16.07.2008
.::: Bali-Bima
Jumat tanggal 11 Juli 2008 bangun jam 6. Mandi lalu siap-siap. Pagi ini dimulailah perjalanan ke Bima yang sebenarnya. Ke bandara Ngurah Rai diantar Riri (kita boncengan) dan Wayan yang bawa ransel saya.
Jam 9 cek in ngga pakai antri karena saya satu-satunya pada waktu itu yang cek in. Mbak yang jaga loketnya ternyata orang Jogja, dia mengomentari reservasi tiket saya Merpati Denpasar-Bima yang dipesan dari Jogja. Ketahuan deh kalau saya dari Jogja.
Di ruang tunggu saya iseng menebak-nebak siapa saja yang akan sepesawat dengan saya. Kurang kerjaan memang, tapi saya betul-betul penasaran....
Ternyata cukup banyak kok heheheheee.... Dan ada bulenya (halah). Tempat duduk saya diambil orang. Saya udah bilang sama mbak-mbak Jogja yang di loket tadi kalau saya mau duduk dekat jendela, akhirnya dapet. A. A itu dekat jendela. Ealah... didudukin orang yang C. Yawis, males ah mbahas :)
Merpati cukup oke. Kita dapet snack. Lumayanlah, sarapan. Hmm... perasaan makin ngga karuan. Ya gimana lagi, agak serem ngebayangin di kampung orang sendirian. Bima seperti apa saya juga ngga tau. Kalau ada yang masih belum tau, Bima itu....
Gini deh. Bima tuh sebuah kabupaten di NTB, letaknya di bagian timur Pulau Sumbawa. Itu tuh dulu kerajaan lumayan sukses di Nusantara Timur. Kebetulan naskah yang saya garap adalah naskah Bima, jadi pengin ke Bima kan. Orang bilang Bima tuh sepi, kota kecil, lebih kecil dari Banyuwangi yang sebetulnya udah kecil :) Tadinya nyali sempat menciut, tapi itu ngga beralasan. Kan kedatangan saya ke Bima untuk ngelihat Bima tuh kayak apa. Jadi ya apapun itu, pasti saya dapetin. Iya kan? :) Selain itu sih, udah janjian sama Bu Maryam. Beliau adalah putri sultan terakhir Bima (M. Salahuddin), ibu pak bupati Bima sekarang (Ferry Z.), dan rumahnya sebelahan dengan museum Samparaja yang menyimpan naskah-naskah kuno Bima. Ya harus ke Bima kalau mau ketemu beliau :) Jadi jangan mengeluh! ^^
Sampailah saya di Bima. Deg deg deg.... Sebelum mendarat saya sempat melihat gunung-gunung.... Setelah mendarat saya masih melihat gunung-gunung itu :) Kayaknya airport M. Salahuddin dikelilingi gunung-gunung deh. Atau jangan-jangan Bima emang di antara gunung-gunung itu? Ah, alhamdulillah sampai Bima dengan selamat :)
Bandaranya kecil, jadi ngga mungkin nyasar. Yeah! Setelah ambil bagasi (ransel), saya ke toilet setengah berlari karena betul-betul kebelet buang air besar. Ransel ditaro, langsung menuju toilet yang paling ujung. Walah! Ngga ada pintunya! (Sempat berpikir, jangan-jangan toilet di Bima emang ngga ada pintunya. Bodohnya saya...) ^^ Pindah ke toilet sebelahnya... ada pintu! Bisa dikunci! Pintu dengan sistem penutupan dan penguncian normal! Hebat! (Halah) :p Maaf....
Dan ternyata sakit perut diakibatkan oleh makanan semalam (sea food pedes di Bali).
Setelah itu saya cari pesan taxi di bandara. Dapet! Ke Hotel Lila Graha seharga Rp. 50.000,-. Tiba-tiba segerombolan bapak-bapak menyerbu mbak yang jaga loket taxi dari berbagai arah. Mereka teriak-teriak dalam bahasa Bima begini: ^&%$%^$8!!! &%$%(!!! $#&*!!! Yang artinya... saya ngga tau :(
Lalu mbaknya bilang supaya saya mengikuti bapak yang dia tunjuk. Uang sudah di bapak itu, dia menuju mobil setengah berlari. Tiba-tiba orang-orang yang menyerbu mbaknya gantian menyerbu bapak itu. Masih teriak-teriak dalam bahasa Bima. Saya bingung juga. Tapi karena ngga diajak ngomong apa-apa saya berpikiran, itu ngga ada hubungannya dengan saya :)
Sudah agak tenang gitu saya dipersilakan masuk mobil.
R: Tadi ada apa?
B: Biasa kalau ada uang....
Di mobil kita ngobrol-ngobrol. Perjalanan bandara-kota asik, kita melewati pinggir pantai. Plat nomor di Bima tuh EA. Sampai di hotel langsung dapat kamar, no. 210. Itu tuh kamar ekonomi dengan TV. Ada dua tempat tidur, TV di dinding (gile, ada HBO-nya!), ada kipas angin yang hampir jatuh, kamar mandi super kecil. Tapi saya langsung suka! Apalagi karena so far so good. Saya tidur... (kebonya kumat).

Jam 12an bangun, mandi. Seger dah! Lalu dengan semangat dan tanpa dosa, saya keluar hotel membawa misi suci: jalan-jalan sekitar hotel! Tapi ternyata toko-tokonya tutup! Saya kan butuh peta! Ya gimana mau mulai jalan kalau ngga ada peta???
Yawis, sudah wangi begini, sayang kalau niat batal. Akhirnya saya mau ambil resiko nyasar, dan jalan-jalan. Keluar hotel ke kiri, mentok kanan, kanan lagi, di pojokan ada yang jual VCD. Saya pilih-pilih VCD Melayu. Mas-mas yang jual sempat ngajak ngobrol dikit. Dari situ kanan, pasar. Ada beberapa orang masih jualan. Jumat siang biasanya tutup karena sholat Jumat. Saya mampir warung sate. Makan di situ, dan orang-orang ngelihatin saya kayak ngelihat orang ilang. Padahal saya tenang-tenang saja. Dari situ lanjut luruuus terus, ealah... saya tuh cuma muterin satu blok aja. Itu depan udah hotel lagi! Bodoh....
Ya udah, ke hotel aja dulu, nungguin toko buku buka, jadi bisa beli peta dan jalan-jalan sungguhan. Ternyata di hotel mbak-mbak yang jaga counter hp di situ sedang rujakan. Saya ditawari juga. Oke dah! Tau nggak mereka rujakan apa? Jadi... bahkan di Bima, ada orang makan mangga muda dengan garam dan cabe! Hahahaaa... kirain cuma Niken dan saya aja yang mau makan gituan! ^^ Sambil ngerujak kita ngobrol-ngobrol seputar Bima. Cewek-cewek itu ngasih tau tempat apa saja yang harus dikunjungi di Bima. Jadi ada Lawata, pantai tempat nongkrong anak-anak muda. Ada juga pinggir lapangan depan museum istana, di situ kalau malam warung-warung ramai dikunjungi orang. Ada makam raja-raja, pantai pasir putih di Wera, Pulau Ular, Pulau Kambing, museum istana, ini dan itu. Buanyak! Mereka juga tertarik dengan cerita saya kenapa bisa sampai Bima. Sip dah! Toko buku sudah buka. Saya ke sana, dan mereka ngga punya peta kota Bima. It doesn't even exist! Hahahaaa....
Agak sore, diantar Neti (salah satu cewek di counter) lihat-lihat museum istana (ASI Mbojo). Besok paginya kita mau jalan-jalan ke sana. Neti naik angkot pulang ke rumahnya. Saya iseng menyusuri Jl. Sulawesi. Di situ ada supermarket Lancar Jaya. Saya ingat, Neti pernah cerita LJ itulah yang terkenal :) Saya ke situ beli air dan roti untuk di kamar.
Dari situ mau balik ke hotel, tapi mampir dulu ke pos polisi di pertigaan Jl. Sulawesi dan Jl. Sumbawa. Tanya pak polisi apa di situ ada peta Bima. Ealah malah disuruh duduk diajak ngobrol. Terus dia ajak satu polisi lagi (lebih muda, ternyata namanya Hendra) ngobrol sama kita. Katanya, kalau jalan-jalan di Bima lebih baik ditemenin orang yang tahu Bima. Nah, Hendra ini ngajak saya kenalan sama temannya (namanya Arman) yang masih kerabat kesultanan Bima. Dia memboncengkan saya naik motornya (udah gelap lho!) ke rumah Arman. Kita ketemu ibunya, mereka ngobrol pakai bahasa Bima. Arman ngga di rumah. Kita balik, tapi muter lewat STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah). Di kanan jalan, dia bilang, ada makam di bukit, ada batu di pinggir jalan yang kalau dipindah orang sekampung bisa celaka. Terus belok kiri, jalan makin gelap (hiii...). Katanya, itu jalan tembusan ke museum Samparaja. Lah, ngga taulah, saya mbonceng jadi ya harus ngikut. Tibalah kita di jalan besar, di situ listrik mati pula! Sssahhh... serem. Museumnya kelihatan, bagus bangunannya :)
Akhirnya kita sampai di pos dengan selamat. Setelah tukeran nomor hp dan pemberian jaminan keselamatan pada saya, saya pamit balik ke hotel.
Setelah naro barang-barang yang tadi dibeli, saya cari makan. Kata Hendra, orang Bima suka makan di warung makan Arema Malang, di seberang LJ. Ya saya ke sana aja :) tidak lupa pesan kopi.
Selesai langsung pulang ke hotel ngga berani pulang malam ;)
Itu tanggal 11 Juli. Tidurnya ngga nyenyak....
-RhoMayda-
06:20 Posted in Perjalanan | Permalink | Comments (8) | Email this





Comments
kota satu blok kayak gitu memang ndak butuh peta May. :-D
Posted by: devie | 16.07.2008
Thank You for being our customer !
wow,u know Bima so well,aku sendiri yang uda lama tinggal di Bima baru tahu beberapa tempat yang kamu sebutin he3x.
mestinya kamu harus nyoba Bandeng Bima,terkenal manis dan enggak bau amis. :)
Posted by: LancarJaya Supermarket | 15.11.2008
hebat mas ini,
udah merasakan cuaca bima yang hangat. kalau tamu datang kebima pasti dianggap salah satu keluarganya loh, jadi kalau mau belajar ikatan kekeluargaan berlama-lamalah di kota itu.
fahry
rien_marewo@yahoo.co.id
Posted by: fahry | 29.11.2008
Kalau dulu bima itu indah sekali, pegunungannya hijau, sawah membentang menyegarkan mata, tapi sekarang, bima gersang, sawahnya aja jadi lahan pembuat batubata,,sayang sekali....ya
Posted by: muhammad ali | 11.03.2009
bima adalah kota berkembang saat ini,kalau anda mau datang ke Bima jangan lupa mampirlah ke Amahami.dan di sana tidak kalah dengan suasana di bali atau di Mataram.apalagi lampu-lampu hiasx membuat kota bima juga termasuk kota yang mempunyai kehidupan malam,..? bima juga di kelilingi oleh pegunungan dan pantainya yang indah n asri . jangan lupa main-main ke kota Bima ok.........??
Posted by: UPHIN | 14.05.2009
keindahan Bima sekarang dah ilang karena dikikis terus oleh para infestor yang haus akan pertambangan,so' gunung-gung dulu yang hijau berubah jadi kuning karena gersangnya...................huh menyedihkan
Posted by: fany | 08.06.2009
trims udah nulis info tentang bima, walaupun cuma sedikit. tapi itulah bima walaupun gersang dan tandus begitu tetap tempat yang selalu kurindu karena disitu tempat saya hidup dan tinggal sekarang
Posted by: ichwan | 15.07.2009
thaks berat. mau tahu tentang bima. sejuta thanks. seandainya bisa ketemu aku akan kasi penghargaan putri indonesia sejati.
kutambahkan lagi thanksnya.
Posted by: ewon | 21.08.2009
Post a comment