16.07.2008

::::: Bima-Jogja

Saya mendengar ketuk pintu hari Senin tanggal 14 Juli 2008, pagi-pagi sekali. Oh, berarti sudah jam 6. Saya dibangunkan. "Terima kasih banyaaak..." saya teriak dari dalam kamar. Setelah mandi dan ganti baju, saya langsung mencari ojek. Jam 7 menuju museum Samparaja untuk mencari handphone. Ternyata ngga ada.... Ya sudah....

Kembali ke hotel, sarapan ngga santai, makan ngga dihabiskan, ngopi cuma sedikit, lalu ke kamar. Beres-beres, langsung cek out. Kemudian pamitan sama cewek-cewek counter dan para pegawai hotel yang selama ini sudah baik sama saya (makasih banyak yaa...). Saya ceritakan handphone saya hilang.... Mereka akhirnya menuliskan nomor mereka untuk saya simpan. Ke bandara naik ojek Pak Soni. Sebelumnya mampir Merpati pamit sama Mbak Yanda. Jam 8 berangkat.

Buru-buru ke bandara, sempat-sempatkan diri untuk foto dengan cewek-cewek counter yang selama ini sudah menjadi teman yang bisa diandalkan. Terima kasih banyak yaa....

Dengan Pak Soni puter-puter kota Bima cari ATM. Tapi ada tiga ATM di Bima, yang dua rusak, yang satu antrinya panjang banget! Padahal duit habis, tinggal Rp. 37.000,-. Bayar ojek aja udah Rp. 30.000,-. Gimana airport taxnya??? Akhirnya saya beranikan diri ngutang ke Merpati dan ditransfer nantinya ke rekening mereka. Tapi mereka bilang bahwa airport taxnya Rp. 6000,-. Wah!!! Berarti uangnya cukup! Hahahahaaa.... Ya sudah, bersama Pak Soni saya ke bandara.

Selesai pamitan dan membayar ojek, saya langsung masuk, cek in dan naro bagasi. Karena pesawatnya bahkan belum datang (dari Denpasar), saya jalan-jalan dulu keluar, poto-poto bandara. Eeeh ternyata bapak-bapak pegawai bandara juga mau dipoto! Kita ngobrol-ngobrol dulu rame-rame. Saya juga sempat belajar bahasa Bima dengan mereka. Tiba-tiba Pak Mahfud datang! Welah.... Tapi kita ngga bisa ngobrol lama karena pesawatnya udah keburu datang dan saya sudah disuruh masuk ruang tunggu.

Bapak ini namanya Pak Hadi, pegawai bandara M. Salahuddin Bima. Dia hobi banget foto bareng saya ^^

Bapak-bapak pegawai bandara yang sudah membantu saya menyusun catatan kecil kata-kata bahasa Bima.

Nah... ruang tunggu. Kapan saja penumpang akan dipersilakan masuk pesawat, dan saya akan pergi dari Bima. Wah... ngga jelas juga apa yang dirasain waktu itu. Hatinya kayak kebas, ngga ngerasa apa-apa karena ada begitu banyak perasaan senang dan bete di Bima :) Saya menunggu panggilan masuk pesawat sambil memperhatikan orang-orang di situ. Terlintas juga bayangan 'home' di Jogja, saya akan kembali ke Jogja, ke Jawa, tempat di mana saya mengerti apa yang orang-orang bicarakan, bahasa yang sudah saya kenal, orang-orang yang tidak asing, tempat-tempat yang sudah biasa saya kunjungi, makanan dan udara yang biasa saya rasakan. Saya akan pulang....

Panggilan masuk pesawat sudah terdengar. Saya ngga lagi menoleh ke belakang, di luar situ orang-orang melepas kepergian mereka yang di dalam sini. Begitu keluar bandara menuju ke pesawatnya, saya lihat lagi gunung-gunung yang pernah saya lihat ketika pertama kali tiba di Bima hari Jumat lalu. Saya bikin foto :) Duduk di deret kedua dari belakang, dekat jendela. Saya puas. Handphone memang hilang, rasa bete pernah ada. Tapi selain itu, pengalaman berharga sudah saya kantongi, ada di ransel, menjejal di kepala, memenuhi hati....

Merpati terbang meninggalkan Bima, ke barat sepanjang Sumbawa, terus sampai Bali jam 10.30. Di bandara Ngurah Rai ambil uang di ATM. Untuk jaga-jaga. Karena pesawat ke Surabaya berangkat jam 15.00, saya jalan-jalan dulu ke Kuta. Sampai bandara lagi masih sempat sholat di mushola. Merpati terbang lagi, kali ini ke Surabaya. Dan tiba-tiba saya pengin cepat-cepat sampai rumah :) Sepertinya saya capek....

Di Surabaya ternyata ketemu penumpang yang menyapa saya pagi tadi di Bima. Kita ngobrol sedikit. Heheheheee... ternyata ada cukup banyak orang yang mau ngobrol sama saya padahal belum kenal :p katanya begini kepada temannya, "Dari gelagatnya, sepak terjangnya, saya perhatikan mulai di bandara Bima, dan saya tahu dia ini bukan orang sembarangan." Makasih Pak :)

Saya cari taxi ke stasiun Gubeng. Pak Udin, nama sopir taxinya setelah kenalan, ternyata suka ngobrol juga. Dia malah curhat tentang kehidupan rumah tangganya yang dinilai ngga nyaman gara-gara dulu dia dijodohkan (halah), dan berkali-kali menanyakan kapan saya ke Surabaya lagi. Katanya, kalau hari ini saya ngga harus ke Jogja, saya akan diajak jalan-jalan keliling Surabaya gratis! Hahahahaaa.... Janganlah, saya sudah punya tiket kereta Bima ke Jogja jam 17.00.

Tiba di Gubeng masih ada waktu untuk ngopi di luar stasiun. Di situ saya ngobrol dengan bapak pemilik kedainya dan satu pelanggan, akhirnya obrolan sampai kepada perjalanan saya ke Sumbawa. Ternyata ngga banyak cewek muda yang datang ngopi di kedai sendirian, dan yang pergi ke Sumbawa sendirian heheheheee.... Pak kedai kopi memberi tahu, ini sudah hampir jam 17 (oh iya, kan saya ngga bawa jam). Saya pamit, dia bilang, "Saya perhatikan dari tadi waktu lihat Mbak, saya pikir itu turis dari mana?" :D

Saya naik kereta, menunggu berangkat. Sudah sore. Matahari sudah akan tenggelam. Wah... sendu sekali rasanya. Matahari seperti capek dan siap tidur. Saya juga capek, tapi ngga bisa tidur. Kilatan-kilatan peristiwa selama 9 hari keluar Jogja berkelebatan di kepala. Banyak yang telah dipelajari, masih ada jauh lebih banyak yang akan terjadi. Satu-satu harus dilalui. Jam 22.15 sampai Tugu Jogja, Beth jemput dan langsung mengomentari tato yang ada di tangan serta warna kulit yang makin hot (maksudnya item).

Saya sampai Jogja dengan selamat :) Baik-baik saja. Kerasa capek banget.... Saya capek :) Sesak nih. Lain kali kalau memang mau pergi jauh, mungkin harus bawa ransel yang lebih besar... atau hati yang sangat besar :) jadi ngga capek-capek amat. Kapasitas semua yang saya bawa memang serba terbatas... tapi cukup bisa diandalkan ^_^ Senangnya bisa pergi jauh, dan senangnya bisa balik lagi ke Jogja....

Bima memang cantik! ^^



Sampai ketemu lagi :)

-RhoMayda-

 

.:::: Bima, 13 Juli '08

Bangun pagi di Bima untuk kedua kalinya terasa lebih oke. Saya tidur masih ngga terlalu nyenyak, tapi setidaknya kamar saya tertutup. Kemarin siangnya saya cek out kamar 210, membayar lunas, dan mendapat kamar ganti nomor 116, letaknya di lantai dasar. Kamar 116 jauh lebih bagus, selisih Rp. 50.000,- ngga masalah. Tertutup, ber-AC, TV, tempat tidur nyaman, ada selimut, kamar mandi lebih besar, wastafel, lantai bersih. Oke!

Jam 08.00 sarapan di restorannya. Menu kali ini daging, pedes.... Tapi saya tetep bikin kopi, yeah! Selesai sarapan, mandi, lalu siap-siap jalan-jalan lagi. Hari ini saya ngga pinjem motor, saya mau jalan-jalan dekat sini saja. Atau ke makam raja-raja, tapi naik ojek saja karena ngga tau tempatnya. Kemarin saya sudah hubungi Ibu Maryam, kita sudah janjian ketemu hari ini (13 Juli) di rumahnya jam 17. Seharian bisa jalan-jalan dulu.

Keluar kamar langsung ke mas-mas VCD di pasar. Kali ini saya sudah tahu mau beli VCD apa. Dikasih tau cewek-cewek counter beberapa musik khas Bima: gambus, biola Katipu, dangdut. Hehehee... masnya heran. Di situ saya dapet sms dari seorang pegawai Merpati di dekat hotel, katanya mau ngobrol-ngobrol berbagi pengalaman karena dia tahu saya anak Bahasa Indonesia., Dia sendiri Sastra Inggris. VCD saya taro di hotel dulu, baru saya ke Merpati, menemui Mbak Yanda itu.

Walah! Ini adalah berkah! :)
Mbak Yanda bersedia diajak jalan-jalan. Yes! Jam 13.00 kita keluar Merpati, menuju masjid Sultan (hehehee... pengin sholat di situ, dan poto-poto) yang letaknya di seberang lapangan museum ASI Mbojo. Ngga jauh. Dari situ kita makan bakso dulu, mie bakso yang seharusnya putih tuh di situ biru! Ajaib! Ohya, harga baksonya Rp. 6000,-. Setelah kenyang, kita melewati Jl. Sulawesi, di ujungnya mencari 'benhur' (dokar atau andong). Naik benhur tuh ternyata ngga senyaman naik andong di Malioboro. Ini ya, begitu naik, benhurnya 'njomplang' ke belakang. Heheheee... terus goyang-goyang gitu. Tapi selebihnya, yang penting adalah pengalamannya. Saya mensyukuri pertemuan dengan Mbak Yanda, karena kalau ngga ketemu dia mungkin saya ngga berani naik benhur sendirian. Ohya, kudanya saya beri nama Michael.

Masjid Sultan M. Salahuddin.

Bakso dengan mie putih yang biru.

Tujuan pertama kita adalah Tolobali, salah satu situs makam raja. Situs ini terletak di tengah kampung. Makamnyaluas dan terang, di tengah ada pohon besar. Kompleks makam raja dibatasi pagar besi. Di luar itu adalah makam-makam umum. Ada tiga makam utama, dua masih berkubah, satu terbuka. Makam-makam itu adalah makam Sultan Jamaluddin (sultan ke-4), Sultan NUruddin (sultan ke-3) dan Sultan Abi'l Khair Sirajuddin (sultan ke-2). Makam raja yang terkenal sebetulnya adalah Dana Traha, letaknya di atas bukit. Tapi begitu melihat makam Tolobali, saya langsung mengenali foto dalam buku J. Noorduyn Bima en Sumbawa. Foto itu dibuat pada tanggal 2 Agustus 1910. Dan saya di situ membuat foto makam yang sama pada tanggal 13 Juli 2008. Wow.... (Halah)

Kompleks makam raja Tolobali.

Dari Tolobali kita ke Dana Traha. Benhur tidak bisa menanjak terlalu jauh. Dana Traha adalah kompleks makam raja yang letaknya di atas bukit. Kita harus jalan atau naik ojek. Mbak Yanda menunggu di bawah bersama dua orang bapak. Saya jalan ke atas, bareng sama dua orang anak laki-laki yang kebetulan juga mau ke sana. Gila! Pemandangan dari atas kelihatan bagus banget!!! Seluruh Bima bisa kelihatan! ^.^ Yeah!!!
Saya ngga bisa tahu ini makam siapa, karena ngga boleh masuk. Cuma bisa bikin foto dari luar pagar. Tapi ngga apa-apa, bisa ditanyakan orang kapan-kapan :)
Masih takjub dengan apa yang bisa dilihat dari atas bukit itu, saya bikin foto sana-sini. Dana Traha katanya rame banget kalau Minggu pagi. Orang-orang beradatangan untuk olah raga pagi, ada juga yang jualan. Mungkin mirip Sunday Morning di UGM :)

Kompleks makam raja Dana Traha.

Adik-adik di Dana Traha dengan background kota Bima.

Puas dengan Dana Traha, kita lanjut ke sebuah kampung (lupa dah namanya), masih bersama Michael. Sebelumnya kita mampir pasar di kota beli Kinca/Kawi (apel Bima katanya), untuk rujakan ntar malam heheheee.... Ternyata banyak aktivitas juga di kampung di Bima: bertani, industri genteng, pemilik benhur.... Asik dah. Dalam perjalanan pulang kami berhenti sebentar mau beli ro'o parongge (daun kelor) di orang kampung, tapi ngga boleh beli suruh metik aja di pinggir jalan. Mas benhur memanjat pohon, metik daun kelor. Di Bima, sayur kelor adalah makanan khas. Yes! Kita masak itu di rumah Mbak Yanda :)

Kita pulang ke hotel sebentar ambil oleh-oleh untuk Ibu Maryam, sore ini kita ke sana (saya dan Mbak Yanda). Karena museum Samparaja dekat dengan rumah Mbak Yanda, saya ditawari main ke rumahnya. Walah, keluarga Mbak Yanda asik! Mereka ramah banget, baiiik banget! Disuruh makan dulu, pakai daun kelornya, baru setelah itu ke Ibu Maryam.

Ada tiga tamu di rumah Ibu Maryam. Mereka dari Unhas. Kita masuk aja. Akhirnya malah kenalan dan ngobrol bareng. Lalu datang lagi Pak Iwan, dosen STIT yang sering menemani dan membantu Ibu Maryam. Obrolan makin seru. Ternyata besoknya (tanggal 14 Juli) ada seminar di museum istana. Sayang sekali saya sudah ngga di Bima.... Kita di Bu Maryam sampai malam. Jalan-jalan di museum Samparaja juga, lihat-lihat naskah, lihat bo' (buku harian istana). Wow....
Saya juga sempat mencicipi sambal Bima, namanya bohi dungga. Sambal ini warnanya kuning, dan ditaro di botol air mineral ukuran besar. Bahan utamanya adalah jeruk. Ditambahi cabe dan garam, sedikit gula, jadi deh sambal Bima. Rasanya asem! Enak banget!!! Hahahaaa... saya langsung suka sama makanan itu! :p

Bohi dungga, sambal khas Bima yang ngga pedes, tapi asem. Enak bangettt....

Bersama Ibu Maryam, Mbak Yanda dan Pak Iwan.

Jam 21.30, setelah puas poto-poto, Mbak Yanda dan saya pamit. Di rumah Mbak Yanda kita masih sempat ngerujak Kawi. Kawi adalah buah khas Bima, dan sangat membantu bagi Anda yang punya masalah dalam peluapan emosi. Cara membuka buah Kawi ini tidak dengan diiris menggunakan pisau, tapi dibanting! Hahahaaa... iya dibanting! Dibanting di lantai rumah :D Keren banget kan! Emosi makin memuncak, makin cepet buahnya kebuka hahahahaaa.... Buah ini rasanya kecut sepet, dan ternyata bikin serak (ketahuan besok paginya), dimakan dengan garam dan cabe. Sedddaaap....

Kinca atau Kawi. Orang bilang ini apel Bima.

Di rumah Mbak Yandalah saya sadar bahwa handphone saya hilang :( Dicari-cari ngga ada. Ya sudah saya memutuskan untuk mencarinya di museum Samparaja besok paginya saja. Pulang ke hotel dengan perasaan campur-aduk. Saya minta tolong mas pegawai hotel yang ada di ruang depan untuk membangunkan saya besok paginya jam 6 karena saya ngga punya alarm lagi. Dia mau. Malam itu saya packing. Lalu tidur....

Perjalanan di Bima hampir usai....

-RhoMayda-

 

:::: Bima, 12 Juli '08

Ini adalah bangun tidur pagi hari pertama saya di Bima. Biasa aja sih heheheee.... Jam 8 saya ke bawah untuk sarapan di restoran hotel Lila Graha. Dengan piyama dan jaket hitam saya ngantuk-ngantuk duduk di kursi yang paling dekat dengan trotoar. Buku harian, handphone dan dompet saya bawa. Mbak pegawai hotelnya bawa makanan ke meja: nasi putih, sayur bening dan bandeng presto. Yes! Dia bilang, "Teh dan kopinya di sana ya," sambil menunjuk meja di belakang. Oke, mari kita ngopi :)

Selesai sarapan, ke kamar lagi. Mandi pagi tak lupa gosok gigi. Karena ini adalah kamar kelas ekonomi, ventilasi di kamar tidur dan kamar mandi ditutup pakai kertas koran. Gila! Sewaktu mandi, tuh koran bergerak-gerak! Paniklah saya! Dengan prasangka buruk bersliweran di kepala, saya buru-buru keluar kamar mandi dan menutup pintunya keras-keras! Ih ngeriii.... Ganti baju takut-takut, buru-buru bersiap-siap. Agak tenang gitu, akhirnya keluar kamar. Karena masih syok, saya telp Ib di Jogja. Ib bilang, "Pindah kamar aja, selisih lima puluh ribu ngga apa-apa, asal aman nyaman."

Pagi ini saya janjian sama cewek-cewek counter untuk jalan-jalan di museum istana, mereka saya culik dari kerjaan mereka. Alasan mereka, Sabtu biasanya sepi (hehehhee...). Jam 09.30 kita jalan kaki ke museum ASI Mbojo. Ealah, ternyata Hendra pak polisi datang nimbrung, tapi ngga ngikut ke museum. Cewek-cewek agak heran kok saya kenal cowok itu :D

Sampailah kita di museum. Tiket masuknya Rp. 2000,-. Kami bertiga: Neti, Nina dan saya. Pagi itu rameee banget murid-murid SD pakai baju pramuka (jadi ngerasa tua, heheheee...). Museum ini dulunya adalah istana kesultanan Bima. Tahun 1927 museum ini mengalami pembangunan ulang (re... apa? Rekonstruksi? Reformasi?). Cukup besar lho bangunannya, memanjang. Teras depannya luas dan tinggi.

Museum ASI Mbojo, Bima.



Kita masuk dengan menaiki tangga-tangga kecil sepanjang teras. Di dalam sebelah kiri terdapat tangga ke lantai atas. Di lantai dasar ada bermacam-macam ruangan. Sebelah kiri adalah Ruangan Emas, menyimpan senjata-senjata dan peninggalan istana yang terbuat dari emas. Sebelah kiri adalah pakaian-pakaian adat, perangkat tradisional dan uang zaman dulu. Di atas ada kamar raja dan putra-putri raja. Ada juga ruang kerja raja di ujung sebelah utara. Yang menarik dari ruang kerja raja adalah bahwa ruangan ini tidak bermeubel. Katanya raja kerja lesehan, duduk di lantai. Kalau ada tamu, tamu itu juga lesehan. Katanya, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah :) Di ujung satunya lagi terdapat beberapa ruangan kosong yang salah satunya memiliki akses ke ruang lantai dasar yang berupa tangga sempit. Ruang-ruang kosong itu adalah ruang tempat tinggal para jin istana dan ruang eksekusi pembangkang peraturan istana. Hehehe... serem ya. Si Neti dan Nina merinding katanya :)
Di bagian tengah lantai atas ini terpampang papan dengan aksara-aksara Nusantara, salah duanya adalah Bima dan Jawa. Di pinggir selatan terdapat contoh pelaminan Bima dengan sebelah kirinya kostum pernikahan rakyat biasa dan sebelah kanannya kostum pernikahan keluarga istana.

Loteng ruang eksekusi.

Di luar museum, masih dalam kompleks museum istana terdapat bangunan lain yang katanya adalah tempat tinggal. Tapi ada juga yang bilang kalau tempat itu sakral. Walah....
Dari cewek-cewek di counter saya dengar bahwa Bima itu kental dengan mistik. Ngga kelihatan memang dari luar, tapi itu betul-betul ada. Saya sering sekali dinasehati untuk berhati-hati. Katanya, kalau orang Bima sudah sakit hati, dia bisa berbuat apa saja. Dengan diam saja dan memperhatikan satu rumah, rumah itu bisa terbakar dan apinya ngga merembet ke rumah kanan-kirinya, meskipun rumah-rumah itu berhimpitan. Duh Gusti....

Oke, fokus! :D
Kami sudah selesai jalan-jalan di museum. Saya hubungi Hendra, siapa tahu mau ikut jalan-jalan keliling Bima naik motor. Tapi dia sibuk katanya. Ya sudah, kita pulang ke hotel. Mereka melanjutkan kerja, dan saya siap dengan motor yang saya sewa dari Pak Soni, ojek langganan Lila Graha.

Dengan motor itu saya keluar Jl. Sumbawa, ke kiri Jl. Sulawesi mengitari lapangan museum istana. Belok kiri menyusuri Jl. Sukarno Hatta. Di kanan jalan ada masjid Sultan M. Salahuddin. Lurus terus ada stadion, sebelahnya ada semacam pendopo yang biasanya digunakan untuk pernikahan. Sebelah pendopo itu ada perpustakaan (pengin ke sana tapi ngga jadi). Lanjut sampai bosan. Melewati rute yang dilewati Hendra malam itu. Ada makam di bukit, ada batu keramat besar di pinggir jalan, ada taman kota di tengah jalan, memisahkan dua ruas jalan. Lalu saya balik lagi ke kota.

Melewati terminal, lurus terus ke arah bandara. Nah, di situlah sepanjang jalan saya berdecak-decak kagum dan membuktikan dengan mata kepala saya sendiri bahwa Tuhan itu hebat! Pantai di sebelah kanan berwarna biru, terlihat luaaas dikombinasi dengan gunung di kiri kanan, pohon-pohon kelapa.... Sampai ke daerah Panda, itu artinya, bandara semakin dekat. Di Panda banyak orang berjualan jagung bakar di kanan-kiri jalan. Saya masih mengendarai motor melewati Panda begitu saja. Keluar Panda jalanan mulai menanjak tajam, ini perbukitan. Turun situ adalah daerah Belo. Di pertigaan saya belok kanan, parkir motor di pinggir jalan dan menikmati luasnya tambak bandeng di pantai. Di sinilah kamera saya pertama kali beraksi.

Pantai di pinggir jalan antara bandara dan kota.

Puas jeprat-jepret di situ, saya ambil rute yang sama ke arah kota, mampir dulu di Panda beli jagung bakar dan ngobrol sama yang jual. Perjalanan pulang inilah yang agak lebih lama dari berangkatnya, karena saya berhenti tiap lima meter untuk bikin foto (berlebihan). Baguuus banget landscape-nya! Kendaraan-kendaraan yang melewati saya biasanya kasih klakson. Foto-foto yang saya ambil temanya ngga lepas dari pantai dan bukit. Wow... asik! Panas ngga terasa lagi :)

Sudah sore dan capek akhirnya pulang ke hotel. Di counter kenalan dengan Pak Mahfud. Dia ajak saya ke pelabuhan dan ke kampung Kolo (iya ya?) yang letaknya di atas bukit untuk melihat pelabuhan, pantai dan kota Bima dari atas. Baguuus banget! Foto tambah banyak hehehheee.... Malamnya kita makan di Amahami (gini ya nulisnya?) dekat Lawata. Lawata adalah tempat orang pacaran kalau malam. Gile, motor diparkir. Ini tempat nongkrong anak muda, sepanjang pantai rame buanget! Jam 21 ke arah hotel.

Pulau Kambing, dilihat dari atas bukit.

Ada yang menarik ketika kita tiba di hotel! :)
Jadi di ujung Jl. Sumbawa, tepat di depan pos polisi, banyak orang berkumpul sangat gaduh, padahal sudah malam. Di situ ada kontrol helm. Malam Minggu ternyata banyak yang ngga pakai helm. Kalau ada yang kena, mereka teriak. Heheheee.... Kata pegawai hotel, biasanya ngga ada kayak gitu, tapi ini kok tumben malam-malam, pas malam Minggu pula.

Hari ini saya betul-betul terkagum-kagum pada keindahan kombinasi alam Bima. Bukitnya memang bebatuan, pasir pantainya memang ngga putih, tapi kombinasi gunung, laut, warna biru, hijau, coklat, bagggus banget!

:) Kalian harus ke Bima sendiri....

-RhoMayda-

 

.::: Bali-Bima

Jumat tanggal 11 Juli 2008 bangun jam 6. Mandi lalu siap-siap. Pagi ini dimulailah perjalanan ke Bima yang sebenarnya. Ke bandara Ngurah Rai diantar Riri (kita boncengan) dan Wayan yang bawa ransel saya.
Jam 9 cek in ngga pakai antri karena saya satu-satunya pada waktu itu yang cek in. Mbak yang jaga loketnya ternyata orang Jogja, dia mengomentari reservasi tiket saya Merpati Denpasar-Bima yang dipesan dari Jogja. Ketahuan deh kalau saya dari Jogja.

Di ruang tunggu saya iseng menebak-nebak siapa saja yang akan sepesawat dengan saya. Kurang kerjaan memang, tapi saya betul-betul penasaran....
Ternyata cukup banyak kok heheheheee.... Dan ada bulenya (halah). Tempat duduk saya diambil orang. Saya udah bilang sama mbak-mbak Jogja yang di loket tadi kalau saya mau duduk dekat jendela, akhirnya dapet. A. A itu dekat jendela. Ealah... didudukin orang yang C. Yawis, males ah mbahas :)

Merpati cukup oke. Kita dapet snack. Lumayanlah, sarapan. Hmm... perasaan makin ngga karuan. Ya gimana lagi, agak serem ngebayangin di kampung orang sendirian. Bima seperti apa saya juga ngga tau. Kalau ada yang masih belum tau, Bima itu....
Gini deh. Bima tuh sebuah kabupaten di NTB, letaknya di bagian timur Pulau Sumbawa. Itu tuh dulu kerajaan lumayan sukses di Nusantara Timur. Kebetulan naskah yang saya garap adalah naskah Bima, jadi pengin ke Bima kan. Orang bilang Bima tuh sepi, kota kecil, lebih kecil dari Banyuwangi yang sebetulnya udah kecil :) Tadinya nyali sempat menciut, tapi itu ngga beralasan. Kan kedatangan saya ke Bima untuk ngelihat Bima tuh kayak apa. Jadi ya apapun itu, pasti saya dapetin. Iya kan? :) Selain itu sih, udah janjian sama Bu Maryam. Beliau adalah putri sultan terakhir Bima (M. Salahuddin), ibu pak bupati Bima sekarang (Ferry Z.), dan rumahnya sebelahan dengan museum Samparaja yang menyimpan naskah-naskah kuno Bima. Ya harus ke Bima kalau mau ketemu beliau :) Jadi jangan mengeluh! ^^

Sampailah saya di Bima. Deg deg deg.... Sebelum mendarat saya sempat melihat gunung-gunung.... Setelah mendarat saya masih melihat gunung-gunung itu :) Kayaknya airport M. Salahuddin dikelilingi gunung-gunung deh. Atau jangan-jangan Bima emang di antara gunung-gunung itu? Ah, alhamdulillah sampai Bima dengan selamat :)

Bandaranya kecil, jadi ngga mungkin nyasar. Yeah! Setelah ambil bagasi (ransel), saya ke toilet setengah berlari karena betul-betul kebelet buang air besar. Ransel ditaro, langsung menuju toilet yang paling ujung. Walah! Ngga ada pintunya! (Sempat berpikir, jangan-jangan toilet di Bima emang ngga ada pintunya. Bodohnya saya...) ^^ Pindah ke toilet sebelahnya... ada pintu! Bisa dikunci! Pintu dengan sistem penutupan dan penguncian normal! Hebat! (Halah) :p Maaf....
Dan ternyata sakit perut diakibatkan oleh makanan semalam (sea food pedes di Bali).

Setelah itu saya cari pesan taxi di bandara. Dapet! Ke Hotel Lila Graha seharga Rp. 50.000,-. Tiba-tiba segerombolan bapak-bapak menyerbu mbak yang jaga loket taxi dari berbagai arah. Mereka teriak-teriak dalam bahasa Bima begini: ^&%$%^$8!!! &%$%(!!! $#&*!!! Yang artinya... saya ngga tau :(
Lalu mbaknya bilang supaya saya mengikuti bapak yang dia tunjuk. Uang sudah di bapak itu, dia menuju mobil setengah berlari. Tiba-tiba orang-orang yang menyerbu mbaknya gantian menyerbu bapak itu. Masih teriak-teriak dalam bahasa Bima. Saya bingung juga. Tapi karena ngga diajak ngomong apa-apa saya berpikiran, itu ngga ada hubungannya dengan saya :)
Sudah agak tenang gitu saya dipersilakan masuk mobil.
R: Tadi ada apa?
B: Biasa kalau ada uang....

Di mobil kita ngobrol-ngobrol. Perjalanan bandara-kota asik, kita melewati pinggir pantai. Plat nomor di Bima tuh EA. Sampai di hotel langsung dapat kamar, no. 210. Itu tuh kamar ekonomi dengan TV. Ada dua tempat tidur, TV di dinding (gile, ada HBO-nya!), ada kipas angin yang hampir jatuh, kamar mandi super kecil. Tapi saya langsung suka! Apalagi karena so far so good. Saya tidur... (kebonya kumat).



Jam 12an bangun, mandi. Seger dah! Lalu dengan semangat dan tanpa dosa, saya keluar hotel membawa misi suci: jalan-jalan sekitar hotel! Tapi ternyata toko-tokonya tutup! Saya kan butuh peta! Ya gimana mau mulai jalan kalau ngga ada peta???
Yawis, sudah wangi begini, sayang kalau niat batal. Akhirnya saya mau ambil resiko nyasar, dan jalan-jalan. Keluar hotel ke kiri, mentok kanan, kanan lagi, di pojokan ada yang jual VCD. Saya pilih-pilih VCD Melayu. Mas-mas yang jual sempat ngajak ngobrol dikit. Dari situ kanan, pasar. Ada beberapa orang masih jualan. Jumat siang biasanya tutup karena sholat Jumat. Saya mampir warung sate. Makan di situ, dan orang-orang ngelihatin saya kayak ngelihat orang ilang. Padahal saya tenang-tenang saja. Dari situ lanjut luruuus terus, ealah... saya tuh cuma muterin satu blok aja. Itu depan udah hotel lagi! Bodoh....

Ya udah, ke hotel aja dulu, nungguin toko buku buka, jadi bisa beli peta dan jalan-jalan sungguhan. Ternyata di hotel mbak-mbak yang jaga counter hp di situ sedang rujakan. Saya ditawari juga. Oke dah! Tau nggak mereka rujakan apa? Jadi... bahkan di Bima, ada orang makan mangga muda dengan garam dan cabe! Hahahaaa... kirain cuma Niken dan saya aja yang mau makan gituan! ^^ Sambil ngerujak kita ngobrol-ngobrol seputar Bima. Cewek-cewek itu ngasih tau tempat apa saja yang harus dikunjungi di Bima. Jadi ada Lawata, pantai tempat nongkrong anak-anak muda. Ada juga pinggir lapangan depan museum istana, di situ kalau malam warung-warung ramai dikunjungi orang. Ada makam raja-raja, pantai pasir putih di Wera, Pulau Ular, Pulau Kambing, museum istana, ini dan itu. Buanyak! Mereka juga tertarik dengan cerita saya kenapa bisa sampai Bima. Sip dah! Toko buku sudah buka. Saya ke sana, dan mereka ngga punya peta kota Bima. It doesn't even exist! Hahahaaa....

Agak sore, diantar Neti (salah satu cewek di counter) lihat-lihat museum istana (ASI Mbojo). Besok paginya kita mau jalan-jalan ke sana. Neti naik angkot pulang ke rumahnya. Saya iseng menyusuri Jl. Sulawesi. Di situ ada supermarket Lancar Jaya. Saya ingat, Neti pernah cerita LJ itulah yang terkenal :) Saya ke situ beli air dan roti untuk di kamar.

Dari situ mau balik ke hotel, tapi mampir dulu ke pos polisi di pertigaan Jl. Sulawesi dan Jl. Sumbawa. Tanya pak polisi apa di situ ada peta Bima. Ealah malah disuruh duduk diajak ngobrol. Terus dia ajak satu polisi lagi (lebih muda, ternyata namanya Hendra) ngobrol sama kita. Katanya, kalau jalan-jalan di Bima lebih baik ditemenin orang yang tahu Bima. Nah, Hendra ini ngajak saya kenalan sama temannya (namanya Arman) yang masih kerabat kesultanan Bima. Dia memboncengkan saya naik motornya (udah gelap lho!) ke rumah Arman. Kita ketemu ibunya, mereka ngobrol pakai bahasa Bima. Arman ngga di rumah. Kita balik, tapi muter lewat STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah). Di kanan jalan, dia bilang, ada makam di bukit, ada batu di pinggir jalan yang kalau dipindah orang sekampung bisa celaka. Terus belok kiri, jalan makin gelap (hiii...). Katanya, itu jalan tembusan ke museum Samparaja. Lah, ngga taulah, saya mbonceng jadi ya harus ngikut. Tibalah kita di jalan besar, di situ listrik mati pula! Sssahhh... serem. Museumnya kelihatan, bagus bangunannya :)
Akhirnya kita sampai di pos dengan selamat. Setelah tukeran nomor hp dan pemberian jaminan keselamatan pada saya, saya pamit balik ke hotel.

Setelah naro barang-barang yang tadi dibeli, saya cari makan. Kata Hendra, orang Bima suka makan di warung makan Arema Malang, di seberang LJ. Ya saya ke sana aja :) tidak lupa pesan kopi.

Selesai langsung pulang ke hotel ngga berani pulang malam ;)

Itu tanggal 11 Juli. Tidurnya ngga nyenyak....

-RhoMayda-

 

::: Kuta

Seharian ini (tanggal 10 Juli 2008) saya di Kuta. Jalan-jalan sama Riri. Pagi tuh ke Kak Dewi (kakak Riri), dia punya kelinci banyaaak banget! 40 lembar! Kandangnya panjaaang banget! Lucu-lucu deh kelincinya. Tapi kelinci tetap binatang, dan saya ngga paham jalan pikiran mereka, jadi tetep takut :) Kita sarapan di situ juga, nasi bungkus yang sambelnya pedes ^^

Ini salah satu dari 40 kelinci milik Kak Dewi.

Sehabis tuh jalan-jalan di Erlangga Denpasar sama Kadek. Wow... gede banget tempatnya. Langsung dah ke bagian kalung-kalung! Gileee.... Asoy! Beli dah beberapa oleh-oleh :)
Pulang ke Kuta, dilanjutkan dengan metik belimbing wuluh di halaman rumah Kak Dewi, dan menyantapnya dengan garam sambil merem-merem. Sedddaaap....

Agak sore kita bertiga ke Tanah Lot. Hmm... jadi keinget Judith lagi. Dulu pas baru-baru kenal Ketut, Judith pernah ajak saya ke Tanah Lot. Sekarang saya sama Riri ke sana. Kambuh deh perasaan haus kamera. Kita berdua mejeng sana mejeng sini, poto-poto banyak banget. Hahahahaaaa.....
Rame banget Tanah Lot, jadi kita menyelamatkan diri ke batu karang di situ yang agak tinggi, sebelum kehabisan oksigen dan runyam terinjak-injak para pendatang (berlebihan sih). Dari situ malah asik, bisa bikin poto keramaian dari atas :) yeah!
Iseng ingin melakukan yang belum pernah dilakukan, saya bikin tato temporer. Haha! Motif bunga, lekuk dan titik di punggung tangan kiri merambat ke ujung ibu jari (halah). ^^

Bersama Riri di Tanah Lot. Saya merasa sangat Bali ^^

Tato temporer di Tanah Lot.

Pulang ke Kuta sudah gelap, dan kita kelaparan. Sebelum cari makan, kita susur pantai Kuta dulu naik motor Mio-nya Kak Dewi. Gile... kaku juga tuh. Jadi kelihatan banget bedanya orang-orang lain yang naik motor matic dan saya. Kaki mereka di depan duduk dengan sopan, kaki saya di samping. Kaki mereka diam dengan damai ketika kecepatan diperlambat, kaki saya gerak-gerak mau ngerem dan ganti gigi. Halah! Susah! Tapi lama-lama terbiasa, dan berani ngebut :D

Di sebuah perempatan jalan di Kuta, kita diteriakin bli-bli (mas-mas) yang di pinggir jalan.
M: Mbaak! Motornya dikesini'in dikit! Itu untuk yang kiri! Ke kiri jalan teruuus!
(Kita manut, dengan kerepotan mindahin posisi motor agak ke kanan)
M: Mau ke manaaa?
N: Ke Kutaaa. Bener kan ini jalannyaaa? (Tanya Riri)
M: Iyaaa. Luruuus terus kanaaan.
N: Okeee.
(Lampu hijau, kita meluncur)
M: Namanya siapaaa???
R: Tikaaaaaaaa!!!
^_^

Lalu kita sampai di rumah makan sea food yang tadi sore saya lihat ada orang bawa-bawa kepiting hidup. Malam ini kita pesan cumi bumbu pedas, ikan bakar dan kangkung terasi. Gileee... kenyang! Tentram lagi dah ni perut :D
Malamnya kita pulang naik motor ke rumah Riri di Kuta Permai. Setelah packing, kita tidur. Besok harus bangun pagi, karena Merpati ke Bima berangkat jam 9.

Sea food yang lezzzat dengan bumbu khas Bali.

Tanggal 10 Juli ini ditutup dengan perasaan was-was karena mungkin rencana ke Bima (di Sumbawa) adalah sebuah kenekatan dengan resiko tinggi. Tapi... benar atau salahnya, harus dibuktikan sendiri bukan?
:)

-RhoMayda-

 

.:: Singaraja

Tanggal 9 Juli 2008 ini hari pernikahan Judith dan Ketut di Singaraja. Saya kan nginep di hotel situ, dan karena udah jauh-jauh datang dari Jogja (sebenernya sih Banyuwangi hehehee...), ya ngga maulah melewatkan momen bersejarah ini sepeserpun!

Maka jam 4 pagi pihak hotel sudah mbangunin lewat telp. Wadow... sulitnya membuka mata sepagi ini. Tapi saya akhirnya mandi (yes, ada air anget) tidak lupa menggosok gigi. Masih pakai ikat di pinggang yang warnanya pink :) Oke dah. Papa Judith dan Rakesh juga sudah siap. Kita bertiga berangkat gelap-gelap gitu ke Judith. Ternyata jam 5 itu Judith sudah mulai dirias di salon tetangga. Rakesh dan saya setia menemani Judith sambil jeprat-jepret sepuas-puasnya demi menikmati transformasi Judith shubuh-shubuh begini. Laper juga beraktivitas pagi-pagi, ternyata kita dibikinin kopi dan teh, dan dibawain jajanan-jajanan kawinan heheheee... tentram lagi deh ni perut :)

Pagi sebelum upacara pernikahan, ketika Judith dirias.

Setelah Judith selesai dirias (kira-kira 3 jam), kemudian adik Ketut dan Ketut dirias. Adik Ketut dirias karena akan ikut juga upacara potong gigi sama Judith. Upacara ini dibarengkan dengan upacara pernikahan. Judith cantik banget!!!

Ini pasangan pengantin kita, Judith dan Ketut.

Dan ini si kecil Yasmin yang cuantik!!!

Jam 8 ada sembahyang di depan rumah. Kemudian dilanjutkan dengan upacara 'pamitan' (apa to itu namanya?), kayak di Jawa mereka 'sungkem' sama orang tua mereka. Huaduh... ini deh yang paling bikin bete. Lagi asik-asik bikin poto, tiba-tiba mata saya basah ngelihat Judith sungkem sama ortunya. Hiks.... Terharu.... Untung dapet tissue dari Metha.... Dasar cengeng! Oke fokus. Selanjutnya adalah upacara potong gigi. Lalu doa-doa oleh pedanda (gini ya nulisnya) lamaaa banget. Lalu upacara pernikahannya.

Pokoknya seharian tuh upacaraaa mulu. Sakral banget tu lho rasanya. Banten (sesaji) buanyak buanget! Selesai upacara, ditaro di depan gang. Terus ada acara makan siang. Heheheee... langsung santap.

Acara berikutnya adalah resepsi, jam 13.30. Orang-orang berdatangan, makan, lalu pergi. Gitu. Riri (teman sekelas di Leiden yang juga ikut semesteran di UGM) datang jam 13.00. Kita heboh lagi. Apalagi bertiga sama Judith, biasanya kan cuma ngumpul pas di kampus di Leiden. Lha ini di Bali! Waktu Judith nikah! Haha, kita keren ya! :D
Sore gitu saya pamitan sama Judith dan Ketut, mau ikut Riri ke Kuta. Poto-poto dulu, lalu berangkat ke hotel. Ternyata Riri dianter pegawai hotel kakaknya, namanya Kadek. Kita ke hotel karena mau ketemu Metha, dan ngambil ransel. Walah... ini juga bikin heboh, karena Riri kan juga sudah lama ngga ketemu Metha. Sip! Setelah poto-poto dan pamitan lama banget, saya ikut Riri ke Kuta. Wah... perjalanan Singaraja-Kuta ternyata menyenangkan. Kita mampir di danau pinggir jalan, poto-poto lagi (halah).

Foto dulu sebelum Riri dan saya ke Kuta.

Di hotel Bali Taman bersama Metha.

Sampai Kuta sudah malam. Saya nginep di rumah Riri di Kuta Permai. Papa Riri ada di rumah juga. Setelah makan malam dan mandi, kita berdua jalan kaki menyusuri 'by pass' sebentar aja sih sambil ngemil :D

Tanggal 9 Juli berakhir dengan kecapean. Kita ngegosip bentar di kasur, baru tidur.

-RhoMayda-

 

:: Banyuwangi-Singaraja

Tanggal 8 Juli 2008 pagi saya dibangunkan Biba jam 06.30. Ngga jadi ngebo kan? Yes! ^^ Kenapa di Banyuwangi bangun pagi-pagi begini? (pagi???) Itu karena saya akan melanjutkan perjalanan ke Bali! Yeah!!! Kenapa ke Bali? Karena Judith (cewek Leiden temen kita) dan Ketut (pacarnya dari Bali) menikah! Yeah (lagi)!!!

Bangun kedinginan, langsung mandi, kaku dah gigi-gigi saya (emang dari dulu juga sih kayaknya). Siap-siap, anak saya (ransel) sudah nongkrong dengan manis di dekat pintu dan saya sudah wangi. Ternyata di meja tamu sudah ada kopi. Yes! ^^ Sambil ngopi saya tenguk-tenguk ngeliatin anak-anak kecil berdatangan ke rumah sebelah yang pagi-pagi begini sudah mengumandangkan dangdut remix secara rock 'n roll, kenceng banget. Ternyata ada pentas anak-anak jam 9. Banyuwangi meriah, saya suka. Apalagi keluarga Banyuwangi memang sudah dari sononya meriah. Bahkan Budhe. Budhe orangnya ceria, asik. Pagi itu, ketika orang rame-rame berlalu-lalang mendatangi acara pentas anak itu, Budhe tiba-tiba teriak: "Iki ki helm, Nduk! Merusak pemandiangan!" Belian mengangkat beberapa celana dalam ukuran jumbo yang terpampang megah di teras rumah, tergantung dengan elegan sehingga menarik perhatian orang-orang yang lewat depan rumah. Budhe memindahkan jemurannya (ngga lama kemudian saya melihat benda-benda itu nangkring di belakang dapur) ^^ Asik kan keluarga saya!

Ngga lama kemudian Mas Budy sekeluarga datang, saya juga sudah sarapan (jamur lagi, yes!). Sebelum berangkat masih sempat potong kuku dan poto-poto (halah). Dapet angpaw juga hehehe... makasih Mbak! ^^ Jam 9 berangkatlah saya dan ransel diantar Mas Budy naik motor. Mas Budy ngantar sampai Gilimanuk, sampai saya dapet bis yang tepat ke Singaraja (yang konon jarang banget).

Pamitan sama keluarga Banyuwangi, mau ke Bali.

Kapal dari Ketapang berangkat jam 10. Kita bayar dulu, Rp. 6.000 untuk tiap penumpang, dan Rp 14.000 untuk motor. Sip. Di kapal asik, cukup rame tapi oke. Ngga pakai antri lama, walau musim liburan. Ombak juga oke, tapi katanya kalau siang agak ganas. Di tengah jalan (maksudnya di tengah laut) saya ke dak, di atas itu. Bikin poto banyak banget, setelah dicek kembali ternyata potonya sama, biru semua (bodoh).
Di dalam kapal cukup meriah. Ada yang jual bakso, ada yang nawarin barang-barang dengan mic. Dan ternyata, di kapal penyeberangan antara Ketapang Jatim dan Gilimanuk Bali ada yang jual dodol Garut. Hebat ya. Lina bilang, itu adalah dodol Garut buatan Banyuwagi rasa Bali, rasanya pasti gundah gulana ^^ Saya ngga beli, takut bingung.

Di kapal Ketapang-Gilimanuk.

Sampailah kita di Gilimanuk. Di pelabuhan saya mampir toilet. Kebelet. Ketemulah saya dengan cewek bule asal Belanda (dia juga ada di kapal dan saya dengar dia bicara bahasa Belanda) yang ngomong sama saya dalam bahasa Inggris, nanyain apakah toilet yang ini, ini dan ini (ada tiga memang) toilet duduk. Saya bilang ngga tahu. Dia cek sendiri, ternyata jongkok. Langsung pergi dia, kayaknya bete. Kasihan tuh cewek.... Kalau ngga mau duduk di toilet jongkok, ya berdiri aja sih :D

Oke, fokus!
Selesai pipis, kita ke terminal dekat situ. Dapetlah bis menuju Singaraja (ealah... gampang to ternyata). Mas Budy pamit, dia nyeberang lagi ke Banyuwangi (makasih Mas!!!) ^^ Ransel ditaro di belakang, bawah jok dekat pintu. Cukup panas di bis, ini mirip bis yang biasa saya pakai kalau ke Bapak. Ngga terlalu besar, dua pintu (kayak kulkas, tapi ini panas) dan pengap. Hahahaaa.... Aih, saya ngga ngeluh, lagian saya terbiasa dengan bis begini :) justru AC bikin masuk angin (ndeso kan).

Di sebelah saya duduklah seorang ibu Bali. Dia bilang akan turun di Singaraja, Banjar. Judith bilang saya harus turun di setopan Panji. Ibu itu bilang, Panji tuh sekitar 30 menit dari Banjar. Oke deh, saya ngga nyasar. Kita ngobrolin banyak hal: tentang laut utara yang dibilang laut selatan, tentang kain dan kebaya, tentang kostum pernikahan, tentang Pura Jayaprana, tentang keluarganya, banyak. Ibu itu namanya Putu (makasih ya Bu Putu!) ^^

Sampailah saya di setopan Panji. Itu tuh pertigaan jalan yang kalau ke selatan adalah lokasi pernikahan. Sebelum dijemput Kak Emi (kakak Ketut), saya cukup gerogi nunggu di pinggir jalan nempel tembok dengan ransel gede di samping saya. Karena itu setopan, orang-orang jelaslah setop di situ kalau lampunya merah. Dan kalau kurang kerjaan, mereka akan ngelirik ke saya dengan pandangan pertama "Wah ada ransel di pinggir jalan!" dilanjutkan dengan pandangan kedua "Oh, ada yang punya." :D
Datanglah Kak Emi. Kita naik motor bertiga: Kak Emi, saya dan ransel.

Sampai di Judith langsung heboh! Waaa udah lama ngga ketemu Judith! Judith yang dulu sering main ke kos di Leiden, yang sering jadi temen ngobrol sambil minum teh, yang sering jadi temen makan pannekoek di kota, yang sering jadi temen curhat... sekarang menikah! Dan dia cantik sekali dengan kebaya hijaunya :)
Pernikahan Judith sebenarnya besoknya (tanggal 9 Juli), hari ini dia sudah pakai kebaya cantik karena tadi pagi ada upacara "kelahirannya" sebagai Hindu :)

Judith dan Ketut.

Rumah orang tua Ketut sudah dihiasi janur bagus banget. Orang-orang berdatangan bawa hadiah yang dimasukkan ke nampan khusus (kayaknya). Isinya kadang beras, atau gula, atau kado apa gitu. Tamu-tamu yang datang kebanyakan perempuan. Mereka juga pakai kain dan kebaya, cantik-cantik ya orang Bali tuh :) santun gitu. Tapi kadang ada ibu-ibu yang kebayanya kelewat tipis. Duh....
Judith dan Ketut menerima tamu dan ngajak mereka ngobrol. Selebihnya Judith ngga boleh ngapa-ngapain sendiri. Butuh makan atau minum akan dilayani. Dia juga ngga boleh pergi-pergi. Tapi kan bosen tuh gitu terus. Akhirnya Ketut ngebolehin kita ke rumah Judith. Yes! Kita mampir warung beli rujak. Hahahahaaa....

Sorenya kita balik ke rumah ortu Ketut. Saya ganti baju, rok batik dan kemeja, terus dipinjemin selendang untuk diikatkan di pinggang. Cantik! Selendangnya :)
Ngga lama kemudian, tamu-tamu dari Belanda datang. Mereka nginep di Hotel Bali Taman. Ada papa Judith, ada mama Judith, Yasmin, Petra, Willemijn, Rob, Rakesh dan Metha. Waaa... heboh ketemu Metha (teman sekelas kita di Leiden). Kita langsung peluk-pelukan cium-ciuman dan ngegosip heheheheee....

Malam ada persembahan dari teman-teman Ketut, nyanyi-nyanyi gitu sambil main gitar dan kendang. Asik lho. Kita nonton dengan khidmat sambil poto-poto. Malamnya saya ikut tamu-tamu Belanda ke hotel, nginep sama Metha. Ealah... asik-asik lihat musik di Judith sampai lupa makan....

Tanggal 8 Juli diakhiri dengan kekaguman akan kamar mandi hotel yang dindingnya berupa batu-batu kali....

-RhoMayda-

 

.: Banyuwangi

Tanggal 7 Juli 2008 saya seharian jalan-jalan di Banyuwangi. Hari Senin itu serasa diawali dengan bangun pagi-pagiii sekali, ternyata sudah jam sembilan! As*m.... Ngga di Jogja, ngga di Leiden, ngga di Sojomerto... ngebo lancar! Bahkan liburan di Banyuwangi ngebonya turut serta....

Mandi, sarapan. Lauknya pepes jamur (yes!). Jam 10.00 jalan-jalan sama Biba (keponakan). Kita memang berencana beli musik Banyuwangian. Ini karena saya sudah terlanjur jatuh cinta sama "Rehana". Kita naik motor ke kota. Ckckck... saya bahagia. Beli dah VCD Catur Arum, Denata, pokoknya harus dapat lagu "Rehana". Belum puas dengan itu, kita beli satu musik kendangkempul hehehe.... Menyenangkan. Karena tingkah saya ini (beli musik Banyuwangian), orang nanya "Dari mana, Mbak?" Maka otomatis saya jawab "Jogja, Bu" sambil senyum khas orang bangun kesiangan.

Dari kota kita meluncur (padahal jalanan naik) ke Kalibendo. Kalibendo tuh perkebunan karet, sejuk banget di situ. Jalan ke Kalibendo rusak, aspalnya bolong-bolong. Kanan-kiri pohon-pohon rindang. Ijooo banget. Ini mengingatkan saya pada tulisan di pinggir jalan "Banyuwangi Ijo Royo-Royo". Udaranya sejuk (bukan, dingin maksudnya), pemandangan bagus.

Bersama Biba di Taman Suruh.

Biba bilang, tempat ini adalah tempat favorit pasangan muda untuk pacaran (dengan pacar yang wujudnya manusia, bukan komputer) ^^ Ngga kelihatan dari jalan, karena mereka akan "ngumpet" di balik pohon karet yang ramping (yeee ngga ngaruh kali!). Biba juga nambahin, katanya yang lebih yahud buat pacaran adalah pelabuhan. Kalau malam, di situ banyak pasangan mesum berjejer-jejer. Bahkan badan setengah telanjang tuh oke-oke saja di antara banyak orang. Hahahaaa... jadi penasaran ^_^'

Oke, fokus!
Di Kalibendo kita cuma lewat aja, terus puter balik karena tujuan berikutnya adalah Taman Suruh yang tadi sebetulnya udah kita lewati. Tiket masuknya Rp. 6000,-. Itu tuh kolam renang, kayaknya ada tiga, di samping-sampingnya ada taman bermain dengan ayunan, njot-njotan (apa tuh ya namanya yang kayak timbangan?) dan pendopo-pendopo kecil untuk duduk-duduk. Rindang, asri, bersih, adem, ijo dengan banyak bunga warna-warni. Ini juga tempat pacaran (halah).

Setelah puas makan burger, ngobrol dan poto-poto, kita pulang ke kota. Berhentilah kita di stadion Diponegoro, jajan es campur. Hmmmm... sueger di tengah kota yang terik. Terus pulang deh ke Budhe di Pakistaji. Sambil ngopi, saya ndengerin Budhe ngegosipin seorang cewek Banyuwangi:
"Iku lho Nduk, rambute iiiabang sak mene, opo sak mene, nganggo wig. Cok ngene, cok lurus, cok muntir-muntir koyok rambute wong... opo... wong edan iku lho."
Hahahaaa....

Sore-sore kita makan. Ada jamur lagi (yes!). Setelah makan saya telefon Ibu Maryam di Bima. Tapi ternyata beliaunya sedang di Mataram. Malemnya ngopi sambil ngobrol-ngobrol dengan sepupu-sepupu dan Budhe. Kita ngobrolin Bima yang sepi, ngga ada mall, ngga ada taxi dan banyak hutan hehehe....

Jam 23 saya packing karena besok paginya menyeberang ke Bali. Tidur. Malam itu saya mimpi aneh. Aneh karena begitu kuat, mirip nyata. Payah deh. Ngga usah dibahas dah :)
Selesailah tanggal 7 Juli 2008.

-RhoMayda-

 

: Jogja-Surabaya-Banyuwangi

Malem minggu. 5 Juli 2008 saya sudah mulai packing menyiapkan ransel untuk hidup saya selama 9 hari di luar Jogja. Akhirnya keputusan untuk mengunjungi Bima (apaan tuh?) bulet juga. Tiket-tiket sudah dipesan. Penginapan sudah di-book. Oke... bismillah... kita berangkat :)

Senin pagi 6 Juli. Pagi betul, maksudnya adalah jam 02.15. Selesai packing-packing, berangkatlah saya dan anak saya (ransel gede di punggung) ke stasiun Tugu Jogja diantar Ib dan Om. Pacar (komputer) saya tinggal di kamar. Repot dah traveling bawa pacar. Ngga bebas, harus selalu diawasi, takut diambil orang (halah, omong apa sih nih). Lagian, pacar saya berat. Hahahaaa.... Oke, fokus!

Diantar Ib dan Om ke stasiun Tugu Jogja

Oke, siap berangkat! Stay tuned :)

Jam 03.00 kereta Turangga (Bandung-Surabaya) berangkat dari Tugu Jogja. Harga tiket Rp. 100.000,- tempat duduk di 5C (aisle). Di sebelah ada cowok cakep! Tewas dia, makanya dia cakep. Hahahaaaa.... Perjalanan ke Surabaya dihiasi dengan ngebo! Tidur terooos....
Jam 08.45 sampai stasiun Gubeng. Devie (temen dari blogging, inget kan?) sudah menunggu di situ. Bahkan dengan ransel segede itu, dia masih ngga ngelihat saya! Kita memang janjian di stasiun. Rencananya mau sarapan bareng. Jadilah saya membonceng dia naik motornya yang ramping itu. Kita makan batagor di dekat Universitas Airlangga, kampusnya Bung Balung (juga temen dari blogging). Itulah pertama kali seumur hidup batagor jadi menu sarapan :) Makasih ya Dev!

Bersama Devie setelah sarapan batagor, menuju Bungurasih.

Setelah sarapan sambil ngegosip (apa yang digosipin ya?) perjalanan dilanjutkan ke terminal Bungurasih. Terminalnya keren! Masuk tuh adem... ngga panas. Toilet juga oke! Gedeee... wc-nya banyaaak banget. Lantai putih bersih, ngga bau. Bersih! Ada cermin gedeee banget, bisa dandan. Bayarnya seribu :)
Terus nungguin bis ke Banyuwangi. Di ruang tunggu ada orang yang sapu-sapu. Keren kan! :D Devie masih setia menemani (sssahhh...), akhirnya Mba Ida juga datang. Kumatlah kita poto-poto....

Jam 11.30 akhirnya dapet bis juga. Namanya Patas Ladju ke Jember. Bayarnya Rp. 40.000,-. Ransel ditaro depan. Ada AC. Awalnya sepi banget, walo bis penuh orang (duduk, ini kan patas yes!). Tapi lama-lama pas di Porong ada musik campursari.
Wadow... Porong ngeri. Sekarang udah ada tanggu gede banget dibangun di pinggir jalan. Pohon-pohon mati karena lumpurnya itu. Di luar panas, gersang, kering, berdebu. Ckckck... jaga diri ya Por.
Saya duduk dengan cowok lumayan cakep (gede dah kepalamu Yo, hahahaaa...). Tapi cerewet dia (hahahaaa... nyusut lagi dah). Dia nanya macem-macem, tapi saya males banget nanya balik hihihiii.... Tapi dia emang suka ngobrol, repot deh. Dan, tanpa sungkan-sungkan juga suka marah-marah kalau saya ngga paham yang dia omongin (wajar kan, logat Jawa kita kan beda!). Sampailah kita di terminal Jember. Akhirnya kita kenalan. Hahahaaa... kedengarannya bodoh banget ya? Namanya Rio. Dia malah bawain ransel saya ke bis berikutnya yang Jember-Banyuwangi. Baik ternyata orangnya.

Kita masih dalam bis yang sama karena dia juga harus ke Banyuwangi. Bis kali ini ngga ada ACnya. Banyarnya Rp. 18.000,-. Ada pengamen (cakep-cakep tuh!) nyanyiin "Rihanna Rihannaaa..." yang ternyata judulnya "Rehana". Bagus banget lagunya! Menakjubkan! (halah). Musiknya tuh dangdut campursari kekoplo-koploan ^^
Sama si Rio itu ngobrolin penis buaya yang berkhasiat menambah ukuran penis manusia hahahaaa.... Saya juga diajari kata-kata kotor Madura, Nusa Tenggara, Bali dan Banyuwangi.
Rio turun di Genteng. Saya di Kabat (kira-kira 45 menit setelah Genteng). Ditanyain pak kondektur apakah ransel saya berisi bom, saya jawab: "Bukan Pak, isinya bakpia." (Biasalah, ini oleh-oleh dari Ib yang harus dibagikan secara adil dan merata kepada mereka yang saya kunjungi).

Seharian dalam perjalanan (mobil, kereta, motor, bis dan bis) capek juga. Tapi sambutan dari keluarga Banyuwangi sangat hangat, bahkan teh manisnya hangat, dan air untuk mandi juga hangat... :) Setelah itu, obrolan juga hangat. Ternyata mereka cukup shock mendengar rencana saya ke Bima NTB, tapi tertarik juga dengan penelitian yang dilakukan.

Oke, tanggal 6 berakhir dengan menyenangkan....
Saya tewas dengan damai! Yeah! ^_^

-RhoMayda-

 

15.07.2008

. Mojokerto-Surabaya

Perjalanan ini dalam rangka me-refresh otak yang selama beberapa minggu dipenuhi dengan ujian-ujian dan bikin paper. Paper selesai tanggal 21 Juni 2008, malam hari. Langsung dah dikirim ke Leiden, supaya sebelum tanggal 28 Juni (deadline pengiriman paper ke Manassa Jakarta) sudah ada koreksi dari Bapak Suryadi (dosen pembimbing paper di Leiden). Tanggal 22 Juni malam, setelah seharian bingung berangkat ke Surabaya hari itu atau enggak, akhirnya toh saya dapat tiket kereta. Tiket yang dibeli adalah tiket eksekutif kereta Bima (Jakarta-Surabaya), jam 01.05, seharga Rp. 100.000,-. Tapi saya turun di Mojokerto (ngga tau dah di mana itu), waktu itu saya cuma mikir, Mojokerto tuh pasti sebelum Surabaya, soalnya Tom (temen kita yang dari Leiden itu) bilang supaya saya turun di Mojokerto, terus bisa bareng ke Surabayanya. Oke.

22 Juni. Malam-malam ke stasiun Tugu Jogjakarta diantar Ib sampai keretanya berangkat. Waktu itu saya duduk di sebelah seorang ibu-ibu cantik. Walaupun ngantuk, ternyata ngga bisa tidur nyenyak, ngebayangin kalau-kalau Mojokertonya lewat begitu saja (bodoh). Tapi Ib bilang "Kalau udah nyampai Kertosono, Jombang, berarti bentar lagi Mojokerto." Nah, saya tuh nungguin Kertosono dan Jombangnya! (Bodoh banget)

Sampailah di Jombang (cepet kan?) ^^ Sudah shubuh. Penginnya sholat di stasiun Mojokertonya aja. Tapi... di sana ada musholanya ngga ya?
R: Bu' stasiun Mojokerto tuh gede pa kecil?
B: Wah, ngga tau ya Dik, soalnya baru kali ini ke Surabaya lewat sini. Biasanya dari Semarang.
R: Oh.... (Bingung)
B: ... Tapi ada yang njemput kan???
R: Eh?
B: Dijemput kan?
R: Wah iya bener. Ngga tau tuh. (Bodoh)

Tapi ada. Turun di stasiun masih pagiii betul. Sholat dah saya. Enak banget.... Keluar dari stasiun, Tom udah kelihatan. Naik becak ke rumahnya yang di deket alun-alun. Kauman namanya. Masih dingin banget, apalagi naik becak gitu. Jalanan masih sepi. Kota Mojokerto tuh mirip banget sama Blitar. Arus lalu lintasnya ngga terlalu ramai (bodoh, itu kan karena pagi!). Siang kita cabut. Ke Trowulan dulu, baru ke Surabaya (iya tau, ngalang) ^^ Sore sampai Surabaya. Disambutlah oleh Tante Rery dan Mba Ida. Siiip.... Terus kita jalan-jalan ke Ampel. Di situ ada pasar Arab. Kurmanya banyaaak buanget! Makanannya enak... eh maksudnya... pedas. Kopi Marokkonya juga enak... eh maksudnya juga pedas (pake jahhhe).

Trowulan, Mojokerto

Yawis, Tom balik ke Mojokerto, saya ke Tante Rery. Terus sama Mba Ida ketemu Devie di McD (lagi-lagi ke sana ya kita Dev) ^^ Devie (temen kita dari blogging yang di Surabaya itu) mau ke Lombok waktu itu. Ealah... ngobrol sampai malem. Jam 23 sampai rumah.

Dua hari berikutnya (atau tiga hari ya?) saya ngga ke mana-mana. Kerja! Nyelesaiin koreksian Pak Suryadi. Orang yang lihat cuma bisa mual-mual doang, jenuh karena saya pacaran terus (sama komputer). Tapi akhirnya sempat ketemu Seno (temen kita dari Venlo). Nama lengkap Seno adalah Everbody Loves Seno hahahhahaaaa.... Kita rame-rame ke Coffee Corner. Yeah! Ada shisa, Seno langsung bahagia. Gile, Seno bisa tuh kali ya kawin sama shisa. Pas ke Jogja dia juga cuma nyari rokok Arab itu.

Seno dengan shisanya di Coffee Corner Surabaya

Bersama Mba Ida di Coffee Corner di Surabaya

Hari berikutnya kita makan coto Makassar uenak buanget. Terus malemnya nonton Kung Fu Panda rame-rame di Sutos (Surabaya Taon Skwer). Devie juga ikut. Seruuu!!! ^_^ Sehabis nonton, Devie pulang (huuu bete dah, hahahahaaa...). Sisanya karaokean di tempat Mbak Inul. Sssahhh! Keluar dah lagu kebangsaan kita (by The Changcuters) dan Pandangan Pertamanya Slank :D

Gramedia EXPO, Surabaya

Itu adalah malam terakhir di Surabaya (wah... jadi sendu...). Besok paginya Seno balik ke Belanda (hiks...) dan sorenya saya ke Jogja (yesss!) hahahaaa.... Setelah rame-rame nganter Seno ke Juanda, Kris (temen Seno) nganter saya nyari tiket kereta ke Jogja. Di sinilah insiden terjadi! Seru, man! Jadi kan kita naik motor. Saya dibencongin, sori maksudnya diboncengin Kris. Tiba-tiba kita jatuh dengan cool! Nyungsrek gitu di jalan! Sssahhh! Lecet dah tuh kaki. Setelah saya nanya apa yang terjadi (betapa bodohnya), ternyata kita disrempet motor yang bawaannya selebar tiga meter (berlebihan).

Kaki Kris setelah kecelakaan motor, Surabaya

Naik kereta Bima dengan kaki bocel dan pincang-pincang. Sampai Jogja dijemput Ib dan Om. Ketahuan dah kalau anak cewek mereka yang manis ini sempet nyium aspal Surabaya yang hitam manis. Itu luka menjadi bahan ketawaan orang-orang yang ngeliatnya, karena bentuknya mirip banget sama penyakit kulit yang bikin orang jijik dan bilang "euh...". Padahal sumpah perih banget! Udah gitu pake bengkak pula....

Tapi sejak kepulangan saya dari refresh di Surabaya selama seminggu itu, ternyata akhirnya saya suka sama Surabaya. Surabaya itu indah (emotionally). Ada banyak teman di sana :)
Dan dengan ini saya ucapkan terima kasih banyak kepada sahabat-sahabat di Surabaya atas semua-muanya... :)

-RhoMayda-

 

All the posts