22.03.2006
Musim Semi
Mmm... *hirup udara dalem-dalem* musim semi sudah datang. Ngga ada lagi salju, hujan juga jarang.... Di belakang rumah, tanaman-tanaman sudah punya kuncup. Imut banget. Dua hari lalu jalan-jalan bertiga nglewati hutan. Bau musim semi *bingung* Ohya, seharian banyak burung yang teriak-teriak. Asik sekali.
Saya punya bunga, belinya minggu lalu. Jarang-jarang saya punya bunga :p Namanya Narcis (atau Narcissus, atau bunga bakung). Waktu beli, bentuknya masih seperti rumput, cuma kelihatan daun berwarna hijau. Sekarang Narcissus sudah berbunga. Warnanya kuning. Waaa... cantik. Yang bikin saya tambah naksir (gini ya?), Narcissus bisa dicium! Hahahahaaa.... Maksudnya, beraroma gitu. Bayangkan saja, bunga mawar di sini ngga wangi, ngga ada baunya, hambar bagai durian tanpa duri (!). Lah, bunga saya keren tuh ^^
Yah, begitulah. Musim dingin dah bubaran, musim semi datang. Tinggal satu musim ini, terus ganti lagi musim panas. Ah, sebentar lagi saya bisa pulang. Semoga. Tinggal satu musim ini... tinggal satu ini....
:)
Salaam,
Rho Mayda
02:10 Permalink | Comments (8) | Email this
18.03.2006
Berdo'a
Semoga bukan cuma saya yang sering kebalik-balik. Melakukan sesuatu yang sebetulnya justru ngga ingin dilakukan. Ironis. Sering tuh kejadian sebodoh itu. Seperti kebiasaan ketawa. Bahkan saya pernah kecewa berat, tapi kok reaksinya malah ketawa ya? Beberapa kali kejadian seperti itu. Dan, saya malah seneng. Hahahaaa ^^
Ada lagi. Semua juga tahu Tuhan itu maha kaya. Pemurah pula. Kita kan bisa minta apa saja to? Bisa doa apa saja. Pernahkah anda pengiiin banget sesuatu sampai meminta pada Tuhan saja ngga berani? Saya pernah. Dan akhirnya nyesel.
Waktu itu ada satu yang sempet ngganggu pikiran. Harus dapat itu! Itu saja deh! Lamaaa banget punya keinginan satu itu. Tapi setelah mikir-mikir, saya kok malu ya minta sama Tuhan. Pokoknya saya ngga berani minta. Takut. Takut kalau permintaan saya itu terlalu banyak, takut kalau tanpa sadar saya malah seperti menuntut, takut kalau ternyata saya mendikte Dia (nyontek kata-katanya pak ustadz), takut kalau doa saya sebenernya ngga pantes. Betul-betul bikin frustrasi!
Lalu setelah sekian lama dipendem, ditahan, disembunyiin dari Dia (demi Allah, impossible), keinginan itu mbludak. Tiba-tiba seperti meledak. Ngeri banget. Akhirnya (belum lama ini), pakai takut-takut, saya mulai berdoa. Mencoba ngga mendikte apalagi menuntut. Dikeluarin semuanya, sejujur-jujurnya, sampai saya bingung sendiri sama niat awalnya. Masihkah tidak menuntut? "Bukan supaya Kau ngasih, tapi karena cuma Kau yang bisa ngasih" kira-kira gitu. Lah, mau minta sama sapa lagi coba?
Dan, Allah itu maha mendengar. Semua keinginan kita, cita-cita kita, masalah hari ini, kesedihan, kebodohan, apa saja deh, kan boleh diungkapkan ke Dia. Iya kan? (Tolong dikoreksi kalau salah)
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
-
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
Tuh kan, jangan berhenti berdoa, apalagi takut berdoa seperti saya. Saya nyesel. Seharusnya ketakutan seperti itu ngga boleh ada. Bukankah ada cara berdoa yang lebih asik? Memohon supaya apapun yang kita dapat, adalah yang terbaik untuk kita, bukan (hanya) yang kita inginkan saja. Memohon supaya niat kita tetep pada kebaikan. Memohon supaya ridho Allah makin dekat. (Amiin) ^^
Lagi-lagi saya yakin anda lebih ngerti cara berdoa tuh gimana.
Ohya, sepertinya doa saya sudah terkabul :)
Salaam,
Rho Mayda
-d*riAl-A'raflimalimadanlimaenam-
09:10 Permalink | Comments (7) | Email this
Sudah Selesai
Mungkin ini tulisan yang cukup membosankan. Biasanya gitu kalo saya seneng banget. Kadar kegilaan meningkat, ngga bisa konsen. Musim dinginnya hampir selesai, musim seminya bentar lagi datang. Tuh kan mulai. Selain itu... comment-nya off hehehe.... Baca ngga baca, silakan. Peace! ^^
Ehm... terus apanya yang sudah selesai? Masalah izin tinggal. Ceritanya kan pas Desember 2004 tuh administrasi pemerintahan Belgia sini bikin kontrak yang salah (lack of internal contact). Lah, busuknya, kesalahan itu ngefek ke izin tinggal saya. Masa' kartu identitas sementara harus diperpanjang tiap bulan???
Nah, pake kartu sementara itu jadinya (sejak Desember 04) saya ngga boleh keluar Belgia, ngga bisa ikut ujian teori untuk SIM mobil, kuliah di Fontys jadi sedikit telantar, kamar kos di Tilburg sering ditinggal. Aaargh!!! Untuk ngurusi semuanya, ortu juga harus di sini. Hasilnya, Beth di Jogja sendirian, rumah semrawut, yayasan dikontrol dari jauh. Di sini sering stres, kadang-kadang marah. Busuk sekali (maaf, kumat). Paling parah, saya yang rencananya bisa pulang kampung tahun lalu ditunda dulu. Itu karena saya betul-betul ngga boleh keluar Belgia. Lah, terus Amsterdam? Kos yang di Tilburg? Yang itu sudah diatur.
Kamis pagi, pas ngopi bareng di dapur, Om Peter dapet telp "masalah sudah selesai. Besok kartu identitas bisa di ambil, setelah jam 10.00." Alhamdulillah. Saya bingung, kok malah nangis ya? Ngga percaya waktu itu. Seharian seperti mabuk, ngga jelas rasanya, aneh. Kalo ngga ada urusan lain, itu mushaf penginnya dihabisin! Hahahahaaa. Tapi hari itu, tilawahnya kaya'nya kurang-kurang gitu, jadinya ditambahin lagi, lagi, lagi (walo ngga bisa semushaf) :p
Jum'at pagi ngambil kartu identitasnya. Bayar 5 euro. Terus nganter Om Peter jumatan di Leopoldsburg (kota cilik mentik di Belgia). Sambil nunggu, Ib sama saya jalan-jalan. Dingin waktu itu. Terus di toko bunga tiba-tiba stop. Kumat lagi. Lihat-lihat bunga, waaa musim semi bentar lagi datang. Terus saya beli bunga (hah??? Sejak kapan???). Hehehe, bolehlah sesekali :p Namanya Narcis. Sekarang belum ada bunganya, baru ada kalau musim semi sudah betul-betul datang. Cantik sekali.
Jum'at sore Jesse datang, nginep sini tadi malam. Sewa film banyak banget, tidur jam 2.
Itulah. Kalau saat ini ada rumah yang suasana syukurnya sampai pojok-pojok, itu mungkin rumah kami. Seperti nglepas beban berat, istirahat sebentar. Tapi karena bebannya kelewat lama, rasanya masih aneh. Gimana ya njelasinnya? Bersyukur, itu satu-satunya kata. Lebih dari itu, saya malah bingung.
Salaam,
Rho Mayda
08:20 Permalink | Email this
13.03.2006
Jatuh Cinta
[-Rabu, 15 Maret 06- Note: post ini ngga bisa dijadikan bukti bahwa saya sedang jatuh cinta. Jadi saya ngga bisa divonis. Makasih. Hahahhahaaaaa....]
Setelah obrolan minggu malem yang tergolong 'berat', keyakinan saya ternyata juga tambah 'berat'. Bahwa jatuh cinta itu sebetulnya biasa saja. Cuma dalam beberapa kasus, bisa juga tuh jatuh cinta jadi kompleks. Jatuh cinta kan cuma salah satu dari berjuta-juta perasaan yang dimiliki manusia normal. Jadi sebetulnya... biasa saja. Yang bikin spesial adalah, ketika kita sudah harus meneruskan perasaan cinta itu ke pernikahan. Tapi topik yang ini bukan bidang saya. Saya... ngga paham bener. Tanya ustadz sajalah ^^
Jatuh cinta, tapi kita belum akan menikah.... Ya ampun, repot amat ya. Enggak, kalau kita ngga menghamili masalah itu. Maksudnya ngga bikin gede, gitu. Dan biasanya, jatuh cinta yang seperti ini memang bikin susah, dan cenderung negatif :p
Negatif???
Iya, ex-ustadz saya pernah bilang: jatuh cinta itu boleh selama kita tetap semangat, tetap produktif. Masa' cuma gara-gara jatuh cinta, kerjaan ngga bener, kuliah asal-asalan, belajar acak-acakan. Jangan mau kalah dong dengan perasaan sendiri. Kalau sudah begini, apa bisa dibilang positif?
Tiap manusia punya cara masing-masing untuk ngolah perasaan yang semacam itu. Ada yang langsung ngomong, ada yang cuma berani nulis surat, ada yang malu-malu tapi akhirnya ngomong juga, ah... macem-macem. Saya ngga mau bilang cara ini salah, dan yang itu benar. Tapi saya yakin, semua yang punya efek negatif adalah salah.
Saya juga punya cara sendiri, cara mengolah hati supaya saya ngga kalah dengan perasaan itu. Supaya saya tetep bisa ngontrol hati saya. Wah, hati yang mbolak-mbalik ternyata susah juga dikontrol. Ngga enak, tapi cuma sebentar. Agak sakit, agak bikin gila, tapi sebentar. Ngga berlarut-larut. Setelah itu... saya seneng banget karena merasa 'aah, everything is under control'.
Untuk siapa saja yang sedang jatuh cinta... saya pengin bilang, carilah cara biar jatuh cinta tak lagi jadi beban, biar jatuh cinta bisa dinikmati, bisa diawasi. Cara apapun, silakan jadi kreatif. Jadikan semuanya baik-baik saja. Jangan bikin hidup kita ngga asik. Sayang.
Salaam,
Rho Mayda
-beth,mari*uananyadahketemu-
01:25 Permalink | Comments (21) | Email this
12.03.2006
Podho-podho
Dear Kang Balung,
sebetulnya aku sempat bingung gimana nanggapi shout2mu itu, tapi takcuekin wae wong nek aku bingung ki biasane ra gelem repot mikir. Nah, kebingunganku malah jadi tambah parah, pas baca tulisanmu. Tapi karena kau minta maaf, alasan apa coba yang bikin aku ngga maafin kau? Sudah ada stok maaf dari dulu, jauh sebelum kau harus minta. Insyaallah tulus. Itu karena aku percaya kau ngga punya niat jelek. Semoga aku juga ngga punya niat jelek, walaupun aku juga sering bikin kau bingung.
-maafbahasakuamburadul,wingisutris,
isihmabuk,ngantuk,padahalwisngespressopingpapat-
10:20 Permalink | Email this
07.03.2006
Meledak
Hwaaaaaaaaaaaa.........!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Kepingin pulaaaaaaaaaaang!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Pulaaaaaaaaaaaaaaaaaaang!!!!!!!!!!!!!!!!!
-Aku tahu Kau tahu walau tak kutulis, tapi (seperti biasanya) tetap kutulis-
I miss You
00:00 Permalink | Comments (8) | Email this
06.03.2006
Cermin
Pernah dengar 'the best mirror is an old friend'? Aduh, yang nulis lupa saya. Saya dengar quote ini sudah enam atau tujuh tahun lalu, baru sekarang mikirnya. Manusia berubah. Tapi biasanya kita ngga sadar. Bahkan orang-orang di dekat kita susah melihat perubahan kita. Makanya the best mirror is an old friend. Pergilah ke kawan lama, lalu tanyakan "apa aku berubah?", jawabannya pasti jujur "iya".
Tapi sudah beberapa hari ini saya ngga mau manut sama kata-kata itu, karena kawan-kawan lama saya jauh banget hehehe.... Nggak lah. Mungkin karena saya pikir, bercermin pakai hati sendiri lebih sehat. Dan, ternyata ngga gampang. Kenapa ya?
Jangan-jangan karena selama ini saya cuma bernafas, cuma hidup, cuma ikut arus, cuma sibuk dengan membentuk kepribadian... sampai lupa bercermin, lupa mengenali apa saja yang berubah. Nah, walau belum sepenuhnya berhasil, saya bisa ingat beberapa hal. Mmm... cermin saya: saya sendiri waktu berusia 17 tahun (wuaaa muda nih).
Satu, ingat Foolish Game-nya Jewel. Dulu iseng nyanyi sendiri, gitar sendiri. Saya mikir, kapan terakhir kali pegang gitar??? (Hihihi, ngga penting ya?) Lalu tadi saya coba nggitar lagi. Wah jelek!!! Biarin. Itu artinya, saya memang ngga perlu pinter main gitar ^^
Dua, ingat Luvi. Seorang sahabat sejak SMP. Kapan terakhir kali saya lapor ke dia??? Maksudnya berbagi, curhat gitu. Lalu kemarin saya kirim e-mail ke Luvi, panjaaang banget. Inilah resiko jadi seorang sahabat, harus rela menerima laporan sahabatnya. Ah bukan, itu bukan resiko. Saya tahu betul bagaimana menjadi seorang sahabat, dan sejauh ini 'mendengarkan' adalah kenikmatan. Jadi saya yakin, Luvi ngga keberatan.
Tiga, ingat masjid. Seumur hidup, ngga pernah punya pengalaman buruk dengan masjid. Saya cuma pernah lupa how peaceful it is to just sit there. Apalagi kalau... apalagi kalau... apalagi kalau... (taulah maksudnya). Lalu saya ke masjid (pengalaman untuk sendiri saja, ya) ^_^ it was amazing.
Eh... sementara tiga dulu. Mesti pelan-pelan ngingatnya. Nah, kalau anda perlu cermin, maksud saya kalau anda pernah gelisah, galau, kacau... susah mengenali diri sendiri... panik (waktu jatuh cinta misalnya^^) ... pernah ragu-ragu... cobalah melihat ke dalam. Ke dalam hati. Coba diingat, apa saja yang ngga lagi anda lakukan. Lalu coba lakukan lagi. Kalau ngga asik, anggap saja itu bukan 'anda'. Kalau asik, berarti anda melihat bayangan anda sendiri di cermin itu. That's it. Kok jadi ingat Bimbo ya?
Ah, saya ngga ngerti apa-apa. Saya yang punya password untuk nulis di blog ini, jadi saya bisa nulis apa saja, ngga perlu benar. Saya bisa saja salah, tapi anda bisa juga koreksi. Anda bisa saja ngga percaya, tapi saya ngga bisa bohong. Ini yang saya lakukan, rasakan, pikirkan. Jujur.
Bercermin ke hati ngga cuma untuk melihat itu bayangan kita atau bukan. Kalau kita mencoba melihat lebih dalam, mungkin kita bisa nebak sebetulnya untuk apa kita di sini, saat ini. Kira-kira, maksud Tuhan tuh apa. Iya nggak, ya?
Demikianlah kisah si Cermin.
Ohya, masih tetap saling mendoakan :)
Salaam,
Rho Mayda
00:50 Permalink | Comments (7) | Email this
03.03.2006
Belum
Z: Selamanya?
R: Ngga janji. Kita kan ngga bisa tahu.
Y: Kamu ngga mau nyoba? Kasihan dia (bujukan maut).
R: Kasihan??? Nyenengi orang karena kasihan???
[phone]
R: Terus kenapa?
X: Ya semoga berlanjut. Nikah.
R: Nikah??? Sing tenan wae, SMA saja belum lulus!
X: Ngga perlu bilang sekarang, kau pikir dulu.
R: Aku dah mikir, kubilang 'nggak'.
X: Jangan buru-burulah.
R: Kau tanya lagi besok pagi, minggu depan, toh jawabanku sama aja. Hehehe....
[sms]
W: I'm your secret admirer. Kamu ngga usah peduli perasaanku ke kamu, ngga usah peduli siapa aku.
R: Tinggal di mana? Boleh tanya nggak? Pertanyaan apa aja yang boleh aku tanyain?
W: Boleh tanya apa aja, toh aku ngga jawab. Hehehe....
R: Makasih *dongkol*
(Lalu sms-sms dia ngga pernah terjawab lagi. Beberapa minggu kemudian akhirnya ngaku. Hihihi... lucu sekali)
[private chat]
R: 19/f Indonesian
V: Have a bf?
R: No need one
V: Lesbian?
R: Bye
V: Sorry, sorry
U: Ya ampuun, cakep! Aku setuju deh (liat poto).
R: Baiiik banget orangnya.
U: Tuh kan, apa coba yang kurang? Nunggu apa lagi?
R: Aku ngga jatuh cinta.
T: Menurutku, dia suka sama kamu.
R: *sok mikir* Ngga ngaruh, biarin aja.
S: Dia cakep, baik, punya duit, tapi 'ngga usahlah'.
R: Tepat!
T: Jadi, orang mana?
R: Orang Zimbabwe keren.
T: Kenapa musti Zimbabwe?
R: Ah becanda, boleh cowok dari mana saja kok.
T: Atau cuma pilih yang Islam?
R: Bukan. Cuma yang mau sholat.
T: Kalau 'nanti' jatuh cinta sama orang yang ngga sholat?
Pertanyaan terakhir itu marmos (mara'ke emosi -red), susah dijawab. Itu cuma contoh ringan. Huh, banyak banget manusia yang suka menanyakan hal-hal sulit. Banyak banget yang ngga kita ngerti di luar sana, di sebelah sini... di mana-mana. Dan apapun yang ngga terjawab, semoga bukan karena saya ngga bisa. Tapi belum bisa. Harus waras dulu, dewasa, belajar. Kang Foens bilang, think positive. Semoga suatu saat kita bisa ngerti, bisa jawab, bisa tahu.
Sekarang mungkin belum.
Salaam,
Rho Mayda
-makasihchatnya,
kalokitachatlagi,
akumasihpunyabanyakpertanyaan-
00:50 Permalink | Comments (12) | Email this
01.03.2006
Houdoe, Tilburg!
[Editor: Oom Peter]
Ahha, dit is het dan. THE END. Vanaf vandaag (1 maart 2006) woon ik niet meer in Tilburg. Mijn ex-kamer is leeg en (voor de eerste keer) heel schoon. Na twee dagen inpakken kon ik eindelijk al mijn vermogen in dozen te krijgen. "God, wat heb ik toch veel boeken, en zwaar ook." En ik kon mijn messen, vorken en dat soort dingen niet vinden. Waar zijn ze toch gebleven??? (Is dit normaal?) *kan het niet geloven*
Met een container (aanhangwagen) hebben we vorige week alles weggebracht (of terug?) naar Lommel. En gisteren (28 feb 2006) was het de tijd om de sleutels terug te geven en afscheid te nemen van mijn Tilburgse ouders en de liefste buren.
Alle goede tijden, slechte tijden (?), alle saaie, spannende, grappige, schitterende en veel stomme ervarigen die ik in Tilburg heb meegemaakt, zijn allemaal mijn mooie herinneringen. Geloof me maar ;)
:: Nederlands, UvT
Ik schreef mijn vragen altijd in de boeken die wij toen gebruikten. Als ik die boeken nu bekijk en die vragen zie, ik zeg tegen mezelf dan "wist je dat niet???" Na al die huiswerken en zenuwen (gemixt met mijn visum-probleem dat ik thuis moest studeren), ben ik toch geslaagd *happy*
:: NT2-examen. Oh, wat was ik doodsbang. Bang dat ik niet kon slagen, of mijn GSM zou vergeten af te zetten, of te laat zou komen, of of of.... Verschrikkelijk. Maar iedereen zei: "Veel succes, Ima!" Dus weer, ik heb geluk gehad en het diploma gehaald. Bedankt.
:: Journalistiek, Fontys
Een ander geluk kreeg ik toen ik wist dat ik daar mocht studeren. It was a dream come true! Maar het liep een beetje anders :)
:: Studiekeuze-test, Kock en Van Dijk
Een nieuw begin. Ik kan niks anders zeggen. Het was veel werk maar daarna toch een echte opluchting.
Gisteren onderweg terug naar Lommel besefte ik dat ik in Tilburg héél veel dingen heb geleerd, behalve koken dan :p
Je moet durven te kiezen, zei mijn vader. Je moet durven door te gaan óf te stoppen. Je mag zeker niet bang zijn of twijfelen.
Ok dan!
Soms kun je heel snel rennen, nonstop tot aan het einde, en winnen. Maar het leven is geen wedstrijd, dus je denkt dat je toch langzamer zal lopen. En soms ben je moe, dus je denkt dat je beter even gaat stoppen en op adem komen. Daarna denk je dat je nog ver moet lopen, dus je stapt even terug om een langere sprong te maken of sneller te kunnen rennen. Je mag doorgaan of even stoppen, maar zorg dat je zeker weet wat je doel is, en dat je nog steeds in de goede richting blijft. Want dat is het beste (denk ik) ^_^
Tilburg was (of is) mijn stad, echt waar. Nou hier ben ik dan, in een kleine stad, in het buitenland... Lommel. En Lommel is mijn andere stad. Hahahaaa.... Niet zo groot, maar super gezellig nu dat ik ook lid ben geworden van Kabotske (een jeugdvereniging).
Dus lieve mensen, iedereen... bedankt voor alles en vooral voor being there :)
H o u d o e , T i l b u r g ! ^.^ *zwaaien*
Veel liefs,
Rho Mayda

-Credits: Fam. Slijpen,
Fam. Van Stralendorff,
Fam. De Kort, Mr. Kock-
(Error is human, aub iets laten weten
om deze tekst te verbeteren. Peace) ^^
00:00 Permalink | Comments (20) | Email this

