25.09.2007
Awal yang Baik
Saya percaya, awal yang baik seharusnya sudah cukup untuk dijadikan pegangan dalam memelihara kualitas, hingga dapat berakhir dengan baik pula. Tapi ini bukan berarti awal yang baik adalah sebuah keniscayaan akan adanya akhir yang baik. Ini juga bukan berarti bahwa usaha yang dilakukan pada awal yang baik, akan seukuran dengan usaha-usaha berikutnya dalam pencapaian akhir yang baik. Sudah mau muntah? ^_^' Mungkin membingungkan.
Sebelum berbincang-bincang bareng, lebih baik kita sudah sama-sama sepakat bahwa Ramadhan kita seharusnya memang berkualitas, apapun alasannya, apapun motifnya. Oke? Kalau masih belum sepakat, tulisan ini ngga ada gunanya :) Tapi ngga apa-apa deh.
Eh sebentar, siapa yang akan ngga sepakat? Woo banyak. Coba dilihat, siapa yang ngga beramadhan? Siapa yang pura-pura beramadhan? Siapa yang terang-terangan menolak beramadhan? Siapa yang ngga paham tentang Ramadhan? Kalau di situ susah nemuinnya, coba ke sini dekat-dekat saya. Buanyak! ^_^
Oke. Jadi tadi sampai mana? Oh, baru sampai awal. Awal Ramadhan yang baik ternyata penting banget buat saya. Kenapa? Karena kemudian saya akan berpikir: "Oh, ternyata Ramadhan itu menyenangkan." Kekanak-kanakan, bukan? Menyedihkan. Bagaimana kalau awalnya buruk? Pernah saya alami kok (tahun lalu -red). Dan dari awal berpuasa sampai... tahun berikutnya puasa lagi... (berarti tahun ini -red) itu... buruk! Wuih... mengerikan waktu itu. Selebihnya saya ngga akan buka aib sendiri.
Heh heh heh....
Jadi, timbunan keburukan yang sudah setahun lebih itu, tiba-tiba tercium busuknya kemarin-kemarin ini. Yeee kalau begini sih, Ramadhannya ngga akan sukses lagi dong. Maka!!! saya cari jalan. Cari jalan kembali, jalan yang sepertinya pernah saya tempuh, mungkin dulu sekali. Jalan yang menunjukkan bahwa Ramadhan sangat istimewa, bagi saya pribadi. Tapi susaaah. Haduuuh... kenapa susah?
Satu. Kenapa saya sendirian di sini? Bukannya di Indonesia tuh Ramadhannya rame-rame bareng-bareng? Sahur bareng-bareng, Shubuhan, puasa, ngabuburit, tarawih, tadarus, semuuuanya bareng-bareng. Lha saya?
Dua. Kenapa kuliah saya seharian penuh??? (Cuma dua hari sih) ^^
Tiga. Kenapa saya ngga bisa bangun sahur???
Saya kan bingung, ya sudah akhirnya saya kirim emaillah, smslah, teleponlah, menanyakan kawan-kawan dan keluarga: "Apakah kalian yakin bahwa saya akan baik-baik saja???" Dan sang waktu kayaknya memang lagi buru-buru, jadi cuek aja dia ninggalin saya. Sampai tiba-tiba Ramadhan tiba! (Ih ada rimanya)
Untungnya! bantuan-bantuan sudah datang tepat waktu. Seperti ini bentuknya:
Z: Namanya juga wajib, jalani sajalah.
Y: Ramadhan kan lebih baik dari seribu bulan.
Tapi kenapa saya masih belum terbantu ketika menerima pesan-pesan ini??? Wajib? Lebih baik dari seribu bulan? Apa maksudnya???
Tapi ada juga yang bilang:
X: Kenapa merasa berat? Bukannya kamu sudah biasa beramadhan? Nama kamu kan juga... ya ampun, ingetkah???
W: Ah, sama aja puasa di sini atau di situ. Yang penting kan ibadahnya. Gimana?
V: Oke, oke. Aku bisa kok telepon tiap pagi supaya kamu bisa sahur. Atau sms. Atau missed-call. Mau yang mana? (Ini dari Ibu' di Jogja)
Kenapa justru pesan-pesan ini yang lebih duluan masuk otak saya ya??? Ini namanya dukungan, Sodara-sodara. Dukungan kongkrit, riil, nyata. Saya suka.
Lalu yang wajib dan lebih baik dari seribu bulan itu tadi gimana? Eeh jangan salah, yang itu masuk juga dong. Tapi (terus terang) ngga langsung. Lewat tiga pesan itu dulu. Kenapa? Ya jelas, pasti saya sudah betul-betul busuk. Hehehe....
Lama-lama saya mikir sendiri. Bukan tanpa tujuan Ramadhan diciptakan. Dari karakternya saja Ramadhan itu spesial. Pertanyaan pertama, saya MAU ikut merayakan keistimewaannya atau nggak? Jangan dululah pikirkan wajib enggaknya. Mau ikut atau nggak??? Pertanyaan berikutnya, kalau mau ikutan, bersedia ikhlas nggak??? Kalau mau ikut dan mau ikhlas, selebihnya mau manut sama aturan mainnya, nggak? Kalau sudah mau ikut, mau iklas, dan mau manut, ketahuilah bahwa puasa di bulan Ramadhan itu hukumnya WAJIB! Nah, balik lagi ke pertanyaan pertama, masih mau, nggak??? Hahahahaaa... kayak ngajari anak TK aja.
Iman dan patuh akan terasa jaaauh lebih indah jika diawali dengan keinginan besar untuk melakukannya. Jadi bukan sekedar merasa bahwa itu adalah kewajiban, karena kesannya semuanya merga (karena -red) sebuah keharusan. Bukannya melenturkan hukum wajib, saya cuma mengira-ngira perbedaan rasa yang mungkin timbul.
Kalau di Eropa tiba-tiba Anda menyuruh orang yang Anda temui di jalan untuk berpuasa Ramadhan, apa iya orang itu akan mau? Lalu Anda berargumen: "Itu wajib, lho!" Apa iya kali ini dia jadi mau? Proses untuk bisa/mau berpuasa Ramadhan biasanya bukanlah sejentikan jari. Coba, sudah berapa lama Anda beramadhan? 18 tahun? 25? Sudah merasa khusyuk? Ramadhan bukan level dasar seorang Muslim. Jadi sangat logis jika Muslim saja masih ada yang kerepotan menjalankannya (saya, contohnya). Tapi ini bukan berarti, Ramadhan sangat berat atau ngga mungkin dilakukan. Tergantung kan? Tergantung seberapa serius kita MAU MANUT sama Tuhan. Iya?
Maksud saya menulis ini, hanya menerka-nerka kenikmatan Ramadhan (yang lebih nikmat dari seribu bulan itu) jika dilaksanakan dengan dasar keinginan besar untuk MAU merayakannya dengan ikhlas.
Dan orang Belanda bilang, "een goed begin, is het half werk."
Well begun is half done
:)
Buatlah sebuah awal yang baik. Kapaaan saja, ngga ada kata telat. Mulailah secepatnya, karena waktu biasanya terburu-buru....
Salaam,
RhoMayda
08:10 Posted in Reflection | Permalink | Comments (7) | Email this
20.09.2007
Waktu
Kalau kita sependapat bahwa Tuhan abadi, apakah Anda juga setuju kalau tiba-tiba saya bilang bahwa yang paling ngga abadi adalah waktu?
Ctik! Begitu saja bisa berlalu. Sangat cepat.
Mengerikan....
Bagi beberapa orang, waktu adalah teman. Setiap detik yang terlewati tak ada yang terbuang sia-sia. Setiap detik yang akan datang adalah detik-detik yang membahagiakan.
Bagi beberapa orang yang lain, waktu bisa menjadi musuh. Waktu dan manusia. Pertanyaannya adalah, siapa yang akan membunuh siapa?
-RhoMayda-
Selamat beramadhan...
23:15 Posted in Reflection | Permalink | Comments (6) | Email this

