23.11.2007

Melacur

[Hati-hati, tanggunglah resiko interpretasi sendiri-sendiri. Salah paham, rasa jijik, bingung, marah, mual-mual, sakit kepala dan tersinggung bukan tanggung jawab penulis. Bila sakit berlanjut, hubungi dokter....]



 

Iya, tahu, pastilah jadinya sedih kalau dengar keluhan dari orang tua kita. Apalagi kalau berhubungan dengan ekonomi keluarga. Tapi kamu tahu nggak? Anak tuh ya, ngga wajib menafkahi orang tua.

??^%!!!

Kamu harus tahu! Supaya ngga menjadikan itu sebagai beban. Kamu tuh punya kewajiban sendiri. Misalnya, kalau mahasiswa ya kuliah. Tapi anak ngga wajib menafkahi orang tua. Ngga wajib, tapi kalau ada, ya lebih baik membantu. Tapi kan kamu masih belum bisa cari nafkah sendiri. Kuliah masih dibiayai. Beda kalau kamu sudah kerja.

&^&*)&**((^^&%^%$#$

Nah ituuu! Aku setuju sama dia. Berhenti kuliah tuh bukan solusi. Yang kamu rasakan hanya emosi sesaat, ngga boleh diikuti. Dia berpikir logis, maju. Kamu yang ngga logis! Kalau sekarang berhenti kuliah terus ke kampung, kamu bisa apa? Coba aku tanya, rencanamu apa kalau kamu berhenti kuliah? Kamu punya rencana logis dan nyata? Apa? Apa? Mau apa? Kamu mau kerja di hutan? Kalau nggak, kamu mau melacur kayak kasus-kasus biasanya itu??? Itu tuh, yang nyata. Kamu mau???

?????????????!!!

Lho, serius! Ya terus, mau ngapain dong? Kamu sudah punya modal apa sih sekarang??? Usia masih segitu! Mau ngapain? Iya kalau bisa mbantu orang tua. Ke hutan atau melacur, dapat duit. Kalau kamu malah nambahin beban???
Gini deh, kamu kuliah mumpung masih ada yang mbiayain. Emang sih kamu ngga bisa ngerasain manfaatnya sekarang. Tapi besok, besok kalau ini sudah terjalani, manfaatnya bukan cuma buat kamu atau orang-orang terdekatmu. Tapi orang banyak! Masyarakat!

*&^%^#$&&(* masyarakat???????

Iya dong! Ilmu yang kamu dapatkan sekarang, suatu saat akan kamu transfer ke orang lain. Orang lain akan belajar dari kamu. Tapi untuk itu perlu proses. Pro... ses! Namanya juga proses, bukan sesuatu yang instan. Harus dijalani. Mungkin sekarang kamu ngga bisa ngapa-ngapain selain menjalani proses. Kamu merasa ngga berguna. Tapi begitu proses itu selesai, keuntungan yang didapat akan jaaauh lebih besar, dan akan dirasakan oleh lebih banyak orang, daripada seandainya kamu berhenti sekarang. Bener itu!

*(&^&%^&%&

Besok, kalau kamu sudah lulus, terus cari beasiswa buat nerusin S2-nya sekalian di sini, kamu kan bisa kerja di sini. Terus kamu punya duit. Naaah, bisa deh bantu orang tua. Di sini kamu bisa jadi peneliti, misalnya.

?????????peneliti???!!!

Lho, kamu suka kan? Enak tuh, bisa cari nafkah sendiri.... Oh iya satu lagi. Orang tua tuh hebat!!! Namanya orang tua, sesulit apapun keadaan mereka, diusahakan ngga pernah menyulitkan anak-anak mereka, apalagi menimpakan itu sebagai beban. Orang tua akan terus berjuang, karena bagi mereka, itu wajib. Kamu tahu kan? Suami menafkahi istri dan anak-anaknya tuh wajib. Itu yang diajarkan Islam. Kalau orang bule mah... lain lagi aturannya.

Gini, kalau besok jadi peneliti, kamu bisa jadi bakal keliling dunia ngumpulin naskah. Enak kan!

... 

Ya.... Kalau kamu ngga mau, ya... itu ajalah, melacur. Heheheheee.... Tapi... masalahnya... kira-kira laku nggak ya?

$€+4N!!!

Hahahahhaaaaa....

!!!

 

Salaam,
RhoMayda



_____________

Terima kasih buat mas-mas yang (iya deh saya akui) sedang ngurusin masternya dan yang sering menganaktirikan saya cuma gara-gara saya masih semester tiga. Makasih atas nasehat-nasehat bijaksananya, walaupun kadang kisruh. Jauh-jauh ke sini, bukannya ntar balik jadi pinter, saya malah jadi 'rusuh' karena keseringan bergaul dengan kalian. Dasar cowok, obrolannya itu-itu aja. Semua yang diomongin mesum dan konotatif! ^_^

Makasih atas obrolan di Lipsius Kamis sore lalu. Jujur, pikiran saya sebelumnya paling banter ya ke skripsi, atau kalau papernya bisa bagus ya maksimal bisa dipresentasikan di seminar di Bandung tahun depan. Eeh, ternyata kalian bilang, "Jangan cuma skripsi!!! Terusin! Itu bisa jadi thesis! Disertasi, malah!", saya jadi bingung... kalau gini, ngga usah melacur. ^_^ Tetep bisa baca naskah, saya ngga nolak kok.

_____________

 

07.11.2007

Buah "Cinta" Moni dan Joni

Seberapa penting sih sebuah keluarga? Pentingkah saya jatuh cinta? Perlukah kemudian menikahi (atau dinikahi?) seseorang yang juga mencintai saya? Di depan orang-orang membacakan ikrar "Oke deh, saya mau kok, nikah sama dia". Perlukah kemudian kami tinggal bersama serumah? Lalu ikut rapat warga di kampung. Dan ibu-ibu akan menanyakan "Bagaimana kabar suami Anda?". Dari situ, obrolan ngga penting akan sulit dihentikan. Lama-lama kami akan punya bayi. Apakah itu juga perlu? Bayi kami tumbuh. Kami mulai membantunya belajar berdiri, supaya suatu saat dia bisa betul-betul berdiri sendiri tanpa bantuan kami.

Bagaimana menjawab penting-nggaknya sebuah keluarga? Apakah sesuatu dianggap penting karena sesuai dengan norma? Nilai? Aturan? Kebiasaan? Agama?

 



 

:: Bagaimana kalau seandainya saya menikah. Dengan seseorang. Dan kami memutuskan untuk tidak punya bayi. Kami memutuskan untuk hidup serumah cuma berdua saja, sampai salah satu dari kami mati. Ngga ada anak, ngga ada yang rewel, ngga ada yang perlu mahal-mahal dibiayai sekolahnya. Dan kami merasa sama-sama bahagia. Lalu seseorang berkata "Bahagia??? Kalian kan ngga mau punya anak! Itu kan menyalahi kodrat."

:: Oke, bagaimana kalau seandainya saya punya anak. Saya mencintai orang yang mencintai saya. Kami bahagia berdua, begitu saja, tanpa embel-embel janji dan ikrar pernikahan. Kami memutuskan untuk punya bayi. Lalu kami punya bayi. Bayi itu punya adik. Adiknya punya adik lagi, kembar pula. Si kembar punya adik lagi. Rumah kami ramai. Kami merasa keluarga kami sempurna. Tiba-tiba ada ibu-ibu yang menyeletuk "Keluarga??? Sempurna??? Kalian sama sekali belum pernah menikah! Kok malah sudah punya anak banyak. Apa kata dunia?"

:: Atau begini deh. Saya sama sekali ngga tertarik untuk hidup berdua bersama orang lain. Saya ngga peduli urusan cinta-mencintai. Saya akan hidup sendiri. Saya urusi diri saya sendiri, tanpa direpoti orang lain. Ngga ada yang akan coba-coba mengontrol saya, saya bisa melakukan apa saja. Anak? Ngga ada. No man no kids. Sementara orang lain mengeluhkan pasangannya atau anaknya yang merepotkan, saya justru merasa sangat bahagia.

:: Atau ada lagi, supaya kita menjadi semakin ekstrim. Saya menikah. Dan kami ingin sekali punya bayi. Tapi karena kami ngga bisa punya bayi, kami (terpaksa) mengadopsi. Apakah kali ini ngga ada yang protes? See, kami menikah dan punya anak. Sudah betul kan? Ada yang protes? Ada. Seorang laki-laki tunjuk jari "Tapi kan kamu menikahi perempuan???"

:: Hahahahaaaa.... Lalu mana yang betul? Ngga ada? Padahal ini kasus yang bisa ditemui di mana-mana. Kalau begini, beranikah kita membayangkan dua perempuan atau dua laki-laki yang merasa bahagia hidup bersama berdua, yang ngga pernah setuju dengan konsep pernikahan dan memutuskan untuk ngga punya anak? Seberapa ekstrimkah itu? Seberapa 'salah'kah itu? :)

---

Ah, kenapa sih pusing-pusing? Aturan kan memang ada di mana-mana. Dalam bentuk undang-undang, agama, adat, macem-macem. Di desa, di kota, di Asia, Eropa, di utara, di selatan, semua diatur. Mungkin itu resikonya jadi manusia, terjebak dalam ruang dan waktu penuh aturan. Aturan itu perlu, karena banyak juga aturan yang mementingkan hak-hak penting, termasuk hak azasi manusia. Perceraian misalnya, perlu diatur supaya ngga ada yang rebut-rebutan dan bertengkar sendiri. Nah, Itulah resikonya punya akal, bisa mengatur, bisa diskusi, bisa berpikir. Lha binatang? Eits.... Binatang saja punya aturan. Buktinya, yang menggantikan Mufasa adalah Simba, bukan Timon atau Pumbaa :)

Begini. Menikah atau nggak, punya anak atau nggak, intinya, berkeluarga atau nggak, itu penting bagi mereka yang memutuskan (dan senangnya, manusia bisa memutuskan sesuatu). Kalau kita adalah 'orang luar' (artinya, ngga terlibat), boleh saja punya pendapat lain sakpenak wudele dhewe, boleh saja menganggap benar atau salah. Tapi selebihnya, kalau ngga diminta, kita ngga berhak mengadili siapapun. Yang memberikan vonis itu hakim. Yang memutuskan dosa atau pahala itu Tuhan. Setahu saya sih....

Dan, di tengah hiruk-pikuknya dunia yang mempermasalahkan norma, agama, adat, undang-undang dan aturan-aturan, ada bayi laki-laki terlahir Senin lalu tanggal 5 November 2007. Bayi ini adalah buah "cinta" Moni dan Joni, sepasang orang utan di kebun binatang Gembira Loka, Jogja :) Begitu kata Kompas.

Coba, seberapa 'salah'kah ini? Mereka ngga pernah menikah. Tapi punya bayi. Mereka bukan manusia. Tapi siapa berani jamin kalau mereka ngga bahagia dengan lahirnya si bayi laki-laki itu? Hmm... indah.... Jadi, Saudara-saudara, bergurulah kepada orang utan. Kalau terlalu malu, ya ngga usah, terserah.... Toh kita manusia, bisa memutuskan apa saja.

:)


Salaam,
RhoMayda

_______________


Image: "Imke en John"

02.11.2007

Doa di Laut

Lima orang dipertemukan secara aneh di kampus, Leiden. Satu cewek harus kembali ke Belgia dengan tugas skripsinya (Mbak Sharon), satu cewek bertemu dengan satu cowok siang hari di kota (Mbak Maureen), cowok itu harus ke Praha malamnya (Mas Conda), satu cowok lagi harus menyelesaikan papernya (Cak Tomo), satu cewek harus menyelesaikan tugas kuliahnya (saya, Rhomayda). Kenal dengan tiba-tiba, lalu ada rencana gila, yang juga datang secara tiba-tiba.

"Kita ke Den Haag saja, ke Scheveningen."
"Hah??? Yang bener! Sudah malam nih! Jam enam! Laut dingin tau! Banyak angin! Nggak ah, dingin!"

Tapi... sedingin apapun malam itu, seberat apapun tugas kuliah yang harus diselesaikan, sebaru apapun orang-orang dikenal, kami pergi.... Malam-malam naik kereta ke Den Haag, naik tram ke Scheveningen. Berkali-kali saya cuma bisa bergumam heran "gila...".

---

[Malam itu, jam setengah sembilan di Scheveningen...]

Z: Udah nih pulang? Udah doa belum?
R: Eh? Doa?
Z: Iya, make a wish heheheee....
R: Eh?
Z: Ya kan biasanya kalau ke laut ada sesuatu yang diharapkan.
R: Bentar dong (lalu lari mendekati laut).
R: Udah. Yok.
Z: Nah, besok pasti terkabul.
R: Hah??? Besok???
Z: Iya. Cepet kan?
R: Yahhh... maunya sih detik ini juga terjadi....

[Keesokan harinya...]

R: Kayaknya kita harus ke laut lagi deh.
Y: ???
R: Karena doaku belum terkabul.
Y: Ya udah, besok ke sana lagi. Biar dapet dua.
R: Dua?
Y: Kan dua kali doanya.
R: Eh? Bingung....
Y: Ya kan aku ngga tau kamu doa apa.
R: .... Waaa kamu nuduh tuh! Sok tau.
Y: Kan aku ngga tau.
R: Ya makanya. Kenapa bilang dua??? Payah....

---

Harapan itu belum terkabul. Jangankan detik itu juga setelah diam-diam berharap dengan menghadap ke laut, bahkan keesokan harinya, malah tambah jauh. Seolah-olah seperti disodorkan kenyataan:

Heh! Bangun! Ngga akan terjadi tuh! Punya harapan muluk-muluk. Realistis dikit dong! Lihat nih! Nih! Nih! Ini juga! Sadar ngga sih? Harapanmu tuh ngga nyata, ngga mungkin, ngga ada!

Yeee.... Sapa bilang muluk-muluk? Orang sederhana banget kok....

---

[Malamnya...]

X: Emang doa apa sih di laut kemarin? Minta pacar yaaa....
R: Waaa ini lagi. Nuduh tuh namanya... ngga boleh.
X: Apa dong? Hayoo apa apa apa?
R: Mbak, ngga tau deh ya. Perasaan, doanya juga cuma sederhana. Tapi rasanya seperti langsung dikasih tau kalau itu tuh ngga akan terjadi.
X: Aduh, sabar aja.... Ngga dikasih sekarang, ntar pasti dikasih. Percaya aja....
R: .... Gitu ya....
X: Atau akan dikasih dalam bentuk lain. Bukan yang begini, tapi dalam wujud yang lain, pada waktu yang lain.... Percaya aja dulu....
R: Oh... begitu....
X: Emang doa apa kemarin?

(gubrakkk, kirain udah ngga penasaran....)

R: Hmm... sederhana. Tapi itu ngga terjadi! Belum dikabulkan! Malah yang langsung kulihat, itu justru kebalikannya Mbak.... Kita harus balik lagi ke laut!

---

Sementara itu, hari itu, ada seorang teman yang skripsinya harus diperbaiki dalam dua hari. Ada seorang teman lagi yang tinggal satu kos dengan orang gila dan secepat mungkin harus diselamatkan. Ada satu teman yang punya masalah keluarga berat banget. Satu orang kesulitan menghidupi keluarganya. Satu orang jauh dari kekasihnya. Satu orang jauh dari keluarganya. Satu orang stres sama kuliahnya. Ada juga yang marah sama dosennya. Ada juga dosen yang ngga mau ndengerin mahasiswanya.

Tapi malam sepulang dari laut, saya tidur... lelap... karena capek. Paginya... dua teman kos bertengkar, mempermasalahkan suara berisik di malam hari. Tapi saya harus ke kampus. Maaf, saya ngga mau ikut-ikutan yang beginian.

Sudah cukup. Kepala saya penuh!!!

---

R: Begini Mbak.... Saya cuma berdoa, semoga semuanya baik-baik saja. Semuluk-muluk apa sih itu....


Salaam,
RhoMayda

 

_____

Saya mau lebih, saya mau semuanya, bukan cuma dua....

 

All the posts