16.07.2008
.:::: Bima, 13 Juli '08
Bangun pagi di Bima untuk kedua kalinya terasa lebih oke. Saya tidur masih ngga terlalu nyenyak, tapi setidaknya kamar saya tertutup. Kemarin siangnya saya cek out kamar 210, membayar lunas, dan mendapat kamar ganti nomor 116, letaknya di lantai dasar. Kamar 116 jauh lebih bagus, selisih Rp. 50.000,- ngga masalah. Tertutup, ber-AC, TV, tempat tidur nyaman, ada selimut, kamar mandi lebih besar, wastafel, lantai bersih. Oke!
Jam 08.00 sarapan di restorannya. Menu kali ini daging, pedes.... Tapi saya tetep bikin kopi, yeah! Selesai sarapan, mandi, lalu siap-siap jalan-jalan lagi. Hari ini saya ngga pinjem motor, saya mau jalan-jalan dekat sini saja. Atau ke makam raja-raja, tapi naik ojek saja karena ngga tau tempatnya. Kemarin saya sudah hubungi Ibu Maryam, kita sudah janjian ketemu hari ini (13 Juli) di rumahnya jam 17. Seharian bisa jalan-jalan dulu.
Keluar kamar langsung ke mas-mas VCD di pasar. Kali ini saya sudah tahu mau beli VCD apa. Dikasih tau cewek-cewek counter beberapa musik khas Bima: gambus, biola Katipu, dangdut. Hehehee... masnya heran. Di situ saya dapet sms dari seorang pegawai Merpati di dekat hotel, katanya mau ngobrol-ngobrol berbagi pengalaman karena dia tahu saya anak Bahasa Indonesia., Dia sendiri Sastra Inggris. VCD saya taro di hotel dulu, baru saya ke Merpati, menemui Mbak Yanda itu.
Walah! Ini adalah berkah! :)
Mbak Yanda bersedia diajak jalan-jalan. Yes! Jam 13.00 kita keluar Merpati, menuju masjid Sultan (hehehee... pengin sholat di situ, dan poto-poto) yang letaknya di seberang lapangan museum ASI Mbojo. Ngga jauh. Dari situ kita makan bakso dulu, mie bakso yang seharusnya putih tuh di situ biru! Ajaib! Ohya, harga baksonya Rp. 6000,-. Setelah kenyang, kita melewati Jl. Sulawesi, di ujungnya mencari 'benhur' (dokar atau andong). Naik benhur tuh ternyata ngga senyaman naik andong di Malioboro. Ini ya, begitu naik, benhurnya 'njomplang' ke belakang. Heheheee... terus goyang-goyang gitu. Tapi selebihnya, yang penting adalah pengalamannya. Saya mensyukuri pertemuan dengan Mbak Yanda, karena kalau ngga ketemu dia mungkin saya ngga berani naik benhur sendirian. Ohya, kudanya saya beri nama Michael.


Tujuan pertama kita adalah Tolobali, salah satu situs makam raja. Situs ini terletak di tengah kampung. Makamnyaluas dan terang, di tengah ada pohon besar. Kompleks makam raja dibatasi pagar besi. Di luar itu adalah makam-makam umum. Ada tiga makam utama, dua masih berkubah, satu terbuka. Makam-makam itu adalah makam Sultan Jamaluddin (sultan ke-4), Sultan NUruddin (sultan ke-3) dan Sultan Abi'l Khair Sirajuddin (sultan ke-2). Makam raja yang terkenal sebetulnya adalah Dana Traha, letaknya di atas bukit. Tapi begitu melihat makam Tolobali, saya langsung mengenali foto dalam buku J. Noorduyn Bima en Sumbawa. Foto itu dibuat pada tanggal 2 Agustus 1910. Dan saya di situ membuat foto makam yang sama pada tanggal 13 Juli 2008. Wow.... (Halah)

Dari Tolobali kita ke Dana Traha. Benhur tidak bisa menanjak terlalu jauh. Dana Traha adalah kompleks makam raja yang letaknya di atas bukit. Kita harus jalan atau naik ojek. Mbak Yanda menunggu di bawah bersama dua orang bapak. Saya jalan ke atas, bareng sama dua orang anak laki-laki yang kebetulan juga mau ke sana. Gila! Pemandangan dari atas kelihatan bagus banget!!! Seluruh Bima bisa kelihatan! ^.^ Yeah!!!
Saya ngga bisa tahu ini makam siapa, karena ngga boleh masuk. Cuma bisa bikin foto dari luar pagar. Tapi ngga apa-apa, bisa ditanyakan orang kapan-kapan :)
Masih takjub dengan apa yang bisa dilihat dari atas bukit itu, saya bikin foto sana-sini. Dana Traha katanya rame banget kalau Minggu pagi. Orang-orang beradatangan untuk olah raga pagi, ada juga yang jualan. Mungkin mirip Sunday Morning di UGM :)


Puas dengan Dana Traha, kita lanjut ke sebuah kampung (lupa dah namanya), masih bersama Michael. Sebelumnya kita mampir pasar di kota beli Kinca/Kawi (apel Bima katanya), untuk rujakan ntar malam heheheee.... Ternyata banyak aktivitas juga di kampung di Bima: bertani, industri genteng, pemilik benhur.... Asik dah. Dalam perjalanan pulang kami berhenti sebentar mau beli ro'o parongge (daun kelor) di orang kampung, tapi ngga boleh beli suruh metik aja di pinggir jalan. Mas benhur memanjat pohon, metik daun kelor. Di Bima, sayur kelor adalah makanan khas. Yes! Kita masak itu di rumah Mbak Yanda :)
Kita pulang ke hotel sebentar ambil oleh-oleh untuk Ibu Maryam, sore ini kita ke sana (saya dan Mbak Yanda). Karena museum Samparaja dekat dengan rumah Mbak Yanda, saya ditawari main ke rumahnya. Walah, keluarga Mbak Yanda asik! Mereka ramah banget, baiiik banget! Disuruh makan dulu, pakai daun kelornya, baru setelah itu ke Ibu Maryam.
Ada tiga tamu di rumah Ibu Maryam. Mereka dari Unhas. Kita masuk aja. Akhirnya malah kenalan dan ngobrol bareng. Lalu datang lagi Pak Iwan, dosen STIT yang sering menemani dan membantu Ibu Maryam. Obrolan makin seru. Ternyata besoknya (tanggal 14 Juli) ada seminar di museum istana. Sayang sekali saya sudah ngga di Bima.... Kita di Bu Maryam sampai malam. Jalan-jalan di museum Samparaja juga, lihat-lihat naskah, lihat bo' (buku harian istana). Wow....
Saya juga sempat mencicipi sambal Bima, namanya bohi dungga. Sambal ini warnanya kuning, dan ditaro di botol air mineral ukuran besar. Bahan utamanya adalah jeruk. Ditambahi cabe dan garam, sedikit gula, jadi deh sambal Bima. Rasanya asem! Enak banget!!! Hahahaaa... saya langsung suka sama makanan itu! :p


Jam 21.30, setelah puas poto-poto, Mbak Yanda dan saya pamit. Di rumah Mbak Yanda kita masih sempat ngerujak Kawi. Kawi adalah buah khas Bima, dan sangat membantu bagi Anda yang punya masalah dalam peluapan emosi. Cara membuka buah Kawi ini tidak dengan diiris menggunakan pisau, tapi dibanting! Hahahaaa... iya dibanting! Dibanting di lantai rumah :D Keren banget kan! Emosi makin memuncak, makin cepet buahnya kebuka hahahahaaa.... Buah ini rasanya kecut sepet, dan ternyata bikin serak (ketahuan besok paginya), dimakan dengan garam dan cabe. Sedddaaap....

Di rumah Mbak Yandalah saya sadar bahwa handphone saya hilang :( Dicari-cari ngga ada. Ya sudah saya memutuskan untuk mencarinya di museum Samparaja besok paginya saja. Pulang ke hotel dengan perasaan campur-aduk. Saya minta tolong mas pegawai hotel yang ada di ruang depan untuk membangunkan saya besok paginya jam 6 karena saya ngga punya alarm lagi. Dia mau. Malam itu saya packing. Lalu tidur....
Perjalanan di Bima hampir usai....
-RhoMayda-
06:23 Posted in Perjalanan | Permalink | Comments (6) | Email this





Comments
imaaaaa ,,, kok kamu gak beli Kawi untuk dimakan di Jogja? hehehe ,, aku suka photo chowox2nyaa ... dannn . turut berduka atas hilangnya hapemu ... im calling u all day long hari senin ,, ... wondering that ure not sms me ...huixx ...
hummm ,,, glad u enjoy yr tripp!! ,,,
muaaaaaachhhh!
Posted by: nikenoz | 16.07.2008
hapemu... :-(
Posted by: devie | 16.07.2008
hm...................bgs
bgs ........
Posted by: kamayasi | 22.01.2009
wets,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
kota bima,kota yang menyimpan sejuta kenangan manis...............
tpi Qu skrag lgi jauh ma kota tercintaku,,
Qu,,,,,,,,,,,,,,,kulia
h di mksr, tEpatn di universitas hasanuddin
Posted by: ompu mbozho | 16.05.2009
ya alloh ko bisa hpmu ilang.. .
yg sbar yah. . . ntar lok dah nyampe home. . . kash tau ortumu suruh beli hp baru. . .
hehe. . .
adh jadi kpengen pulang. . .
BIMA i'm comeng hahah
Posted by: c_latotycr | 01.07.2009
hmm... bima.... ga ada yg istimewa deh... yang ada hanya itu2 saja.. kehidupan masyarakatnya biasa aja... tapi aq tetap cinta bima.... bima dalam keadaan terpuruk.. perkembangan ekonomi masyarakatnya teramat lamban.... solusinya bima butuh pemimpin yang benar2 cinta mati ma bima.... forzaa bima...
Posted by: ake_madi | 12.08.2009
Post a comment