28.12.2006
Desember
Liburaaan!!! Dua minggu, man! Sebelum libur, ada tiga ujian. Alhamdulillah sudah terlewati dengan berdebar-debar. Sekarang waktunya liburan!!! Liburan??? Aaah mana ada??? Tanggal delapan ujian lagi! Lalu tanggal sembilan, lalu tanggal sebelas, kumpulkan paper, satu paper lagi di bulan Februari! Liburan macam apa ini??? Tapi bukan saya namanya kalau menyia-nyiakan liburan begitu saja. Nah, acara, acara? Seddaaap. Saya dengan tiga teman mau ke Belgia!!! Huahahahaaa... walau cuma nyeberang, yang penting ke luar negeri (hush!). Berangkat Jumat tanggal 29, nginep, lalu tanggal 30-nya balik lagi (siap-siap bulan depan banyak-banyak puasa, karena jatahnya ludes bulan ini).
Selamat Natal yaaa.... Saya diundang makan di sini, di sana, di situ... wah kenyang! ^^ Begadang rame-rame di Venlo sampai jam tiga pagi. Besoknya naik kereta subuh-subuh balik ke Leiden. Sampai kos tidur siang, sampai malam. Malamnya tidur lagi, sampai siang ^^
Paper sudah 70% (prestasi! Prestasi! Mengingat liburan harus dikorbankan). Dibantu Judith juga. Makasih Juuud ^^
Nah, itu dululah. Di situ ada liburan ngga ya? Sama saya saja, gimana? Ikut, ikut? Ayuuuk, kita ramai-ramai... naik kereta api, tut tut tuuut....
Ow, sudah siapkan kembang api untuk tahun baru?
Salaam,
RhoMayda
Have fuuun ^^
02:55 Posted in Asal | Permalink | Comments (3) | Email this
18.12.2006
Kepercayaan
Seseorang pernah bertanya kepada saya, "Seberapa pentingkah kepercayaan bagimu?" Pertanyaan itu dilontarkan bukan dalam sebuah diskusi keagamaan, bukan juga dalam seminar tentang kebebasan beragama, bukan juga dalam masjid. Kami duduk berhadapan di dalam kereta. Saya tebak-tebak saja alasannya menanyakan itu. Mungkin karena dia tahu saya seorang muslim, yang tiba-tiba saja sering menghilang sewaktu jam istirahat di kampus. Mungkin dia tahu, di dekat kampus ada masjid.
R: Hmm... gimana ya...
E: Mungkin itu sangat penting. Memberikan ketenangan? Setelah kamu sholat?
R: Ya... (bodoh, saya malah bingung)
Sebetulnya pertanyaan seperti itu tak bisa begitu saja saya jawab. Jelas tidak, di dalam kereta. Jelas tidak, jika secara tiba-tiba. Saya bukan orang cerdas yang cepat tanggap. Apalagi kalau jawabannya sendiri susah dirumuskan.
Sampai rumah (kos, maksudnya) yang saya pikirkan cuma itu. Seberapa pentingkah kepercayaan bagi saya? Mengapa saya tidak ngobrol saja saat jam istirahat? Mengapa menyempatkan diri 'ngurusi' sebuah kepercayaan? Ternyata memusingkan juga. Apalagi menjelaskan sebuah kepercayaan pada seseorang yang beda kepercayaan. Tapi saya tahu dia terbuka. Saya yakin dia akan paham. Jadi saya kirim e-mail, kira-kira begini:
---
kembali ke puisiku:
vraag niet wie ik ben
vraag wat ik doe
(don't ask who i am,
ask what i do)Mungkin aku Muslim. Tapi itu ngga penting.
Ok, aku sholat. Itu yang kulakukan. Itu penting.
Tapi kenapa??? Ini yang paling penting.Alasannya:
love. is not what you can live with.
it is what you can't live without.Semua yang kulakukan, adalah semacam cinta. Kalau tidak dilakukan, aku panik. Dan ini benar-benar terjadi.
Jadi, seberapa pentingkah?
Hmm... kalau aku panik, semuanya jadi salah. Aku jadi bingung.Jadi apa yang penting?
Yang bagiku penting, bagi orang lain mungkin ngga penting. Tapi yang paling penting, adalah memiliki kontrol. Dan itu dilakukan, dengan cara masing-masing :) Dan yang bisa menentukan caranya, adalah diri masing-masing. Bukan orang lain.
---
Setelah e-mail itu, saya dapat e-mail lagi, "Besok ketemu di kantin?" Lalu keesokan harinya, kami bicara banyak tentang kepercayaan, tentang agama, tentang Tuhan, tentang manusia.... Banyak.

Seseorang bisa kelihatan sangat 'lunak'. Tapi menyangkut prinsip, orang yang sama bisa kelihatan sangat asing, saking 'keras'nya.
Salaam,
RhoMayda
Terima kasih Pak Ewald, atas pertanyaannya, atas gambarnya, atas e-mailnya, atas puisi-puisinya (walaupun baru saja belajar, tapi bahasa Indonesianya sudah sangat cool, orang Indonesia sendiri kadang masih kesulitan nulis puisi) ^^
21:00 Posted in Reflection | Permalink | Comments (17) | Email this
16.12.2006
Senja Merah di Lommel
kubawa kau
tinggalkan hari sekejap
sekedar berjalan
di antara kekacauan
orang-orang seberang
jadi dengarkan saja
telingamu mungkin manja
atau sudah terbiasa
tapi mereka berkata,
"kau orang seberang"
dan lirikmu
seperti peluru
setengah ragu
katamu padaku,
"kaulah orang seberang"
di seberang mereka,
di seberangmu,
tak ada beda
yang sudah kuseberangi
adalah lautan bumi
senja sudah merah
matahari terbenam pulang
kau berjalan pulang
aku menyeberang...
... pulang
Salaam,
RhoMayda
[Maaf, itu fotonya di Leiden, bukan Lommel] ^^
19:35 Permalink | Comments (7) | Email this
11.12.2006
Isi Tas
Dari Mba Mae. Mungkin maksudnya disuruh bikin yang lima-lima itu. Tapi terlalu susah ^^

Nah, bongkar saja tas saya. Ada:
- paspor (wajib)
- dompet
- agenda, sering ketinggalan
- kunci rumah
- kunci sepeda
- lampu sepeda (bisa dilepas)
- sarung tangan, sering ketinggalan
- topi? Kupluk? Apa itu namanya?
- tissue (hanya karena sedang flu)
- 1 euro untuk locker di perpustakaan
- lotion tangan (demi kesehatan kulit nih)
- lip balm
Dan... handphone!!! Sering ketinggalan!!!
Salaam,
RhoMayda
kokakurataunggowomakeupyo?wah,isinaku.ketoklerafemininbabarblas!barbablas!
22:25 Permalink | Comments (10) | Email this
Cara Lain?
Seorang anak berkata pada bapaknya.
A: Seperti biasa, aku jatuh cinta.
B: Pada siapa??? Katakan, Nak. Siapa orangnya kali ini? Atau masih rahasia?
A: Ah, tak ada rahasia. Hanya saja, aku sendiri tak kenal.
B: Sayang sekali kamu tidak merokok. Karena kamu bisa minta api, lalu kenalan dengannya.

Salaam,
RhoMayda
21:15 Permalink | Comments (3) | Email this
09.12.2006
Tadi Malam
Tadi malam ada pesta. Lustrumnya (semacam) klub studi Indonesia, Permai. Pokoknya... suasana Indonesia terasa banget. Dan saya jadi ngerasa... Indonesia tuh kaya banget ya (jangan mikir duit). Ada tari Jawa, Bali dan Jaipong, ada pencak silat, ada makan malam, ada... apa ya (sik, takmikir)... ohya, ada alumni, ada dosen-dosen, ada mahasiswa, ada kawan-kawan, ada musiknya Sheila on 7!!! Hahahahahaaa.... Dan ada becak di pintu masuk, ada cendol sebelum pulang, ada yang baca pantun, ada yang baca puisi, ada banyak orang.
Ohya, ada yang lipsing! Cewek dari Thailand katanya. Judulnya Siam kalau ngga salah. Huahahaaa... (masih mau ketawa kalau ingat ini, karena saya mbayangkan mbaknya tadi tiba-tiba goyang patah-patah). Huahahahaaa... (hush).
Tari Jawanya sip. Dari mahasiswa, baru sepuluh kali latihan. Gila! Top! Tari Balinya juga. Dibawain dua perempuan, berbusana hijau, bawa kipas, pokoknya asik. Tari Jaipongnya... gini:
R: kalo cowok liat tari ini gimana?
P: maksudnya?
R: apa biasa aja?
P: enggak (sambil senyum aneh banget)
R: jadi ngga biasa?
P: enggaklaah
Tari Jaipong itu... yahud! Dua cewek, berlenggak-lenggok, cepet banget! Ckckck... salut deh.
Dan ada pencak silat. Seperti biasanya, mengerikan. Matahin balok-balok, besi, dll. Tapi terakhirnya ada yang dapat ikat merah, tadinya putih. Jadi terharu... (hahahaaa... paan sih nih). Itu dari Merpati Putih lho! Jogja punyaaa... ^_^' bukan ding, punya Den Haag ;)
Makan malamnya enak. Nasi, ayam, telur, sayur (yang ini pedes) dan kerupuk tentu saja.
Dan saya merasa sangat terhormat, karena boleh mbacakan tiga puisi sama-sama Pak Ewald. Dia bahasa Belandanya, saya Indonesia. Itu mendadak euy! (Heel erg bedankt, Pak Ewald! We gaan door! Hahahaaa...)
Sampai rumah jam satu malam :p
Makasih buat Mas Tomo dan Mas Perwita yang sudah nemenin sampai dapat bis. Saya selamat (dan utuh) sampai tujuan ^^ Makasih.
Salaam,
RhoMayda
masihheran,banyakbangetorangbaikdibumi
13:40 Permalink | Comments (7) | Email this
07.12.2006
Mengeluh
Beberapa waktu yang lalu, pagi-pagi, sebelum matahari sempat terlihat, Leiden mendung. Dengan jaket tebal dan niat mulia menuntut ilmu (sedaaap), saya bersepeda sekitar 20 menit ke kampus. Gelap! Gerimis pula. Dingiiin!!! Huh. Dalam hati:
percuma mandi, toh basah lagi. Kalau begini, pindah kos saja yang lebih dekat, atau beli mobil (heh! Bangun!), atau mbolos kuliah saja ya? Atau pulang ke Jogja. Di sana kan ngga dingin.
Pertigaan Groenoordhallen, lampu merah, saya harus ke kanan. Trotoar di jalur itu sedang diperbaiki. Tapi untung saja jalan sepeda masih dibuka. Dan di situ, di pagi-pagi buta yang dingin itu, saya lihat orang-orang tanpa jaket, sedang mencangkul-cangkul, memasuk-masukkan pipa, memperbaiki jalan....
Tiba-tiba saya malu.
Salaam,
RhoMayda
19:15 Permalink | Comments (7) | Email this
Pelangi



Tadi sore. Di belakang kos. Sekitar jam 4. Langit timur gelap sehabis hujan, langit barat cerah. (Kelihatan kan kalau pelanginya ada dua?)
![]()
Salaam,
RhoMayda
19:10 Permalink | Comments (4) | Email this

