30.03.2007
Kata Dasarnya: Bodoh
SATU. Ada yang salah dengan pengajaran BAHASA INGGRIS di sekolah-sekolah di Indonesia, kata Ibnu Adam Aviciena (duh, namanya panjang, panggil Mas Ibnu sajalah). Sore itu kami ngobrol di depan KITLV, masih hangat di luar, asik. Jarang-jarang Belanda bisa hangat (inget kan, Belanda ngga seru) hehehe.... Oke, kembali ke lap-, halah, ke pengajaran bahasa Inggris. Apanya yang salah??? Bener juga sih kata Mas Ibnu. Kita belajar bahasa Inggris (setengah mati-matian) sejak SMP, selama enam tahun, dan lulus SMA. Coba, ada berapa orang yang menguasai bahasa Inggris? Ada berapa orang yang baik secara pasif (reading dan listening) maupun aktif (writing dan speaking) lancar berbahasa Inggris? Kalau sebagian besar yang lulus SMA mengaku bahasa Inggrisnya jelek, apakah ini wajar? Apakah ini kesalahan siswanya? Karena pelajar-pelajar Indonesia malas? Bodoh? Atau sistem pengajarannya saja yang (maaf) bobrok? Bahasa Inggris saya jelek, tapi saya ngga mau disalahkan ^_^' His name is also effort, like that (namanya juga usaha, gitu loh -red).
DUA. Ada yang salah dengan pengajaran BAHASA ARAB di sekolah-sekolah (khususnya sekolah Islam) di Indonesia. Masih menurut Mas Ibnu, dia sendiri mengaku masih agak kewalahan berbahasa Arab, padahal sudah bertahun-tahun belajar bahasa Arab di sekolah ini, di universitas itu. Lalu saya mikir, saya kok over-self-confident banget ya? Kalau ditanya SMA-nya mana, saya akan menjawab dengan bangga: Moehi! Sekarang saya malu: lulusan Moehi kok ngga bisa bahasa Arab. Padahal kan dulu diajarkan di SMA. Tapi, ayo siapa anak SMA Muhammadiyah yang mahir berbahasa Arab??? Ngga ada? Ngga ada??? Pethuk! Hehehe... santai... tenaaang bukan salah bunda meng-, halah, bukan salah kita kok (mulai lagi deh, cheap defence beginian). Tanyakan saja pada pak guru, pak dosen, pak menteri, "Pak, bobroknya kapan selesai nih? Sudah bosan."
(Ngomong-ngomong bahasa Arab, saya jadi ingat Bajuri)
TIGA. Adakah yang salah dengan BAHASA INDONESIA? ![]()
EMPAT. Ada yang salah dengan pengajaran SEJARAH INDONESIA di sekolah-sekolah di Indonesia. Saya berani nulis nih, kan saya salah satu korbannya hehehe.... Biadak. (Hush) Maaf.
X: jadi selama ini???
Q: ya ngga ada yang bener.
X: salah?
Q: salah.
X: masa' aku baru tau pas aku di sini???
Q: dulu kan buku-buku dilarang. Kita belajar cuma pakai buku di sekolah. Dan itu cerita bohong semua, isinya ngga ada yang bener. Film G30S/PKI itu ngga pernah aku tonton sampai selesai. Aku masih kecil, ngeri itu filmnya. Lagian isinya omong kosong semua, ngga ada yang bener.
X: payah deh. Aku kan belajar sejarah secara pasif. Maksudku, cuma di sekolah. Kamu kan beda, kamu tertarik sama sejarah, kamu nyari. Aku kan ngga nyari, dengan harapan yang kudapat adalah kebenaran. Eeeh ternyata.
Q: ya iya. Makanya, sekarang kamu bisa pakai KITLV. Di situ ada baaanyak buku-buku, dokumen-dokumen, foto-foto, surat kabar lama, film-film penting yang di Indonesia mungkin ngga ada.
Beberapa waktu lalu, anak-anak PPI Leiden bikin acara pemutaran film dokumenter Mas Lexy Rambadeta di Lipsius, berjudul 'Shadow Play' (tentang PKI dan ORBA, film ini bagus banget, wajib tayang, cuma ngga tayang secara umum di Indonesia karena dianggap kontroversial) dan satu lagi tentang teror di Indonesia (it's scary to face that the officials might be involved). Mas Lexy sendiri hadir dan dengan antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan dari beberapa penonton. Aneh ya, masa' untuk menguak fakta sejarah sendiri, harus keluar ke tempat lain? Setelah nonton ini saya mikir, ntar malem bisa tidur nggak ya? Ternyata banyak yang harus dilakukan.

Jadi, salah siapa kalau saya ngga tahu apa-apa? Salah siapa kalau saya bodoh?
Ask the grass swaying in the breeze....
Hahahaaa....
It's time to roll up our sleeves, and get to work! We have plenty of things to do and mistakes to correct.
Asah otak.
Yang perlu diberantas itu sepertinya bukan KEbodohAN.
Tapi PEMbodohAN.
Itulah salah satu perbedaan fungsi circumfix ke-an dan peN-an.
Salaam,
RhoMayda
-rasanya
mau muntah-
22:25 Posted in Asal | Permalink | Comments (6) | Email this
26.03.2007
Learning in the Spring
Iiih, sudah musim semiii... ^.^
Banyak bunga cantik ditanam di pinggiran jalan. Wah bagus deh. Terus... oh ini, mulai hari Minggu lalu pukul 02.00 diberlakukan summer time. Waktunya dimajukan satu jam. Penting banget man mengubah semuuua jam yang kita punya (komputer dan TV biasanya otomatis kan ya?). Karena kalau lupa, janjian jam 09.00 ntar datangnya jam 10.00. Rak ngisin-isini to?
Oh iya, gimana kabarnya? Belanda sih masih tetap ngga seru, tapi saya sudah baik-baik saja kok walau kemarin kumatnya jelek banget. Itu namanya fluctuation yang amburadul, hehehe.... Bukankah setiap orang normal tuh bisa seneng dan bisa sedih? Seperti kata Pak Ustad, iman seseorang bisa naik dan bisa turun. Itu normal (mulai deh defence murahan begini). Ih, beneran. Coba perhatikan elektrokardiogram yang ada di rumah sakit (halah). Jantung yang berdenyut, orang yang hidup, itu kan diindikasi dengan fluktuasi yang naik-turun. Iya kan? Ada peak ada dip. Itu malah bagus. Lha kalau lurus-lurus aja kan ngeri ^_^v

Pak kusir bilang bahwa roda kehidupan selalu berputar. Kita akan selalu menemui overturn (bakale jumpalitan -red). Itu normal, jadi tenang sajalah.
Karena sudah ngga terganggu lagi oleh Belanda yang ngga seru, saya sudah mulai belajar. Belajar sejarah. (Hah???) Iya. Kebetulan seminggu ini libur, sepertinya sih liburan musim semi, jadi punya banyak waktu untuk nyelesaikan tugas sejarah.

Bapak pernah bilang, belajar tuh dibikin enak, sambil jalan-jalan atau apalah. Mungkin karena itu, saya ngga belajar di perpus. Perpustakaan kan senyap banget, malah kayak ujian, bikin panik. Jadi kalau di kampus ya belajarnya di kantin. Kalau di rumah ya sambil ndengerin musik. Pokoknya bukan di tempat sepi.
Nah, beberapa hari lalu saya diajak belajar di kafe sambil ngopi-ngopi. Tiga manusia Indonesia jurusan S2 Sejarah (Abi), S2 Astronomi (Tri) dan S2 -semester dua- Studi Indonesia (saya) malam-malam pergi ke kafe dekat Pieterskerk, namanya M'n Broer (kalau ngga salah). Duduk di dekat jendela, pesan kopi, keluarkan buku, lalu belajar selama kira-kira 2 jam. Bukan hanya belajar sih, banyak ngobrol juga hehehe.... Sayangnya kafe itu sudah sepi pengunjung dan mau tutup. Akhirnya kami bertiga pindah ke kafe... lupa namanya, karena di situ tutupnya baru jam 01.00. Itu tuh letaknya di pojokan dan dulu di atasnya adalah sebuah kamar kos di film Soldaat van Oranje (film PD-II). Kafe itu kita namai kafe Soldaat van Oranje ^_^


Dan tadi siang ke kampus untuk belajar di kantin (males di rumah, walau libur). Waaah malah berjemur! Cuacanya enak. Jadi di kantin cuma ngambil kopi, terus dibawa ke luar, pilih tempat yang kena matahari dan bisa buat sandaran. Banyak orang duduk-duduk di rumput, di pinggir kali, di bangku-bangku taman, pokoknya asal di luar deh. Mataharinya hangat, belajarnya santai, asiklah!
Inilah cerita awal musim semi di sini :)
Salaam,
RhoMayda
-Ternyata ada orang Belanda yang baca tulisan saya kemarin (isin aku, tiwas jujur). Makasih e-mailnya yaa. Oh iya, saya ketularan Tri nih, kokehan moto (kebanyakan motret maksudnya)-
23:45 Posted in Asal | Permalink | Comments (9) | Email this
23.03.2007
Belanda Ngga Seru
Conversation behind the story:
T: Tapi kan Belanda ngga semuanya negatif.
R: Aku ngga bilang Belanda negatif. Aku cuma ngga mau tinggal di sini. Hmm... kenapa ya? Ini... ngga cocok untuk aku, dan aku ngga cocok di sini.
---::---
Di sebuah bis jurusan Magelang-Sukorejo.
X: Ke mana Mbak?
Q: Wonosobo. Mbaknya mau ke mana?
X: Ke Sukorejo. Tinggal di Wonosobo ya?
Q: Iya. Kalau Mbaknya?
X: Di Jogja. Ini mau liburan tempat Embah.
Q: Di Jogja kuliah?
X: Oh nggak, masih SMA.
Q: Ooh.
X: Mbaknya kuliah?
Q: Iya di Semarang.
X: Ngekos dong?
Q: Iya.
[berlanjut... bla bla bla...]
Q: Saya harus cari kerja, saya kan dari keluarga pas-pasan.
X: Kerja apa?
Q: Ya belum tahu. Kalau belum kerja, ya diusahakan ngga boros. Kalau teman-teman saya beli baju misalnya, lebih baik saya nabung. Makan juga seadanya saja.
X: Ah, kan ngga perlu makan mahal-mahal. Yang penting enak dan perut kenyang.
Q: Bener. Lagian uang dua ribu sudah bisa untuk makan. Sebisa mungkin ngga dibuang-buang. Kalau masih sisa kan bisa untuk besoknya.
[berlanjut... bla bla bla...]
Apakah obrolan di atas normal? Tentu saja kan.
Nah, sekarang coba lihat di Belanda.
Di sebuah bis di Leiden.
X: ...
Q: ...
[berlanjut...]
X: ...
Q: ...
Di sebuah kereta jurusan Leiden-Utrecht
X: ...
Q: ...
[oh lupa, pantas saja mereka diam saja. Ada tulisan 'silence' di situ]
Di sebuah bis lain di Belanda.
X: Permisi, boleh duduk di sini?
Q: Oh iya. Silakan.
X: (senyum) Mau ke mana Mbak?
Q: Ih, itu kan bukan urusanmu.
X: ...
[berlanjut...]
Q: ...
X: ...
Itu lho sebabnya, saya ngga mau tinggal di sini. Jaraknya terlalu jauh, man. Kalau ngobrol saja ngga boleh, untuk apa hidup bareng-bareng? Orang Indonesia kan sudah terbiasa saling menyapa, bahkan kepada orang yang belum dikenal. Kalau duduk berdekatan, yo pasti ngobrol to yo. Di sini??? Boro-boro. Lha wong di kereta aja sudah kayak di perpus, ngga boleh ngobrol.
Di sini susah kenalan sama orang lain sampai 'dalem', orang lain juga ngga bisa ngenali saya. Di Indonesia jaaauh lebih gampang. Ini mungkin cuma masalah sepele, hal yang sangat kecil. Tapi ini awal dari segalanya. Menurut saya, ini yang menjelaskan perbedaan karakter wong Indonesia dengan wong Londo. Karena sebenernya, jarak seperti ini terlihat di mana-mana di sini, setiap hari, dalam kegiatan apa saja. Bermacam-macam bentuknya, dari yang paling tidak terasa sampai yang ngga bisa dilupakan. Aneh ya.
Indonesia itu hangat. Orang-orangnya juga.
Belanda itu dingin. Sayangnya, orang-orangnya juga.
Apa ini cuma kebetulan?
Belanda ngga seru ah. Mulih yoook....
(Duh, ada orang Belanda yang baca ngga ya?)
![]()
Salaam,
RhoMayda
-Ohya, hari ini saya lagi aneh. Bagai air di daun talas (halah). Gonta-ganti header mulu. Ini lebih hangat nih kesannya, daripada yang angsa di air. Ini kan ada kopinya. Gimana Mata, gambar ini yang kau maksud?-
17:05 Posted in Reflection | Permalink | Comments (7) | Email this
11.03.2007
Merah Putih
Siapa to dulu yang memilihmu?
Mengapa dia tidak memilih temanmu yang hijau atau biru, seperti warna sawah dan laut?
Mengapa merah dan putih?
Aku hanya heran, mengapa banyak hutan terbakar, mengapa ada istana terbakar, mengapa banyak orang yang terbakar?
Aku juga heran, mengapa pojok sana terguyur air, mengapa pinggir sini juga tersiram, mengapa ujung sana tergenang?
Mengapa dua warna?
Mengapa ada batasnya?
Mengapa sangat kontras?
Mengapa batasnya sangat kuat, sampai-sampai barisan bersenjata terlihat di situ?
Siapa to yang mengibarkanmu pada tiang yang menjulang?
Mengapa dia tidak mengokohkan tiangnya?
Bukankah lama-lama besi bisa berkarat?
Andai tiangnya keropos, dan suatu saat patah,
apakah kau akan jatuh, masih memeluknya?
Aku tidak menyesali warnamu. Tidak juga menyesali tiangnya. Aku tahu, kurang bijaksana hanya mengeluh saja tanpa melakukan apapun. Tapi bukankah ini yang dilakukan semua orang? Menyalahkan orang lain?
Aku hanya bosan membaca cerita-cerita memprihatinkan di mana-mana. Tidakkah kau juga bosan?
-RhoMayda-
17:37 Posted in Reflection | Permalink | Comments (15) | Email this
09.03.2007
Ngambang
Kalau orang bilang "Di mana kaki berpijak, di situ langit dijunjung", saya sekarang berpikir "Di mana kaki saya berpijak? Langit mana yang saya junjung?"
Kalau orang hanya berumpama, saya sekarang hampir menuliskan makna yang sebenarnya.
Kalau yang diumpamakan orang adalah seseorang dengan kaki menyentuh tanah dan tubuh yang merekatkan seluruh anggota badan sehingga tangannya menjunjung langit yang berada persis di atas tanah yang dipijak, saya adalah seseorang dengan tubuh terpotong yang kakinya terbenam sangat dalam di suatu tempat dan tangannya menjunjung langit di tempat lain.
Mungkin begitulah rasanya ngambang. Tubuh yang terpotong, itu ngga asik. Apalagi kalau hatinya ikut teriris jadi dua, satu di sini, satu di sana. Karena apapun yang dilakukan tidak pernah bisa dilakukan dengan sepenuh hati.
Mungkin begitulah rasanya ngambang, yaitu ketika kaki kita tidak berpijak pada tanah di bawah kita. Bergerak ke sana ke mari juga paling-paling karena tertiup angin, sedikit-sedikit mengepak-ngepakkan tangan kalau salah arah.
Di sinilah saya ngambang. Saat ini. Ketika tangan saya menjunjung langit ini, kepala saya mencari-cari kaki saya. Dan ternyata tidak ada di sini. Ada di tempat lain. Sudah tertancap di sana, susah dicabut. Untuk merekatkan lagi tubuh yang terpotong, haruskah kaki saya dicabut dan dibawa ke sini? Atau lebih baik saya yang ke sana hidup bahagia bersama kaki saya tanpa harus mencabutnya?
Seperti inilah tulisan orang ngambang.
Salaam,
RhoMayda
[Sebentar. Untuk Mata: saya ngga bermaksud ber-surrealisme. Itu bagian dikau. Hanya kebetulan saja metaforanya kali ini agak surreal] ^_^'
02:40 Posted in Reflection | Permalink | Comments (3) | Email this
06.03.2007
Abstrak
B^*#&Q^&^(*R)(*QW^*&*K!!!
Wua$^&#**&+_*^&(*(&&^&(M!!!
Da$<&^@))!@#:><"+{}^&N!!!
![]()
-RhoMayda-
(Nyebut Nduk... nyebuuut...)
21:15 Posted in Reflection | Permalink | Comments (6) | Email this
02.03.2007
Silence
Diam adalah yang terdengar di rumah yang dikunci dari luar. Tak ada orang di dalam. Eva pulang ke Belgia, Kai sudah dari kemarin ke Jerman, Saskia ke Zeeland. Tak ada orang di dalam, pintu baru saja kukunci dari luar.
Diam menjerit-jerit di dalam lift. Merosot dari lantai delapan. Lalu pelan-pelan berputar-putar bersama jeruji roda sepeda.
Di dalam kereta Leiden-Utrecht, diam ada di mana-mana di gerbong. Menempel pada jendela-jendela. Di sebelahku ada diam di situ, namanya silence. Di sebelah depanku diam bernama stilte. Apapun namanya, kini di kereta semua orang harus diam. Karena akhirnya hanya diamlah yang boleh bersuara.
Sampai di stasiun Utrecht giliran diam yang terdiam. Orang-orang berbisik berkerumun menanti yang dinanti, meninggalkan yang ditinggalkan, datang dan pergi. Dari Utrecht peron 15, kereta berangkat ke Eindhoven lewat Den Bosch. Tak ada silence di situ. Tapi toh begitu dingin dan sepi. Tak ada yang bicara. Orang-orang diam. Diam malah ikut-ikutan diam, aneh sekali. Buku yang kubaca betul-betul membosankan. Buku tulisan seorang laki-laki, tentang perempuan Jawa. Mengerikan. Kuharap, akulah satu-satunya perempuan yang membaca buku itu. Perempuan seharusnya membaca buku tentang perempuan yang ditulis oleh perempuan. Itu menurutku. Tapi aku diam saja, seperti yang lainnya di kereta.
Sampai Eindhoven, bis yang menuju Luyksgestel penuh dengan pelajar yang pulang weekend. Sesak dan bising. Tiba-tiba aku rindu pengamen. Barulah dalam perjalanan ke Lommel, diam berlomba-lomba memenuhi bis. Hanya ada tiga orang di situ, semuanya diam.
Sampai Lommel, aku berjalan menyeret koper. Tak ada orang di pinggir jalan. Yang terlihat hanya diam, diam di sana-sini. Diam yang terbahak-bahak di bawah lampu merah, diam berlari-lari berkejar-kejaran, diam berkonvoi di jalanan. Ramai sekali. Bikin muak. Aku masuk rumah, diam sudah menungguku di situ. TV kuhidupkan, MTV lalu meraung-raung. Diam pergi diam-diam.
Supaya lainnya bisa bersuara,
suruh saja diam untuk diam.
![]()
Salaam,
RhoMayda
17:05 Posted in Prosa | Permalink | Comments (10) | Email this

