15.05.2009
Kasih Sayang
Witing tresno, kata orang Jawa,
... jalaran seko kulino.
Kasih sayang itu tumbuh karena terbiasa.
Witing tresno, kata adik saya,
... jalaran seko boncengan (halah).
Witing tresno, kata bapak saya,
... jalaran ra ono wong liyo,
karena ngga ada orang lain :D
Witing tresno, kata pacar saya,
... jalaran dijaki ngopi,
karena sering diajak ngopi.
Witing tresno, saya bilang,
... jalaran ditresnani. Haha! Begitulah :)
-RhoMayda-
01:33 Posted in Reflection | Permalink | Comments (5) | Email this
07.05.2009
Bunga

Cuma Bunga saya yang punya cinta seluas langit.
Dan cuma saya yang punya Bunga dengan cinta seluas langit.
:)
-RhoMayda-
01:35 Posted in Reflection | Permalink | Comments (4) | Email this
02.05.2009
Andhap Asor
Q: Dengan aaapapun yang kita punya ... kenapa kita ngga boleh sombong? Kenapa ngga boleh membanggakan diri sendiri? Kenapa ngga boleh tinggi hati?
X: Karena sebenarnya kita ngga punya alasan untuk melakukan itu semua. Karena kita tahu, itu ngga ada gunanya. Kalaupun dilakukan, maka alasannya pasti diada-ada.
Ibu saya selalu bilang "dadi wong sing andhap asor", jadilah manusia yang rendah hati. Mas Udin bilang "orang tuh dihargai bukan karena ketinggian hatinya, tapi justru karena dia rendah hati."
Jadi ini yang ada di kepala saya:
Kerendahan hati adalah pancaran yang berasal dari dalam, dari hati. Dari sesuatu yang tertutup lapisan-lapisan daging, tulang dan pakaian, namun masih bisa dirasakan dari luar. Kerendahan hati ngga bisa dirasakan hanya dari penampilan. Orang masih bisa menyombongkan penampilannya yang sederhana. Ironis bukan? Hayah.
Kesederhanaan adalah cerminan kerendahan hati. Jika sudah ada kesederhanaan di dalam hati, maka apapun yang melapisinya di bagian luar, ngga akan terkena cipratan kesombongan. Percaya deh. Mau pakai kalung emas yang segede python, atau gelang karet sekurus cacing, kalau hatinya sederhana, kalung dan gelang itu bukan cerminan kesombongan.
Kesederhanaan berasal dari hati, ada di dalam sana. Tapi walau bagaimanapun, kesederhanaan akan dicerminkan. Cerminannya bukan sekedar dari apa yang terlihat, tapi lebih ke apa yang bisa dirasakan. Kesederhanaan tercermin dari sikap kita terhadap orang lain, tercermin dari cara kita berbicara, tercermin dari apa yang kita bicarakan, dari bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita menghargai orang lain. Kesederhanaan tercermin dari bagaimana kita memanusiakan manusia :)
Karena bisa berfikir dan merasakan, seharusnya manusia ngga boleh tinggi hati. Apalagi karena bisa lupa dan sedih juga, manusia semakin ngga punya alasan untuk bertinggi hati. Dengan semuuua kapasitas yang dimiliki, manusia harus bisa berendah hati ... yang tertanam di dalam, terpancar ke luar, dirasakan sampai ke dalam hati orang lain.
Rendah hati dilakukan bukan karena alasan macam-macam. Rendah hati dilakukan karena kita ngga punya alasan apapun untuk ngga rendah hati. Kalau ngga rendah hati, itu pasti mengada-ada. Mengada-ada itu merepotkan. Mbok sudah, hidup cuma sekali kok susah, biasa sajalah.
Haaalah omong opo to cah iki! :D
-RhoMayda-
Ok, kembali ke skripsi.
_______________
[updated 18:01]
Oh iya, tadi saya mikir ketika di perjalanan mau beli pulsa (iya, kadang saya bisa mikir). Jadi ada lagi satu alasan kenapa manusia ngga boleh tinggi hati. Itu karena manusia masih suka berdoa, masih suka minta, masih merasa kurang, manusia serba ngga punya. Ya mungkin punya sesuatu lah. Tapi itu artinya, orang lain juga punya. Jadi toh sama saja. Ngga perlu merasa superior, ngga perlu merasa lebih tinggi kan? Ngga perlu tinggi hati. Ngga ada gunanya, ngga beralasan itu. Jadi, manusia makin ngga ada alasan untuk sombong. Kalau tetap sombong, pasti dia mengada-ada.
_______________
14:35 Posted in Reflection | Permalink | Comments (3) | Email this
11.04.2009
Sendiri?
X: Jadi maumu apa?
Q: Maunya, ya kalian bisa dicari. Ngga enak di sini sendiri.
X: Toh mati juga sendiri kan.
Q: ... Tapi aku belum mati ....
Percaya deh, saya orang yang ngga perlu dekat-dekat teman saya setiap hari. Saya bisa kok menikmati naik kereta sendiri (bersama dengan penumpang-penumpang lain maksudnya), saya bisa jalan-jalan di Malioboro ngga pakai teman, bisa duduk sendirian thenguk-thenguk di halaman perpus sambil ngopi. Sumpah, ngga apa-apa! Kalau pas sendiri gitu, di kereta atau ngopi di kantin kampus, rasanya kayak menjadi bagian dari komunitas yang lebih besar dan misterius (halah sok berani pakai kata ini). Asik karena saya merasa bisa lebih menyatu dengan orang-orang banyak ini ketika sendirian daripada kalau ada temannya. Rasanya kayak semuuua yang ada tuh disediakan hanya untuk saya. Kayak nonton di bioskop jumbo secara privat. Hehe .... Kalau ada temannya kan perhatian terbagi.
Tapi, itu juga ngga usah dikonotasikan secara negatif. Jujur saja, saya lebih suka kalau ngapa-ngapain ada temannya. Karena, seriiing sekali dari semuuua yang bisa dilihat, didengar, dialami, ada buanyak yang bisa dibahas, didiskusikan, dipertengkarkan atau ditertawakan. Enak kan kalau ada teman. Teman bisa diajak berbagi :)
Sendiri atau ditemani, sebenarnya dua-duanya bisa dinikmati. Masing-masing ada keindahannya sendiri. Beruntung kalau dua-duanya kita bisa suka. Jadi ngga usah melulu tergantung dengan sesuatu, karena kalau itu tiba-tiba ngga bisa didapat kita jadi bingung. Beruntung kalau bisa menikmati lebih banyak hal, karena dengan begitu akan lebih gampang menjadi bahagia. Hoalah cuh cuh! Hahahahaaa ....
Salaam,
RhoMayda
Ini adalah tulisan yang saya salin dari catatan di kereta dari Brussel ke Leiden setelah memerawani kelingking saya dengan tinta bukti ikut milih pertama kali seumur hidup (saya pilih PPDBPBM, Partai Perpanjang Deadline Bikin Paper Bagi Mahasiswa). Saya taro tulisan ini di blog, di sela-sela bikin paper. Setelah baca-mikir-nulis sebanyak dua chapter, pengin istirahat dengan naro catatan kereta di blog. Asik. Dan saya lapar. Selamat tidur.
22:42 Posted in Reflection | Permalink | Comments (4) | Email this




