16.07.2008

:::: Bima, 12 Juli '08

Ini adalah bangun tidur pagi hari pertama saya di Bima. Biasa aja sih heheheee.... Jam 8 saya ke bawah untuk sarapan di restoran hotel Lila Graha. Dengan piyama dan jaket hitam saya ngantuk-ngantuk duduk di kursi yang paling dekat dengan trotoar. Buku harian, handphone dan dompet saya bawa. Mbak pegawai hotelnya bawa makanan ke meja: nasi putih, sayur bening dan bandeng presto. Yes! Dia bilang, "Teh dan kopinya di sana ya," sambil menunjuk meja di belakang. Oke, mari kita ngopi :)

Selesai sarapan, ke kamar lagi. Mandi pagi tak lupa gosok gigi. Karena ini adalah kamar kelas ekonomi, ventilasi di kamar tidur dan kamar mandi ditutup pakai kertas koran. Gila! Sewaktu mandi, tuh koran bergerak-gerak! Paniklah saya! Dengan prasangka buruk bersliweran di kepala, saya buru-buru keluar kamar mandi dan menutup pintunya keras-keras! Ih ngeriii.... Ganti baju takut-takut, buru-buru bersiap-siap. Agak tenang gitu, akhirnya keluar kamar. Karena masih syok, saya telp Ib di Jogja. Ib bilang, "Pindah kamar aja, selisih lima puluh ribu ngga apa-apa, asal aman nyaman."

Pagi ini saya janjian sama cewek-cewek counter untuk jalan-jalan di museum istana, mereka saya culik dari kerjaan mereka. Alasan mereka, Sabtu biasanya sepi (hehehhee...). Jam 09.30 kita jalan kaki ke museum ASI Mbojo. Ealah, ternyata Hendra pak polisi datang nimbrung, tapi ngga ngikut ke museum. Cewek-cewek agak heran kok saya kenal cowok itu :D

Sampailah kita di museum. Tiket masuknya Rp. 2000,-. Kami bertiga: Neti, Nina dan saya. Pagi itu rameee banget murid-murid SD pakai baju pramuka (jadi ngerasa tua, heheheee...). Museum ini dulunya adalah istana kesultanan Bima. Tahun 1927 museum ini mengalami pembangunan ulang (re... apa? Rekonstruksi? Reformasi?). Cukup besar lho bangunannya, memanjang. Teras depannya luas dan tinggi.

Museum ASI Mbojo, Bima.



Kita masuk dengan menaiki tangga-tangga kecil sepanjang teras. Di dalam sebelah kiri terdapat tangga ke lantai atas. Di lantai dasar ada bermacam-macam ruangan. Sebelah kiri adalah Ruangan Emas, menyimpan senjata-senjata dan peninggalan istana yang terbuat dari emas. Sebelah kiri adalah pakaian-pakaian adat, perangkat tradisional dan uang zaman dulu. Di atas ada kamar raja dan putra-putri raja. Ada juga ruang kerja raja di ujung sebelah utara. Yang menarik dari ruang kerja raja adalah bahwa ruangan ini tidak bermeubel. Katanya raja kerja lesehan, duduk di lantai. Kalau ada tamu, tamu itu juga lesehan. Katanya, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah :) Di ujung satunya lagi terdapat beberapa ruangan kosong yang salah satunya memiliki akses ke ruang lantai dasar yang berupa tangga sempit. Ruang-ruang kosong itu adalah ruang tempat tinggal para jin istana dan ruang eksekusi pembangkang peraturan istana. Hehehe... serem ya. Si Neti dan Nina merinding katanya :)
Di bagian tengah lantai atas ini terpampang papan dengan aksara-aksara Nusantara, salah duanya adalah Bima dan Jawa. Di pinggir selatan terdapat contoh pelaminan Bima dengan sebelah kirinya kostum pernikahan rakyat biasa dan sebelah kanannya kostum pernikahan keluarga istana.

Loteng ruang eksekusi.

Di luar museum, masih dalam kompleks museum istana terdapat bangunan lain yang katanya adalah tempat tinggal. Tapi ada juga yang bilang kalau tempat itu sakral. Walah....
Dari cewek-cewek di counter saya dengar bahwa Bima itu kental dengan mistik. Ngga kelihatan memang dari luar, tapi itu betul-betul ada. Saya sering sekali dinasehati untuk berhati-hati. Katanya, kalau orang Bima sudah sakit hati, dia bisa berbuat apa saja. Dengan diam saja dan memperhatikan satu rumah, rumah itu bisa terbakar dan apinya ngga merembet ke rumah kanan-kirinya, meskipun rumah-rumah itu berhimpitan. Duh Gusti....

Oke, fokus! :D
Kami sudah selesai jalan-jalan di museum. Saya hubungi Hendra, siapa tahu mau ikut jalan-jalan keliling Bima naik motor. Tapi dia sibuk katanya. Ya sudah, kita pulang ke hotel. Mereka melanjutkan kerja, dan saya siap dengan motor yang saya sewa dari Pak Soni, ojek langganan Lila Graha.

Dengan motor itu saya keluar Jl. Sumbawa, ke kiri Jl. Sulawesi mengitari lapangan museum istana. Belok kiri menyusuri Jl. Sukarno Hatta. Di kanan jalan ada masjid Sultan M. Salahuddin. Lurus terus ada stadion, sebelahnya ada semacam pendopo yang biasanya digunakan untuk pernikahan. Sebelah pendopo itu ada perpustakaan (pengin ke sana tapi ngga jadi). Lanjut sampai bosan. Melewati rute yang dilewati Hendra malam itu. Ada makam di bukit, ada batu keramat besar di pinggir jalan, ada taman kota di tengah jalan, memisahkan dua ruas jalan. Lalu saya balik lagi ke kota.

Melewati terminal, lurus terus ke arah bandara. Nah, di situlah sepanjang jalan saya berdecak-decak kagum dan membuktikan dengan mata kepala saya sendiri bahwa Tuhan itu hebat! Pantai di sebelah kanan berwarna biru, terlihat luaaas dikombinasi dengan gunung di kiri kanan, pohon-pohon kelapa.... Sampai ke daerah Panda, itu artinya, bandara semakin dekat. Di Panda banyak orang berjualan jagung bakar di kanan-kiri jalan. Saya masih mengendarai motor melewati Panda begitu saja. Keluar Panda jalanan mulai menanjak tajam, ini perbukitan. Turun situ adalah daerah Belo. Di pertigaan saya belok kanan, parkir motor di pinggir jalan dan menikmati luasnya tambak bandeng di pantai. Di sinilah kamera saya pertama kali beraksi.

Pantai di pinggir jalan antara bandara dan kota.

Puas jeprat-jepret di situ, saya ambil rute yang sama ke arah kota, mampir dulu di Panda beli jagung bakar dan ngobrol sama yang jual. Perjalanan pulang inilah yang agak lebih lama dari berangkatnya, karena saya berhenti tiap lima meter untuk bikin foto (berlebihan). Baguuus banget landscape-nya! Kendaraan-kendaraan yang melewati saya biasanya kasih klakson. Foto-foto yang saya ambil temanya ngga lepas dari pantai dan bukit. Wow... asik! Panas ngga terasa lagi :)

Sudah sore dan capek akhirnya pulang ke hotel. Di counter kenalan dengan Pak Mahfud. Dia ajak saya ke pelabuhan dan ke kampung Kolo (iya ya?) yang letaknya di atas bukit untuk melihat pelabuhan, pantai dan kota Bima dari atas. Baguuus banget! Foto tambah banyak hehehheee.... Malamnya kita makan di Amahami (gini ya nulisnya?) dekat Lawata. Lawata adalah tempat orang pacaran kalau malam. Gile, motor diparkir. Ini tempat nongkrong anak muda, sepanjang pantai rame buanget! Jam 21 ke arah hotel.

Pulau Kambing, dilihat dari atas bukit.

Ada yang menarik ketika kita tiba di hotel! :)
Jadi di ujung Jl. Sumbawa, tepat di depan pos polisi, banyak orang berkumpul sangat gaduh, padahal sudah malam. Di situ ada kontrol helm. Malam Minggu ternyata banyak yang ngga pakai helm. Kalau ada yang kena, mereka teriak. Heheheee.... Kata pegawai hotel, biasanya ngga ada kayak gitu, tapi ini kok tumben malam-malam, pas malam Minggu pula.

Hari ini saya betul-betul terkagum-kagum pada keindahan kombinasi alam Bima. Bukitnya memang bebatuan, pasir pantainya memang ngga putih, tapi kombinasi gunung, laut, warna biru, hijau, coklat, bagggus banget!

:) Kalian harus ke Bima sendiri....

-RhoMayda-

 

Comments

someday harus kesana kayaknya *ngemail juragan di jkt supaya project lanjut ke sumbawa*

Posted by: devie | 16.07.2008

Mbak,

Bagus banget cerita_nya kapan2 main lg dong ke bima nanti kita tunjukkan tempat yang asyuik dech....

Posted by: alfiansyah | 28.07.2008

baru tau y??? gw sebagai anak keturunan bima bangga dounkz ternyata ada yg cinta m keindahan bima...kebetulan gw lahir d jkt, cm ortu gw z yg bima...dulu seh males bgt klo k bima, gersangnya itu bo'....kayak di baghdad...hehehe...tp setelah gw pikir2, ternyata bima tuh masih asli bgt n belum terjamah m tangan2 nakal...ajiiib lah...

Posted by: weer_dha | 08.09.2008

Post a comment