20.09.2008

Karimun 1. Jogja-Jepara

Perjalanan dimulai pada hari Jumat, 15 Agustus 2008. Jam 13.00 janjian di kampus FIB-UGM. Saya telat :p
Mas Yodim, Mas Jake dan Mbak Olip sedang makan siang di Bonbin (adalah nama kantin depan FIB-UGM yang murah meriah). Setelah Mas Bayu datang, kami naik bis kota menuju terminal Jombor. Rutenya: Jogja-Semarang-Jepara. Mas Mamat sudah di Jepara. Mas Taufiq masih ada urusan di Jogja, jadi akan nyusul ke Jepara naik motor. Dengan tas besar, terik matahari dan keringetan, kami berlima berangkat dari Jogja. Karimun Jawa here we come....

Berangkat dari UGM (photo by RhoMayda)

Panasnya bis kota UGM-Jombor langsung dibalas dengan sejuknya bis patas full-AC arah Semarang. Yes! Rp 35.000 (iya kan?) nyampe Semarang dalam waktu kurang lebih 4 jam. Sampai Semarang sudah gelap, sekitar jam 19.00.
Dua kabar cukup buruk menghampiri:
- Konon, bis terakhir ke Jepara berangkat jam 19.00.
- Saya kelaparan. Setelah diingat-ingat, ternyata saya ngga sempat sarapan dan makan siang. Singkat kata, saya memang seharian belum makan. Gila.

Ngga bisa makan. Karena bis dingin dan gede itu ngga mau masuk terminal (tempat ngetem bis ekonomi ke Jepara) dan karena takut ketinggalan bis ke Jepara, kami harus cepat-cepat ke terminal. Jauh, man! 4 kilometer! (Ini berlebihan karena bawaan berat dan perut kosong dan ngantuk dan capek jadi satu) Heheheheee.... Ternyata di depan terminal samar-samar (ingat, udah gelap) terdengar (halah, gelap terang ngga ngaruh ya?) teriakan "Jepara Jepara! Jepara terakhir!" Fiuh... (lega) perjuangan kesusu-susu (terburu-buru) berakhir sudah.

Namun perjuangan suk-sukan (berdesak-desakan) baru akan dimulai... heh heh heh.... Gileee... begitu mendekati bis, pak kondekturnya langsung meminta kita naro barang-barang di bagasi. Ya jelas kami ngga rela! Kami kan menikmati nenteng-nenteng bawaan berat itu sekalian latihan otot bahu! (Bodoh) Tapi kami paham begitu disuruh naik bis. Boro-boro naik, pintu bisnya aja ngga kelihatan saking penuhnya orang! (Berlebihan) Beberapa detik berhasil naik bis, kami langsung keluar lagi karena toh bis masih ngetem. Ngga bisa menghirup oksigen tuh. Ealah, Mas Jake malah kenalan sama bule Belanda (bulbel) di terminal. Keenakan ngegosip di luar bersama bapak-bapak kondektur, tiba-tiba kami dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa bis ke Jepara itu akan segera berangkat. Kami harus (berusaha) masuk. Dari pintu depan terdengar teriakan "Mundur! Mundur mundur!" dan dari belakang "Maju, Mbak! Maju maju!" Nah, setelah benar-benar orang ngga bisa bergerak, bis baru mau berangkat. Kaki ngga bisa berpijak dengan wajar, salah satu harus miring, atau jinjit, atau nginjek kaki orang lain. Itu biasa. Ngga perlu pegangan, itu bis mau goyang sekuat apa juga penumpang ngga akan jatoh. Dan kemesraan itu berlangsung selama hampir tiga jam! Dekat Jepara bis sudah agak longgar. Inilah saatnya mensyukuri nikmat Tuhan yang bernama oksigen....

Sesaknya bis Semarang-Jepara (photo by Jake)

Di Jepara kami turun di alun-alun, depan Shopping Center. Di alun-alun sedang ada pengajian, orang-orang rameee banget lesehan pakai baju putih-putih. Masih berlima. Dan sekarang, kerasa banget kami lapar. Ada warung lesehan di situ. Ini pembicaraan singkat antara ibu warung dan kami:
K: Masih ada, Bu?
W: Oh... kalian berberapa? Kalau satu masih ada. Tapi lima ngga bisa. Sudah habis.
K: Apanya yang sudah habis? (Maksudnya ayamnya, atau tempenya, atau apa? Kan bisa pesan yang lain yang masih ada)
W: Sambelnya (hah???)
K: Oh ya ngga apa-apa ngga pakai sambel.
W: Tapi nasinya juga habis.
R: Hahahahhaaaaaaaaaaaaa.... (Sumpah saya ngga tahan)

Makan di Jepara, belakang Shopping Centre (photo by RhoMayda)

Warung lain yang di soping senter juga kehabisan nasi. Di sini kami cuma jajan es teh dan camilan dikit. Tapi Mbak Olip dan Mas Bayu membawa kabar baik, bahwa mereka menemukan berderet-deret tenda tempat makan di belakang soping senter. Yes! Kami makan di situ. Perut kembali tentram....
Meanwhile, Mas Mamat dan Pak Udin (adik dan bapak Mas Taufiq) sudah menjemput. Satu per satu sampailah kami di rumah Mas Topik. Hampir bersamaan, Mas Topik juga udah nyampe. Weee keluarganya asik! Mereka punya pohon matoa (buah asli Papua itu lho) gede di halaman depan. Juga melati di samping rumah! Yes! (Jadi keinget rumah Embah di Sojomerto, dulu punya banyak melati, dan Embah selalu panen melati untuk ditaro di tempat tidurnya. Hmm... wanginya asik).

Matoa dari depan rumah Mas Taufiq (photo by Taufiq)

Di rumah Mas Taufiq (photo by Taufiq)

(photo by Taufiq)

Oke fokus! Satu seri perjalanan naik bis sudah terlewati. Orang bilang Karimun Jawa itu bagus. Bagus banget, malah. Baguuus banget. Well, saya belum pernah ke sana sebelumnya. Tapi perjuangan naik bis ini, ngga boleh dikecewakan dengan perasaan ngga puas. Ngga boleh. Jadi... jaga hati. Bersenang-senanglah setiap saat. Ya sekarang juga. Yang belum ada kan belum bisa dinikmati. Nikmati saja dulu yang ada: panas, dingin, kotor, berat... semua menyenangkan ketika itu terjadi dalam perjalanan :)  bersama orang-orang yang menyenangkan....

Perjalanan darat sudah dilewati. Besok kita seberangi laut.

-RhoMayda-

 

Comments

ya! seperti kita sudah finely tuned sebelumnya, hingga perjalanan itu terasa seperti piknik keluarga. Jake harus baca tulisan ini Ma.

Posted by: taufiqn | 23.09.2008

Jadi kangen jepara..dan gak tahu mungkinkah satu saat nanti kaki ini bisa injak bumi kartini lg.

Posted by: Hesti wening | 04.12.2008

Post a comment