnya betul-betul balik ke Jogja. Pulau Panjang itu... bentuknya panjang (halah). Jaraknya 15 menit naik perahu dari Kartini. Cukup dekat.

Perjalanan ke Pulau Panjang (photo by Yodim)

Begitu sampai sana... terus terang kami kecewa. Oh tidaaak.... Sepi sekali, gersang, kering, sampah di mana-mana, papan-papan terpasang di pohon-pohon "jagalah kebersihan", pantainya juga ngga bersih lagi... hiks.... Kembalikan lautkuuu!!! Mana Karimun Jawakuuu!!! (T_T) Tapi ternyata itu ngga membuat nafsu berenang Jake, Mas Yodim dan Mas Taufiq pudar. Mba Olip dan saya nunggu aja dah sambil jepret sana-sini.

 Mbak Olip (photo by RhoMayda)

Kambing yang coklat harganya berapa Pak? ^_^ (photo by RhoMayda)

Mas Yodim dan Mas Taufiq tetep berenang (photo by RhoMayda)

 Mbak Olip lagi (photo by RhoMayda)

Setelah puas mereka berenang, berfoto-foto, salto-salto, jumpalitan, terjun-terjun ke air, kami pulang. Perahu yang tadi mengantar kami sudah datang lagi. Dan kali ini... petualangan kami sudah akan benar-benar berakhir :)

Sampai rumah Mas Taufiq, kulit kami makin gosong. Siap-siap berangkat ke Jogja. Hmm... selesailah liburan kami :) Bis ke Semarang siang itu masih bisa ditolerir (mungkin yang bener 'ditoleransi' kata Mas Yodim), kami masih bisa duduk. Lama-lama makin penuh... puanas... pengap... dan kami capek, jadi cuma bisa tidur. Lalu sampailah kami di Semarang. Di sini kami berpisah dengan Mbak Olip. Mbak Olip ke Solo. Jake, Mas Yodim, Mas Taufiq dan saya ke Jogja. Perjalanan ke Jogja ini penuh suka-duka. Jake dan Mas Yodim dengan tentramnya tidur dan cerita-cerita sedikit. Mas Taufiq dan saya juga sempat ngobrol banyak... tapi dia sakit heheheee....

Pulang... bis Patas Semarang-Jogja (photo by Taufiq)

Sampai Jogja sekitar jam 20.00. Kami berempat makan di warung Padang di dekat terminal Jombor. Lalu Beth jemput. Lalu kami pulang dengan cerita-cerita asik di kepala heheheee....

Well... begitulah cerita perjalanan kami ke Karimun Jawa. Karimun Jawa adalah tempat berlibur seberlibur-berliburnya. Berenang-renang, mainan air, menjaring ikan, menikmati laut yang beniiing banget, bersih.... Naik perahu, mendayung, kelapa muda tiap hari, makan ikan tiap hari... wah! Semuanya serba menyenangkan....

Yang paling mengesankan buat saya adalah kebersamaan kami, tujuh orang itu. Dari tujuh itu, siapa sih yang biasa bareng sama saya kalau saya melakukan perjalanan? Ngga ada :) Saya biasa pergi sendiri. Kadang-kadang, karena terbiasa pergi sendiri, saya jadi terlalu menikmati kesendirian dan terlanjur ngga menjadikan pergi bareng-bareng sebagai sebuah pilihan. Dari perjalanan ke Karimun Jawa ini, ternyata pergi bareng-bareng bisa sangat menyenangkan. Bahkan, walaupun mereka belum kita kenal baik sebelumnya. Karena sebetulnya, yang kita butuhkan adalah orang-orang yang "pas" dengan kita :) Gosipnya sih, bisa diketahui begitu saja begitu kita tahu apakah orang ini cocok atau nggak. Katanya, itu dilihat dari hati :) Mulai sekarang, saya akan mempertimbangkan melibatkan orang lain dalam perjalanan-perjalanan yang saya lakukan nanti :)

Dari perjalanan ke Karimun Jawa itu, saya jadi mikir, kayaknya teman memang ngga bisa dipilih. Teman itu didapat :)

-RhoMayda-

 

Terima kasih banyak... ini tulus :)

 

Karimun 5. Last But Not Least

Liburan di Karimun Jawa hampir berakhir. Hari ini, Selasa 19 Agustus 2008, kami akan meninggalkan Karimun Jawa. Pagi-pagi sekali saya ikut Mas Taufiq menengok sebentar ada apa aja di pulau ini, selama ini kan cuma main-main di laut saja.

Pagi ini naik motor kami ke arah bandara. Ya, ada bandara di Karimun Jawa :p Namanya Bandara Dewadaru. Kecil sih, waktu itu cuma ada satu pesawat kecil (halah ngga tau deh namanya), yang ternyata milik Kura-Kura Resort, paling itu salah satu jasa yang ditawarkan mereka :) Sebenarnya, sebelum ke bandara, kami menemukan dermaga kecil di kiri jalan. Jalan pendek menuju dermaga itu agak tersembunyi, di kanan-kirinya terdapat semak-semak tinggi, berakhir di semacam danau, atau sungai, dengan air yang tenang... pohon-pohon di pinggirnya... bersih... baguuuus banget!!! Itu kayak di video klip!!! Seperti di dalam lukisan! Baguuus banget! Hwaaaaaaaaaaa... kami langsung gila. Jepret sana jepret sini. Pose ini pose itu. Loncat-loncat! Hwah!!! Bagus banget!!! :D

Dermaga dekat bandara (photo by Taufiq)

Mas Taufiq dengan pose Pahlawan Bertopeng (photo by RhoMayda)

Lanjut... heheheheee.... Setelah puas menikmati pemandangan tiada tara dan bandara kecil mungil itu, kami ke arah pulang dengan perasaan bersalah karena cuma pergi berdua dan meninggalkan yang lainnya di rumah ngga ikut menikmati yang kami nikmati heheheee... >D (jahatnya kami) Tapi saya selalu ada pembelaan: ini adalah rejeki orang bangun pagi. Yeah! Kami pulang, anak-anak mulai berangkat sekolah. Seragam putih-merah, putih-biru dan abu-abu mulai terlihat di sana-sini naik sepeda. Wah... seru :)

Berangkat sekolah (photo by RhoMayda)

Sampai rumah ternyata yang lainnya ngga ada. Ternyata mereka jalan-jalan sendiri, dan menemukan tempat yang juga asik. Ada ayunan besar di pinggir pantai :)

Ayunan besar....

Setelah berkumpul, kami sarapan di belakang rumah, di pinggir laut. Mas Taufiq dan Mas Yodim masih menyempatkan diri berenang di laut belakang rumah, agak ke tengah dan katanya menemukan koral-koral yang super indah di sana. Nice closing celebration! :) And oh!!! Hampir saja lupa. Mas Mamat hari ini ulang tahun! SELAMAT ULANG TAHUN MAS MAMAT!!!

Pose ulang tahun (photo by RhoMayda)

Sarapan sebelum pulang.

Pamitan.

Siangnya kami pulang. Kali ini ngga pakai Muria yang enam jam, tapi pakai kapal cepat bertuliskan "Karimunjawa Ocean Park". Kapal ini cuma kapal penumpang, harga memang lebih mahal (lupa berapa), tapi cuma 2,5 jam di kapal. Yess!!! Setelah pamitan dengan Bapak Sholikul dan ibu, kami masuk kapal. Dan wow!!! Ber-AC! Ada tv-nya! Bersih! Yuhuuu...!!! Perfect choice! Alunan love songs jaman dulu mulai terdengar dari video karaoke yang ditayangkan. Lama-lama ada dangdut, dan campursari! Yeah! Saya masih inget syair sebuah lagu begini:

Ayo ngguyu... tang ting tung ting tang ting tung...
Hahahahaaa.... apa coba....

Di kapal cepat, sebelum mual-mual (photo by Taufiq)

Perahu makin menjauh... guncangan ombak makin terasa.... Dan... suara-suara aneh mulai terdengar. Suara aneh semacam ini maksud saya: hoekkkk!!! Huwwwwwekkkk!!! Oekkkkkk!!! Dan... sorrr... muntahlah dia. Entah siapa, agak di belakang. Belum selesai berhoek-hoek, ada lagi satu yang menandingi di ujung sana. Hoekkk!!! Hyaaa... apa iniii.... Awalnya kami menertawakan mereka dan menamai mereka kelompok paduan suara. Hahahahaaa.... Tapi... lama-lama... suara-suara itu makin mengganggu! Banyak ternyata yang mabok! Dan... ternyata... saya jadi mual-mual juga. Gile... pucet dah.... Buru-buru siapkan tas plastik untuk jaga-jaga. Dipaksa tidur... tapi ngga bisa. Dan akhirnya saya paksakan untuk muntah, asal lega. Menunduk, menutup mulut dengan kantung plastik, dan pelan-pelan mulai muntah. Uuuh... sakit juga dadanya, muntahnya cuma sedikit. Tapi sudah cukup melegakan. Hhh....

Dan kami tiba kembali di Jepara!!! Yihaaa!!! Dengan kulit gosong yang membanggakan (heheheee...) kami berjalan mencari angkot menuju rumah Mas Taufiq. Malam ini menginap di sana. Baru besoknya ke Jogja. Wah... kepala kami dipenuhi cerita-cerita seru Karimun Jawa. Bahkan kami sudah merindukan snack yang biasa kami makan di sana. Kami merindukan Yulianti dan Yulianto. Oh... omong-omong tentang Yulianti, pas menunggu angkot coklat di pinggir jalan, kami melihat sebuah becak mengangkut ikan banyaaak banget. Mata saya terbelalak, "Yulianti!" Yulianti diangkut.... Diangkut naik becak, mirip PSK (dengan K yang berarti Komersial, bukan Keliling) :D

Fokus!
Oke, akhirnya kami memutuskan naik bis ke terminal, baru nyarter (kata dasar: carter) angkot coklat dari sana ke rumah. Sampai rumah Mas Taufiq sudah agak sore. Setelah mandi-mandi, wangi dan berdandan rapi, kami diajak jalan-jalan di kampung bareng sama Pak Udin, ayah Mas Taufiq :) Ini gara-gara ide iseng kami yang pengin ngelihat sawah, yang ternyata merupakan makhluk langka di sini. Sawah sudah jadi kebun jati, atau ladang singkong. Kenapa eh kenapa? Karena tanahnya ngga cukup basah untuk tanaman padi. Sungai terlalu rendah, ngga ada cukup air, tanah kering. Begitulah ceritanya. Waktu jalan-jalan ini kami menemukan toilet! Yah, toilet umum yang letaknya kira-kira 4 meter di atas sungai. Ruangnya sempit, dinding dan lantai terbuat dari kayu dan bambu, di lantainya ada lubang selebar pantat (haha!) dan di bawah lubang itu ngga ada apa-apanya kecuali sungai yang jaraknya 4 meter dari WC. Well... ngga ada airnya untuk cebok, apalagi toilet-paper (don't even think about it), bahkan ngga ada dedaunan (ih, jangan terlalu primitif dong) :D Lucu deh. Saya jadi inget masa kecil saya di desa. Ada juga toilet beginian. Seru kan!

Sudah gelap, dan Maghrib menghampiri (halah). Petualangan belum berakhir. Kami pulang ke rumah, dan pergi lagi jalan-jalan ke kota Jepara, jalan kaki :) Asik sekali.... Melewati taman segitiga yang ada kerangnya, melewati penjual martabak, mie ayam (halah), menuju ke shopping center, ke warung-warung belakangnya itu. Di jalan yang ke kiri, ke arah klenteng, ada tenda-tenda makan juga. Kami makan di salah satu tenda. Nasi goreng dan cap cay :) lezzzat!!! Pulangnya lewat alun-alun, lalu beli martabak :)
Satu lagi yang seru di sini adalah si Mamat yang curhat secara blak-blakan tentang cewek. Hahahahaaa.... Lucu sekali cerita-cerita cinta remaja :D

Jalan-jalan di kota Jepara (photo by Taufiq)

Mural Kartini di dekat Shopping Centre.

Bangunan tua di dekat alun-alun (photo by RhoMayda)

Klenteng Jepara (photo by Mamat)

Beli martabak (photo by Mamat)

Di rumah masih main dobosan lagi, permainan kartu di mana bohong hukumnya halal :)

-RhoMayda-

 

Karimun 4. Children on Board!

Hari ini hari Senin, 18 Agustus 2008. Saya ngga mau bangun telat. Saya harus melakukan sesuatu pagi ini! Ternyata saya boleh ikut Mas Topik dan Pak Sholikul mengangkat jaring yang ditebar kemarin sore sama Mas Mamat (huh, cuma Mas Mamat yang boleh ikut kemarin, kami ngiri). Pagi-pagi ketika cahaya di langit timur masih sangat tipis, dan laut masih agak gelap, saya dan Mas Taufiq ikut Pak Sholikul dan temannya mengangkat jaring di laut belakang rumah. Hwaaa... it was awesome! Jepret sana-sini tentu saja :)

Kami memulai dari ujung jaring yang jauh, kemudian pelan-pelan diangkat sampai perahu mendekati daratan. Ikan pertama yang tertangkap membuat saya terkagum-kagum. Tapi ikan-ikan berikutnya malah jauh lebih besar. Walah-walah.... Bayangkan saja (saya teringat kata-kata Pak Sholikul), ngga usah membuat kolam, mengatur suhu, mencari bibit ikan, memelihara, memberi makan dengan baik, tanpa repot-repot begitu, di belakang rumah ini Tuhan menyediakan ikan-ikan secara gratis! Tinggal ngambil!

Menjaring ikan (photo by RhoMayda)

Sebetulnya semua sudah ada, manusia tinggal ngambil. Kenikmatan ada di mana-mana, manusia tinggal ngambil. Ya kalau males, ngga dapet apa-apa dah.... Ah... saya harus belajar bersyukur.

Oke fokus! :)
Ikan-ikan yang ditangkap lumayan banyak. Waaa... ini akan menjadi menu makan kami! Beberapa ikan digerogoti 'lintah laut' yang kata Mas Taufiq namanya sucker heheheee....
Bentuknya sebesar kelingking, warnanya putih dengan kaki-kaki di samping kanan-kiri tubuhnya. Dia menempel secara mengerikan pada tubuh ikan, lalu menembus daging (jadi tubuh ikannya tuh berlubang gitu). Ngeri ya.... Tapi saya tetap terpesona dengan ikan-ikannya. Pak Sholikul menyebutkan nama ikan tiap kali ada ikan yang tertangkap. Saya ngga apal semuanya, tapi saya ingat ada ikan yang bernama Sri. Ikan yang agak pipih dengan sisik mengkilap namanya Yulianti (ini sih asal-asalan saja, daripada ngga ada namanya). Ikan yang agak pipih dengan sisik mengkilap dan ukuran lebih besar daripada Yulianti bernama Yulianto ^_^

Jaring sudah diangkat, kami pulang dengan ikan-ikan calon menu makan. Bahagia. Setelah sarapan, kami jalan-jalan sebentar di sekitar rumah. Rencananya adalah mencari sinyal IM3 :D tapi ngga dapet. Handphone saya ngga bisa dihubungi selama beberapa hari. Ngga apa-apa.

Ketika Anda di Karimun Jawa, maka yang akan Anda lakukan hanyalah: berada di laut. Laut laut laut, lagi-lagi laut. Jadi waktu siang itu Pak Sholikul bilang "Mas Taufiq dan Mas Yodim ikut saya nanam rumput laut, yang lainnya jalan-jalan saja keliling Karimun Jawa naik motor," kami yang bukan Mas Taufiq dan Mas Yodim merasa perlu protes. Hahahahaaa.... Kami mau ikut! Dan bukan cuma kami berempat saja (Mas Mamat, Mas Jake, Mbak Olip dan saya), tapi anak-anak desa Alang-Alang yang selama ini menjadi teman kami juga mau ikut ke laut heheheee.... Akhirnya kami beramai-ramai berjalan menyusuri kampung menuju sisi laut tempat menanam rumput laut. Pak Sholikul dan Mas Taufiq naik perahu. Kami datang di lokasi bersamaan. Satu-satu kami naik ke perahu.

Perahu dijalankan agak ke tengah, dan jangkar ditanam. Mas Taufiq dan Mas Yodim mulai membantu menanam rumput laut. Jake berenang. Mas Mamat juga berenang, beberapa anak ikut berenang-renang di laut. Kebanyakan ngga diperbolehkan berenang karena terlalu dalam. Untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari kebosanan di tengah laut, saya usulkan untuk menggambar. Harus ada yang dilakukan jika kita "terperangkap" di perahu di tengah laut. Satu-satu mulai menggambar di buku catatan yang saya bawa. Ada gambar bunga, kapal, orang... macam-macam.

Menggambar di atas perahu (photo by RhoMayda)

Nah, ini yang menarik. Jadi kira-kira ada delapan anak kecil di perahu, berusia 7-12 tahun. Perkenalkan... anak-anak laut dari desa Alang-Alang Karimun Jawa. Anak-anak laut! Ealah... ternyata pada mabok. Mabuk laut maksudnya heheheee.... Ana tuh yang parah. Udah kelihatan stres mau muntah. Akhirnya muntah juga. Memang cuma dia sih yang muntah, tapi beberapa yang lainnya juga mengaku pusing. Yang lucu adalah si Anis. Dia pelan-pelan mendatangi saya yang duduk di kursi kemudi, di belakang. Dia bilang malu-malu mau pipis. Saya panik! Nah lo, iya sih banyak air di sana-sini. Tapi gimana caranya pipis??? Tapi si Anis buru-buru bilang kalau dia sudah pipis. Dan saya melihat celananya basah, lantai pelan-pelan juga basah. Oh! My! God! ^_^' Oke, think think think! Teman-temannya sudah mulai mengejek. Saya buru-buru bilang kalau itu ngga apa-apa. Dengan botol bekas air mineral yang ada di perahu, saya siram air kencingnya dengan air laut. Fiuh... problem solved! ^_^

Children on board!

Sorenya, kami beramai-ramai pulang. Semua terlihat capek. Wajah-wajah tampak saaangat lesu. Capek berenang, capek berjemur, capek duduk-duduk di perahu yang bergoyang-goyang di laut.... Puyeng juga sih... :) Wajah Ana (yang muntah tadi) masih kelihatan pucet, dia berjalan pulang ditemani Bahri. Eh tahu nggak, apa yang saya pikirkan ketika melihat Ana dan Bahri? Kalau mereka udah gede... I think they should get married!!! Hahahaaa.... Bodoh ya?! Ngga kan! Ana kelas 3 SD, Bahri kelas 4. Mereka sama-sama pinter. Dan, ngga seperti kebanyakan anak kecil di situ, mereka tuh terlihat kompak berdua. Kayaknya si Bahri tuh sayaaang banget sama Ana, dia sering mainan gelang Ana. Terus kalau Ana dinakalin sama yang lainnya, Bahri pasti bela-bela Ana. Hwaaa... seru kaaan. Hahahahaaa... apa coba. Tadinya saya kira mereka berdua kakak-adik. Ternyata sepupuan jauh. Tuh kan! Mereka harus dijodohkan!!! Hahahahaaa....

Ana dan Bahri.

Rhomayda!!! Fokus!!!
Oke, maaf.... Ana, Bahri, ini urusan entar, jangan pusing sekarang :p (Hoi!!! Fokus!!!) Iya iya, ini terakhir. Maaf maaf....

Nah... sore-sore gitu kami duduk-duduk di belakang rumah. Lagi-lagi ada kelapa muda. Yeah! Di situ, ada meja panjang dari papan-papan kayu bikinan sendiri. Laut cuma berjarak tiga meter. Hmm... beberapa kelapa muda sudah dipetik. Mulai dibuka. Wah! Kapan lagi ya bisa duduk-duduk di pinggir laut, menikmati kelapa muda segar yang baru dipetik :)

Di belakang rumah, di pinggir laut....



Mas Taufiq, Ana, Bahri dan Maulana (photo by RhoMayda)



Malam harinya saya dapat sebuah nasehat dengan legitimasi ayat-ayat suci. Heheheee... langsung terpojokkan. Ah, biar saya urus sendiri. Mari lanjutkan cerita kita! :) Well, malam itu malam terakhir kami di Karimun Jawa. Hmm... kami ngga mau tidur terlalu awal. Biasanya karena capek bermain seharian, jam 20.00 kami sudah ngantuk. Jam 22.00 listrik sudah dimatikan, diganti lampu minyak. Kali ini, kami ngga mau tidur awal. Jadi kami main kartu (kontrasnya cukup mencolok dengan ayat-ayat suci tadi hehehe...). Permainan kartu malam ini namanya... DOBOSAN! Hahahahaaa... saya banyak kalah :p

Sampai besok!

-RhoMayda-

 

Karimun 3. Indonesian Paradise

Hari ini hari Minggu, 17 Agustus. Yang ada di kepala saya pagi itu adalah: wow... saya di Karimun Jawa! Bukan: wow... Indonesia ulang tahun. Heheheheee... suasananya ngga semeriah di Jawa sih soalnya, jadi lupa kan. Pagi ini saya bangun kesiangan, jam 05.22 (gila kan? Biasanya jam segitu baru tidur). Yang lain sudah pada berburu sunrise, saya masih harus sholat shubuh. Dan begitu mulai baca-baca di depan rumah, mereka pulang (memalukan).

Setelah sarapan kami memutuskan untuk menyeberang ke Kura-Kura Resort. Rp 100.000 untuk berlabuh di sana, dan Rp 20.000 per orang untuk biaya masuknya. Oke. Ini kali pertama kami naik perahu. Pak Sholikul ditemani seorang bapak. Waaah kami betul-betul terpesona dengan lautnya! Begitu biru, bening... dari atas perahu, batu karang di dasar laut bisa terlihat. Sssahhh! Keren bukan?! Anginnya, ombaknya, airnya, perahunya... semuanya asik! Dan kami tiba-tiba teringat bahwa Indonesia ulang tahun!!! SELAMAT ULANG TAHUN INDONESIA!!! Mulailah lagu Indonesia Raya dikumandangkan keras-keras beramai-ramai (ngga peduli seberapa bobrok suara saya) :D

Tiba di Kura-Kura Resort saya merasa orang-orang memperhatikan kami dengan tatapan "Ngapain anak-anak kayak gitu ke sini?". Yacht-yacht (apa sih ini bahasa Indonesianya?) yang parkir (hah?) di situ kelihatan berkelas. Pasti juga dimiliki orang-orang berkelas. Ah bodo amat. Saya terlalu bahagia untuk mempedulikan pikiran orang. Mari fokus....

Ada dermaga bagus dengan beberapa meja dan kursi diletakkan di situ. Orang-orang kelihatan ramai berkumpul, rupanya para karyawan sedang merayakan 17-an. Kami disambut oleh seorang bapak yang akan menjadi tour guide kami di situ. Bersama beliau kami diajak berkeliling resort itu. Pohon-pohon kelapa menjulang di sana-sini di antara kamar-kamar yang dibangun terpisah satu sama lain. Pasir putih, taman yang bagus dan rapi. Ada vila, ada apartemen... wah... asik! Apartemen tuh ada tempat tidur, ruang keluarga, dapur, kamar mandi, kolam renang, semuanya berada di dalam dinding tertutup. Sangat private, baguuus banget! Katanya sih banyak orang asing datang ke situ, terutama untuk bulan madu. Terus terang saja, saya juga langsung tertarik pengin ke situ. Tapi untuk bulan madu??? Ngga ah :D Takutnya besok-besok udah ngga se-excited ini karena udah pernah lihat sebelumnya. Lagian, saya masih merasa terlalu bodoh untuk memahami bulan madu tuh apa hahahahaaa.... Tapi sepertinya harus betul-betul exciting.

Nah, mendekati penghujung kunjungan ke Kura-Kura Resort, kami ke dermaga berniat berenang (niat aja, karena ternyata ngga ada yang renang di situ). Di situ bisa lihat ikan kecil banyaaak banget (langsung ngebayangin makan siang), tapi ngga boleh mancing (huh) hahahahaaa.... Puas foto-foto, kami meninggalkan Kura-Kura Resort dengan kekaguman tersendiri akan dibelinya tanah di seluruh pulau itu lalu dibangun resort di atasnya, dan sukses! Gila... hebat.... Ini websitenya http://www.kurakuraresort.com/ :)

Kura-Kura Resort (photo by Taufiq)

Sebuah villa di Kura-Kura Resort (photo by our tour guide)

Dermaga Kura-Kura Resort (photo by Jake)

Kami kembali ke perahu kami yang menyenangkan, dan kembali berlayar. Tapi ngga langsung ke rumah. Kami mampir ke bagian lain pulau Karimun Jawa yang asik untuk berenang. Yeah! Nyebur dah satu-satu. Airnya betul-betul bersih... batu karangnya... waaa... pokoknya asiiik!!! Semua basah, dan langsung item :D

Jake di Karimun Jawa

Berenang-renang (photo by Mamat)

Setelah puas, kami naik lagi ke perahu dan pulang. Siang ini Mas Bayu mau balik ke Jogja (saya udah males bayangin 6 jam naik kapal dan 6 jam naik bis). Tapi Mas Bayu harus balik karena ada ujian pendadaran (yang dilalui dengan sukses. Selamat yaaa). Sampai rumah langsung mandi, lalu makan siang.

Setelah Mas Bayu pergi, sore-sore kami diajak lagi ke laut. Pak Sholikul mau menanam rumput laut. Ber-6 ikut Pak Sholikul, berikut jambu-jambu monyet hasil petikan Pak Sholikul di kebunnya. Kita rujakan di lauuut..... Perahu sudah menjauh dari pantai. Jangkar dilempar, Pak Sholikul mengambil perahu kecil yang punya kaki sebelah (ngga tahu namanya). Dengan itu beliau mengikat-ikat rumput laut pada seutas tali rafia yang puaaanjang. Yang lain mulai terjun bebas ke laut. Saya baca-baca saja di perahu (di tengah laut! Nikmat betul!). Mas Taufiq ditawari naik perahu kecil itu, dia mau. Tapi harus ngambil sendiri di pantai. Yaaah terlanjur mau, berenanglah dia ke tepian (halah), dan itu jauuuh banget. Hahahahaaa... saya sih heran doang, tapi dia berhasil balik ke tengah laut dengan mendayung perahu barunya :) Mas Yodim dan Mbak Olip juga mbantuin nanam rumput laut. Perahu dengan kaki sebelah ini cukup merepotkan juga. Jadi supaya perahu ngga terbalik, beban harus ditumpukan ke sisi kaki. Perahu Mbak Olip terbalik dua kali karena ngga seimbang. Heheheee... basah dah....

Ini jambu, monyet! Hahahaaa....

Menanam rumput laut.

Rumput laut untuk ditanam.

Kecelakaan kecil :) (photo by RhoMayda)



Sebelum gelap kami kembali ke rumah. Setiap orang mengomentari warna kulit yang lainnya. Hahahahaaa... ngga penting banget ya. Kami seperti biasanya sholat di masjid. Maghrib itu kami ikut Pak Sholikul ngajar ngaji. Anak-anak kecil berkumpul untuk ngaji setelah sholat. Wah... ini pengalaman ngga terlupakan. Betul dah. Ada Ana, Anis, Bahri, Maulana (ini kecil tapi nakal banget), Mia, Leo.... Selesai ngaji, pulang, makan malam... tidur jam 21-an....

Hhh... this is just like a dream....

-RhoMayda-

 

Karimun 2. Kapal 6 Jam

Kemarin, Jumat tanggal 15 Agustus siang kami berangkat dari Jogja. Malamnya menginap di rumah Mas Taufiq di Jepara. Biasanya serumah cuma dihuni dua orang (bapak dan ibu), atau tiga (dengan Mas Mamat), kini diisi sembilan orang :D

Sabtu, 16 Agustus

Hari ini Niken ulang tahuuuuuuuun! :) SELAMAT ULANG TAHUN, NIKEN!
Pagi sekali Mas Taufiq mau nyari tiket kapal untuk ke Karimun Jawa. Saya ikut (yes!). Ngga lupa bawa kamera. Sekitar jam 6 (kan?) kami ke pelabuhan naik motor. Masih pagi, masih sepi. Jalanannya bersih. Mengingatkan saya pada kota-kota di Jawa Timur, seperti Blitar dan Mojokerto. Rapi, sepi, bersih. Sampai pelabuhan, Mas Taufiq kebingungan cari info tiket, saya kegirangan bikin foto perahu-perahu kecil di situ. Yes!

Fajar di pelabuhan Jepara (photo by RhoMayda)

Silhouette of Mas Taufiq (photo by RhoMayda)

Sepulang dari pelabuhan kami sarapan nasi merah goreng. Nasi merah yang digoreng. Bukan nasi goreng merah (halah, penting ya?). Sebenarnya saya ngga tahu bedanya dengan nasi putih biasa. Tapi saya suka warnanya :p dan orang bilang nasi merah lebih bergizi (ini juga saya ngga paham). Setelah sarapan, mandi, siap-siap, satu per satu diantar naik motor ke Perempatan Maut (adalah simpang jalan di Segitiga/Taman Kerang yang lebar, ramai, dan ngga pakai bangjo -traffic light-). Mas Yodim konon katanya sudah di pelabuhan. Mas Taufiq juga. Nah, sisanya (Mas Mamat, Mbak Olip, Mas Jake, Mas Bayu dan saya) naik bis kota dari situ ke pelabuhan. Yeah! Bergelantungan dah! Mas Jake mendadak ikut bergelantungan.

10 menit sampailah kami di pertigaan sebelum terminal. Kalau ke kanan tuh terminal, kami harus turun karena pelabuhan itu lurus. Sebetulnya jalan cukup jauh, tapi terlalu bahagia untuk merasa capek (halah), dan saya dapat satu foto menarik pas jalan ini.

On the way to the harbour (photo by RhoMayda)

Sampai pelabuhan jam 8 lewat. Kapal Muria berangkat jam 9. Lagi-lagi saya kegirangan bikin foto, sampai secara ilegal menerobos pintu masuk lorong dermaga kapal cepat yang waktu itu digembok (huh). Saya juga sempat ngopi di warung pelabuhan (info: harga kopi tubruk item di situ Rp 1000,-). Yes! Ini adalah awal hari bahagia. Hanya saja, semangat kebahagiaan yang berkobar ketika diberitahu bahwa perjalanan dengan kapal menuju Karimun Jawa adalah 3 jam tiba-tiba runtuh karena gosip terbaru mengatakan bahwa perjalanan akan menempuh waktu 6 jam! Lemes dah....

Ngopi dulu... (photo by Taufiq)

Wajah-wajah ceria sebelum 6 jam naik kapal... (photo by Taufiq)


Mendekati jam 9 kami masuk kapal. Horeee!!! (tetep hepi menyongsong Karimun Jawa) Setelah memilih tempat duduk di pinggir kanan, beberapa dari kami naik ke ... (apa namanya bagian atas kapal tuh?). Masih bahagia. Bayangkan, kapal belum berangkat kami sudah sehepi itu! Tapi... kok malah ngga berangkat-berangkat nih... Jam 9.15... 9.30... asem... kebahagiaan sudah disedot oleh kapal yang telat berangkat.... Ngga lama setelah itu kapal bergerak. Tapi kami udah capek ketawa-ketawa :( (bodoh) Suasana kapal makin suram karena orang-orang sudah mulai mendekor lantai dengan tikar dan karpet untuk dijadikan tempat tidur yang nyaman. Beberapa orang sudah betul-betul terlelap. Kami masih melek walau ngga se-excited tadi waktu baru naik kapal. Heran juga kenapa orang-orang sudah pada siap-siap tidur....

Berangkat ke Karimun, naik Muria selama 6 jam! (photo by RhoMayda)

Mamat, yeah!!! (photo by RhoMayda)

Keheranan terjawab pada setengah jam pertama kapal perjalanan dalam kapal. Kami sudah bosan, tempat duduk keras, susah tidur, mulai mual, pusing.... Mas Bayu akhirnya beli koran untuk jadi alas tidur di lantai. Wajah-wajah kami sudah meleleh, jadi panjang gitu saking bosennya di kapal. Dan kami baru setengah jam dalam perjalanan. Masih ada 5,5 jam lagi!!! Hah! Maka lama-lama masing-masing bertransformasi jadi jelek :p

Collapse di kapal. Mabuk laut... (photo by Taufiq)

Menahan mual (photo by Taufiq)

6 jam di kapal diisi dengan kegiatan-kegiatan seperti berikut: mencoba sebisa mungkin tidur dengan posisi apapun, berusaha keluar dari toilet dalam keadaan hidup (dilema antara mau nafas atau nggak), main kartu, main ke atas, kelaparan, nonton TV yang suaranya kalah sama ombak, kedinginan karena angin, kepanasan karena siang, pengap asap rokok, walah... macem-macem. Kalau dijelaskan satu per satu, maka ini bisa dijadikan bahan disertasi: pengaruh 6 jam di kapal terhadap kecerdasan bangsa (berlebihan).

Pada akhir jam keenam kami mulai melihat sebuah pulau. Dan layaknya orang yang berbulan-bulan berlayar (jadi ingat Columbus), kami bahagia luar biasa melihat Karimun Jawa sudah nangkring di situ. Daratan!!! Wajah-wajah jelek perlahan-lahan mulai bersinar (ngga profesional banget ya?), kami malah foto-foto segala hahahhahaaa....

Setelah menghabiskan siang di kapal, sore kami tiba di Karimun Jawa. Huwah!!! Bahagia!!! :D
Pak Sholikul sudah menjemput naik motor. Boncengan tiga-tiga kami menuju rumah beliau di desa Alang-Alang. Di sepanjang jalan antara pelabuhan dan Alang-Alang, saya terpesona dengan buanyaknya perkebunan jambu monyet. Langsung membayangkan rujakan.

Tibalah kami di rumah Pak Sholikul. Rumahnya cukup luas. Saya tidur sekamar dengan Mbak Olip. Yang cowok-wocok di kamar sebelah timur. Depan rumah ada masjid. Belakang ada laut! Yes! Setelah berbenah sedikit, kami jalan-jalan di sekitar rumah berburu sunset :) Lapangan depan SD dipakai untuk main sepak bola... cukup meriah. Jalan aspal ukuran Sojomerto (hehehehe...) ngga lebar-lebar amat.

Rumah Pak Sholikul (photo by Taufiq)

Welcome to Karimun Jawa... (photo by RhoMayda)

Silhouette of Bayu (photo by Taufiq)
 

Listrik bisa dinikmati dari maghrib sampai jam 22.00. Dan jam 21.00 kami sudah "tewas". Laut sudah terseberangi hari ini. Kami sudah sampai di Karimun Jawa, dan liburan menyenangkan harus segera dimulai. Yeah!

  -RhoMayda-

 

Karimun 1. Jogja-Jepara

Perjalanan dimulai pada hari Jumat, 15 Agustus 2008. Jam 13.00 janjian di kampus FIB-UGM. Saya telat :p
Mas Yodim, Mas Jake dan Mbak Olip sedang makan siang di Bonbin (adalah nama kantin depan FIB-UGM yang murah meriah). Setelah Mas Bayu datang, kami naik bis kota menuju terminal Jombor. Rutenya: Jogja-Semarang-Jepara. Mas Mamat sudah di Jepara. Mas Taufiq masih ada urusan di Jogja, jadi akan nyusul ke Jepara naik motor. Dengan tas besar, terik matahari dan keringetan, kami berlima berangkat dari Jogja. Karimun Jawa here we come....

Berangkat dari UGM (photo by RhoMayda)

Panasnya bis kota UGM-Jombor langsung dibalas dengan sejuknya bis patas full-AC arah Semarang. Yes! Rp 35.000 (iya kan?) nyampe Semarang dalam waktu kurang lebih 4 jam. Sampai Semarang sudah gelap, sekitar jam 19.00.
Dua kabar cukup buruk menghampiri:
- Konon, bis terakhir ke Jepara berangkat jam 19.00.
- Saya kelaparan. Setelah diingat-ingat, ternyata saya ngga sempat sarapan dan makan siang. Singkat kata, saya memang seharian belum makan. Gila.

Ngga bisa makan. Karena bis dingin dan gede itu ngga mau masuk terminal (tempat ngetem bis ekonomi ke Jepara) dan karena takut ketinggalan bis ke Jepara, kami harus cepat-cepat ke terminal. Jauh, man! 4 kilometer! (Ini berlebihan karena bawaan berat dan perut kosong dan ngantuk dan capek jadi satu) Heheheheee.... Ternyata di depan terminal samar-samar (ingat, udah gelap) terdengar (halah, gelap terang ngga ngaruh ya?) teriakan "Jepara Jepara! Jepara terakhir!" Fiuh... (lega) perjuangan kesusu-susu (terburu-buru) berakhir sudah.

Namun perjuangan suk-sukan (berdesak-desakan) baru akan dimulai... heh heh heh.... Gileee... begitu mendekati bis, pak kondekturnya langsung meminta kita naro barang-barang di bagasi. Ya jelas kami ngga rela! Kami kan menikmati nenteng-nenteng bawaan berat itu sekalian latihan otot bahu! (Bodoh) Tapi kami paham begitu disuruh naik bis. Boro-boro naik, pintu bisnya aja ngga kelihatan saking penuhnya orang! (Berlebihan) Beberapa detik berhasil naik bis, kami langsung keluar lagi karena toh bis masih ngetem. Ngga bisa menghirup oksigen tuh. Ealah, Mas Jake malah kenalan sama bule Belanda (bulbel) di terminal. Keenakan ngegosip di luar bersama bapak-bapak kondektur, tiba-tiba kami dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa bis ke Jepara itu akan segera berangkat. Kami harus (berusaha) masuk. Dari pintu depan terdengar teriakan "Mundur! Mundur mundur!" dan dari belakang "Maju, Mbak! Maju maju!" Nah, setelah benar-benar orang ngga bisa bergerak, bis baru mau berangkat. Kaki ngga bisa berpijak dengan wajar, salah satu harus miring, atau jinjit, atau nginjek kaki orang lain. Itu biasa. Ngga perlu pegangan, itu bis mau goyang sekuat apa juga penumpang ngga akan jatoh. Dan kemesraan itu berlangsung selama hampir tiga jam! Dekat Jepara bis sudah agak longgar. Inilah saatnya mensyukuri nikmat Tuhan yang bernama oksigen....

Sesaknya bis Semarang-Jepara (photo by Jake)

Di Jepara kami turun di alun-alun, depan Shopping Center. Di alun-alun sedang ada pengajian, orang-orang rameee banget lesehan pakai baju putih-putih. Masih berlima. Dan sekarang, kerasa banget kami lapar. Ada warung lesehan di situ. Ini pembicaraan singkat antara ibu warung dan kami:
K: Masih ada, Bu?
W: Oh... kalian berberapa? Kalau satu masih ada. Tapi lima ngga bisa. Sudah habis.
K: Apanya yang sudah habis? (Maksudnya ayamnya, atau tempenya, atau apa? Kan bisa pesan yang lain yang masih ada)
W: Sambelnya (hah???)
K: Oh ya ngga apa-apa ngga pakai sambel.
W: Tapi nasinya juga habis.
R: Hahahahhaaaaaaaaaaaaa.... (Sumpah saya ngga tahan)

Makan di Jepara, belakang Shopping Centre (photo by RhoMayda)

Warung lain yang di soping senter juga kehabisan nasi. Di sini kami cuma jajan es teh dan camilan dikit. Tapi Mbak Olip dan Mas Bayu membawa kabar baik, bahwa mereka menemukan berderet-deret tenda tempat makan di belakang soping senter. Yes! Kami makan di situ. Perut kembali tentram....
Meanwhile, Mas Mamat dan Pak Udin (adik dan bapak Mas Taufiq) sudah menjemput. Satu per satu sampailah kami di rumah Mas Topik. Hampir bersamaan, Mas Topik juga udah nyampe. Weee keluarganya asik! Mereka punya pohon matoa (buah asli Papua itu lho) gede di halaman depan. Juga melati di samping rumah! Yes! (Jadi keinget rumah Embah di Sojomerto, dulu punya banyak melati, dan Embah selalu panen melati untuk ditaro di tempat tidurnya. Hmm... wanginya asik).

Matoa dari depan rumah Mas Taufiq (photo by Taufiq)

Di rumah Mas Taufiq (photo by Taufiq)

(photo by Taufiq)

Oke fokus! Satu seri perjalanan naik bis sudah terlewati. Orang bilang Karimun Jawa itu bagus. Bagus banget, malah. Baguuus banget. Well, saya belum pernah ke sana sebelumnya. Tapi perjuangan naik bis ini, ngga boleh dikecewakan dengan perasaan ngga puas. Ngga boleh. Jadi... jaga hati. Bersenang-senanglah setiap saat. Ya sekarang juga. Yang belum ada kan belum bisa dinikmati. Nikmati saja dulu yang ada: panas, dingin, kotor, berat... semua menyenangkan ketika itu terjadi dalam perjalanan :)  bersama orang-orang yang menyenangkan....

Perjalanan darat sudah dilewati. Besok kita seberangi laut.

-RhoMayda-

 

All the posts