27.05.2006

Jogja 6,2

 


Bpk Quddus (guru Moehi) kirim sms, sekita jam 2 malam.
Q: "Jogja gempa. Rumah2 genteng hancur. Banyak dinding retak. Anak2 semua selamat. Motor dan semua isi rumah berantakan. Doakan kami."

 

Langsung kirim sms ke Beth
R: "Di situ piye? Kamu ngga papa to?"

(ditunggu-tunggu... belum sampai juga. Panik. Kirim sms ke Mas Nanang)

 

R: "Jogja gimana? Aku ngga bisa hubungi sapa-sapa"
N: "Aku blm tau berita, masih di kos. Alhamdulillah aku gak papa. Tadi sekitar kos keluar semua. Coba hubungi bentar lagi, jaringan mesti sibuk"
R: "Oh syukurlah situ ngga papa. Yo nanti takcoba hubungi lagi. Duh, si Beth ngga terdeteksi. Ok, makasih banyak. Baik-baik di situ."
N: "Siapp!!! Just pray everything's fine. C u at YM"

 

(hand phone getar, sms-nya sudah sampai)

B: "Mbak, di sini parah banget, ada isu tsunami. Jalanan semua macet. Ga bisa lewat. Banyak rumah ambruk. Tolong berdoa."
R: "Astri kepiye? Kalian ning endi?"
B: "Saiki wis rodo aman. Aq udah jemput Astri. Tapi masih ada gempa susulan. Masih ada gosip mau tsunami. Okeh omah ambruk. Gempane gede banget... banyak korban meninggal."
R: "Ning koran jarene ora arep ono tsunami. Tapi ngati-atilah. Tetep Kabar-kabar. Ibu' ket mau nyoba telp."
B: "Tsunami cuman gosip doang. Tapi di sini suasananya masih was-was...

 

Q: "4 kali guncangan gempa, ratusan meninggal. Ratusan rumah hancur. Kami semua dalam keadaan baik. Tadi Pak Syafi'i ke rumah."

 

Hari ini seharian kegiatannya cuma mengumpulkan kabar sebanyak mungkin dari sana. Winda dan Lina ngga bisa dihubungi. Gempanya pagi-pagi, shubuh. Pak Syafi'i (sodara), Bu Nie dan Beth langsung loncat keluar rumah. Katanya, mereka lihat rumah goyang-goyang kenceng banget. Alhamdulillah ngga apa-apa. Cuma retak sedikit sana-sini. Si Astri (ceweknya si Beth) langsung dijemput. Orang tuanya yang di Makassar sudah di-telp sama Ibu, mengabarkan Astri ngga kenapa-napa.

 

Sekarang sudah malam di sana. Merapi mulai berasap lagi. Kata Pak Syafi'i listrik di Jogja... mati ti ti! Gelap! Semua orang panik, takut. Gempa susulan masih ada sampai sekarang, bukan cuma 4 kali. Rumah-rumah di kampung rusak. Rumahnya Mas Andoko (satpam yayasan)... ambruk bruk. Di depan masjid dibangun tenda-tenda dan dapur umum. Bareng-bareng... baca shalawat....

 

Yang di sini... stand by di depan CNN...
Berdoa sambil deg-degan ngga karuan...

Be Right Back

R e a l  S o o n

 

Please forgive me for being such a fool qui**er. Forgive me for not sharing things that often. Forgive me for not replying the 'hello's and the 'how are you's... personally in your shoutboxes... yet. But I'll make it up to you. I will.

 

I wish I could promise you something, but what I can possibly do is just hoping that I'll be right back... real soon.

 

Back with 'the request'...

... fulfilled

 

^^

"See you on your blog, adding a comment and a shout....

... real soon"

20.05.2006

Lebih Luas

 

Saya mau sombong (;;) boleh ya! ) karena eh... sedang berubah-ubah sekarang ini.

  • Saya sudah bisa minum kopi lain. Sudah bisa pakai krim, atau susu, sudah bisa ngapuccino... walau baru beberapa kali. Yang penting, bukan cuma espresso saja.
  • Sudah bisa ngga ngebut (penting ini, karena denda mahal)
  • Sudah mulai menikmati buku sejarahnya, dan les di Brussels.
  • Bisa pakai rok! Beneran!
  • Sudah bisa pakai sepatu yang non-runaway (private meaning) ^^
  • Sudah mulai belajar 'melihat warna' dan kalau ke toko diusahakan ngambil warna lain (walaupun yg langsung menarik perhatian cuma yg hitam). Sudah terlalu banyak warna hitam.

 

Begitulah. Sudah bosan jadi orang sempit. Sekarang ini yg berubah baru sedikit, dan pelan-pelan. Itu namanya evolusi. Saya pilih yg ini saja. Soalnya revolusi kesannya sangat radikal, besar-besaran, dan wah! ^^ Itu belum diperlukan. Duh, ngelantur. Maaf.

 

Sepertinya semua terjadi karena saya dihantui kalimat you can do more. Ngga tahu denger dari mana dan kapan. Hmm... asik mungkin ya jadi manusia yang luas. Tapi saya juga mikir, bahaya juga kalau saking luasnya, manusia ngga punya batas. Bukan itu ide gila saya (maaf). Tiap orang harus punya batas supaya kepribadiannya ngga ilang. Punya hijab, pagar, garis, dinding, apa ajalah. Tapi jangan membatasi diri terlalu sempit. Itu ngga boleh, karena you can do more. Much more than you probably have imagined (bohong). Beramal maksimal! =D Jadi, bikin batas yang luaaas banget. Semampu kita sesuai dengan karakter kita. Seluas-luasnya sampai kalau kita melewati batas itu, jadi mikir "ow, ini sudah terlalu jauh" (semua yg 'terlalu' selalu negatif) lalu kembali lagi sebelum fatal, sebelum kesasar, sebelum orang lain ngga bisa lagi mengenali kita. Nah, itulah ide gila saya (maaf lagi).

 

Apa saya membingungkan??? :P

Hanya ingin sekali membedakan antara 'lebih luas' dan 'tanpa batas'. 'Lebih luas' itu sangat boleh selama masih dalam batas. Dan 'tanpa batas' itu mengerikan, sama ngerinya dengan terlalu sempit. Hahahahaaa... omong opo iki???

 

Apanya yang ngga boleh sempit? Pikirannya. Narrow minded itu bisa bikin semuanya jadi ikutan sempit. Mata, telinga, mulut, hati.... Lalu kita jadi egois, subjektif, diskriminatif, sombong, keras kepala, etc etc etc.... Ih, ngeri. Lagipula kan, dunia ngga selebar sesempit daun kelor ^^ (daun kelor itu seperti apa sih sebenernya?)

 

Sempit itu membosankan. Dan, sepertinya terusannya nomor 19 sudah ditemukan. Sudah dalam proses selama beberapa waktu lalu.

20. Berharap supaya bisa jadi lebih luas.

 

Itulah. Amiiin =)

 

 

Salaam,
Rho Mayda

 

-Tambahan:
Setelah dimusyawarahkan bareng si Devie, akhirnya tercapailah mufakat. Yang harus dipikir adalah: LULUS. Bukan pulang kampung. Ngga boleh. Semuanya dilakukan supaya: LULUS. Bukan supaya pulang kampung. Jadi sekarang, saya bisa belajar lagi >:) Mau ikutan saling mendo'akan? Apapun jawabannya, terima kasih banyak- ^^

14.05.2006

BeUEsUKa

 

Pusing!!!

Asli, pusing!!!

T_T

 

-maafkalaunggaberkenan.tapiiniditulisdemikesehatan-

 

 

 

11.05.2006

11 Mei

 

 

Hmm... waktu itu hari Minggu, 09:15 WIB.

 

20. I mean the candles ;) dan sumpah, itu cuma lilin (bukan apa2) yg ditata seperti jantung (bukan hati). Jantung, dan masih berdetak sampai sekarang. Alhamdulillah sekali.

 

20 tahun kemudian, harinya Kamis.

 

Salaam,

Rho-may-da

10.05.2006

Dia Harus Dikejar

[P.S. in advance:

a none-comments post. Read it? Leave it?]

 

 

 

Dia itu seperti bintang, terasa jauh. Tapi dia sudah kupilih. Dan seperti yang dilakukan orang lain, aku juga ingin mendekapnya, ingin sekali memilikinya. Tapi dia belum bisa terlihat jelas, uh... jauh sekali.

Dan jalan menujunya tidak lurus-lurus saja. Banyak tikungan, banyak kubangan, simpangan juga tersebar di mana-mana, dan terjal....

 

Kadang karena capek berbelok-belok, dan kaki tersandung-sandung, lalu jatuh bangun berusaha mendapatkannya, pernah juga merasa putus asa. Merasa dia terlalu jauh. Merasa perjuangan sia-sia. Merasa tidak akan mungkin bisa meraihnya. Juga merasa tidak punya waktu lagi. Merasa terlalu terlambat.

Dan karena ada banyak simpangan, kadang salah jalan. Mungkin pernah tersesat, sangat lama, sampai sulit untuk kembali ke jalur semula.

 

Orang bilang, "walau jauh, kan sudah dipilih, ya harus dikejar."
Kubilang, "tidak semua yang dipilih bisa diraih."

--Wah, kedengarannya seperti putus asa. Dan putus asa itu tidak boleh karena membuat kita berhenti (kapan bisa sampai???). Selagi tetap bergerak dan tidak kehilangan arah, sesungguhnya kita tidak kehilangan waktu. Tidak juga terlambat, karena ketika waktu berjalan kita juga berjalan.--

Orang bilang lagi, "bukan diraih, tapi dikejar."
Oh iya, hampir lupa. Kalau cuma bisa mengejar, ya usahakan mengejarnya sungguh-sungguh. Bisa mendapatkannya atau tidak, kan urusan Tuhan.

 

Ah... aku tidak hanya berlari mengejar kok. Aku sudah pernah naik kereta, kehabisan nafas takut ketinggalan bus, pernah hampir pingsan, bahkan pernah tersesat. Pernah juga putus asa, berhenti beberapa waktu. Dan kalau ingat itu, aku jadi MUAK. Muak berhenti terus. Sudah! Cukup berhentinya. Sudah cukup lama!!! Sekarang harus bangun pelan-pelan, lalu cepat-cepat mencari jalan seperti dulu. Iya! Menujunya! Demi dia!!!

 

Akhirnya seseorang mengatakan dengan begitu lembut
"harus dikejar, namanya juga cita-cita...."

 

 

-Presented: Niken Pamikatsih Proborini (Betterchick's drummer),

as the girl behind the story-

 

Rho Mayda

08.05.2006

One Moment

5 Mei 06 

 

Kadang seseorang perlu waktu untuk komunikasi dengan dirinya sendiri >:) (hiyyyaaa omong apa ini???). Nah, minggu lalu itu momen saya. Asik sekali!

Banyak kejadian yg bikin kepala penat. Banyak yg harus dirasa. Ngga semuanya menyenangkan. Banyak yg perlu diganti karena ternyata ngga semua yg diyakini itu yg terbaik. Dan pada waktu yg sama, banyak juga yg harus dipertahankan karena sementara ini itulah yg terbaik. Ah ngga taulah. Seperti itu yg saya pikirkan selama seminggu lalu.

 

__________

 

Lalu tiba-tiba cuaca sangat hangat  :x  Minggu setelah menutup bulan April, ngga tidur semaleman. Baru tidur hari Senin, itu juga sore jam 16.00 - 21.00. Untung masih bisa tidur lagi malamnya. Selasa pagi ke Arcen jajan es krim (exactly, pilih yg rasa kopi). Rabu les ke Brussels, sampai rumah jam 22.30 capeeek banget. Kamis belanja, malemnya bikin macaroni (seddaaap...). Jumat jalan sama Miriam (rencananya sih) sampai Valkenswaard, tapi setelah 15 km (3,5 jam) kakinya Miriam rusak (lah sepatunya bukan yg 'runaway' shoes, sih) ^^ jadi ngga diteruskan. Sabtu ke Eindhoven sama Miriam sama John. Kemarin ke Coffee Corner di Lommel, masih sama Miriam. Miriam & John itu wakilnya Ib & Om kalo mereka ngga di sini (sekedar info tambahan).

 

__________

 

Kejadian2 itu cuma pengingat saja. Di sela2nya, malamnya, atau paginya... saya betul2 menikmati suasana hati saya yg sedang melankolik ketika sendirian. Dulu waktu di kos, sering banget nyalakan lilin di kamar. Hampir setiap malam. Dan lilinnya ngga cuma satu ^^ Setting seperti itu, wah... unspeakable! (hayyah) Kebetulan home alone, saya nyalakan lilin-lilin lagi. Ditambah musik dari cd baru World Music yg ternyata ada satu dari Indonesia: gamelan Jawa. Hmm....

 

  1. Teringat masa kecil di Sojomerto.
  2. Ingat lukisan Bapak yg dulu terpajang di kamar kos.
  3. Mengingat-ingat lagi apa yg sudah dilakukan.
  4. Apa saja yg berubah sampai sekarang ini.
  5. Yang akan dilakukan.
  6. Yang dicita-citakan.
  7. Merenungkan sudah seberapa lama bernafas di bumi.
  8. Apa saja yg sudah dicapai.
  9. Apakah sudah bisa mencintai orang lain dengan tulus.
  10. Apakah sudah pantas untuk dicintai orang lain.
  11. Apakah selama ini pernah membahagiakan orang lain.
  12. Atau lebih sering mengecewakan.
  13. Juga memikirkan apakah kedewasaan makin dekat.
  14. Atau masih terlalu keras kepala.
  15. Sudah bisakah dinasehati.
  16. Sudah beranikah diperbaiki.
  17. Sudah beranikah memperbaiki.
  18. Sudah pantaskah dianggap sebagai 'seseorang' (yg bergerak sendiri, ngga cuma pasif seperti bayang2, ngga terlalu sering menggantungkan orang lain... hhh... menyedihkan)
  19. Sudah pantaskah dianggap sebagai 'makhluk Tuhan' (yg menuhankan Tuhan, dan menghambakan diri)
  20. ...

 

Ternyata momen seperti ini asik sekali lho. Sayangnya, ngga datang tiap saat. Dan biasanya cuma sebentar (namanya juga One Moment, wajarlah kalau cuma one moment. Betul?) ^^ Tapi kalau pas datang, coba deh sesekali. Pakai cara masing-masing, ngobrol dengan diri kita sendiri. Ngga perlu orang lain. Suasananya dibikin sendiri, seasik-asiknya, sebisanya. Waktu yg sebentar itu, memanjakan diri, bongkar2 file lama, rapikan hati, sendiri. Sendiri, sendiri, sendiri saja. Dinikmati sendiri.

 

Bisa sambil jalan sore ketika lampu kota mulai dinyalakan (ini pengalaman pribadi, rasanya... seperti di Malioboro) ^^ Atau sewaktu ngopi, menenami matahari terbit, mengantarkan matahari terbenam, duduk di trotoar... terserahlah.

 

It's your moment ;)
One of those moments that you don't forget, not just like that.

 

Salaam,
Rho Mayda

-lagi-lagisayaaneh,ya?-

 

2 Mei 06

"makasihesnya,bro.kapan2keluarlagi"

01.05.2006

Mei

Ya, April sudah selesai. Diakhiri dg kirim cerita hitam kelam ke Winda (akhirnya kau kirim email lagi). Winda, manusia yang ada di seberang sana... thanks for still being there when I'm 'here'.

 

Saya pernah jatuh cinta (maksudnya, masih). Kali ini, semuanya berantakan. Betul2 salah. Waktunya salah, alasannya salah, akibatnya salah. Orangnya, eh... orangnya bener :P (Wong pada dasarnya dia ngga ada sangkut2annya, innocent and has no idea, kok) Masa' mau disalahin?

 

Tapi saya salah. Dinasehati sana-sini lewat Y!M, dikandhani macem-macem lewat e-mail, dikasih solusi, ditawari alternatif, tapi saya ngeyel tetep ngga mau berubah, tetep merasa benar. Dan itu salah!!! Jadi kalau ada yg salah, itu cuma saya. Bukan waktunya (makasih Mba Dewi atas komennya di tulisannya Kang Foens yg No Reason Why!!, makasih Kang), bukan alasannya (makasih Liesje atas Naastenliefdenya), bukan akibatnya (dari D-reasonnya Kang Balung, dan Mus yg sudah panjang lebar njelasin secara konkrit bahwa semua pasti ada manfaatnya). Jadi, terima kasih banyak. Yang People maupun bukan, makasih. Saya syukuri setiap nasehat yg terkirim, ngga akan dibuang gitu saja. Semuanya disimpan.

 

__________

 

Banyak yg terjadi beberapa hari ini. Banyak yg direnungkan, yg dipikirkan pelan-pelan, sangat teliti dan hati-hati. Hasilnya sudah mulai bisa dirasakan. Apa saya sudah berubah??? Ngga tau. Saya cuma melakukan banyak hal yg biasanya ngga saya lakukan, ato jelas beda dengan kebiasaan sebelumnya. Mau contoh? Maulah, biar saya bisa sombong ^^ (ngga boleh ya?). Ah biarin, ini kan blog saya :p

 

:: Ehm... saya masak (glodhakkk!!! Dhuarrr!!! Bohong!!!) ^^ Iya bohong. Bukan masak, tapi belajar masak. Coba2 resep yg ada di buku2 di dapur. Pernah dengar kentang á la Dauphinoise? >:) Hahahaaa... (hush). Enak lho. Resep dari Kang Foens belum dicoba (kayaknya perlu belanja dulu). Prestasi kemarin: spaghetti yg dimakan sore2... seddaaap... (wah Winda tega. Jangan karena aku yg bikin, rasanya dipertanyakan. Kalo sampe Jogja, aku tantang kau masak. Berani? Berani? Ingat Win, dua bulan lagi!)

:: Saya ngga begadang ;) Ngga lagi. Alasannya simpel, Shubuhnya pernah telantar. Lagipula, saya merasa dikalah-kalahkan dengan tetangga depan (selain kasus tulip). Mereka sepasang opa-oma bangunnya selalu pagi. Buka tirai jendelanya pasti duluan daripada saya. Visi saya sekarang... mengalahkan mereka! ;;) Lah kalau begadang, paginya susah bangun. Jadi kali ini setelah shubuh ngga tidur lagi. Langsung ke bawah, buka tirai (tetangga depan masih tertutup), lalu ngopi, lalu nungguin matahari keluar, hangat loh. Rasanya gini "pokoknya kalau kau keluar, aku ada di situ!" Coba sekali-kali, enaaak banget =) (*nglirik Winda lagi* kapan kau stop begadang?)

:: Selain itu, saya sudah belajar sejarahnya lagi (Mus! >:) Hahahahaaaa.... Mari kita buktikan, kapan Lenin muncul!)  Saya ngga males. Rabu lalu bolos les. Tapi Kamisnya langsung tanggung jawab. Latihan persiapan Inggris yg reading... dan... not that bad! Siiip.

:: Saya ngga gila lagi (apa???) Makasih Kang Danu dan Nanda, juga Mata, yang pernah negur, pernah mengingatkan. Saya sudah istighfar. Profile sudah diperbaiki (termasuk di 'about me'). Anda-anda semua masih boleh anggap saya gila, tapi saya ngga ikutan :- Saya ngga lagi nganggap diri saya gila. (spesial buat Mata, makasih shoutnya. Seneng kenal kau. Ohya, penulis sejati kebanyakan asalnya dari luar Kampoeng) ^^

:: Saya sedang belajar merhatikan orang lain (walaupun levelnya ngga langsung setinggi Mus), sedang berusaha untuk sedikit lebih peka. Selama ini, saya cuma nulis, saya cuma ngomong, cuma cerita. Sekarang mau yang lain. Sekarang waktunya membaca, waktunya mendengar, waktunya memperhatikan. Ngga mau ngeyel, ngga mau bandel, ngga mau lagi 'keras kepala'. Hmm... yah, sudah waktunya (mungkin agak telat?)....

 

Untuk Mba Wulan: sebenernya aku sudah mau ke Surabaya pulang ini. Kayaknya pernah ngomong ke Kang Foens. Tapi pas takbilangke ke Ibu, beliau kurang setuju "Ima kan durung kenal, mung seko internet lho". Itulah Ib. Nah, idenya Ibu sih kalian yg ke Jogja aja rame2, karena mengkhawatirkan anak gadisnya ini (:-w padahal pengin bisa keluyuran sendirian). Gimana kalo kalian bantu merayu Ibuku? ^^  Dan Kang Balung... apa kau barusan dari Jogja?

 

__________

 

Sekali lagi diumumkan, saya salah. Dan sekarang sudah selesai, ngga mau salah lagi. Sedang diperbaiki. Kemarin2 menyalahkan 'jatuh cinta' atas semua porak poranda di rumah. Tapi sekarang sadar, itu ulah saya sendiri. Ngga perlu jatuh cinta utk jadi rusak. Dan ngga perlu rusak karena jatuh cinta. Dua2nya sangat bisa dipisahkan.

 

Sekarang?
Saya cuekin bentar. Bukan lari dari masalah. Mau gimana lagi, kalau ngurusi masalah itu terus, saya jadi lambat karena dia berat. Padahal jalan masih panjang, dan kadang harus bisa lari. Jadi jatuh cintanya disuruh jalan sendiri dulu. Bukan dibunuh, bukan digendong. Sesekali ditengok, diawasi. Lain kali diurus lagi (kalo masih ada sih) ^^

 

Lainnya... dua kilo pernah balik, tapi sekarang ilang lagi, jadi berat badan masih tetep. Saat ini masih sangat sangat bahagia karena hitam kelamnya cuma sampai April, dan Mei sudah cerah ceria. Yah, Mei kali ini.

 

~O) Salaam,
Rho Mayda

 

-Untuk kau... duuuh kenapa kau ngga tau? Hhh...  salahku  memang, aku ngga bilang. Belum. Sekarang masih banyak perasaan yang harus dijaga (perasaan apapun, perasaan siapapun di manapun, kapanpun), yg jelas lebih kuat dari perasaanku sendiri. Suatu saat, aku pasti bilang. Suatu saat ketika kita setara. Ketika perasaan kita sama-sama kuat, ato malah sama-sama rapuh. Kau boleh tampar aku kalau kau (mungkin) marah, tapi aku juga siap menangkis dan menamparmu sama keras, karena ketika itu kita seimbang dan berdiri sama tinggi.... Ah, semoga kita tak perlu saling menampar-

All the posts