27.01.2007
Dicari:
seorang ember
yang tidak berwarna
bukan merah, kuning apalagi hijau
tapi bening seperti cermin
yang baru diababi bau mulut
lalu digosok dengan kacu
dicari:
seorang ember
ukuran XL
bukan yang L, M apalagi S
ember jumbo tempat mandi bayi,
ibunya, bapaknya, seluruh keluarga
dan tetangganya
dicari:
seorang ember
yang anti pecah,
anti retak,
anti bocor dan tahan lama
terlalu sibuk memikirkan
tiap detil, tiap detik
"hidup itu indah tapi rapuh,
dislentik sedikit, ambyar"
tengkorak penuh benang-benang ruwet
seperti rambut simbah
bikin mumet
jantung mual, muak mau muntah
beri aku ember seperti yang kukatakan tadi,
kalau tak punya, sahabat juga boleh
kalau ada, yang bisa dijadikan ember
-RhoMayda-
---
buronan hari ini:
secuil ketulusan

01:15 Posted in Reflection | Permalink | Comments (9) | Email this
25.01.2007
Kepercayaan
[Bosen ah!]
[Hush]

Q: Kamu pernah ngomong sama Tuhan?
X: Ya seringlah.
Q: Hmm... enak ya.
X: Enak?
Q: Iya. Kalau sedih, kalau sendirian atau kesepian, kamu bisa ngomong sama Tuhan. Aku ngga bisa.
X: Eh? Kenapa ngga bisa?
Q: Yah, aku kan bukan Muslim. Sebetulnya sih keluargaku Katholik, aku juga pasti. Tapi kan kami ngga pernah ke gereja. Dan aku ngga pernah merasa punya agama.
X: Jadi, kamu ngga bisa ngomong sama Tuhan? Karena ngga punya agama?
Q: Nah, akhirnya kamu ngerti juga.
X: Apa kamu harus jadi Muslim dulu, atau Katholik dulu, atau Hindu dulu, atau apalah untuk bisa ngomong sama Tuhan?
Q: Iya kan?
X: Aduuh. Bahkan sekarang, kamu bisa ngomong sama Dia. Ngomong apa saja, seolah-olah Tuhan duduk persis di depanmu, dan ndengerin kamu, tiap kata yang kamu ucapin. Masalah agama, itu kamu putuskan sendiri, dipikirkan bener-bener dan ngga perlu buru-buru kan? Ngomong sama Tuhan kan bisa kapan saja, menurutku hehehe....
Jadi... ternyata orang yang tidak merasa beragama, juga butuh ngomong sama Tuhan.
Hmm... apa maksud saya ya? ![]()
Salaam,
RhoMayda
09:55 Posted in Reflection | Permalink | Comments (8) | Email this
17.01.2007
Misuh!!!

Karena tas saya besar dan berat, dan karena bisnya penuh, saya letakkan tas besar warna hitam saya di bawah, di dekat pintu keluar. Jadi saya bisa duduk tanpa mengganggu orang di sebelah saya dengan barang bawaan saya. Saya duduk di belakang, berusaha masih bisa lihat tas saya itu (karena kalau hilang, maka saya tidak bisa nulis ini).
Lama-lama banyak penumpang turun. Bis hampir kosong. Bis berhenti, seorang ibu mau turun.
X: Ada orang meninggalkan tasnya!
Saya kaget. Ibu itu sudah turun.
R: Itu punya saya!
Terlambat, ibu itu tidak dengar. Orang-orang yang duduk di depan menoleh ke belakang.
R: Wuajaaar!!! Itu tas saya! Kalian pikir apa??? Bom???
Bis berjalan lagi.
R: Aduhai busuknya. Sekarang semua orang curiga! Gara-gara ibu itu! Semmiii!
Bis berhenti lagi. Seorang ibu turun.
Q: Pak Sopir! Ada orang meninggalkan tas di sini!
Katanya sambil menunjuk tas saya.
R: Okay, that's it!!!
Pak Sopir menjawab, dan saya merasa dibela.
S: Bukan, itu punya cewek itu lho!
R: Itu punya saya!
Q: Oh, itu punya Anda?
R: Iya!
Q: Oke.
Ibu itu turun. Saya diam saja setengah melotot.
R: Bodoh!!! Bodoooh!!! Itu bukan bom tau! Dan aku kan tadi sudah bilang! Kamu tadi ke mana saja???
Tas saya dicurigai.
Saya terlanjur marah.
Semua gara-gara...
orang-orang yang terlanjur bodoh.
Salaam,
RhoMayda
_________________
- di dalam bis, yang saya katakan hanya itu punya saya dan iya. selebihnya, hanya dalam hati.
- jangan bawa bom ke tempat umum
- taruh tas anda di manapun anda mau, tapi usahakan masih bisa anda kontrol
kalau anda dicurigai tanpa alasan, misuh-misuh saja, supaya yang mencurigai anda tahu bahwa kebodohan memang benar-benar harus dibasmi
19:00 Posted in Asal | Permalink | Comments (8) | Email this
15.01.2007
'Thirsty' not Horny
setiap hari
sambil ngopi
di atas motor
sampai kotor
di sepanjang trotoar
di bawah malam
lagi-lagi
ingin bercumbu lagi
dari pagi
sampai pagi lagi

-RhoMayda-
22:25 Posted in Reflection | Permalink | Comments (3) | Email this
14.01.2007
Perempuan
Pernah ketemu perempuan? (halah)
Pernah mencoba, walau sebentar, mendefinisikan perempuan? Pernah heran? Tak habis pikir? Bingung? Hanya karena perempuan? Pernah mengagumi perempuan?
Saya terlahir tanpa baju, tanpa kemampuan bicara. Semuanya didapatkan di 'luar'. Saya terlahir tanpa nama, tanpa agama. Satu-satunya identitas yang saya bawa sejak saya masih di dalam rahim adalah: perempuan.
Dengan berbagai identitas-identitas 'tambahan' selama ini, bukan semata-mata karena saya perempuan, saya ingin menuliskan seperti apa perempuan yang ada di otak saya.

Tentang perempuan:
- mungkin tak pandai memukul orang sampai pingsan, tapi ketika harus melahirkan, yang ditahan adalah sakit yang resikonya mengorbankan minimal dua nyawa (bukan hanya nyawanya sendiri)
- kalau takut darah, tak usah berkoar-koar merasa gagah, perempuan menstruasi tiap bulan
- perempuan sangat perlu untuk merasa dilindungi
- rupanya cantik
- karakternya menarik
- simpati dan empatinya tinggi
- kasih sayang dan hatinya sama-sama besar
- membutuhkan seseorang yang bisa melihatnya sebagai seorang perempuan
Perempuan itu unik, luas. Didesain sedemikian rupa sehingga bahkan kealpaan semua karakter di atas tak dapat mengurangi kadar keperempuanan seorang perempuan.
Perempuan itu indah sekali. Indaaah sekali.
Dan laki-laki?
Sama saja. Adalah juga identitas pertama sebentuk manusia.
Salaam,
RhoMayda
-berbesar hatilah, perempuan, laki-laki. bukan selama sekian puluh tahun, tapi selama satu detik saja, setiap detik-
05:15 Posted in Reflection | Permalink | Comments (7) | Email this

