28.02.2007
Mawut
berkali-kali
waktunya tepat!
tempatnya salah
orangnya salah
hanya sekali
waktunya tepat
tempatnya tepat
tapi orangnya terlalu tepat
kali ini
tempatnya tepat!
waktunya salah
orangnya salah
lain kali
cari kali yang tepat
-RhoMayda-
21:55 Posted in Reflection | Permalink | Comments (8) | Email this
Mumet Bahasa Indonesia
Ini kasus biasa:
X: Belajar apa di Leiden?
R: Indonesian Studies.
X: Hah??? Kok bisa?
R: Habis, jurnalistik susah.
Ringkasnya, aneh memang. Wong saya masuk jurusan ini ngga sengaja kok. Tapi bukankah akan lebih aneh kalau justru sengaja? Hahahahaaa... dasun.
Saya termasuk orang yang meneriak-neriakkan betapa sederhananya Bahasa Indonesia. "Ngga ada verbal (KK) bentuk lampau! Satu verbal sama saja untuk siapapun dan kapanpun!" (Ind: I sleep, she sleep, yesterday we sleep). Ternyata saya bohong. Bahasa Indonesia sama sekali tidak sederhana. Mau bukti? Mau pusing? Monggoo....
Dosen gramatika, Van Engelenhoven bilang (saya kaget waktu pertama kali dengar ini) bahwa prefix ber-, ter- dan per- memiliki persamaan. Yakni sama-sama punya -r. Dan -r yang ada di ber- adalah -r yang sama dengan -r yang ada di ter- dan per-. Bingung?
Sama-sama intransitif, atau ngga butuh objek.
:: Saya berjalan.
:: Kamu tertawa terbahak-bahak.
:: Dia pergi. (maaf ^_^' koleksi contoh sedang cekak)
Pak Van Engelenhoven juga bilang bahwa -N- (peleburan) pada meN- dan peN- (juga yang bersuffix) juga punya fungsi, yaitu menunjukkan adanya kegiatan atau aktivitas (membaca, penulis).
Dalam circumfix per-an dan peN-an, yang membedakan makna/fungsi tak lain dan tak bukan adalah elemen kecil -r dan -N-. Kedua circumfix ini sama-sama membentuk nominal (KB), hanya saja... mana yang kedengaran aktif?
perjalanan atau penjalanan
perkumpulan atau pengumpulan
persebaran atau penyebaran
Pak Suryadi bilang, per-an itu hasil, peN-an itu proses. Setuju saja saya :)
Jadi, kalimat mana yang salah?
A. Persebaran virus flu burung sudah meluas.
B. Penyebaran virus flu burung sudah meluas.
![]()
Salaam,
RhoMayda
00:40 Posted in Bahasa | Permalink | Comments (14) | Email this
22.02.2007
Ra Dhong

aku krungu suaramu
wiwit tangi turu
nganti aku turu
saben dina
seka pisanan
awake dhewe ketemu
kaya wingi
kaya wingenane
apa mbiyen kae
aku isa melu ngguyu
nanging saya suwe saya lara
dadi lungaa wae sakdurunge teka
aku nesu merga nesu
karo sijine embuh sapa
lan liyane embuh ngapa
merga kabeh taksimpen neng ati
ora ana sing isa ngerti
sejatine aku krungu suaramu
wiwit tangi turu
nganti aku turu
-RhoMayda-
00:25 Posted in Reflection | Permalink | Comments (7) | Email this
19.02.2007
Pecundang
Sebelum kelihatan terlalu kalah, saya mau membela diri dulu :D Saya berhasil ngga ngopi selama tiga hari! Prestasi bukan??? Iya kan??? Hahahahaaa... (what a loser). Karantina kopi diakhiri gara-gara kontrak kos yang b****. Jadi, pulang kuliah cepat-cepat melarikan diri ke stasiun kabur ke Lommel saking stresnya. Dan tentu saja, di kereta... ngopi... kopi pertama setelah tiga hari! Hahahahhaaaa... seddaaap :)
Apakah saya gagal?
Well, saya sudah nahan! Pakai sakit kepala segala! Doesn't that count at all??? Lumayan tuuuh. Hahahahaaa.... (hush) ^.^'
Ohya, mau cerita. Selama di sini, ada kalanya cuma mau sendirian. Ngga mau ngomong dengan siapapun, karena sekali bersuara pasti akan marah-marah tanpa sebab.
Ada kalanya ingin pulang. Rindu matahari, rindu keluar malam-malam, nongkrong di Taman Kota, selusur Malioboro, rindu menghirup udara dan aroma Jogja yang hangat dan 'hangat'.
Ada kalanya sama sekali ngga mau bicara bahasa Belanda. Rasanya capek bicara bahasa itu. Kadang ingin bicara bahasa sendiri, semingguu saja.
Ada kalanya saya heran sendiri, kenapa saya bisa berada di sini??? Di sebuah tempat di mana mata saya terbuka lebar-lebar sampai hampir buta. Tempat di mana saya belajar keras sampai merasa bodoh. Tempat di mana semuanya begitu logis dan jelas, tapi justru karena itu sangat membingungkan. Tempat di mana saya berada, begitu dekat, tapi sekaligus terasa sangat jauh.
Salaam,
RhoMayda
Orang gila bilang, "Saya ngga gila" :D
21:50 Permalink | Comments (5) | Email this
14.02.2007
Coffee-Banning (3)
Day Three, 14/02/07 ![]()
Flu sudah sembuh, sakit kepala cuma pagi ;) siang sampai sekarang semua OK. Tapi tadi seharian gerimis.
09.00-11.00 Latihan Aktif BI: penyebaran virus atau persebaran virus? 11.00-13.00 Sejarah Indonesia: bikin paper tentang Majapahit saja. 13.00-15.00 Hindu & Buddha di Indonesia: cerita Buddha terlengkap ada di Borobudur :)
Kalau kelima anak-anak itu salah, salahkah seorang anak-anak atau seorang bapak-bapak? :) Anak-anak dalam kelima anak-anak itu bukan bentuk majemuk dari anak, tapi menurut saya menunjukkan karakter (seorang anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak dsb). Setuju? :D
Dan, sudah tiga hari saya tidak ngopi :)
22:55 Posted in Ngopi | Permalink | Comments (8) | Email this
13.02.2007
Coffee-Banning
Kalau Anda peminum kopi, saya bisa jadi dianggap 'gadungan'. Hari Minggu kemarin 11 Februari 2007 saya memutuskan untuk tidak minum kopi.
Mulai
Senin, 12 Februari 2007
sampai dengan
Minggu, 18 Februari 2007.
Ini pertanyaan untuk saya sendiri:
"Bisakah saya tidak minum kopi?"
Sekedar info saja, saya ngopi tiap hari. Sehari bisa beberapa cangkir. Sudah beberapa kali pernah sakit kepala, ternyata setelah minum kopi sembuh. Ada yang bilang saya ketagihan. Inilah waktunya membuktikan kebenaran. Kalau saya gagal, dengan alasan apapun akhirnya minum kopi sebelum tanggal 19, baru saya boleh didakwa ketagihan.
Tapi biarkan saya membela diri dulu. Ini bukan kampanye, bukan pula cari sensasi. Saya cuma pengin tahu, apa yang terjadi kalau saya ngga ngopi selama seminggu.
Dukung yaa, ini untuk kebaikan bersama (halah) ^^
Salaam,
RhoMayda
Day One, 12/02/07 ![]()
Sakit kepala sejak pagi-pagi, sepertinya flu. Lagipula, semaleman kurang tidur. Ngga enak badan. Cuaca makin dingin.
Di kampus, ngumpul dulu di kantin. Ditawari kopi (dalam hati: wah... berat...), tapi saya pilih air putih (hah??? Air putih???). Badan terasa pegal-pegal, sepertinya masuk angin.
09.00-11.00 Sastra Asia Tenggara: teks Baratayudha harus dibaca pelan-pelan sebanyak lima kali sebelum akhirnya bisa paham. 11.00-13.00 Pengantar Ilmu Bahasa: prescriptive/descriptive literature? Hwaaaa pusing. 13.00-15.00 Teks Bahasa Indonesia: salahkah penggunaan kata ulang dalam kelima anak-anak itu?
Sepulang dari kampus, kepala makin senut-senut. Cuma bisa berbaring di sofa, kedinginan pula. Walau ngga nyenyak, akhirnya bisa tidur. Hari ini ngga ngopi.
-::-
Day Two, 13/02/07 ![]()
Flu sudah agak berkurang, sudah istirahat cukup, masih sakit kepala. Di kampus lagi-lagi (seperti biasanya) ditawari kopi. Tapi saya sudah bawa air putih dari rumah, jadi saya cuma beli roti untuk sarapan.
09.00-11.00 Bahasa Jawa: bagaimana membedakan bunyi /a/ dalam warsa dan sasra? 11.00-13.00 Gramatika: Ima dalam Ami memberi Ima kue berfungsi sebagai 'beneficient', bukan objek. Kue adalah objek.
Semua oke, sakit kepala juga bukan masalah super besar. Badan masih lemas (gara-gara flu kemarin). Riri, teman kampus, tahu tentang coffee-banning ini. Sekarang dia rajin sekali menawari saya teh. "Ini hangat," katanya. Sampai hari ini, masih tanpa kopi.
-::-
18:40 Posted in Ngopi | Permalink | Comments (5) | Email this
07.02.2007
Apa Adanya
Senin lalu ada mata kuliah Teks Bahasa Indonesia dari Pak Van Minde. Seperti biasanya, satu per satu membaca teks yang disediakan, kira-kira enam atau tujuh baris, kemudian menterjemahkannya dalam bahasa Belanda. Teks pertama berjudul Bawuk, karangan Umar Kayam. Saya cuplikkan:
... Alangkah asing surat begitu datang dari Bawuk, pikir Nyonya Suryo. Asing sekali. Kata-kata yang membentuk kalimat-kalimatnya begitu pendek-pendek dan sederhana dan kering dan apa adanya.
Ah, gampang! Setiap kata bisa diterjemahkan, tidak ada yang susah! Pinter semua, mahasiswa sini! ^^
Tapi kalau kita tahu arti kata 'apa' dan 'ada', apakah kita juga bisa langsung tahu arti kata gabung 'apa adanya'??? Hmm... ternyata tidak semudah itu. Semua pusing, termasuk saya. Pusing menjelaskan arti 'apa adanya' dalam bahasa Belanda. Yang kemudian terjadi adalah penjelasan semrawut dibarengi dengan bahasa isyarat.
"Itu tuh maksudnya seperti... eh..."
"Direct. Langsung. Apa adanya."
"Jujur, mungkin"
"Bahasa Inggrisnya, like the way it is..."
"Tidak ditambahi apa-apa, ya begitu itu."
"Bukan cuma kata-kata, manusia juga bisa apa adanya..."
"Maksudnya, tidak dibuat-buat, alami."
"Zoals het is?"
"To the point?"
"Eh... itu lho..." (hanya memutar-mutar tangan sambil masih berpikir, tidak berhasil bicara malah misuh-misuh dalam hati saking mumetnya) ^_^'
Bingung.
Lalu Pak Suryadi, dosen kami asal Minang, menjawab siang tadi: apa adanya itu sederhana.
Betulkah? Hihihiii... saya tidak setuju. Ini buktinya ![]()
X: Mau apa?
Q: Adanya apa?
X: Apa saja ada.
Q: Apa adanya sajalah.
Salaam,
RhoMayda
Sebetulnya, apa adanya ada apanya sih? Apakah apa adanya ada apa-apanya? Ah, ada-ada saja apa adanya ini. Tapi bukankah seharusnya apa adanya itu tidak mengada-ada?
![]()
23:40 Posted in Bahasa | Permalink | Comments (7) | Email this
04.02.2007
Ada Rembulan
Dari sini, saya lihat rembulan. Belum bundar benar, tapi terang. Di sekelilingnya ada bias melingkar. Dia sendirian. Bintang-bintang tak kelihatan. Langit hitam, seperti selimut mata-mata yang mulai tertutup.
Dan saya?
Inginnya sih, tidur tanpa kepala. Saya sedang curiga. Jangan-jangan, semua yang ada di dunia itu jelas. Kalau ada yang membingungkan, itu hanya ulah kepala yang kerjaannya berpikir. Coba kalau saya tidak punya kepala. Pasti tidak ada yang membingungkan. Semuanya jelas.
Tapi kalau tidak ada yang membingungkan, untuk apa repot-repot hidup? Padahal orang hidup itu, katanya, selalu mencari-cari. Mencari ilmu, mencari kerja, mencari temannya, mencari pilihan, mencari yang menyenangkan. Bukankah kalau semua sudah jelas, tak perlu lagi mencari-cari?
Itulah sebabnya, saya ingin tidur tanpa kepala. Sebentaaar saja. Karena beberapa minggu ini, banyak sekali yang membingungkan, banyak yang tidak jelas.
Tapi yang jelas, di sini ada rembulan ![]()
Salaam,
RhoMayda
Mungkin kalau sabar sedikit, yang membingungkan akan menjadi jelas dengan sendirinya. Mungkin hanya masalah waktu. Mungkin bukan salah kepala. Mungkin, saya tidur saja tanpa mencopot kepala saya?
22:25 Posted in Prosa | Permalink | Comments (8) | Email this

